Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
41


__ADS_3

Keesokan harinya..


Setelah membersihkan diri, Tiara mengganti baju dan bersiap untuk kuliah. Tapi anehnya, Tiara kembali mengenakan baju tertutup seolah ingin menyembunyikan jati dirinya setelah kejadian semalam.


Berita akibat ulahnya, menjadi viral dan di perbincangkan banyak orang. Dengan cepat berita itu tersebar di seluruh siaran televisi juga internet.


"Pagi Bik." Sapa Tiara duduk di salah satu kursi makan.


"Pagi juga Non." Elena menyiapkan sarapan bahkan mengambilkannya." Loh kok pakai baju tertutup lagi." Tanya Elena seraya menuang air putih.


"Sudah terbiasa Bik. Rasanya lebih nyaman seperti ini."


"Apa ada yang menganggu Non kemarin?"


"Iya tapi sudahlah, aku tidak perduli." Tiara mengunyah makanannya pelan. Itu masih sangat terasa enak di lidahnya sehingga dia yakin jika dirinya merupakan manusia. Taring ku bahkan tidak ada.


"Bibik juga khawatir kalau Non banyak yang menganggu." Sudah pasti jika Alex tidak akan tinggal diam dan membunuh semua lelaki yang ada di dekatmu.


"Itu kenapa lebih baik di tutupi."


"Syukurlah kalau Non sadar." Pandangan Elena beralih saat dia melihat Alex muncul dari balik pintu.


"Itu memang untuk menjagamu." Sahut Alex berjalan menghampiri Tiara." Daddy akan mengantarkan mu ke kampus." Imbuhnya duduk di samping Tiara sementara Elena memilih pergi.


"Daddy pulang lagi? Apa tidak merepotkan?" Sindir Tiara ketus.


"Tidak. Hanya sebentar lalu kembali ke perkerjaan."


"Daddy tidak takut aku tertarik dengan lelaki lain." Mata Alex melebar saat dia mendengar perkataan yang di lontarkan Tiara.


"Tidak akan Daddy biarkan itu terjadi. Kamu hanya milik Daddy."


"Carilah wanita dewasa dan biarkan aku menikah dengan yang lain." Dengan gerakan cepat, Alex memutar kursi yang di duduki Tiara sehingga keduanya saling berhadapan.


"Katakan. Apa kamu menyukai seseorang?" Tanya Alex penuh penekanan. Tatapannya terlihat garang sebab emosi yang langsung berkecamuk di hatinya.


"Tidak." Dia marah. Dia takut sekali tapi kenapa dia tidak pernah ada waktu untukku.


"Lalu? Untuk apa ucapan itu terlontar. Kau hanya milik Daddy. Siapapun yang tertarik padamu, akan Daddy singkirkan." Tiara menelan makanannya pelan karena melihat kecemburuan yang membuat wajah Alex berubah garang.


"Aku hanya bertanya." Tiara memutar tubuhnya dan kembali sarapan pagi." Daddy begitu takut tapi tidak menjagaku." Protesnya seraya mengunyah.


Karena aku tahu jika tidak ada seorangpun yang bisa melukaimu. Tapi untuk melihatmu di miliki lelaki lain? Tidak Tiara! Kau sumber kebahagiaan mereka dan aku harus memiliki mu.


"Tidak menjaga bukan berarti tidak perduli."


"Itu sama saja." Tiara meletakan sendoknya lalu berdiri seraya meneguk air putih yang di siapkan.


"Jam berapa kelas di mulai? Kenapa pagi sekali?" Alex melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh.


"Setengah delapan. Aku mengambil kelas pagi agar bisa berjalan-jalan dengan temanku." Mata Tiara melebar saat dia mengingat nama Dinda. Sudah sejak semalam ponselnya tidak berbunyi padahal biasanya Dinda menanyakan keadaannya. Apa Dinda akan membenciku dan tidak mau berteman denganku. Alex ikut berdiri dan membaca kekhawatiran dari mimik wajah Tiara.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Temanku marah padaku. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku takut telat." Alex merangkul kedua pundak Tiara dan mengiringinya ke depan.


"Teman mu kemarin?" Tiara mengangguk." Apa yang terjadi?" Tanya Alex ingin tahu.


"Hanya kesalahpahaman kecil. Aku tidak pandai membuat seseorang merasa nyaman. Mungkin saja dia sedikit bosan." Alex membuka pintu mobil untuk Tiara bahkan melindungi kepalanya agar tidak terbentur body mobil.


"Itu hal biasa. Kalian akan berbaikan lagi."


"Iya." Jika Dinda pergi. Aku tidak lagi memiliki teman.


Setibanya di kampus, tidak seperti biasanya Alex membukakan pintu mobil untuk Tiara. Tubuh yang masih begitu bugar membuat para mahasiswi yang melintas berdecak kagum.


Tiara menddesah, saat terdengar jelas suara hati banyaknya mahasiswi yang ada di sana.


Sebenarnya, kekuatan apa yang ku miliki ini. Telingaku terasa aneh seolah mereka berbicara di gendang telingaku.


"Jangan terlalu memikirkannya. Kalau nanti temanmu ingin berjauhan dulu. Sebaiknya kamu langsung pulang saja."


