Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
21


__ADS_3


Daniel menunjukkan beberapa video tentang berita menghilangkannya banyak gadis muda. Tiara menyimak berita itu dengan wajah serius dan antusias.


"Aku sedang menangani kasus ini. Hampir setiap malam aku menyisir beberapa tempat walaupun belum membuahkan hasil." Tiara menelan salivanya pelan dengan nafas berhembus panjang.


"Kenapa kamu perduli Kak? Bukankah kamu bukan manusia?"


"Hm ya. Hidup saling berdampingan begitu indah. Untuk apa saling memangsa. Aku perduli dengan itu dan aku suka pertualangan." Tiara mengangguk seraya tersenyum." Semakin sulit masalah, itu akan jadi tantangan untuk ku." Bahkan jika mungkin kau ingin ku lepaskan dari perjodohan itu. Aku sangat mau melakukan itu Babe. Daniel mengaruk kepalanya. Keinginan itu terlintas begitu saja seakan dia tidak rela jika Tiara di miliki orang lain.


"Jadi kita akan bermain detektif Conan." Daniel terkekeh begitupun Tiara." Aku sudah menonton semua filmnya juga membaca komiknya." Imbuhnya tersenyum.


"Ini lebih menyenangkan karena ini nyata."


"Wah. Aku tidak percaya ini. Kita akan mengunjungi beberapa tempat untuk mencari bukti." Ada rasa mengganjal pada hati Daniel saat melihat antusias Tiara yang seharusnya merasa takut.


"Kamu tidak takut?"


"Tidak Kak. Aku sering berkhayal saat aku membaca novel atau komik fantasi."


"Tentu saja hehe. Kau memang sedikit aneh." Tapi aku suka.


"Hm ya."


"Bisakah kamu lepas masker itu? Di sini hanya ada kita."


"Tidak Kak."


"Why not?"


"You are also a man."


"Satu-satunya lelaki luar yang tahu wajah mu. Aku sudah melihatnya Tiara. Tidak perlu malu." Biarkan aku menikmatinya walaupun hanya sebentar.


"Ini untuk menjaga ku. Kata Daddy aku terlalu cantik. Dia takut aku di lecehkan." Jawab Tiara polos.


"Kita teman. Aku akan menjaga mu." Kepolosan Tiara membuatnya dengan mudah mempercayai ucapan Daniel sehingga perlahan masker pada wajahnya di lepas.


Oh babe. You are really very beautiful..


Plaaaaaakkkkkk!!


Tiba-tiba pipi Daniel terasa sedikit panas saat tangan Tiara menamparnya.


"Jangan melihatku seperti itu." Tiara berniat memakai lagi maskernya namun Daniel mengambilnya lalu mengantonginya.

__ADS_1


"Melihat saja. Pukulanmu cukup kuat." Daniel mengusap pipi kirinya.


"Ingat Kak. Aku bukan gadis penakut! Aku tidak ingin mencari masalah! Itu sebabnya aku menghindar. Jadi! Jangan harap kau bisa melecehkan ku sembarangan." Akhirnya keinginan Daniel terwujud. Dia bisa menikmati ekspresi Tiara saat sedang marah.


Aku gila? Dia terlihat semakin mengemaskan jika sedang marah.


Plaaaaaakkkkkk!!!


"Ahhh Babe. Astaga." Pekik Daniel terkekeh hingga tanpa sadar dia memanggil Tiara dengan panggilan sayang.


"Apa Kak? Kau memanggilku apa tadi!!"


"Tidak hehe. Kau salah dengar." Tamparannya sangat panas. Dia semakin terlihat seksi.


"Telingaku masih berfungsi dengan baik."


"Iya mungkin karena angin di sini cukup kencang jadi ucapan kita terdengar berbeda." Jawab Daniel menyangkal.


"Ku anggap seperti itu." Tiara memalingkan wajahnya seraya sesekali menoleh. Dia ingin memastikan jika Daniel tidak lagi melihatnya berlama-lama." Apa itu rambut asli?" Tanyanya mencoba mencairkan suasana yang kaku dan aneh sebab ini kali pertama bagi Tiara bersama lelaki asing.


"Ya kenapa?" Daniel mengusap lembut rambutnya yang berwarna terang seperti beruban.


"Bukannya di cat? Terlihat seperti anak badung." Celoteh Tiara membayangkan jika Daniel lelaki yang pintar merayu. Apalagi di padukan dengan warna rambutnya, menambah kesan nakal meski sikap itu berbanding terbalik.


"Kenapa berkata begitu. Aku hanya sekedar berkomentar daripada tidak ada yang di bicarakan."


"Ini rambut asli Ba... Em Tiara.." Hampir saja salah memanggil. Hehe.. Ku fikir dia pendiam. Ternyata sangat cerewet untuk ukuran teman baru.


"Hoaaaaaaamm.. Sebaiknya kita kembali. Aku takut ketahuan." Tiara berdiri di ikuti Daniel.


"Sebentar lagi saja. Ini singkat sekali."


