Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
51


__ADS_3

Daniel membawa Angel ke tempat persembunyiannya. Sebuah apartemen yang berada di lantai 5. Meski dia jarang mendatanginya, apartemen tersebut terlihat masih bersih dan rapi.


"Kamu tidak mengerti betapa bahagianya diriku." Seakan tidak sabar, Daniel langsung mengutarakan perasaannya padahal keduanya baru saja sampai.


"Darimana Kak Daniel tahu tempat itu?"


"Aku punya satu mata-mata bekas anak buah Adam."


"Hm." Senyum Daniel terlihat merekah, memandangi Angel dari samping meski warna bajunya bercampur aduk.


"Ganti bajumu. Kita bertemu Ibu Noa dan Ayah Lucas." Angel tersenyum simpul seraya menoleh.


"Tidak. Jika aku menemui mereka sebagai Angel. Alex akan menyakiti mereka." Daniel memasang wajah serius saat Angel menyebut nama Alex.


"Alexander?"


"Raja Alexander, lelaki yang ku sebut Daddy. Dia menipu ku! Peraturan yang di buat semata-mata untuk menyembunyikan ku agar Ayah tidak bisa menemukan ku!" Mata Angel berkaca-kaca sementara Daniel tercengang mendengar kenyataan tersebut.


"Jadi, Alexander ingin menikahimu?" Tangan Daniel mengepal kuat. Tentu saja emosinya ikut terkoyak sebab seharusnya Alex melindungi Angel bukan menyekapnya seperti sekarang.


"Dia menginginkan Ibuku. Jika aku menemui mereka sekarang." Dessahan panjang terdengar berhembus." Mereka sudah banyak menderita. Aku tidak ingin melibatkan mereka lagi." Daniel tahu maksud Angel. Namun dia tidak membenarkan jika Angel ingin menangani semuanya sendiri.


"Aku yakin pasukan Alex sangat banyak. Tidak mungkin kamu bisa menghadapi semuanya sendiri. Kita harus bicara pada Ayah Lucas. Kita pecahkan permasalahan ini bersama. Jangan mengambil keputusan sendiri." Angel kembali menoleh dan tersenyum tipis.


"Itu kenapa aku tidak ingin kau tahu jati diriku! Kau akan berkata seperti itu seakan aku tidak mampu!"


"Aku hanya menghawatirkan mu. Jumlah kita tidak sebanding. Alexander itu Raja, penguasa para prajurit Vampir. Sementara kita?" Angel menyentuh pundak Daniel kasar kemudian akan melangkah pergi namun lagi-lagi Daniel mencegah kepergiannya." Jangan pergi dengan perasaan marah." Tangan Daniel di tampis kasar.


"Itu kenapa aku melakukannya dengan sembunyi-sembunyi! Aku ingin memusnahkan sekutu Alex sedikit demi sedikit."


Ah rasanya aku harus menurut saja agar dia mau tinggal lebih lama di sini. Takdir membawaku pada Angel dengan sendirinya..


"Oke kita rahasiakan ini. Tapi ajak aku." Daniel memilih mengalah daripada harus berdebat dan membuat Angel pergi dengan kemarahan.


"Hm."


"Sebaiknya kamu mandi agar Bibik mu tidak khawatir nanti."


"Di mana kamar mandinya?"


"Di sana." Daniel menunjuk sebuah ruangan dengan pintu tertutup.


"Tunggu." Angel berjalan perlahan menuju kamar mandi sementara Daniel menuju lemari untuk mencari kaos yang sekiranya tidak terlalu besar.


"Aku baru sadar jika semua kaos ku berwarna putih dan hitam. Ah sepertinya ini tidak terlalu besar." Daniel mengeluarkan sebuah kaos berwarna putih dan menggantungnya di gagang pintu lemari.


.


.


.


Setengah jam kemudian, Angel baru saja keluar dengan handuk kimono yang sudah tersedia di dalam. Dia menatap ke arah Daniel yang tengah duduk santai.

__ADS_1


"Sudah ku cuci sekalian. Aku tidak ingin Alex mengedusnya." Daniel tersenyum kemudian berdiri dan memberikan kaos yang di pilih.


"Ini sudah yang paling kecil. Apa sekalian dengan celana nya."


"Aku sudah pakai ini." Mengangkat sedikit handuk dan memperlihatkan pahanya yang terbuka dengan kulit bersinarnya.


"Hahahaha iya. Em cepat pakai." Mata Daniel seakan meloncat melihat pemandangan tersebut." Sudah ku katakan. Lebih baik di tutup saja daripada membuat fikiran keruh." Gumam Daniel duduk lemah seraya mengatur jantungnya yang berdetak tidak beraturan.


"Otak Kak Daniel saja yang terlalu keruh." Daniel menoleh cepat dan tersungging, ketika melihat baju miliknya seperti sebuah gaun saat Angel yang memakainya.


"Masih sangat kebesaran hehehehe. Itu yang paling kecil."


Tak!!!


Angel menyentil telinga Daniel dengan ujung telunjuknya sehingga membuat Daniel menyeringai.


"Jangan bicara macam-macam! Aku bisa dengar."


"Ahh Babe. Sakit sekali." Meski berkata sakit nyatanya bibir Daniel tersungging.


"Aku pulang sendiri atau kau antarkan."


"Tunggu dulu. Kita mengobrol sebentar."


"Bibik khawatir."


"Memangnya kamu berpamitan ke mana?" Angel terdiam sejenak.


"Dia Elena. Bibik Elena. Aku berpamitan ke markas itu."


