
Daniel mengajak Angel bertengger di salah satu pohon besar. Kedua tangan Angel menggenggam erat lengan Daniel sebab merasa belum terbiasa berada di ketinggian sekitar 20 meter.
"Jangan jatuhkan aku!" Teriak Angel dengan wajah memucat.
"Tidak akan terjadi. Rileks saja Babe." Daniel menumpukan jemarinya pada kedua tangan Angel yang memegangnya erat.
"Iya sebentar." Angel menarik nafas panjang untuk mengatur perasaan tegangnya." Apa kita sudah sampai Kak." Tanyanya lirih.
"Sedikit lagi. Kita tidak bisa sembarangan masuk." Telunjuk Daniel mengarah lurus ke depan." Di sana ada pelindung nya. Jika seorang manusia melewatinya. Nyawa mereka sudah menjadi milik para prajurit kerajaan." Angel mengangguk. Dia melihat sebuah pelindung berbentuk lingkaran.
Matanya menatap fokus ke depan. Mencoba mengasah kemampuan pengelihatannya. Dia melihat sebuah tempat itu begitu sunyi meski bangunan rumah para rakyat masih berdiri kokoh.
Bukan aroma amis tapi...
Mata Angel membulat saat aroma daging busuk tercium olehnya.
Seharusnya aroma darah segar yang amis tapi kenapa aromanya sangat busuk? Lalu mereka siapa? Makhluk mengerikan apa itu!!
Sungguh di luar dugaan jika pengelihatan yang di miliki Angel jauh lebih tajam. Bukan hanya menembus pelindung tapi dia juga sanggup melihat sebuah ruang bawah tanah yang berisi jutaan makhluk mengerikan.
"Melihat apa?" Tanya Daniel membuyarkan lamunannya." Takut?" Imbuhnya memastikan.
"Se sedikit Kak." Itu tempat apa? Kenapa rumah-rumah itu kosong? "Bagaimana kehidupan mereka? Apa sama seperti manusia?" Tanya Angel dengan keingintahuan begitu besar.
"Sama. Hanya saja, kita tidak berfokus mencari kekayaan seperti yang di lakukan manusia. Bangsa kami hanya berfokus pada kegiatan sehari-hari."
"Bentuk mereka seperti Kak Daniel?"
"Hm ya. Hanya prajurit kerajaan yang memiliki bentuk mengerikan. Mereka di tempatkan pada perbatasan."
"Tidak di kurung?" Lalu makhluk apa yang ada di dalam jeruji itu?
"Ingin tahu sekali." Daniel terkekeh kecil.
"Jawab Kak. Aku suka hal-hal mengerikan."
"Tentu saja mereka bebas berkeliaran Babe. Mereka prajurit kerajaan yang memang di khususkan untuk menjaga perbatasan wilayah. Itu juga terjadi di negaraku." Pengelihatan yang dapatkan Angel, membuatnya cukup bergidik ngeri.
Ini lebih parah dari film horor dan zombi.
"Kita pergi Kak."
"Katanya ada tambahan waktu?"
"Tidak di sini." Aku akan menyelidiki ini sendiri. Seperti rencana ku bersama Bibik.
"Ingin ke mana?"
"Bagaimana dengan makan?" Aku bukan manusia tapi kenapa aku memakan sajian manusia. Membingungkan sekali.
"Makanan apa yang kamu sukai?"
"Aku tidak pernah tahu makanan apa yang di jual pada malam hari."
"Hm aku juga tidak tahu." Daniel membawa Angel pergi ke sebuah depot. Keduanya sama-sama tidak mengerti makanan enak, langsung duduk dan memesan masing-masing satu dari menu.
Suasana yang ramai, membuat mereka menjadi sorotan. Ketampanan dan kecantikan yang tidak biasa, tentu menimbulkan daya tarik begitu kuat.
"Kak Daniel tidak mencobanya?" Daniel menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Tidak. Terimakasih. Aku sudah pernah memakannya tapi tidak bisa."
"Kenapa?"
"Kerongkongan ku terasa menyempit."
Tapi kenapa ini sangat enak di lidah ku. Padahal jika ada darah aku juga tidak menolak mengkonsumsinya.
