Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
26


__ADS_3

Dinda mengajak Tiara mencoba berbagai permainan yang ada di Plaza. Tergambar jelas raut wajah bahagia yang Tiara perlihatkan walaupun ada rasa berdebar-debar.


Mereka mengakhiri acara hari ini dengan berdiam di Cafe dan menikmati pemandangan jalanan. Tiara tidak ingin lupa waktu seperti kemarin dan lebih waspada lagi agar tidak pulang terlambat.


"Aku biasanya hanya melihat. Tapi kita mencobanya tadi. Terimakasih Tiara."


"Sama-sama. Aku juga senang hari ini." Tiara mengeluarkan cake pemberian Daniel dan berniat akan memakannya.


"Itu alasan kenapa kamu hanya pesan minuman?"


"Hm ya. Sayang jika dia buang." Ini dari Kak Daniel. Kenapa aku masih saja kesal dengannya. Ingat Tiara, kalian memang hanya sekedar teman, tidak lebih.


"Apa yang kamu fikirkan?"


"Aku ingin menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sebelum menikah." Tiara mencoba memantapkan hatinya yang sempat mengambang.


"Kamu serius di jodohkan."


"Iya. Dia banyak berjasa dan aku harus membalasnya."


"Tunggu Tiara. Em... Berarti kamu tidak mencintainya?" Tiara menggelengkan kepalanya pelan.


Sampai sejauh ini, aku tanya menganggap Daddy sebagai Ayah.


"Lama-lama mungkin kamu bisa mencintai nya."


Aku tidak pernah yakin dengan itu. Bagaimana aku bisa mencintai lelaki yang ku anggap Ayah. Dia bahkan tidak ada niatan untuk menghangatkan hubungan ini. Dia sibuk bekerja dan berkerja.


"Mungkin saja. Aku tidak tahu." Dinda ikut bersedih dengan mimik wajah yang di perlihatkan Tiara.


"Kamu membuatku ikut memikirkannya." Ucap Dinda pelan.


"Tidak perlu ikut memikirkan. Bantu aku bahagia sebelum waktunya tiba." Aku sempat ingin mengantungkan sedikit harapanku pada Kak Daniel. Tapi ternyata, aku bukan tipe nya. Dia juga Vampir. Ahhh.. Mau tidak mau, aku harus menjalani keputusan Daddy.


"Tentu saja." Dinda memeluk tubuh Tiara. Adegan itu berhenti ketika suara berat Nathan menyapa.


"Kamu Tiara kan?" Keduanya mendongak dengan mata membulat.


"Papa nya Alexa?" Gumam Dinda mengingat wajah tampan dengan rahang keras tersebut.



Cepat-cepat Tiara meneguk sisa air minumnya lalu berdiri di ikuti oleh Dinda.


"Aku minta maaf atas pembuatan Lexa." Ucapnya ingin menahan kepergian Tiara.


"Kenapa setiap kali saya berurusan dengan Lexa selalu berujung panjang seperti ini!" Suara tegas Tiara membuat senyum Nathan mengembang.


"Dia memang arogan."


"Saya tidak perduli! Urusi anak anda dengan baik dan jangan menganggu saya lagi!!" Baru saja Tiara melangkah. Kenyataan soal status Alexa terungkap.


"Dia bukan anakku. Aku membiayai hidupnya dan dia memenuhi kebutuhan ku." Sontak Tiara menoleh. Setelah mengetahui fakta itu, dia tahu alasan Alexa marah padanya.


Alexa Baby sugar? Batin Dinda bertanya-tanya.


Apa seperti hubungan ku dan Daddy?

__ADS_1


"Itu urusan pribadi anda. Saya tidak ingin tahu."


"Kamu harus tahu sebab kamu sudah merebut ku." Tiara tersenyum aneh di balik masker.


"Aku merebut?" Menunjuk dadanya.


"Hm kamu. Aku menyukaimu." Tiara menghembuskan nafas berat. Dia tidak mengerti kenapa masalah hidupnya terus berdatangan sejak beberapa orang mengetahui wajahnya.


Apa ini yang di maksud Daddy?


"Lelucon anda buruk sekali. Ayo Dinda." Tiara menarik lengan Dinda namun langkahnya terhenti karena dua ajudan berdiri di hadapannya.


"Aku serius Tiara. Ini bukan lelucon. Kamu harus bertanggung jawab atas jeratan yang sudah kau berikan." Tiara berbalik badan dengan sorot mata tajam.


"Aku sudah di jodohkan!"


"Itu masalah gampang. Aku bisa menggagalkan perjodohan itu."


"Aku tidak ingin gagal."


"Aku menginginkanmu. Peraturannya kau harus jadi milikku." Dinda tersenyum aneh sementara Tiara mendengus kesal." Aku yakin. Tidak ada orang yang lebih sempurna daripada aku." Tiara tidak memperdulikan ucapan itu. Dia memilih jalan samping walaupun harus membelah beberapa kursi tapi lagi lagi ajudan Nathan menghalangi.


"Tolong minggir!! Aku bisa telat pulang!!!" Pintanya sedikit berteriak. Tapi anehnya, para pegawai bungkam bahkan para pengunjung lain tidak terlihat.


"Biar ku antarkan pulang."


"Tidak!"


"Kamu tidak akan bisa keluar." Nathan sengaja menyewa Cafe tersebut beberapa jam kedepan hanya untuk merajuk Tiara agar mau pulang dengannya. Itu kenapa sejak tadi tidak ada pengunjung lain dan para pegawai yang perduli.


"Apa yang terjadi?" Sahut Daniel sudah berdiri tidak jauh dari Tiara.


"Siapa kamu?"


