
Tiara terdiam sesaat untuk mengatur hatinya yang bergemuruh akibat emosi. Sejak sore tadi perasaannya sangat sensitif. Rasa kecewa akan sikap Alex terasa menumpuk setiap harinya hingga mungkin menyisakan luka yang tidak di sadari.
"Jangan marah. Aku tidak akan bertanya lagi. Aku tidak ingin melihat mu bersedih. Itu kenapa aku menyarankan untuk membagikannya denganku." Daniel menarik nafas dalam-dalam." Sebab itu gunanya teman." Imbuhnya menepuk pundak Tiara lembut bersamaan dengan masuknya seorang pelayan yang membawa pesanan makanan.
"Silahkan Kak." Ucapnya meletakan beberapa makanan ringan, air mineral dan segelas jus.
"Hm terimakasih." Jawab Daniel ramah.
"Sama-sama." Pelayan itu tersenyum seraya mengangguk lalu pergi.
"Makanlah." Tawar Daniel sengaja memesankan makanan tanpa persetujuan Tiara.
"Banyak sekali? Untuk siapa?" Tanya Tiara lirih. Dia tahu jika Daniel hanya minum darah.
"Aku tidak mengerti seleramu, jadi ku pesankan masing-masing satu."
"Ku tahu aku tidak suka makan di luar?" Daniel mengangguk-angguk.
"Tenang saja. Di sini tempatnya tertutup." Menepuk-nepuk tembok yang terbuat dari anyaman bambu.
Tiara menurunkan sedikit maskernya lalu menggeser satu makanan yang menurutnya enak. Dia mengunyahnya pelan seraya melirik ke Daniel yang tengah memperhatikannya.
Biasanya aku hanya bercerita dengan Bik Elena tapi beban ini masih saja ada. Apa karena Bibik tidak pernah memberikan solusi yang memuaskan untukku?
"Aku tidak mengerti di mana letak perusahaan calon Suamiku. Dia jarang menemuiku. Satu hari hanya sepuluh menit bahkan kadang tidak sama sekali." Tiara meminum sedikit jus di hadapannya." Aku tidak menuntut apapun. Aku hanya tidak ingin menikah dengan orang asing. Aku menginginkan waktu sedikit panjang agar kami bisa mengenal satu sama lain. Tapi permintaan itu terasa berat sebab hingga sekarang dia tidak juga meluangkan waktu untukku. Itu saja. Tidak ada permasalahan lain." Daniel menddesah lembut seraya memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan. Sesaat dia terdiam untuk mengendalikan api cemburu yang tidak seharusnya ada.
"Itu masalah yang sederhana."
"Sederhana untuk sebagian orang tapi tidak untuknya. Beberapa kali aku sudah membicarakan ini namun dia tetap saja tidak berubah."
"Aku ingin bertemu dengannya. Katakan padaku pukul berapa dia menemuimu?"
"Tidak menentu."
"Bagaimana jika kita menyelidiki ke rumahnya saja." Tiara membuang nafas kasar.
Untuk apa menutupi itu? Walaupun Daddy merawat ku dari kecil. Dia tetap saja bukan orang tua kandung ku.
"Kami tinggal bersama." Jawab Tiara lirih. Ada sesuatu yang terbuang begitu saja seakan ucapannya tadi sedikit meringankan beban di hatinya.
"Kamu serius?" Tiara mengangguk.
"Daddy adalah calon Suamiku." Daniel melongok. Dia sangat terkejut mendengar kenyataan itu. Daniel mengira jika Daddy adalah Ayah Tiara.
__ADS_1
"Kamu menikah dengan Ayahmu?"
"Tidak Kak. Dia bukan orang tua kandung ku. Dia menemukan ku di depan pintu pagar rumah lalu dia merawatku." Itu adalah cerita bualan yang di karang Alex. Dia ingin Tiara membenci kedua orangtuanya walaupun cara itu tidak cukup ampuh. Beberapa kali Tiara masih ingin tahu siapa orang tua kandungnya.
