Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
37


__ADS_3


Tiara dan Dinda menatap gelisah ke arah sekitar yang mulai gelap. Karena terlalu asyik mengobrol, keduanya lupa waktu hingga berakhir seperti sekarang.


Taksi yang di tumpangi bahkan mogok. Sementara Daniel yang terbiasa menolong, masih berbincang dengan Noa dan Lucas.


"Bagaimana ini? Aku akan pulang telat." Gumam Tiara gelisah.


"Pak, masih lama?" Dinda menoleh ke supir taksi yang sibuk melihat mesin mobil.


"Maaf Non. Sepertinya masih lama ini." Supir taksi malah tersenyum tipis. Seharusnya dia merasa menyesal sebab dia yang sudah merekomendasikan jalan memotong tersebut.


"Bagaimana sih Pak. Katanya lewat sini lebih cepat sampai. Tapi malah mogok." Tiara menyenggol pundak Dinda, dia tidak suka saat Dinda berkata kasar pada supir taksi yang terlihat tua." Bukankah aku benar Tiara. Kalau kita lewat jalan raya, tidak akan terjadi seperti ini." Tiara menghela nafas panjang. Dia membenarkan tapi juga menyalahkan sikap kasar Dinda pada orang tua.


"Iya tapi, sudah terlanjur. Bapak tidak bisa memanggil teman Bapak? Setidaknya untuk mengantarkan kita pulang. Tidak masalah jika ongkosnya dobel." Ujar Tiara lembut.


"Sebentar Non." Dengan gelagat aneh, lelaki tua itu merogoh ponselnya." Tidak ada signal Non." Jawabnya berbohong sebab terlihat jelas pada layar ponsel jaringan begitu kuat.


Kak Daniel kenapa tidak muncul? Apa dia marah padaku atau sudah sibuk mencari Angel? Tiara menghembuskan nafas berat. Dia merasa tidak pantas berharap lebih pada Daniel.


"Ponselku juga mati. Kamu bagaimana?" Tanya Dinda pada Tiara.


"Aku tidak membawanya." Jawab Tiara menunjukkan isi tas. Bibik bilang Daddy tidak pulang malam ini. Semoga saja Daddy benar-benar tidak pulang. "Sebaiknya cepat di betulkah Pak. Kami tidak punya pilihan lain selain menunggu." Supir tua itu mengangguk dengan lirikan mata yang ganjil.


Wah dapat dua sekaligus. Aku tidak tahu bagaimana wajah satunya. Tapi, gadis satunya lumayan cantik. Batinnya seraya menatap Dinda.


Penyekapan soal Tiara, tidak pernah di dengar oleh bangsa Vampir manapun. Alex sengaja merahasiakan keberadaan Tiara dari para anak buahnya sebab dia takut sebuah pengkhianatan. Tidak salah jika saat ini, para kacung Adam mengincar Dinda, sahabat Tiara alias Angel.


Supir taksi memang seorang manusia. Dia sudah mengabdikan hidupnya pada Adam untuk mencari keuntungan daripada harus menjadi supir taksi dengan gaji tidak seberapa. Kesulitan hidup membuatnya tega menjebak para gadis seperti apa yang di lakukan sekarang.


"Sabar ya Non." Jawabnya tersenyum jahat. Dia menatap sekitar yang sudah gelap. Dengan perlahan, dia mencium cincin yang terpasang pada jarinya untuk memanggil salah satu Vampir.


Kehadiran Vampir yang sudah bertengger di salah satu batang pohon membuat hawa dingin seketika menusuk. Tiara memegang erat jemari tangan Dinda dan saling merapatkan tubuh seraya berbincang.


Keduanya tidak sadar jika sekarang supir taksi hanya berdiri mematung seraya menatap makhluk yang tengah berdiri tidak jauh dari mobil.


"Kamu tidak memakai jaket Tiara. Ini dingin sekali." Dinda akan melepaskan jaketnya. Dia berniat berbagi pada Tiara.


"Pakai saja, aku tidak apa." Suhu badan Tiara yang senantiasa hangat, membuatnya tidak merasa kedinginan.


"Ini dingin. Nanti kamu sakit."


"Aku baik-baik saja." Tiara menoleh ketika melihat seorang pemuda dengan postur tinggi berjalan mendekat. Di dalam kegelapan, terlihat jika pemuda tersebut berparas sangat tampan.

__ADS_1


Darimana dia muncul? Tiara menatap sekitar yang sepi. Mobil di jalan utama bahkan tidak terlihat oleh mereka. Lampu rumah-rumah penduduk tampak begitu kecil karena jarak yang sangat jauh.


"Kenapa mobilnya Pak." Tanyanya ramah. Tiara mencium kuat aroma wangi yang sering di hirup.


Wanginya sama seperti Kak Daniel dan Daddy. Tiara masih menganggap jika Daniel dan Alex memakai parfum yang sama. Padahal, semua bangsa Vampir berbau harum karena tubuh mereka yang tidak pernah berkeringat.


