
Hoi reader.. Aku kembali lagi😁
Untuk mengingatkan episode sebelumnya...
Mohon membaca lagi Bab 30🤭🙏
Happy reading...
Sementara Elena merasa khawatir, Tiara malah belum beranjak dari tempatnya sekarang. Beberapa kali Daniel menawarkan untuk pulang. Namun Tiara selalu menolak dengan berkata..
"Sebentar lagi." Ucapan itu sudah terlontar kesekian kalinya." Tidak ada kelas pagi." Imbuh Tiara beralasan padahal dia sedang ingin menenangkan perasaannya.
"Oh baiklah. Aku hanya takut kamu terkena masalah. Ini sudah sangat larut." Tiara mengangguk seraya menddesah lembut.
"Sampai makanan ini habis. Kamu terlalu banyak memesan makanan." Sejak awal hingga saat ini, Tiara tidak berhenti menguyah. Dia menyanyangkan makanan di hadapannya yang terlihat masih banyak.
"Bungkus saja."
"Itu akan menjadi jejak. Memangnya Kak Daniel mau ke mana? Ke tempat tadi?" Tanya Tiara ingin tahu.
"Hm ya."
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Terlalu berbahaya. Jika kamu Vampir, mungkin aku bisa mengajakmu."
"Iya juga. Padahal aku ingin ikut." Daniel tertawa kecil.
"Ini bukan sedang bermain-main Tiara. Mereka bisa berubah mengerikan jika sedang makan mangsanya." Daniel memperlihatkan wajah menakutkan. Dia berharap Tiara ketakutan agar dirinya bisa mendapatkan hiburan.
"Aku tidak takut." Ledek Tiara seraya mengunyah." Aku biasa menonton film horor. Aku bahkan sudah menonton semua film horor berulang-ulang." Daniel menghela nafas panjang seraya tersenyum.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Hanya pernikahan itu." Raut wajah Daniel seketika berubah.
"Bukankah Daddy mu sangat tampan?"
"Entahlah Kak. Tapi aku merasa ada yang mengganjal."
"Apa itu?" Tiara menggeleng pelan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu."
"Jika ada yang mengganjal, sebaiknya tidak di lakukan."
"Ingin sekali seperti itu. Tapi Daddy selalu membuatku tidak berkutik jika dia membicarakan soal jasa."
"Mungkin dia takut jika kamu jatuh di tangan yang salah. Ku dengar bangsa manusia banyak yang brengsek, tidak setia dan menyakiti hati perempuan. Mungkin Daddy mu tidak ingin itu terjadi pada dirimu." Tiara menghembuskan nafas berat. Kemungkinan itu bisa terjadi apalagi melihat sikap Alex yang tidak pernah mau memperbaiki hubungan.
"Entah apa tujuannya. Tapi aku menebak jika Daddy tidak mencintai ku." Daniel mengangguk-angguk. Dia memikirkan kejanggalan yang sudah terlintas di fikiran Tiara sejak lama.
"Jika tidak mencintai, kenapa memaksamu menikah? Menjaga tidak harus menjadi seorang Suami." Tiara tidak bergeming. Berbagai pertanyaan sudah pernah di lontarkan termasuk apa yang di ucapkan Daniel tadi. Namun Alex berdalih jika dirinya tidak ingin Tiara di miliki lelaki lain." Kenapa diam?" Tanya Daniel lagi. Dia menuntut jawaban.
"Dia takut kehilangan dan bukan tidak ingin memperbaiki hubungan, tapi dia memang sibuk dengan pekerjaannya. Itulah jawabannya." Tiara melahap sisa makanan di piring lalu berdiri." Antar aku pulang." Pintanya menuruni saung yang memiliki tinggi setengah meter seraya membetulkan posisi maskernya.
"Baiklah Tuan putri, apapun perintah mu. Tunggu di sini dan biarkan aku menyelesaikan pembayaran." Tiara duduk di tepian saung. Menatap Daniel yang tengah berjalan ke arah kasir.
Aku beruntung memiliki teman bukan manusia. Paling tidak, aku bisa berpergian seperti sekarang tanpa ketahuan Bibik dan Daddy.
Dari tempatnya duduk, terlihat seseorang menghampiri Daniel. Seseorang itu adalah Lucas yang kebetulan ingin membeli makanan untuk Noa.
Siapa dia? Kenapa Kak Daniel mencium tangannya. Tentu saja Tiara bertanya-tanya. Dia menebak jika mungkin Lucas adalah orang tua atau kerabat Daniel. Apa bangsa Kak Daniel selayaknya manusia? Memiliki saudara dan Ayah Ibu? Ah ya tentu saja. Jika tidak memiliki Ibu dan Ayah bagaimana Kak Daniel bisa tercipta.
Noa terus menatap ke Lucas yang terasa tidak asing. Ada perasaan aneh yang mendorong agar kakinya melangkah ke sana.