"Bukankah Kak Daniel pernah bertemu dengannya? Apa dia jahat?! Dia yang membelaku selama ini. Dia merawat ku dan menjagaku dari saat aku kecil."


"Semua orang bisa berubah. Tapi aku masih ingin bersamamu untuk berbincang."


"Aku takut Daddy datang." Daniel mendengus lalu berdiri.


"Kamu masih mau menikah dengannya?" Tanyannya menuntut jawaban.


"Mana mungkin. Aku hanya takut semua terbongkar sebelum waktunya."


"Ah syukurlah. Kamu hanya boleh menikah denganku." Angel mengerutkan keningnya.


"Aku tidak memikirkan pernikahan."


"Kita sudah di jodohkan Babe."


"Kamu menolaknya." Jawab Angel menggoda.


"Karena aku sudah menyukai Tiara. Jika aku tahu kamu Angel. Sejak awal aku tidak akan menolak."


"Menolak ya menolak! Aku pergi."


"Ku antarkan." Daniel meraih pergelangan tangan Angel.

__ADS_1


"Aku bisa pulang sendiri Kak."


"Kita akan bersama-sama mulai sekarang. Kita pecahkan masalah ini agar nantinya kita bisa menikah." Ada rasa bahagia terbesit meski Angel berusaha menyembunyikannya. Dia ingin menegakkan kebenaran dan membongkar kebusukan Alex dulu. Dia tidak ingin fokusnya teralihkan dan sengaja melupakan perasaannya pada Daniel untuk sejenak.


🌹🌹🌹


Alex yang tidak tahu menahu soal musnahnya markas utama, duduk dengan santainya di sebuah rumah yang terletak di Utara kerajaan. Rumah yang cukup besar itu milik Patresia, anak kandung Elena.


"Bagaimana?" Tanya Alex menuntut jawaban. Pertanyaan itu sudah terlontar hampir ratusan kali namun Patresia tetap teguh pada pendiriannya.


"Tidak Paman! Aku tidak ingin anakku jadi mesin pembunuh!" Jawab Patresia tegas. Kedua anaknya terpaksa di sembunyikan dengan pelindung agar Alex tidak bisa mengendusnya.


Bukan tanpa alasan Alex mengincar kedua anak Patresia. Sejak kecil dia sudah melatih mereka dengan ketangkasan. Alex memperkirakan jika kedua anak Patresia akan jadi prajurit tertangguh.


"Apa kau ingin di mangsa hidup-hidup oleh Suamimu sendiri?" Pedro sudah lebih dulu di ubah dan di tempatkan pada jeruji yang ada di ruang bawah tanah.


Sementara Patresia sudah di lumpuhkan meski Alex masih membutuhkannya untuk menemukan kedua anaknya yang berumur satu tahun lebih muda dari Angel.


"Aku mohon Paman. Jangan seperti ini. Seharusnya Paman tidak semena-mena dan memanfaatkan...."


Plaaaaaakkkkkk!!!!


Tubuh Patresia terhempas membentur dinding. Kekuatannya sudah terkikis karena liontin yang di pakainya.


"Panggil aku Baginda! Bukan Paman!! Kau itu keturunan Elena! Tidak ada hubungan keluarga denganku!!!" Patresia duduk meringkuk dan mulai terisak. Penyiksaan yang sudah terjadi puluhan tahun membuat harapannya untuk bebas runtuh.


Kenapa Lucas tidak juga datang? Lihatlah keadaan di sini. Aku hanya ingin kalian membawa pergi kedua anakku.


"Ach!!!"


Patresia di seret paksa oleh dua orang prajurit di ikuti oleh Alex.


"Tolong lepaskan!!!"' Teriaknya meronta-ronta.


"Kau akan jadi santapan Suami mu sendiri." Patresia di seret menuruni anak tangga hingga tubuhnya tergores.


Kedua matanya terbelalak saat melihat perubahan wajah Pedro yang selayaknya seekor hewan. Kulit wajah dan tubuhnya menghitam dengan permukaan kasar. Matanya memerah dengan lidah menjulur dan gigi runcing.


"Pedro, sayang." Sapanya dengan mata berkaca-kaca. Namun hatinya langsung teriris saat mendengar jawaban geraman dari Pedro yang seakan siap memangsanya." Kau apakan Suami ku!!!" Teriak Patresia membalikkan badan menatap geram ke arah Alex.


"Dia akan jadi prajurit terkuat. Kau akan tetap hidup jika kau mau mengatakan di mana Abimatra dan Abiandra?" Patresia menggeleng cepat lalu menoleh ke Pedro yang siap menerkamnya.


"Tidak akan ku lakukan!!!"


"Oh baik." Alex menyayat bagian tubuh Patresia dengan jari runcingnya. Kuncian kekuatan membuat luka sayatan tidak bisa pulih secara cepat hingga darah Patresia terlihat berceceran.


Pedro yang sudah tidak memiliki akal sehat. Langsung menggoyang-goyang jeruji seakan merasa tidak sabar.


"Buka kuncinya." Pinta Alex menaiki tangga.


Dua prajurit membuka jeruji khusus itu dan dengan gerakan cepat Pedro membabat habis bahkan memangsa tubuh Patresia yang merupakan Istri nya sendiri. Alex tersungging saat teriakan Patresia terdengar.


"Sisir area pelosok, semua gua dan tempat tersembunyi lain! Aku ingin Matra dan Andra cepat di temukan!!" Pinta Alex pergi menuju kerajaannya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2