Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
68


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kampus. Angel tersenyum melihat suasana kota yang kembali baik. Kerusakan mulai di perbaiki oleh pihak pemerintah. Angel berharap jika berita yang memanas akan meredah seiring berjalannya waktu.


"Lega rasanya."


"Ya." Angel mengangguk pelan.


"Kamu mencuri mobil dari mana Kak." Daniel kembali terkekeh untuk kesekian kali. Tebakan Angel terdengar begitu manis namun mampu menyayat telinga.


"Apa maksud perkataan mu Babe. Bagaimana mungkin aku mencuri?"


"Kamu tidak berkerja. Lalu uang dari mana?"


"Lalu? Bagaimana dengan Ayah Lucas." Angel menoleh karena baru menyadari keganjilan itu. Lucas bahkan tidak berkerja namun memiliki rumah megah dan kekayaan tidak terbatas.


"Memangnya darimana?" Tanya Angel balik.


Daniel membuka laci mobil lalu mengeluarkan emas batangan dari sana. Dia meletakkannya pada pangkuan Angel.


"Emas?"


"Ya. Bukankah itu bisa di tukar dengan uang?"


"Kau mencuri emas?"


"Aku tidak mencuri. Aku punya banyak di apartemen. Menurutmu, darimana aku bisa membayar uang kuliah juga pemalsuan data. Uang itu mempermudah semuanya." Angel mengerutkan keningnya seraya membolak-balikkan emas.


"Kenapa tidak membeli mobil dari dulu?" Aku memberikan syarat itu agar aku bisa berangkat kuliah sendiri. Tapi ternyata dia benar-benar membeli mobil untuk menjemput ku.


"Aku malas membawa alat ini. Jika aku menghilang, itu terdengar sangat mudah."


"Bukankah itu terasa aneh? Kita berada di lingkungan manusia, sudah seharusnya kita hidup seperti mereka dan mengunakan kekuatan kalau terdesak saja." Tebakan Daniel berbanding berbalik. Dulu dia mengira jika Angel gadis pendiam dan dingin. Tapi ternyata Angel sangat banyak mulut bahkan pandai berprotes.


"Siap Babe. Akan ku lakukan." Jawab Daniel terpaksa mengiyakan daripada nantinya bisa memicu obrolan yang tidak pernah ada ujungnya. Angel tidak menyadari jika Daniel sangat menghormati manusia bahkan rela memberikan pertolongan dalam bentuk apapun.


Mobil terparkir di area kampus. Saat Angel akan turun, Daniel meraih pergelangan tangannya erat sehingga membuat tubuh Angel tertahan.


"Apa!" Angel menarik kasar tangannya.


"Pakai ini." Memberikan sebuah masker.


"Untuk apa? Aku ingin menikmati kebebasan." Daniel menddesah seraya menatap paras cantik Angel.


"Mana mungkin bisa bebas. Kamu itu Istri ku. Aku bahkan sudah berbicara pada Ayah tentang ini."

__ADS_1


"Aku tidak mau. Masker membuatku sesak bernafas." Angel akan turun dari mobil dan berusaha tidak memperdulikan keinginan Daniel.


"Oh begitu. Aku akan bicara pada Mama soal ini. Dia pasti akan bersedih saat menyadari putri tercintanya tidak mematuhi Suaminya." Segera saja Angel mengurungkan niatnya untuk turun. Perpisahan yang begitu panjang membuat Angel ingin membahagiakan kedua orang tuanya tanpa menorehkan luka sedikitpun.


"Itu curang namanya!!" Protes Angel kesal.


"Curang bagaimana?" Angel menatap lemah ke kaca mobil di hadapannya yang memperlihatkan para mahasiswa berlalu lalang." Aku tidak rela kecantikanmu di nikmati banyak pasang mata." Imbuh Daniel merajuk. Angel masih tidak bergeming. Dia benar-benar ingin merasakan kebebasan." Hanya masker Babe. Ayolah. Mataku cukup panas melihat bajumu sekarang. Lengannya terlalu terbuka dan baju itu terlalu kecil." Angel malah terkekeh melihat kekhawatiran Daniel yang di rasa keterlaluan.


"Kamu mengingatkan ku pada makhluk buruk itu."


"Hei itu berbeda. Aku benar-benar tidak rela sementara makhluk itu sengaja menyembunyikan mu."


"Aku ingin hidup normal Kak."


"Tidak akan terlihat normal jika kamu tidak memakai ini." Menyodorkan masker.


"Ah menyebalkan!!! Kau mengancam!!" Dengan gerakan cepat Angel meraih masker lalu memakainya dan turun di ikuti oleh Daniel.


Meski tertutup masker, tetap saja kulit bersinar Angel menjadi sorotan. Daniel membuang nafas kasar lalu meraih jemari Angel dan menggenggamnya.