"Ini mengejutkan Tiara. Jadi kalian tinggal bersama?"
"Dia hanya pulang untuk menemui ku beberapa menit lalu pergi lagi."
"Aku semakin penasaran bagaimana rupa Ayah angkat mu itu. Apa dia terlalu tua hingga membuatmu terbebani?" Daniel menebak jika alasan yang di lontarkan Tiara hanyalah kebohongan. Dia lebih percaya jika Tiara merasa terbebani dengan umur Alex yang pasti sudah tua.
"Omong kosong! Daddy sangat tampan dan masih muda." Jawab Tiara menyangkal. Dia memperkirakan umur Alex berkisar 27 tahun.
"Bagaimana mungkin? Apa dia menemukanmu saat masih remaja?"
"Aku tidak tahu. Wajahnya tidak berubah sama sekali." Tiara mengingat masa kecilnya saat dia masih menginjak usia 6 tahun.
"Apa dia menemui mu hari ini?"
"Hm Iya. Sepulang kuliah."
"Seharusnya aku tadi mengikuti mu."
"Tidak. Jangan! Dia bisa marah jika tahu aku berteman dengan lelaki."
"Aku akan melihatnya dari jauh." Tiara mengangguk seraya kembali memakan sajian di hadapannya.
"Semoga saja aku bisa mendapatkan kesempatan itu. Aku ingin tahu bagaimana rupa Daddy mu."
"Fikirkan caranya sendiri."
"Oke aku tidak akan membebani mu." Daniel tersenyum dan kembali menyandarkan punggungnya." Aku akan mewujudkan sesuatu yang ingin kamu lakukan sebelum menikah. Kita bisa pergi ke beberapa tempat seperti sekarang." Tiara menoleh, kunyahannya melambat menatap Daniel.
"Bukankah kamu sedang menyelidiki kasus?"
"Hehehe iya." Daniel menoleh." Itu bisa ku lakukan setelah kamu pulang." Lagi lagi Daniel tidak sanggup mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Masih terbesit rasa ragu karena kasus yang belum terselesaikan." Berapa lama waktu yang kamu miliki?" Tanyanya pelan.
"Kurang lebih satu tahun. Aku sengaja menjadikan kuliah sebagai alasan untuk bisa sedikit bebas."
Itu terdengar satu bulan untuk ku. Kenapa singkat sekali? Aku berharap bisa lebih lama. Paling tidak, sampai kasus ini selesai.
"Aturan itu di buat karena dia takut kehilanganmu." Ucap Daniel menebak.
"Mungkin."
"Padahal pilihanmu sangat banyak di sini."
__ADS_1
"Pilihan apa?"
"Aku yakin akan banyak lelaki yang mau berkorban untuk membebaskan mu dari nya." Termasuk aku.
"Aku harus balas budi. Tanpa Daddy mungkin hidup ku tidak akan seperti sekarang."
"Siapapun akan melakukan hal yang sama." Kecantikan mu akan membutakan banyak lelaki Tiara. "Mereka akan memberikan sesuatu yang mungkin lebih. Bukan hanya materi, tapi juga perhatian." Tiara yang tidak tahu menahu soal dunia luar tentu merasa tidak yakin dengan perkataan Daniel.
"Aku tidak tahu." Jawab Tiara ketus. Dia sudah termakan sugesti Alex yang setiap hari di dengar. Kau akan di lecehkan! Daddy tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Padahal kenyataannya, Alex ingin menyembunyikan kecantikan Tiara agar keberadaannya tidak terendus Lucas dan Noa.
š¹š¹š¹
Lucas menuruni anak tangga ketika Bima mengatakan ada seseorang yang tengah menunggunya di depan pintu pagar. Sesuai perintah, Bima tidak melangkahkan kakinya keluar dari pelindung yang di bicarakan Lucas.