__ADS_1
"Oh begitu. Menu ini paling enak." Angel menggeser semangkuk capcay." Bibik sering membuatkan ku nasi goreng." Celotehnya tanpa memperdulikan tatapan sekitar.
"Bagaimana rasanya."
"Sangat segar Kak." Aku tidak perduli dengan jati diriku yang membingungkan. Aku merasa beruntung bisa memakan sajian ini. Ah sedap.. Aku akan menyuruh Bibik membuatkannya..
Tiba-tiba saja kunyahan Angel terhenti saat melihat sebuah mobil mewah yang cukup di kenalnya berhenti. Posisi tempat duduk yang mengarah ke jalan membuat Nathan dengan mudah menemukannya.
Dia lagi...
"Ini benar kamu." Nathan menatap lekat paras cantik Angel.
"Kau lagi." Daniel mendengus menatap Nathan dengan penampilan santainya. Terlihat lebih tampan ketika dia mengenakan jas rapi.
"Aku tidak sengaja melintas dan melihat sesuatu yang sangat bersinar." Angel tidak menjawab sepatah katapun dan menikmati sajian di hadapannya dengan santai." Bolehkan aku bergabung?" Imbuh Nathan bertanya.
"Silahkan." Angel berdiri dan menyudahi kegiatan makannya.
"Mau ke mana?"
"Pergi dan silahkan anda duduk di sini." Nathan menghembuskan nafas berat sebab usahanya kembali di tolak." Bayar Kak. Ayo kita pulang." Daniel mengambil dompet lalu meletakkan beberapa lembar uang.
"Ini tidak adil Tiara." Kaki jenjang Nathan mendahului Angel yang akan pergi.
"Tidak adil apa?"
"Bukankah kamu tidak suka dia." Menunjuk ke Daniel." Lalu kenapa kamu tidak memberikan kesempatan untuk membuktikan keseriusanku." Kecantikan Angel benar-benar membius otak Nathan dan mulai mengendalikannya.
"Sekarang suka." Kedua tangannya memegang erat lengan Daniel." Pergilah Om. Anda bukan tipe saya." Daniel terkekeh kecil penuh ejekan menatap Nathan. Tidak penting sekali memikirkan orang ini!! Masalah ku sangat berat dan harus di tambah dengan kegilaan lelaki ini.
"Paling tidak beri aku kesempatan."
Ini tidak akan berhenti. Pelajaran selanjutnya..
Angel melepaskan lengan Daniel lalu berdiri tepat di hadapan Nathan. Dia ingin mempraktekkan ajaran yang di arahkan Elena padanya.
"Anda tidak pernah mengenal Tiara. Semua memori tentangnya akan menghilang." Tepat di saat kata terakhir terucap, Daniel menarik lembut lengan Angel karena merasa cemburu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Daniel seraya melihat raut wajah Nathan dengan tatapan kosong.
"Tidak ada. Ayo Kak." Segera saja Angel menggiring Daniel pergi agar perbuatan tidak di ketahui.
Supir pribadi Nathan yang melihat, langsung menghampirinya untuk memeriksa.
"Tuan." Panggilnya tidak di respon." Tuan kenapa?" Nathan masih saja tidak di respon sebab sentuhan Angel membuat fungsi otaknya berjalan melambat.
.
.
.
"Cukup untuk malam ini. Aku mau pulang." Daniel menatap lemah seakan merasa tidak rela.
"Terasa sangat singkat."
"Besok ada kuliah pagi. Aku takut kesiangan."
"Mana bisa aku menolak." Daniel segera mengantarkan Angel pulang.
"Setelah ini kamu mau ke mana Kak?" Keduanya berdiri saling berhadapan di teras kamar.
"Ingin ikut?" Angel berpura pura menguap padahal sejak kuncian kekuatan terlepas, rasa kantuk perlahan terkikis.
"Aku mengantuk sekali Kak."
"Ini masih pukul 10. Mungkin kamu mau berkeliling dulu bersama ku."
"Tidak. Aku ingin tidur."
__ADS_1
"Oke. Aku akan pergi sendiri." Daniel mengangkat tangannya dan mengusap lembut puncak kepala Angel." Selamat beristirahat." Dengan lembut, Angel menyingkirkan tangan Daniel dari kepalanya.