"Dia lelaki yang akan di jodohkan dengan saya." Tiara berlari kecil menghampiri Daniel dan melingkarkan tangannya pada lengannya.


Ini hari keberuntungan ku..


"Tolong bantu aku. Lelaki itu sedikit tidak waras." Pinta Tiara berbisik.


"Bagaimana dengan upahnya?"


"Bukankah kita teman. Kenapa membicarakan upah?" Bisik Tiara lagi.


"Kamu tidak menganggap ku tadi."


"Oke baik. Mungkin keputusanku salah." Tiara akan melepaskan pegangannya namun Daniel menumpukan telapak tangannya untuk mencegah.


"Kenapa kau menganggu calon Istri ku." Daniel menyerah, dia tidak ingin membuat Tiara marah dan kehilangan kesempatan merasakan sentuhan tangannya.


"Relakan dia bersamaku atau hidupmu akan sulit setelah ini." Daniel terkekeh mendengar ancaman Nathan.


"Apa menurutmu aku takut?" Nathan tersenyum lalu berjalan menghampiri. Tangannya merogoh ponsel dan memutarkan recorder suara obrolan Tiara.


"Dia tidak menyukaimu. Itu kenapa kau harus tahu diri." Tiara tertunduk lalu melirik ke Dinda yang juga tengah menatapnya.


Kenapa dia merekam itu?

__ADS_1


Hahahaha lucu sekali. Kenapa bisa kebetulan begini. Dinda malah terkekeh dalam hati. Dia membayangkan jika lelaki yang di jodohkan dengan Tiara mungkin seperti Daniel.


"Harga diri ku bahkan sudah di injak-injak. Bagaimana mungkin kamu menyuruh ku berhenti. Itu tidak akan terjadi. Mau atau tidak! Dia harus jadi Istriku." Aku berharap itu bisa benar-benar terjadi. Ah. Aku memerankan semuanya dengan sangat baik sebab aku menginginkan itu terjadi.


"Jangan banyak drama. Cepat bawa aku pergi. Aku takut terlambat pulang." Bisik Tiara.


"Pulang dengan caraku?"


"Dinda bagaimana? Kau gila!"


"Astaga hehehe." Daniel kembali menatap Nathan." Aku tidak ada banyak waktu. Mari pergi Babe." Nathan tidak juga berhenti, dia menyuruh ajudannya menahan langkah mereka." Hei kau!!" Menunjuk ke salah satu pegawai." Kenapa kau diam saja!!" Daniel berharap si pegawai bisa memanggil keamanan. Tapi pegawai itu malah keluar dengan wajah ketakutan. Dia tidak ingin terkena masalah apalagi sampai Cafe mereka di tutup. Sepertinya aku harus bertindak sendiri.


Daniel berjalan terus tanpa memperdulikan para ajudan. Dia tersenyum sinis memperhatikan pengeroyokan yang terjadi. Ada enam orang berdiri mengelilingi jalan mereka sehingga Daniel kembali membalikkan badannya.


"Singkirkan kacung mu! Aku mau lewat!" Pintanya penuh penekanan.


"Tidak. Sebelum kau melepaskannya."


"Saya mohon." Sahut Tiara menimpali.


"Bukankah kau tidak menyukai perjodohan itu. Aku ingin melepaskanmu dari sana." Sebenarnya, Nathan bukan tipe pemaksa. Tapi setelah mendengar obrolan antara Tiara dan Dinda membuatnya tertantang ingin membebaskan Tiara dari cengkeraman lelaki yang tidak di cintai nya.


"Saya sudah menerimanya."


"Omong kosong! Cepat sekali. Kau hanya takut padanya."


"Saya juga tidak tertarik dengan anda!! Lalu apa bedanya! Dia ataupun anda!" Menunjuk ke Daniel dan Nathan." Tidak ada yang menarik di mata saya!!!" Daniel terkekeh, Dinda tersenyum aneh sementara Nathan membuang nafasnya kasar." Ini akan terlambat." Tiara melepaskan pegangannya walaupun Daniel mencegah.


"Tetap di sini." Pinta Daniel.


"Terlalu lama. Aku mau pulang!!!" Tiara melangkah dengan harapan para ajudan bisa memberikan jalan.


"Maaf Nona." Salah satu dari mereka hendak menahan Tiara dengan menyentuh tangannya.


Duakkkk!!


Braaaakkkkk!!!


Daniel menendang si ajudan dengan sedikit sentuhan dan membuatnya terlempar lalu mendarat ke salah satu meja.


Hanya sentuhan kecil Daniel. Tidak boleh sampai membunuh.


Kekuatan yang tidak sepadan, tentu membuat si ajudan menggerang kesakitan dengan luka lebam di perut.


"Menyentuhnya sama halnya mencari masalah dengan ku." Ancam Daniel dengan harapan para ajudan merasa ketakutan. Tapi apalah daya, mereka hanya orang suruhan.


Saat Nathan mengeluarkan titahnya, mereka langsung mengeroyok Daniel.


Dinda berjalan mundur bersama Tiara seraya memperhatikan bagaimana berkilaunya pesona Daniel ketika menghabisi para ajudan bertubuh besar itu.


Kak Daniel Perfect sekali.


Tiara menarik nafas panjang. Jantungnya bergetar hebat. Dia menyukai permainan yang Daniel tunjukkan.


Dia seksi.


Tiara berpaling. Dia menyadari jika Daniel bukanlah manusia. Tiara kembali mengingat ucapan Daniel saat berada di rooftop.

__ADS_1


Walaupun bukan manusia. Kak Daniel tetap masuk tipe ku. Ya Tuhan. Sejak kapan aku memiliki tipe lelaki hehehe..


🌹🌹🌹


__ADS_2