"Kasus sudah terpecahkan. Aku akan selalu berada di dekatmu sekarang." Saat Daniel akan melangkah, Angel menahannya.


"Tunggu!" Tuturnya menatap sekitar. Banyak mahasiswa yang memuji ketampanan Daniel apalagi sekarang Daniel turun dari mobil mewah.


Sementara pemandangan yang tersuguh pagi ini. Membuat hati para mahasiswi kembali menggebu. Semakin menginginkan sosok yang memiliki fisik di atas sempurna.


"Apalagi?"


"Sangat curang jika aku saja yang memakai." Angel membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah masker yang memang selalu di bawa." Kamu juga pakai ini." Imbuhnya menyodorkan masker.


"Kamu cemburu hahahaha." Ledek Daniel.


"Tidak. Aku hanya ingin kau merasakan bagaimana sesaknya memakai benda ini! Cepat pakai."


"Bagaimana caranya?" Dengusan nafas berhembus dengan lirikan mata tajam.


"Sengaja sekali."


"Kamu sudah ku tandai sejak lama. Semuanya tahu jika kamu milikku apalagi sekarang kamu sudah menjadi...."


"Stop Kak!" Segera saja Angel menjinjit lalu memakainya masker pada Daniel agar mulutnya bisa diam.


"Tiara."

__ADS_1


Sontak Angel menoleh dan menghentikan kegiatannya. Dia menempelkan masker yang belum sempat terpakai pada dada bidang Daniel.


" Pakai cepat!!! Atau aku akan lepaskan masker ini!!" Bisik Angel seraya memasang senyuman untuk membalas sapaan Dinda.


"Kalian semakin akrab. Semua mahasiswa membicarakannya."


"Ya kita kan sudah jadian. Bukan begitu Babe." Bibir Angel mengerucut lalu meraih pergelangan tangan Dinda cepat.


"Jangan dengarkan dia." Dinda tersenyum simpul. Menatap perubahan cara berpakaian Angel yang terlihat baik.


"Tidak perlu malu. Kalian pasangan yang cocok hehe." Setelah memastikan Daniel memakai masker, Angel berjalan mendahuluinya.


"Ini kampus Dinda. Jangan berbicara soal pasangan." Angel menghentikan langkahnya ketika dia sadar Daniel belum juga beranjak untuk mengikutinya.


Apalagi terdengar beberapa mahasiswa berniat mendekati Daniel sehingga memicu perasaan tidak rela dan juga cemburu.


"Ya tetap saja di situ sampai nanti!!" Teriak Angel geram. Menatap Daniel dengan kilatan mata tajam. Dinda yang baru mendengar suara buruk itu langsung melongok tidak percaya.


Daniel berjalan menghampiri dengan senyuman hangat. Tangannya meraih pundak Angel berusaha untuk menenangkan perasaannya.


"Kamu meninggalkan ku di sana. Lalu bagaimana letak salahnya?"


"Aku juga menyuruhmu tetap di sana agar para gadis itu bisa leluasa mendekatimu!!!" Angel menyingkirkan tangan Daniel dengan kasar lalu kembali berjalan mendahuluinya.


"Apa menariknya mereka. Apa dia tidak tahu jika selama ini aku tidak pernah perduli pada manusia-manusia itu. Ah... Sepertinya lingkungan kampus sangat mudah untuk menekan rasa cemburunya agar dia segera mengakui hubungan kami." Tiba-tiba saja tubuh Daniel terdorong mundur sedikit. Dia menatap lurus lalu tersenyum saat menyadari jika itu perbuatan Angel." Aku segara menyusul." Gumam Daniel bergegas mengikuti langkah Angel.


Tanpa sadar, seseorang dari jauh tengah memperhatikan Angel dari tempatnya berdiri. Seseorang itu adalah Jonathan yang kembali tertarik dengan sosok Angel meski saat itu ingatannya di hapus.


"Papa melihat apa?" Tanya Alexa mengedarkan pandangannya.


"Tidak ada." Siapa gadis itu? Kulitnya menyilaukan mataku.


Semenjak kejadian penyekapan dulu. Alexa sudah tidak lagi bermain api di belakang Nathan. Dia mencoba setia dan menyadari ketergantungan hidupnya berada pada genggaman tangan Nathan.


Sementara Nathan yang masih belum melupakan kecurangan yang Alexa lakukan. Masih berusaha mencari sosok lain untuk menggantikan posisi Alexa yang sudah tidak lagi di cintainya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Cerita tanpa konflik itu terasa hambar. Jadi aku akan menambahkan konflik agar ada sedikit rasa berdebar-debar ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Terimakasih dukungan komentar positif nya๐Ÿ˜


Meski aku tidak pernah membalas komentar.. Tapi aku selalu membacanya ๐ŸŒนโค๏ธ

__ADS_1


__ADS_2