Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
67


__ADS_3

Angel menatap lekat Alex. Dia tengah mencari kebenaran penyesalan yang di lontarkan.


Sementara Alex sendiri, mati-matian menahan rasa kesalnya agar suara hatinya tidak terdengar oleh Angel.


"Kau berusaha tidak mengatakan apapun dalam hati." Mata Alex melebar. Wajahnya di tegakan, mencoba memasang wajah penuh penyesalan agar Angel percaya.


"Saya memang tidak ingin mengatakan apapun di dalam hati. Setelah ini saya berjanji akan selalu mengatakan kejujuran."


"Oh." Angel tersenyum tipis.


"Jangan percaya padanya Nyai." Sahut Lucas tentu tidak memercayai penyesalan Alex.


"Apa yang membuatmu tidak percaya padanya." Daniel tersungging. Sejak tadi dia memperhatikan sosok Angel namun dengan tingkah laku berbeda.


Rasa cinta yang ada pada hatinya semakin membesar ketika menyadari jika Angel bukanlah Vampir biasa.


"Semua bisa berubah Lucas." Tukas Alex membela diri. Dia tidak ingin mati konyol akibat perbuatannya. Sebisa mungkin Alex memperlihatkan mimik wajah menyesal agar nyawanya dapat terselamatkan.


"Mana mungkin!"


"Kau boleh menggambil tahta kerajaan lalu aku akan pergi jauh dari kalian." Angel tersenyum saat mencium keegoisan yang Alex tunjukkan.


"Lalu kau tidak bertanggung jawab atas perbuatan mu!"


"Aku tidak akan mengganggumu lagi."


"Tapi kau tetap harus di hukum Alex!!" Teriak Lucas geram. Dia tidak mempercayai apapun yang terlontar dari bibir Alex.


"Jika kau benar-benar menyesal. Kau memang harus menebus kesalahan mu." Alex menatap Angel dengan wajah panik.


"Ba bagaimana caranya Nyai?" Tanyanya lirih.


Dengan gerakan cepat Angel mengambil pedang yang ada pada pinggang Alex lalu memberikannya.


"Bunuh dirimu sendiri. Aku tahu kegunaan pedang ini." Dengan tangan bergetar, Alex meraih pedang tersebut. Kepalanya tertunduk menatap lekat ke kilatan yang di hasilkan dari pedang.


"Bukankah Nyai mengampuni saya?" Protes Alex mulai tersulut emosi padahal apa yang di lakukan Angel semata-mata ingin menguji kesungguhan Alex.


"Kau sudah membunuh ratusan nyawa manusia. Memangsa mereka, mengsetubui mereka dengan cara buruk. Lalu hukuman apa yang pantas jika bukan hanya kematian?" Tangan Alex menggenggam erat pedang tersebut seraya menatap tajam ke Angel.


"Itu bukan pengampunan!"


Craaaaaasssshhhhh...


Tangan kanan Angel kembali mengeluarkan api hitam lalu mengarahkannya pada wajah Alex yang tiba-tiba saja langsung mematung.


"Rasakan kesakitan korbanmu Alex!" Mata Alex terbelalak menembus dimensi lain yang memperlihatkan banyaknya air mata menetes akibat ulahnya.


Setiap bulir air mata terjatuh, hati Alex seakan ikut tersayat. Sedangkan korban dari kekejiannya berjumlah ratusan bahkan jutaan sehingga membuat hatinya tercabik-cabik. Setelah kesakitan itu melintas. Tiba-tiba saja ujung kakinya mengeras. Di ikuti oleh bagian tubuh lain.


"Ampuni saya." Gumam Alex saat merasakan pembekuan merambat ke atas.


Angel mengangkat tangannya dari wajah Alex yang sudah mengeras seluruhnya. Matanya memutih dengan bibir setengah terbuka menatap nanar ke arah Angel.


"Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai. Tuhan memberikanmu kesempatan dengan hati yang begitu lunak. Tapi kau malah milih jalan salah hanya karena hatimu yang sudah membatu." Lucas mendekati tubuh Alex. Saat telunjuknya menyentuh tubuh tersebut. Seketika tubuh Alex hancur dan berubah menjadi kerikil-kerikil kecil.

