
Keesokan harinya
Alex merasakan hal ganjil sebab tidak seperti biasanya dia melihat Angel bangun sepagi itu. Seharusnya dia bisa menikmati wajah cantik nan polos saat Angel tidur.
Tapi pagi ini, Angel terlihat sudah bangun bahkan sudah memakai baju tertutupnya.
"Apa kamu tidak bisa tidur semalam?" Tanya Alex duduk di kursi kayu dekat jendela.
"Aku tidur dengan nyenyak Dad." Aku sama sekali tidak tidur tapi aku tidak mengantuk. Apa semua Vampir memang melakukannya? " Daddy datang pagi sekali." Dengan menahan rasa muak, Angel duduk di paha kanan Alex lalu bermanja-manja. Dia tidak ingin ada kecurigaan terbesit pada fikiran Alex.
"Memang selalu sepagi ini." Alex membalas perlakuan dengan cara melingkarkan tangannya ke pinggang belakang Angel." Pukul berapa kelas di mulai?" Imbuhnya bertanya.
"Seperti biasanya."
"Daddy boleh bertanya sesuatu?"
"Hm apa?"
"Selain anak kemarin. Apa ada lagi yang menganggu mu?"
"Siapa? Ibra?"
"Entah siapa namanya."
Apa yang terjadi dengan Ibra.
Kebusukan yang sudah terendus, tentu menimbulkan prasangka buruk Angel pada Alex.
"Dia memang seperti itu Dad. Aku tidak masalah."
"Kamu tidak akan nyaman." Angel tersenyum aneh." Ada lagi?" Alex kembali bertanya untuk memastikan.
"Tidak, hanya dia." Aku yakin dia mengenal Kak Daniel.
"Tidak perlu takut mengatakannya."
"Aku bukan penakut." Tiara mengangkat bokongnya lalu berjalan untuk mengambil tas." Aku mau sarapan dan berangkat. Aku harus ke perpustakaan dulu." Pinta Angel beralasan.
"Hm baik. Daddy antarkan." Alex berdiri lalu merangkul kedua pundak Angel dan menggiringnya keluar kamar.
Seperti biasa. Elena melayani sarapan pagi Angel sementara Alex hanya memperhatikannya.
"Kenapa Daddy tidak ikut sarapan?" Aku ingin tahu bagaimana jawabannya.
"Daddy makan di luar saja."
"Em kenapa? Daddy tidak berselera melihatku sehingga makanan itu terlihat memuakkan." Mimik wajah Alex berubah gelisah. Dia tengah memikirkan jawaban yang tidak menimbulkan kecurigaan.
"Selalu seperti itu." Alex mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepala Angel.
"Lalu bagaimana Dad?"
Apa Angel sedang mengerjai Alex? Elena memilih pergi setelah menuangkan air putih.
"Relasi kerja Daddy mengajak sarapan pagi. Kalau Daddy makan di rumah, Daddy takut mengecewakan mereka."
"Setiap hari?" Alex mengangguk pelan. Selalu saja dia tidak berkutik ketika Angel menanyakannya macam-macam." Aku sudah dewasa. Daddy tidak ingin memberitahukan di mana letak perusahaan dan apa namanya." Pertanyaan itu sering terlontar sebab selama ini Angel memang tengah di bodohi dengan bualan Alex. Mulutmu harimaumu. Akan ku kembalikan semua yang sudah kau lakukan pada keluargaku!!
"Daddy tidak ingin kamu datang ke sana."
Klunting...
Angel meletakan sendoknya kasar. Dia memutar tubuhnya, menatap tajam Alex lalu menjinjing tas besarnya.
"Mungkin tebakanku benar."
__ADS_1
Elena memasang wajah gelisah. Dia takut Angel menjadi tidak sabar dan mengatakan semuanya pada Alex.
Apa Angel akan mengatakan kebenarannya? Tidak. Jangan dulu.
Elena berjalan mendekat dan berusaha mengingatkan Angel akan persiapan yang harus di lakukan. Elena yakin jika Alex sudah merencanakan sesuatu yang begitu buruk.
"Apa tebakan mu tentang Daddy?" Alex berdiri tepat di hadapan Angel.
"Daddy memiliki Istri! Itu kenapa Daddy jarang pulang dan tidak memperhatikanku." Langkah Elena terhenti. Bibirnya tersungging mendengar tebakan yang di lontarkan Angel." Daddy tidak ingin aku datang ke perusahaan, karena perusahaan itu milik Istrimu kan." Seperti novel yang ku baca. Ide itu begitu bagus untuk menghapus kecurigaan Alex.
Alex terkekeh dan hendak merangkul pundak Angel namun dengan cepat di hindari.
"Mana ada seperti itu. Daddy tidak memiliki siapapun."
"Entahlah." Angel melangkah pergi di ikuti oleh Alex yang langsung mengekor.
"Daddy tidak mungkin melakukan itu sayang." Sebab jika Noa bisa ku dapatkan. Kau juga akan menjadi anakku. Tapi jika tidak. Perang besar akan segera di mulai. Aku sudah siap menaklukkan khodam yang ada pada tubuh Ibumu.
"Antar aku ke kampus agar Daddy bisa segera menemuinya." Angel masuk mobil dan menutup pintunya kasar.
Brraaaaakk!!!
Alex menarik nafas panjang lalu ikut masuk dan duduk tepat di samping Angel.
"Langsung ke kampus Non."
