
Keesokan harinya...
Daniel terlihat duduk di pagar pembatas teras kamar Angel. Dia tengah menunggu Angel yang di fikirnya masih selayaknya seorang manusia yang membutuhkan tidur.
Cukup lama dia berdiam, sesekali menoleh ke pintu dan sesekali melihat situasi jika mungkin Alex datang.
Angel sendiri tengah berada di lantai satu bangunan tersebut dan menghabiskan malamnya bersama Elena. Keduanya tengah bersemangat untuk membangun strategi demi strategi agar rencana berhasil.
"Tidak terasa sudah setengah lima sayang."
"Iya Bik. Aku harus mandi untuk kuliah."
"Bibik berharap Alex tidak datang agar Daniel bisa menjemput." Angel tersenyum dengan rona wajah merah.
"Dia sibuk memantau." Angel berjalan menaiki tangan. Langkahnya tiba-tiba melambat saat dia mengedus aroma tubuh Daniel. Tidak mungkin. Biasanya dia menemuiku di kampus.
Angel melanjutkan langkahnya, seraya mencium aroma tubuh Daniel yang kian menguat. Cepat-cepat Angel menutup pintu lalu menguncinya. Dia menyikap tirai dan melihat Daniel duduk menunggunya.
Gawat!!! Angel kembali menutup tirai. Dia merasa canggung setelah semalam. Ini terasa lebih mendebarkan.
"Ach!!!!" Sontak Angel terkejut saat Daniel sudah berdiri di hadapannya.
"Maaf. Kamu sudah bangun?" Daniel memperhatikan Angel dari atas ke bawah.
"Ini baju kemarin, kamu lupa." Angel melewati Daniel begitu saja lalu duduk.
"Kalau aku tahu kamu sudah bangun. Aku akan masuk." Secepat kilat Daniel sudah duduk di samping Angel.
"Sebaiknya kita bertemu di kampus. Aku takut Daddy datang." Daniel mengangguk pelan tapi tidak juga beranjak pergi. Mimik wajahnya terpatri kebingungan setelah mendengar kenyataan dari Andra dan Matra semalam." Kenapa?" Tanya Angel lirih.
"Tenang saja Babe. Aku lelaki yang tidak pernah melanggar komitmen. Aku akan pergi jika Alexander datang."
"Lalu untuk apa Kak Daniel tidak juga pergi?"
"Serius kamu ingin tahu?" Angel mengangguk pelan. Daniel memutar tubuhnya lalu duduk tegak menghadap Angel." Rakyat bangsa Vampir sudah musnah. Kemarin aku datang ke kerajaan dan mendapati semua rumah kosong." Angel yang sudah tahu lebih dulu hanya terdiam dan mendengarkan." Aku merasa akan ada hal buruk." Imbuh Daniel merasa tidak sabar namun kembali lagi ke batasan yang tidak mudah untuk di langgar.
"Hm iya. Jutaan makhluk terkurung di sana. Bau mereka tidak lagi amis tapi busuk selayaknya daging yang tidak lagi segar." Mata Daniel membulat, langsung saja dia meraih pundak Angel.
"Kau pergi ke sana sendirian?! Bukankah sudah ku peringatkan? Di sana sangat tidak aman walaupun kau keturunan bangsa Vampir!!" Angel tersenyum membaca ketakutan pada mimik wajah Daniel.
"Aku bersamamu."
"Hei kapan? Aku tidak pernah mengajakmu masuk ke area terlarang itu."
"Waktu di pohon."
"Tidak Babe. Kamu jangan membodohi ku. Mana mungkin kamu bisa melihat makhluk itu dari sana."
"Aku juga bisa mencium aromanya." Jawaban dari Angel cukup membuat Daniel tercengang sebab pengelihatannya tidak setajam itu.
Pelindung yang dia gunakan juga sangat kuat. Aku merasa ada sesuatu yang bersarang pada tubuhnya..
__ADS_1
"Bagaimana bentuknya."
"Lebih buruk dari zombie. Kulit mereka mereka menghitam dan kasar. Insting pembunuhnya sangat kuat. Mereka sudah tidak memiliki hati sebab.. Mereka tidak lagi hidup. Aku tidak merasakan aliran darah pada tubuh mereka."
"Ini mengesankan. Bagaimana bisa kamu melihat mereka dari jarak sejauh itu?"
"Aku tidak pernah berbohong. Aku membunuh salah satunya di markas itu. Mereka hanya bisa kalah dengan ini." Tangan Angel tiba-tiba mengeluarkan percikan api membuat Daniel langsung memundurkan tubuhnya. Api itu terasa begitu kuat dan panas seolah akan membakar tubuhnya.
Kekuatan kita terlihat sama tapi level kekuatanmu jauh lebih besar. Jika mungkin Ibu Noa berasal dari bangsa kami, aku memakluminya. Namun Ibu Noa adalah manusia sejati.
Daniel tidak mengerti tentang keistimewaan yang ada pada tubuh Noa sehingga menimbulkan kebingungan yang kini menyelimuti hatinya.
"Kenapa?" Tangan Angel terlihat pulih.
"Sedikit membuatku gerah." Daniel masih saja memasang wajah serius." Mereka akan berpisah jika kamu tidak juga pulang." Tanpa sepengetahuan Lucas. Daniel mengikuti kepulangannya semalam dan melihat pertengkaran hebat tengah terjadi.
"Siapa?"
"Orang tuamu."
"Ayah Lucas dan Ibu Noa."
"Hm. Alex mengancam dan menjanjikan sebuah penawaran gila. Dia akan melepaskan Angel jika Ibu Noa mau menghabiskan sisa umur untuk bersamanya." Angel membuang nafas kasar. Emosi langsung berkecamuk di dalam hatinya.