"Hm iya. Apa Daddy akan menjemput nanti?" Alex terkekeh kecil seraya mengusap puncak kepala Tiara.


"Itu tidak mungkin sayang."


"Oh."


"Tapi Daddy menyanyangi mu."


"Hai Tiara." Sapaan dari Ibra sontak membuat keduanya menoleh.


Sialan anak itu? Kenapa dia menyapaku!!! Tiara langsung memegang erat lengan Alex agar tidak terjadi salah faham.


"Aku tidak mengenalnya Daddy." Bisik Tiara menjelaskan.


Apa ini seseorang yang berusaha mendekati Tiara ku. Alex tidak menjawab. Dia memperhatikan Ibra dari atas ke bawah dengan lekat.


"Sebaiknya Daddy pergi. Bukankah Daddy sibuk." Sorot mata Alex membuat Tiara takut jika peringatan Elena benar-benar terjadi.


Tuan Alex sangat kejam. Sebaiknya Non jangan bercerita perihal gangguan dari teman Non.


"Oh dia Ayahmu? Astaga, masih sangat muda. Selamat pagi Om. Saya Ibra, teman Tiara." Sial bagi Ibra sebab Alex langsung memperlihatkan senyum ganjil.


"Tidak Daddy. Aku hanya berteman dengan Dinda."


Kau akan menyesal sudah menganggu milik ku.


"Aku tidak menyukai Tiara berteman dengan anak laki-laki. Sebaiknya kau jangan menganggunya."


Wah. Ayahnya garang sekali. Aku semakin ingin mendapatkannya.


Kau mencari masalah dengan berkata seperti itu.

__ADS_1


"Saya lelaki terhormat."


"Bukankah sebaiknya kamu pergi!!" Sahut Tiara geram.


"Aku tidak akan mudah pergi Tiara." Mata Alex berkilat merah. Dia sangat muak melihat wajah Ibra yang sudah tersimpan pada memori otaknya.


"Sebaiknya kamu masuk sayang."


"Tapi Daddy.."


"Daddy sudah telat. Belajar yang rajin. Oke." Alex mengusap puncak kepala Tiara lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan Tiara yang masih berdiri di samping Ibra." Berhenti Mang." Pinta Alex tengah mendengarkan gangguan apa saja yang di lontarkan Ibra dari jarak aman." Antar saya ke tempat biasa." Ujang mengangguk dan kembali melajukan mobilnya.


Daddy tega sekali! Dia tidak cemburu melihatku di goda anak sialan ini!!


"Hei Tiara, aku tidak akan menyerah." Ibra mengekor saat Tiara berjalan melewatinya.


"Terserah!! Lakukan sesukamu!!" Teriak Tiara geram. Selain kesal dengan sikap Ibra. Kepergian Alex membuatnya ingin menjerit dan berteriak. Daddy tega sekali! Dia meninggalkanku begitu saja! Dia tidak khawatir! Ah tentu saja! Mana pernah dia memikirkan bagaimana perasaan ku!!


Ibra mencoba menghentikan langkah Tiara dengan memegang pundaknya. Tubuh Tiara memutar lalu menyingkirkannya. Sungguh itu adalah niat awal. Tapi yang terjadi sekarang tidak sesuai dengan sentuhan ringan yang Tiara berikan.


Tubuh Ibra terpental membentur salah satu pohon besar. Mata Tiara melebar menatap kedua tangannya seakan tidak percaya.


Tidak!


Tiara menjadi sorotan banyaknya para mahasiswa yang mulai mengerumuni Ibra. Segera saja Tiara berlari untuk memeriksa.


"Agh! Tanganku." Teriak Ibra dengan tangan kanan yang terlihat patah.


"Apa yang kau lakukan!!" Ucap salah satu mahasiswa tentu menyalahkan Tiara atas musibah yang terjadi pada Ibra.


"Mana mungkin aku melakukan itu." Jawab Tiara mengelak.


"Kami melihatnya! Dasar aneh!! Cepat telepon ambulance." Mata Tiara berkaca-kaca. Dia sungguh tidak berniat melukai Ibra. Dia hanya mencoba membela diri.


Tiara memundurkan tubuhnya lalu membentur dada bidang Daniel yang memang selalu ada di saat dia membutuhkan pertolongan.


"Tidak perlu memanggil ambulance." Sahut Daniel merangkul kedua pundak Tiara erat.


"Dia patah tulang!" Menunjuk ke Ibra yang tidak sadarkan diri.


"Itu bukan patah. Sebentar." Daniel melepaskan rangkulannya lalu duduk berjongkok di hadapan Ibra. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Daniel yang tidak mengerti masalahnya langsung mengangkat tubuh Ibra sendirian.


Wahh kuat sekali Kak Daniel..


Serius dia kuat mengangkat tubuh Ibra sendirian..


Dengan jelas Tiara mendengar suara hati para mahasiswi yang ada di sana.


"Ikuti aku." Ucap Daniel lirih. Tiara tidak banyak bicara dan langsung mengikuti langkah Daniel dengan sorakan yang terdengar riuh.


"Apa maksud Daniel membawa Ibra ke klinik! Sudah gila anak itu!" Umpat mahasiswa yang merasa yakin jika tangan Ibra benar-benar patah.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2