"Siapa dia?!!" Menunjuk ke arah Tiara dengan ekspresi tidak suka.
"Dia Tiara, teman ku." Jawab Daniel lirih.
"Teman?" Lucas menghirup kuat aroma Tiara. Oh manusia?
"Hm ya Ayah."
Ayah? Ayah Kak Daniel muda sekali. Tentu saja Tiara merasa bingung. Wajah Lucas yang tidak bisa menua dengan cepat membuatnya masih terlihat pantas menjadi teman Daniel.
"Ayah Kak Daniel?" Tanya Tiara akan meraih jemari Lucas namun Lucas menghindarinya.
"Tidak bukan." Jawab Lucas dingin.
"Oh terus bagaimana Kak." Tanya Tiara semakin bingung. Dia menarik kembali tangannya yang sempat terulur.
"Aku menganggapnya beliau sebagai orang tua.."
__ADS_1
"Tapi aku tidak!!" Sahut Lucas cepat." Aku peringatkan kau!" Menunjuk ke arah Daniel." Jangan kau menebar janji tanpa kepastian. Istri ku sudah menggantung kan harapannya padamu. Jika kau sampai mengingkari janji dan berpaling dengan wanita lain. Kau berurusan denganku!!" Lucas menatap tajam ke arah keduanya kemudian pergi dan mengurungkan niat untuk membungkus makanan. Hati Lucas yang tidak peka, tentu tidak merasakan apapun padahal gadis yang tengah di umpatnya adalah anak kandungnya.
"Apa yang terjadi Kak? Kenapa dia semarah itu?"
Padahal aku belum mengatakan apapun tapi Ayah Lucas sudah bisa menebak jika aku tertarik dengan gadis ini.
"Beliau dari golongan bangsaku. Dia kehilangan anak dan aku berjanji untuk mencarinya."
"Oh. Apa dia marah karena Kak Daniel belum menemukannya."
Fokusku teralihkan karena kau Tiara..
"Itu salah satunya. Aku berjanji menikah dengan anaknya jika berhasil ku temukan. Jadi dia menganggap kamu adalah kekasihku sehingga dia semarah itu." Tiara mengangguk-angguk dengan perasaan kecewa. Padahal dia ingin pasrah pada nasibnya namun kehadiran Daniel membuatnya sedikit mengharapkan sesuatu yang mungkin bisa terjadi.
Melihat Ayahnya setampan itu. Tentu anaknya sangat cantik dan dia dari golongan bangsa Kak Daniel. Itu tipenya, kenapa bukan aku tipenya? Padahal dia sangat baik padaku. Ah.. Apa yang ku harapkan. Bukankah sudah jelas. Kak Daniel bukan manusia dan aku manusia.
"Bilang padanya jika aku hanya teman. Sebaiknya Kak Daniel menjelaskannya lagi agar tidak terjadi salah faham." Tiara tersenyum getir sebab keinginan dan apa yang di ucapkan tidaklah sama.
Aku tidak berharap kamu mengatakan itu Tiara. Kenapa kamu tidak marah dan cemburu? Astaga.. Rasanya aku sudah gila. Aku berjanji pada Ibu Noa untuk mencari Angel tapi aku malah sibuk dengannya. Maafkan saya Ibu. Saya tidak sanggup melawan keinginan ini.
"Bagaimana rupa anaknya? Mungkin aku bisa membantu dan menanyakannya pada Dinda." Dengan segala keterpaksaan Tiara mengucapkannya. Daniel merogoh saku celananya lalu memperlihatkan sebuah gambar sketsa Angel yang terlihat jauh berbeda dengan paras Tiara.
"Dia."
"Sangat cantik." Gumam Tiara menyentuh sketsa itu dengan ujung telunjuknya.
Kamu lebih cantik..
"Siapa namanya?"
"Angelina. Angel."
"Boleh ku simpan? Aku akan menunjukkannya pada Dinda."
"Tentu saja boleh." Apa kamu tidak mempunyai perasaan apapun Tiara?
Tiara melipat kertas tersebut lalu menggenggamnya. Tarikan nafas panjang berhembus sebab saat ini dia tengah mengendalikan perasaannya yang bergemuruh.
"Kita pergi Kak."
"Hm. Ayo." Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran yang minim penerangan dengan perasaan bercabang. Kenapa aku menjelaskan ini padanya? Aku menyesal! Seharusnya aku berbohong saja. Lagi-lagi Daniel menyesal atas apa yang di ucapkan karena merasa tidak puas melihat sikap acuh Tiara.
__ADS_1
Hanya teman. Kak Daniel milik Angel dan aku milik Daddy. Ya Tuhan. Kenapa harapan itu tidak juga bisa hilang? Perasaan tidak nyaman juga di rasakan. Tiara berkhayal Daniel adalah pengeran berkuda putih yang akan menolongnya dari jeratan Alex. Tapi kenyataannya yang di dengar membuatnya ingin menghilangkan harapan itu.
🌹🌹🌹