"Tidak akan ku biarkan itu terjadi. Aku harus membongkar semuanya dan menghabisi Alex." Daniel merangkul pundak Angel erat.
"Sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini dan berkumpul bersama mereka. Kita fikirkan ini bersama-sama agar kita tahu tujuan Alex mengubah penduduk."
"Dengan siapa?"
"Menguasai wilayah ini."
"Darimana kamu tahu?" Angel menoleh cepat, lalu menutup mulutnya dengan satu telunjuk.
"Kita bicarakan di kampus. Alex datang." Ucapnya berbisik.
"Aku tidak mencium aromanya."
"Cepat Kak! Pergi! Akan ku fikirkan penawaran itu. Tapi pergilah dulu." Angel berdiri dan meraih lengan Daniel untuk memaksanya berdiri.
"Akan ku lihat dari jauh. Jika aku tahu kamu berbohong, lihat saja." Tanpa aba-aba, Daniel meraih dagu Angel dan memberikan sebuah lummatan singkat tapi melenakan.
"Kak!" Angel mendorong tubuh Daniel.
"Ingat Babe. Kamu adalah Istri ku. Jaga batasan mu atau aku akan muncul secara tiba-tiba."
"Iya iya!" Jawab Angel ketus. Wajahnya memerah akibat ciuman singkat tersebut.
Daniel tersenyum kemudian pergi menghilang. Dia bertengger di sebuah pohon untuk membuktikan ucapan Angel. Satu menit kemudian, Alex terlihat datang dengan sebuah taksi.
Aku semakin terkesan Babe.. Penciuman mu sangat tajam.. Daniel masih di tempat yang sama. Memantau kegiatan apa saja yang di lakukan Alex dengan menahan rasa cemburu.
__ADS_1
Alex tidak langsung menemui Angel. Dia berjalan ke belakang melalui samping rumah untuk bertemu dengan Elena.
"Anak kembar Patresia kabur! Siapa yang mengajarkan mereka?" Elena mempercepat langkahnya menghampiri Alex. Dia terkejut tapi merasa senang sebab kedua cucunya tidak harus menjadi pengikut Alex.
"Marta dan Andra? Bagaimana mungkin bisa kabur?"
"Mana ku tahu." Alex meraih liontin yang melingkar pada leher untuk memastikan jika bukan Elena pelakunya.
"Kau menuduhku?" Elena memundurkan tubuhnya seraya menyingkirkan tangan Alex.
"Hanya kau yang mengenal mereka."
"Liontin ini membuatku lemah! Bukankah kau tahu?" Alex menddesah lembut. Dia merasa sedikit terbebani dengan kejadian ganjil yang menimpanya akhir-akhir ini. Kalung Elena bahkan masih terpasang dan itu berarti bukan Elena pelakunya.
"Di mana Tiara?" Tidak dapat di pungkiri jika dirinya juga mencurigai Angel.
"Di kamarnya." Alex pergi meninggalkan Elena yang terlihat tengah tersungging seakan merasa senang dengan kegalauan hati Alex.
Cucuku sudah kabur. Lalu bagaimana kabar Patresia sekarang? Ada rasa rindu walaupun hingga sekarang Alex tidak memberikan kesempatan Elena untuk mengunjungi anak semata wayangnya itu. Elena tidak mengetahui jika sekarang anaknya sudah musnah.
Sementara di kamar. Alex menerobos masuk setelah mengetuk pintu. Dia mendapati Angel keluar dari kamar mandi dengan baju lengkapnya.
Aku bahkan masih mencium aroma tubuh Tiara selayaknya manusia. Sangat tidak mungkin ini perbuatannya.
"Daddy kenapa?" Tanya Angel tengah berusaha mengendalikan emosinya. Kenyataan yang di ungkapkan Daniel tentu membuat emosinya terkoyak.
"Ada sedikit masalah pada perkerjaan Daddy." Bagaimana mungkin Matra dan Andra bisa kabur. Kekuatan mereka sangat rendah.
"Oh." Angel meraih sisir untuk merapikan rambutnya. Aku yakin jika kini hatimu di selimuti kebingungan. Apa kau sadar jika gadis yang ada di depanmu ini adalah pelakunya..
Angel tersungging sejenak lalu memperlihatkan wajah datar saat tubuhnya memutar menghadap Alex.
"Kamu masih marah? Kenapa akhir-akhir ini kamu sedikit cuek pada Daddy."
"Tidak. Aku tidak marah. Bukankah Daddy merahasiakan perusahaan? Lalu bagaimana caranya aku ikut membantu permasalahan itu."
"Daddy tidak menyuruhmu membantu. Daddy hanya menanyakan perubahan sikapmu saja."
"Bukankah Daddy memang menganggap ku orang lain." Apa Kak Daniel masih di sini. Aku tidak bisa mencium aroma tubuhnya. Sebaiknya aku berangkat sekarang daripada Kak Daniel menggila nantinya.
"Selalu saja seperti itu."
"Sudahlah Dad." Angel menjinjing tasnya dan menggalungkannya pada pundak." Aku hanya sedang mencoba mengerti posisimu." Angel berjalan keluar dari kamar di ikuti oleh Alex yang semakin membaca keanehan pada sikap Angel.
Apa dia sudah merasa lelah karena aku selalu mengacuhkannya? Ah biarkan saja. Dia hanya anak-anak. Elena bilang dia sangat patuh.
Untuk sementara, Elena hanya mampu mematahkan kecurigaan Alex pada Angel. Kekuatannya tidak cukup besar sehingga Angel menyuruhnya berpura-pura lemah seperti sebelumnya.
š¹š¹š¹
Maaf telat update š
__ADS_1
Terimakasih dukungannya š„°