__ADS_1


"Terimakasih Nyai." Lucas memutar tubuhnya seraya tersenyum." Sejak kapan Nyai berpindah ke tubuh Angel?" Bukan hanya Alex. Namun Lucas juga beberapa kali mencoba memanggil Nyai untuk meminta bantuan.


"Sudah tugasku. Ketika tubuh yang ku tinggali tengah kesulitan. Aku pasti akan keluar untuk membantu."


"Lalu. Bagaimana caranya kita mengatasi mereka." Menunjuk ke beberapa penduduk yang selamat. Mereka masih menyaksikan drama kolosal yang tersuguh.


"Itu masalah gampang. Aku hanya berpesan. Mencintai memang terasa sangat indah. Tapi jangan melupakan tanggung jawab hingga harus memicu keburukan." Lucas mengangguk pelan. Dia sadar akan kesalahannya karena terlalu mengkhawatirkan Noa, Istrinya.


"Saya minta maaf Nyai."


"Jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada sang pencipta dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya." Lucas mengangguk dengan wajah tertunduk.


Seiring kepergian Nyai. Sebuah sinar putih turun dari langit seakan menghujani wilayah yang porak-poranda. Tidak ada yang berubah, hanya saja para penduduk melupakan kejadian mengerikan malam ini. Sisa darah juga tulang belulang musnah seiring angin hangat yang berhembus.


Angel menatap tangannya juga seluruh tubuhnya. Tidak ada noda apapun. Darah busuk yang membalutnya hilang seketika.


"Apa yang terjadi." Ucap salah satu warga menatap sekitar.


"Bencana alam. Bagaimana itu terjadi?" Tentu saja para warga di buat kebingungan.


"Ada angin besar. Mereka membawa pergi sebagian penduduk kota." Sahut Daniel berjalan menghampiri kerumunan.


Jawaban dari Daniel sontak membuat suasana riuh. Mereka berpencar untuk mencari anggota keluarganya masing-masing. Ada yang berucap penuh syukur saat melihat keluarganya baik-baik saja. Namun ada yang masih berteriak memanggil nama seraya menangis terisak.


"Apa Nyai adalah arwah?" Tanya Daniel bingung. Dia baru menyaksikan keajaiban luar biasa malam ini. Pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Walaupun sebagian besar sahabatku tumbang, termasuk Alan.


"Dia menyebut dirinya khodam. Aku juga tidak tahu pasti Nyai itu makhluk apa."


"Itu tidak penting. Sebaiknya kita pulang untuk menemui Mama." Lucas mengangguk begitupun Daniel.


"Kalian duluan. Aku akan menyusul." Ucap Daniel berjalan ke para sahabatnya yang terluka parah.


.


.


.


.


Beberapa hari kemudian...


Berita besar memenuhi beranda koran juga media internet. Kerusakan yang di perkirakan akibat bencana alam membuat para aparat kepolisian juga pemerintah di buat bingung.


Mereka mencoba mencari kebenaran dengan memeriksa TKP, CCTV jalan dan kesaksian dari para penduduk. Tidak ada bukti tertinggal kecuali kerusakan parah yang terjadi.


"Kamu akan menempati rumah ini. Ayah harus memperbaiki kerajaan yang hancur itu." Angel mengangguk seraya memakan sajiannya." Kalau kamu ingin bersama Angel. Kamu bisa tinggal di sini Ma." Imbuhnya tersenyum menatap Noa yang keadaannya semakin membaik.


"Aku ikut denganmu saja. Suami Istri harus selalu bersama."


"Aku berjanji akan sering berkunjung." Ucap Angel menimpali.


"Itu harus sayang." Aku merasa tenang melihat kekuatan besar bersarang pada tubuh Angel. Itu berarti dia akan baik-baik saja.


"Lalu bagaimana dengan pestanya?" Sontak Angel berhenti menguyah lalu menatap ke arah Lucas.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah mengatakan jawabannya Ayah."


