
Matra dan Andra langsung berdiri saat mendengar erangan yang berasal dari luar gua. Keduanya saling melihat satu sama lain lalu berjalan perlahan ke bibir gua untuk memeriksa.
"Kami mencium aroma tubuh mereka Baginda." Teriak salah satu prajurit.
Alex berhasil menghancurkan dinding pelindung saat salah satu prajuritnya menemukan tempat tersembunyi tersebut. Ini kali pertama dia melihat tempat indah itu, sebab Lucas sudah menandai tempat itu sebagai tempat pribadi.
"Urus sisanya. Aku harus kembali ke Istana."
"Baik Baginda." Tiga prajurit kembali mengendus untuk menemukan keberadaan Matra dan Andra yang masih mencoba bersembunyi.
Lebih baik kalian bunuh diri daripada kalian harus menjadi makhluk mengerikan itu.
Pesan terakhir dari Patresia melekat kuat di otaknya. Matra yang di panggil Kakak. Langsung berjalan perlahan menuju tumpukan buku lalu meraih dua botol kecil.
Dia menyerahkan satu botol untuk Andra dan satu lagi berada di genggaman.
"Kita coba melawan lalu kabur Kak." Andra menatap lekat ke wajah Matra yang juga menginginkan hidup.
"Ingat pesan Mama Dra." Jawab Matra berbisik.
"Tapi Kak."
"Jika mereka menangkap, langsung minum obat ini. Kita hanya berdua dengan kekuatan rendah. Mana mungkin bisa melawan mereka. Tempat ini bahkan di jaga ketat. Kita tidak bisa keluar dari sini." Tergambar kekecewaan pada raut wajah Andra.
"Kata Mama, Ayah Lucas akan menjemput kita."
"Jangan berharap terlalu tinggi. Sudah hampir sepuluh tahun kita di sini tapi beliau tidak juga datang menjemput."
Tiba-tiba saja seorang prajurit berhasil meraih lengan Andra lalu menyeretnya keluar. Matra langsung turun ke dalam air untuk menyusul Andra.
"Lakukan Andra!!" Pinta Matra berteriak.
"Baik Kak." Tangan Andra terangkat dan berniat meminum cairan tersebut namun di tampis kasar hingga botol kecil itu jatuh ke dalam air.
"Apa itu!!!"' Tanya Prajurit dengan wajah geram.
"Lebih baik kami mati daripada harus ikut ke Istana!!" Matra masuk ke dalam air dan berusaha mencari cairan tersebut tapi itu semua perkerjaan sia-sia sebab arus di sana cukup deras.
Bagaimana ini? Jika aku meminumnya. Andra akan tertangkap.
Matra kembali ke permukaan dan langsung di sambut oleh tangan buruk prajurit kerajaan.
__ADS_1
"Ikut kami!!"
"Tidak!!!" Matra menghantam tubuh besar sang prajurit hingga terdorong sedikit. Kekuatannya yang tidak cukup besar langsung bisa di kuasai oleh prajurit." Lepaskan!! Andra cepat lari!!!" Pinta Matra berteriak seraya meronta-ronta.
Salah satu prajurit tersungging lalu mulai mulai mengeluarkan dua buah belenggu. Tepat di saat belenggu itu akan di pasangkan pada keduanya. Daniel menghantam tubuh si prajurit sampai terhempas jauh.
"Memalukan. Kalian ingin memaksa bocah yang kekuatannya tidak sepadan." Andra berlari di balik tubuh Daniel dan Lucas, sementara Matra masih belum di lepaskan.
"Lepaskan dia." Pinta Lucas lirih.
"Sebaiknya Tuan jangan ikut campur. Ini perintah Raja Alexander."
"Akulah Raja yang sebenarnya! Dia hanya pengganti." Terbesit perasaan bersalah. Lucas merasa menyesal sudah terlalu mengabaikan semuanya hingga membuat banyak makhluk di rugikan karena sikapnya.
"Raja kami hanya Alexander!" Alex sudah mencuci otak para prajurit untuk hanya patuh padanya saja.
"Sepertinya tidak bisa di ajak negoisasi Ayah." Daniel bergerak cepat, merebut Matra lalu menggiringnya ke tempat aman." Jangan banyak bergerak. Kalian tidak akan di sentuh mereka." Daniel membangun pelindung untuk Matra dan Andra sementara dirinya bertarung melawan para prajurit bersama Lucas.
.
.
Cukup lama pertarungan sengit terjadi. Daniel dan Lucas berhasil memusnahkan tiga prajurit tanpa menimbulkan kegaduhan.