"Aku takut tapi aku cukup senang. Terimakasih." Tiara mengulurkan tangannya." Masker ku." Imbuhnya membalas tatapan Daniel. Dia bukan manusia. Visual wajahnya sangat berbeda bahkan auranya seperti... Mata Tiara melebar saat dia mengingat jika aura yang di miliki Daniel juga di miliki Alex. Tidak mungkin. Tapi? Mungkin saja benar. Kak Daniel juga seperti manusia. Ada kemungkinan jika Daddy bukan manusia.


"Kamu baru sadar jika aku tampan." Tiara menddesah lembut saat tersadar dari lamunannya." Mereka juga memujiku begitu." Daniel berharap Tiara tertarik padanya dan memintanya tolong melepaskannya dari perjodohan.


"Daddy ku juga sangat tampan." Apa aku tanyakan itu pada Kak Daniel? Ah tidak. Rahasiaku akan terbongkar nanti. Kak Daniel baik, walaupun Vampir. Daddy juga saat baik padaku.


Pembodohan yang di lakukan Alex bertahun-tahun benar-benar merasuk. Tiara seolah terpenjara dalam sugesti yang mengatakan, harus balas budi dengan kehidupan yang di berikan Alex padanya sejak kecil.


"Ayah adalah cinta pertama bagi seorang gadis."


"Hm iya." Tiara tidak ingin melanjutkan pembicaraan lagi. Dia kesal pada hidupnya walaupun tetap harus di jalani. Hidupku hanya untuk Daddy. Ingat Tiara. Tanpa dia, kau tidak akan bisa hidup layak. "Ayo Kak. Besok ada kelas pagi. Aku takut terlambat." Dengan berat hati Daniel mengangguk.


Tiara menggenggam lengannya lalu memejamkan mata. Daniel tidak langsung pergi dan lebih dulu menikmati paras Tiara yang sudah tertutup masker.

__ADS_1


Matamu bahkan lebih indah dari dunia dan seisinya. Aku tidak ingin memaksa. Tapi jika kamu ingin ku lepaskan dari perjodohan. Aku siap membantu mu bahkan menggantikannya.


"Kak!!"


"Hehe iya." Dalam sekejap, Tiara sudah tiba di dalam kamarnya." Buka matamu. Babe." Tiara membuka mata dan melepaskan pegangannya.


"Pergilah."


"Oke. Sampai jumpa besok. Selamat malam."


"Selamat malam juga. Jangan masuk sembarangan lagi!" Pinta Tiara setengah berbisik.


"Tenang saja. Aku mahkluk yang sopan."


"Hm ya sudah. Cepat pergi." Daniel tersenyum lalu menghilang dari hadapan Tiara." Aku harus menghilangkan jejak dulu." Tiara mengambil pengharum ruangan dan menyemprotkannya pada sudut ruangan.


Setelah selesai, Tiara melepas maskernya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Hari ini aku akan bermimpi indah. Sangat menyenangkan bisa menghirup udara segar sebelum tidur. Hoaaaaaaamm..." Tiara menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Dia tidak sadar jika Daniel belum benar-benar pergi.


Daniel berdiri di sudut ruangan di dalam kegelapan. Ingin mendapatkan sedikit bekal untuk mengobati rasa rindu yang mulai menjalar perlahan.


Dia benar-benar mengantuk. Daniel keluar dari persembunyiannya setelah memastikan Tiara sudah terlelap.


Beberapa menit dia berdiri terpaku dengan tatapan fokus menikmati keindahan paras cantik Tiara, sebelum akhirnya dia pergi untuk melakukan perkerjaannya.


Di sisi lain, Mang Ujang yang belum tidur, merasa curiga dengan Elena yang tengah terlihat berjalan mengendap-endap menuju gudang belakang. Gudang itu terpisah dari bangunan utama sehingga jarang di jamah.


Untuk apa Elena ke sana malam-malam? Fikirnya seraya terus mengikuti dan berhenti tepat di depan jendela. Mata Mang Ujang membulat saat melihat seorang gadis terikat dengan bibir tersumpal. Siapa gadis itu?


Dengan mata kepalanya sendiri, Mang Ujang melihat Elena berubah wajah dan menghisap habis darah gadis tersebut. Bibirnya mengatup-ngatup dengan kaki perlahan mundur karena merasa terkejut dengan pemandangan di hadapannya.


Apa itu Elena atau bukan. Batin Mang Ujang bertanya-tanya. Dia takut salah sebab selama ini dia mengenal Elena dengan baik. Mang Ujang tentu merasa ragu dengan apa yang di lihatnya tadi. Sebaiknya aku diam dulu dan mencari bukti yang jelas. Bisa saja itu bukan Elena.


Bruuuuuuukkkkk...


Tiba-tiba tubuh Mang Ujang ambruk saat Elena memukulnya.


Untung saja aku melihatnya..


Elena menyeret tubuh tua itu lalu mendudukkannya di salah satu kursi pos penjagaan.


Semoga saja kau melupakan kejadian tadi. Jika tidak, terpaksa aku harus membunuhmu Mang..


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2