"Besok kita bertemu lagi. Bye Kak Daniel." Angel akan berjalan masuk meskipun Daniel belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.
"Boleh aku masuk diam-diam jika nanti aku rindu? Aku berjanji tidak akan melakukan apapun."
"Tidak!" Jawab Angel cepat." Jika aku tahu Kak Daniel melakukan itu. Jangan pernah menemui ku lagi!!" Angel memutar tubuhnya sedikit seraya menunjuk ke Daniel.
"Aku akan menahannya hingga besok. Selamat malam." Daniel melambai kemudian menghilang dari teras kamar. Cepat-cepat Angel masuk dan mengunci jendela.
Setelah memastikan Daniel benar-benar tidak ada. Dia berjalan keluar kamar dan menemui Elena dengan gerakan cepat.
"Bibik." Elena menatap Angel berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Bagaimana?" Tanya Elena antusias.
"Pelajarannya sudah ku kuasai."
"Bibik merasa kamu sangat spesial sayang." Elena menurunkan tubuhnya dan duduk di bawah lantai. Dia membuka salah satu ubin keramik yang terletak di bawah ranjang.
Tangannya meraih sebuah kotak lalu mengeluarkan buku usang dari dalamnya.
"Ini hanya salinan sayang." Ucapnya mengembalikan kotak serta posisi ubin." Bibik sengaja menyalin apa yang pernah Bibik baca pada buku di kerajaan." Elena menyerahkan buku tersebut pada Angel.
"Buku apa ini Bik?"
"Panduan untuk mengasah kemampuan. Bibik tidak tahu sejauh apa kekuatan yang kamu miliki." Elena menepuk-nepuk ranjang dan menginginkan Angel duduk di sana. Dia membuka halaman pertama buku tersebut." Lihatlah. Ini tingkatan yang harus kamu lakukan." Elena berhenti saat sudah berada di halaman 7." Bibik hanya mampu mempelajari sampai sini. Itu batasan kekuatan Bibik." Angel mengangguk dan terus membuka halaman demi halaman.
Ini yang ku butuhkan...
"Bibik dapat ini darimana?"
"Itu tulisan tangan Bibik sendiri. Bibik takut lupa sehingga menuliskannya di situ."
"Ada buku aslinya?"
"Ada sayang. Tapi di kerajaan. Alex pasti sudah menyembunyikannya." Elena terdiam sesaat mengingat kejadian saat dia mencuri beberapa buku yang seharusnya hanya boleh di pelajari oleh raja.
"Aku membutuhkan ini Bik."
"Menyamarkan aroma tubuh?"
"Hm iya."
"Untuk apa?"
"Datang ke kerajaan. Agar Alex tidak mengendus ku."
"Tidak sayang. Itu berbahaya. Ajaklah Daniel."
"Bukankah rencana kita merahasiakan semuanya. Aku akan mempelajari ini lalu mempraktekkannya."
"Tapi tidak untuk pergi ke kerajaan. Di sini masih aman sebab ini kekuasaan manusia. Jika kamu berada di sana dan tertangkap prajurit kerajaan, Bibik tidak ingin itu terjadi." Angel berdiri seraya membawa buku salinan.
"Kejahatan tidak selalu berada di atas Bik. Aku yakin sudah saatnya Alex menghentikan kegilaannya. Dia sudah terlalu kenyang berburu para gadis itu dan tidak akan ku biarkan dia memisahkan kedua orang tuaku. Ini tugasku, karena aku anak mereka." Angel tersenyum simpul lalu pergi keluar dari kamar Elena.
Aku harus mendapatkan lebih banyak informasi agar Angel bisa mencari celah untuk mengalahkan Alex. Ini semua salahku, seharusnya aku tidak menerima penawaran itu. Seharusnya aku melindungi Cucuku. Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku harus menebusnya. Aku hanya ingin melihat Angel baik-baik saja dan berkumpul kembali bersama Lucas juga Noa..
🌹🌹🌹
Yang kangen Lucas 👇
Aku harap para pembaca sabar menunggu 😁Maklum karena anak penulisnya sudah 2😀😀
Aku sering kehilangan fokus karena mereka masih butuh perhatian..
Terimakasih atas dukungannya 🥰🥰
__ADS_1