"Mogok."


"Mereka penumpang Bapak?" Menunjuk ke Tiara dan Dinda.


"Iya."


"Daripada menunggu, lebih baik ikut denganku." Tawar pemuda itu tersenyum. Aku bisa membawa dua-duanya. Yang pertama ku bawa adalah.. Sorot matanya menatap Dinda.


"Ikut kemana Kak?" Tanya Tiara sudah merasa curiga.


"Aku tahu jalan rahasia untuk cepat sampai di jalan raya." Dinda dan Tiara mengerutkan keningnya.


"Di sini hanya ada perpohonan."


"Lihat di sana." Menunjuk ke salah satu arah." Jalan setapak itu akan membawa kita cepat sampai." Tiara memang melihat jalan setapak yang di maksud.


"Serius." Tanya Tiara memastikan.


"Kami mau." Dengan segala keterpaksaan Tiara menerima bantuan tersebut.


"Aku takut Tiara." Bisik Dinda. Dia sering membaca berita viral di internet soal banyaknya gadis menghilang secara misterius.


"Ada aku. Jika kita dalam masalah, Kak Daniel akan datang hehe." Tiara mencoba menyakinkan hati Dinda sebab dia merasa ini jalan satu-satunya. Apalagi sikap pemuda yang terlihat tidak terlalu memaksa sehingga membuat Tiara menarik kesimpulan jika sosok itu adalah pemuda baik-baik.


"Hm baiklah."


"Oke mari." Pemuda itu berjalan mendahului keduanya. Setelah berpamitan, Dinda dan Tiara mengikuti langkah pemuda tersebut dengan jarak satu meter.


🌹🌹🌹


Elena setengah mati kebingungan saat dia melihat jam menunjukkan pukul enam. Cepat-cepat dia berjalan ke depan untuk menemui Ujang.


"Mang tolong antar saya mencari Non Tiara." Ujang bergegas berdiri.


"Iya kok belum datang ya si Non." Jawab Ujang yang juga tengah menunggu." Kalau Tuan datang bisa jadi masalah ini." Segera saja Ujang mengambil kunci mobil.


"Tuan tidak pulang. Tapi kalau tiba-tiba pulang bagaimana Mang."

__ADS_1


"Ya sudah ayo." Ujang masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Elena.


Seharusnya aku di beri sedikit kekuatan untuk hal genting seperti ini. Aduh Angel, kamu ada di mana. Apa bersama pemuda itu atau terjadi sesuatu dengan mu.


Rasa khawatir yang di rasakan Elena, tidak sepenuhnya karena takut pada aturan Alex. Dia yang sudah menganggap Tiara sebagai cucu, merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Tiara.


"Kita ke kampusnya ya." Elena mengangguk seraya menatap sekitar, sudah lama dia tidak pergi sejauh ini. Alex membatasi wilayahnya untuk berpergian agar Elena tidak bisa menemui Noa dan Lucas.


Elena menunduk, menatap ke arah liontin yang mulai memanas. Itu terjadi saat Elena mendekati wilayah perbatasan khusus untuknya.


Panas.. Panas sekali.. Elena baru sadar jika batas wilayahnya hanya sampai tepat di samping kampus Tiara.


"Mang, di sini saja." Ujang menghentikan laju mobilnya saat melihat keadaan Elena.


"Kamu kenapa?" Tanya Ujang bingung.


"Sebaiknya Mang Ujang turun untuk bertanya pada Scurity. Aku tunggu di sini."


"Kamu baik-baik saja. Setelah ini kita ke klinik kalau kamu sakit."


"Tidak Mang. Cepat lakukan!" Pinta Elena seraya mendesis.


"Baik. Tunggu." Ujang pun turun, meninggalkan Elena yang mencoba berusaha melepaskan liontin. Seolah mengecil, liontin itu terasa mencekik leher sehingga Elena memeganginya bahkan berusaha mematahkannya.


"Sakit! Sakit sekali!" Rintih Elena menahan perih saat melihat Ujang kembali.


"Kelas sastra sudah selesai sejak tadi siang." Ujang kembali melihat keadaan Elena yang semakin memburuk." Kamu kenapa?" Tanyanya lagi.


"Kita pergi Mang. Putar balik." Pinta Elena tertunduk.


"Lebih cepat jalan lurus."


"Ku bilang putar balik!!!" Teriak Elena menyeringai.


"Ba baik." Ujang berbelok dan melalui jalan yang di lewatinya.


Keadaan Elena berangsur membaik. Liontin terasa merenggang dengan sendirinya.


Kejam sekali kau Alex!! Umpat Elena dalam hati. Itu kali pertama baginya merasakan cara kerja liontin yang melingkar di lehernya.


"Terus bagaimana ini? Kita cari di mana?"


"Pulang saja Mang." Ini salah Alex. Jika terjadi sesuatu dengan Angel. Ini salahnya! Bagaimana mungkin aku bisa mencari jika dia memberikan batasan wilayah seperti itu!!

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2