"Menikah sambil kuliah itu tidak jadi masalah sayang." Angel berubah fikiran dan ingin mengadakan pesta saat dia lulus. Dia ingin menekuni bidang sastra. Memang awalnya dia asal memilih jurusan tersebut. Namun rupanya dia mulai menyukainya.


"Aku hanya mengambil satu tahun Ayah. Itu hanya sebentar. Biarkan aku lulus dulu." Dan lagi, aku merasa masih terlalu kecil. Aku baru berumur 19 tahun sementara Kak Daniel.. Angel menddesah saat menyadari umur Daniel yang sudah mencapai ratusan tahun. Dia menyebutku bayi padahal aku yang menyelamatkan nyawanya.


"Tapi pernikahan kalian sudah syah sayang. Mama sarankan agar Daniel tinggal di sini saja untuk menemani mu." Angel menelan makanannya kasar. Itu ide yang membahayakan mengingat kejahilan Daniel yang beberapa hari di tunjukkan.


"Apa kata orang nanti Ma. Mereka tidak akan memahami cara menikah bangsa kita."


"Lingkungan di sini begitu tenang. Kamu tidak akan di pusingkan dengan gosip."


"Iya Non. Pokoknya aman." Sahut Bik Minah.


"Bagaimana kalau teman kuliahku tahu. Aku tidak mau!!" Puluhan alasan Angel lontarkan agar dia terhindar tinggal satu atap bersama Daniel.


Angel takut khilaf lalu tergoda dan melupakan keinginannya untuk menyelesaikan pendidikan. Dia juga ingin mengenal Daniel lebih baik lagi sebelum memutuskan untuk tinggal bersama.


"Jangan di paksa Ayah. Aku tidak masalah." Sahut Daniel yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu dengan baju kuliahnya." Sesuai permintaan. Aku menjemputmu memakai mobil. Bukan menghilang tidak jelas seperti yang kamu katakan." Daniel berjalan menghampiri Angel lalu menunduk untuk memberikan ciuman hangat pada kening.


Angel mematung lalu berdiri dengan gaya kaku. Tangannya meraih sisa susu lalu meneguknya habis.


"Aku akan cepat pulang Ayah. Jangan pergi dulu." Angel mencium punggung tangan Elena, Noa dan Lucas secara bergantian." Aku pergi." Kakinya melangkah cepat keluar dari ruangan.


"Kamu harus terus mendekatinya Daniel." Ucap Elena terkekeh kecil. Dia menyadari kesulitan Angel untuk bersosialisasi mengingat tahun-tahun sepi yang selalu menemani.


"Hm Mama rasa dia hanya malu."


"Akan kulakukan Ma, Bik. Aku pamit." Setelah mencium punggung tangan ketiga nya. Daniel bergerak cepat menyusul Angel yang sudah duduk di dalam mobil.


Braaaakkkkk!!!


Sontak Angel berjingkat seraya menatap kesal Daniel. Dia mengingat kejadian semalam saat Daniel masuk ke dalam kamarnya diam-diam lalu membekapnya.


"Teruskan saja sikapmu itu!"


"Baik akan ku teruskan sampai kamu terbiasa." Daniel mulai menyetir seraya terkekeh. Kekesalan Angel membuatnya terhibur.


"Aku akan kesal padamu terus menerus."


"Cintamu akan semakin dalam Babe."


"Bersikaplah dewasa Kak."


"Aku sudah sangat dewasa dalam menghadapi mu."


"Kau menggodaku sepanjang hari!!"


"Itu menyenangkan. Kau pemarah dan aku senang." Angel tersungging sebentar lalu berpura-pura memasang wajah kesal. Sengaja sekali dia bersikap acuh seperti sekarang agar dia bisa mengukur bagaimana dalamnya perasaan Daniel padanya.


🌹🌹🌹


Apa aku tamatkan saja😁atau harus membahas bagaimana kehidupan Angel dan Daniel selanjutnya..


Maaf teman-teman, aku tidak bisa membuat novel yang part-nya terlalu panjang..

__ADS_1


Aku minta pendapatnya. Tamat atau lanjut?


Terimakasih dukungannya.


__ADS_2