Bima masih mengingat bagaimana sakitnya hantaman tangan para Vampir tersebut. Kejadian itu membuat Bima sedikit trauma hingga dia tidak berani keluar pagar pembatas jika hari sudah petang.
Lucas mendengus saat melihat Alex tengah berdiri menunggunya. Harusnya dia tidak ingin turun, namun atas permintaan Noa dia terpaksa turun.
"Ada apa?" Tanya Lucas berjalan menghampiri Alex.
"Bisakah kau menghilangkan pelindung ini agar aku bisa berkunjung kapan saja." Bukankah seharusnya Alex memberikan waktunya untuk Tiara. Tapi nyatanya dia malah mendatangi Noa.
"Agar kau bisa menggoda Istriku kapan saja!!" Alex terkekeh dengan posisi kepala sedikit mendongak. Dia berharap Noa keluar dari kamar agar dia bisa melihatnya. Ayolah Noa. Cepat keluar kamar. Aku sangat merindukanmu.
"Melihat apa!!" Ucapan Lucas sontak membuat Alex beralih menatapnya.
"Aku ingin tahu keadaan Istrimu. Jangan berburuk sangka padaku."
"Dia baik. Tidak perlu kau berpura-pura perduli."
"Aku tidak berpura-pura. Aku benar-benar perduli." Dan ingin merawatnya. Kecantikan Tiara yang jauh di atas Noa, tidak sanggup membuat Alex berpaling. Dia masih saja mengagumi Noa meski kecantikannya mulai memudar karena usia.
"Sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin berdebat."
"Aku ingin tahu keadaannya." Alex menyodorkan keranjang buah ke Lucas.
"Sudah ku katakan dia baik. Bawa pergi itu!!" Tolak Lucas tidak juga membuat Alex beranjak.
"Kau masih saja cemburu padaku padahal aku sudah mendukung kalian." Aku akan mencintai Noa dengan caraku. Kalian tidak boleh bahagia sampai Noa tiada. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau juga tidak bisa melihatnya kembali tersenyum.
"Mendukung?" Lucas tersenyum simpul." Kau ingat Paman. Aku masih menaruh curiga pada mu atas kepergian Elena." Alex tertawa kecil seolah tengah menertawakan sikap Lucas.
"Terus saja begitu. Terkurung dalam dugaan yang tidak jelas. Aku hanya ingin kau sadar Lucas. Walaupun kau mencintai Noa. Tidak seharusnya kau terkurung di sini untuk menemaninya. Jangan terlalu egois. Ini sudah berlangsung puluhan tahun. Apa kau tidak menganggap jika sikap Noa sedikit berlebihan!" Alex membuang keranjang buah pada bak sampah yang terletak di depan pagar." Kau harus ingat! Aku hanya penggantimu. Jika kau terus memfokuskan hidupmu pada Istri mu. Kau sangat tidak pantas menjadi seorang raja sebab kau hanya memikirkan dirimu sendiri." Alex pergi dari hadapan Lucas yang tengah terpaku. Dia membenarkan perkataan Alex.
Sudah puluhan tahun sejak kepergian Angel dia sudah tidak lagi memikirkan masalah lain kecuali Noa. Padahal Stefanus berpesan sebelum pergi, agar Lucas melatih dirinya untuk lebih peduli dengan kehidupan bangsanya supaya kelak dia menjadi raja yang hebat.
__ADS_1
"Apa aku melakukan kesalahan." Tubuhnya memutar. Dia menatap jendela kamarnya." Aku hanya ingin menjaganya. Dia membutuhkanku tapi, bukankah seharusnya aku tidak lepas tangan." Dessahan panjang lolos. Lucas mulai memikirkan peran yang sudah lama terlupakan. Bukan hanya sebagai Suami. Aku adalah calon raja yang tidak seharusnya bersikap seperti sekarang.
š¹š¹š¹