"Kita harus pergi dari sini Ayah." Lucas mengangguk lalu meraih pergelangan tangan Matra." Biar mereka bersamaku." Daniel meraih pergelangan Matra dan Andra lalu menyamarkan tubuh keduanya untuk mengelabuhi prajurit.
Keahlian Daniel sangat membantu..
Mereka keluar dengan aman sebab tubuh Andra dan Matra tersamarkan. Daniel mengajak semuanya ke apartemen miliknya sebab tidak ingin Noa mendengar pembicaraan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lucas lirih.
"Semuanya hancur Ayah. Baginda sudah menjadikan para rakyat makhluk mengerikan termasuk Ayah Pedro." Matra terisak.
Sepuluh tahun lebih mereka bersembunyi di tempat itu dengan ketakutan. Patresia harus datang dengan sembunyi-sembunyi setiap Minggunya untuk memberikan darah.
"Apa maksudnya?"
"Andra. Katakan yang kamu lihat." Matra menoleh menatap Andra yang menjadi satu-satunya saksi kekejian Alex.
Andra bercerita tentang ketidaksengajaan masuk ke dalam ruang bawah tanah. Kala itu Andra melakukan kunjungan rutin untuk berlatih ketangkasan. Matra kebetulan tidak dapat ikut karena suatu hal.
__ADS_1
Awalnya Andra berniat mencari keberadaan Alex dan melihat ruangan rahasia itu terbuka. Dia masuk perlahan dan terbelalak saat menyaksikan bagaimana kejamnya Alex merubah para rakyat menjadi mesin pembunuh.
"Mereka memasangkan liontin lalu memasukan ramuan ke dalam mulutnya. Hanya menunggu beberapa menit, makhluk baik itu berubah menjadi selayaknya hewan ganas Ayah." Daniel dan Lucas saling melihat. Kedua fikiran mereka mencoba menebak tentang apa yang sebenarnya Alex rencanakan.
"Seluruhnya?"
"Iya Ayah. Jutaan makhluk berada di jeruji itu."
Lucas meremas kepalanya seraya menddesah lembut. Dia semakin di liputi rasa penyesalan karena gagal mengemban tugas dari Stefanus untuk tetap mengawasi Alex.
"Ini semua salahku. Seharusnya aku tetap memantau semuanya. Sekarang, aku yakin Alex sedang merencanakan hal buruk."
"Sudah terlanjur Ayah." Jawab Daniel lirih.
"Kau dengar bukan. Jutaan makhluk mengerikan di kurung. Sangat tidak mungkin jika Alex hanya menjadikan mereka prajurit! Jumlah prajurit sudah cukup banyak." Daniel menghela nafas panjang. Dia membaca ketakutan pada wajah Lucas.
"Kalian tahu apa rencana Alexander?" Daniel menatap lekat ke Matra dan Andra yang masih seperti seorang bocah di matanya.
"Tidak Kak. Andra hanya bercerita itu saja."
"Saya langsung keluar karena takut." Sahut Andra cepat.
"Hm baik. Sebaiknya kalian tinggal di sini saja."
"Kau benar Daniel. Aku tidak ingin Noa semakin bersedih saat mendengar kematian Patresia dan Pedro."
"Mama?"
"Maaf. Ayah terlambat." Matra dan Andra langsung terpukul mendengar kenyataan tentang Patresia." Kalau Ayah tidak datang. Mungkin kami akan menjadi salah satu dari mereka." Imbuh Matra seraya terisak.
"Hei apa ini! Seharusnya kalian tidak boleh menangis! Kalian itu calon lelaki!!" Daniel merasa yakin bisa mengubah kedua bocah di hadapannya menjadi hebat.
"Kami tidak kuat seperti kamu Kak. Ayah Pedro tertangkap lebih dulu sehingga tidak ada yang melatih kami."
"Menurut mu, dulu aku seperti apa? Aku hanya akan jadi bocah ingusan jika bukan karena kemauan ku untuk maju." Lucas tersungging. Persepsi buruk tentang Daniel runtuh seketika saat melihat keperdulian yang Daniel perlihatkan." Bolehkan aku melatih mereka Ayah." Imbuhnya bertanya.
"Tentu saja. Aku akan mencari tahu soal rencana Alex tapi ajari aku kekuatan tadi."
"Dengan senang hati Ayah."
Aku melihat ketulusan pada Daniel. Alasan Lucas tidak menyukai Daniel karena Daniel tidak berasal dari wilayahnya. Lucas tidak yakin jika Daniel benar-benar serius melakukan tugas yang seharusnya menjadi tugasnya. Namun malam ini. Dia merasakan sendiri ketulusan yang Daniel perlihatkan.
__ADS_1
š¹š¹š¹