"Iya Mang." Ujang tersenyum kemudian mulai melajukan mobilnya.
"Daddy tidak memiliki yang lain kecuali dirimu." Apa dia benar-benar cemburu? Padahal saingannya adalah Ibunya sendiri.
Alex malah tersenyum tipis memikirkan kegilaan yang bergejolak di otaknya. Kewarasannya terkikis habis hingga dia menertawakan Angel dan Noa yang mungkin nantinya akan menjadi saingan untuk memperebutkannya.
"Aku akan terus berfikir seperti itu jika Daddy tidak menunjukkan perusahaan."
"Oh begitu. Baik!"
"Marah saja sebab itu tidak akan merubah semuanya. Daddy tidak ingin kamu menganggu perkerjaan Daddy nantinya."
Perkerjaan busuk maksudnya!!
"Mana pernah Daddy perduli padaku."
"Daddy perduli."
"Omong kosong." Angel hendak turun tapi tangan kekar Alex menahannya.
"Daddy menyanyangi mu." Otak Angel langsung mendidih mendengar pujian yang di lontarkan Alex.
Tahan. Tahan. Tidak boleh emosi dan membuat penyelidikan hancur.
"Aku juga menyanyangi mu Dad. Aku masih menurut jawaban. Hati-hati." Angel mengecup pipi Alex sejenak lalu turun dari mobil dan bergegas masuk ke area kampus.
Terlihat kampus masih sangat sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang datang. Angel berjalan membelah taman kampus seraya memperhatikan sekitar yang sepi.
Aku bisa merasakannya. Ini sudah aman.
Dalam sekejap, Angel sudah bertengger di atas pohon untuk meletakkan tas miliknya. Dia melesat pergi mengikuti mobil Alex dengan berpindah-pindah tempat dari pohon satu ke pohon yang lain.
Tepat di sebuah rumah kosong, mobil berhenti dan menurunkan Alex di sana.
Semoga saja aroma tubuhku tidak terendus.
Ada rasa ragu sebab baru semalam Angel mempelajari buku yang di berikan Elena padanya. Dia takut gagal walaupun rasa tidak sabarnya untuk menguak semuanya mendorong kuat.
Setelah mobil pergi, Alex berubah menjadi asap dan melesat menuju markas utama.
__ADS_1
Setiap kali bertemu Angel, Alex selalu singgah ke tempat itu untuk memangsa gadis cantik yang sudah di sediakan. Dia ingin menyalurkan hasrat sebelum kembali ke kerajaan.
"Aku sudah menemukan lokasi yang cocok untuk markas baru."
"Di mana."
"Jika sudah siap. Aku akan membawamu ke sana." Anggota yang sebagian besar sahabat baik Alex. Membuat pertahanan markas utama lebih kuat. Alex sudah menyalurkan kekuatan agar para sahabatnya bisa menyediakan gadis cantik setiap harinya.
Bisa di bayangkan, sudah berapa ratus nyawa melayang hanya untuk memuaskan keinginan gila Alex.
Dengan jelas Angel melihat bagaimana kejinya Alex menikmati mangsanya yang tidak hanya di makan tapi di setubuhi lebih dulu. Setiap dessahan yang lolos, Alex selalu menyebut nama Noa seakan dia tengah berhubungan badan dengannya.
Kenyataan itu membuat emosi Angel terkoyak. Dia tidak rela nama Noa di sebut makhluk seburuk Alex.
Kau akan tertawa lebar saat melihat tempat ini hangus besok.
Setelah mengatakan itu dalam hati. Angel memutuskan untuk pergi dan kembali lagi nanti malam. Dia mengambil tasnya lalu turun dengan cepat dari atas pohon.
Tarikan nafas panjang berhembus. Dia sedang mengendalikan emosi yang berkecamuk. Angel duduk lemah di salah satu bangku yang ada di taman seraya tertunduk dan mencengkram erat kepalanya.
Jika Dinda tidak ku selamatkan. Dia akan berakhir seperti gadis itu.
Air mata lolos begitu saja. Angel merasa tidak tega melihat perlakukan tidak manusiawi yang Alex perlihatkan.
Dia menyebut nama Mamaku. Berani sekali dia melakukan dosa itu dan melibatkan orang tuaku.
Tiba-tiba saja seseorang duduk di sampingnya, sehingga membuat Angel menegakkan pandangannya.
"Aku kemarin pergi sendiri untuk pulang. Aku tidak ingin membuat orang tuaku khawatir karena harus terlibat dalam kasus besar itu." Ucap Dinda memperlihatkan sebuah senyuman simpul.
"Di Dinda." Jawab Angel terbata.
"Aku tidak memberikan kabar karena ponselku hilang di tempat itu dan sekarang aku tidak bisa membelinya. Kamu tahu kan jika aku bukan anak orang kaya." Angel tersenyum dengan air mata yang tidak tertahankan. Dia tidak menyangka jika Dinda masih mau berteman dengannya.
"Aku fikir kamu menghindar."
"Aku sangat takut Tiara. Itu kenapa aku tidak kuliah kemarin. Tapi setelah berfikir keras. Sepertinya akan menyenangkan jika aku memiliki seorang teman yang bukan manusia." Angel menyerbu Dinda dengan pelukan yang langsung di balas.
"Aku juga baru tahu. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakiti mu." Dinda tersenyum dan mengangguk.
"Aku percaya kamu baik." Angel melepaskan pelukannya dan duduk tegak.
"Rahasiakan ini."
"Iya. Tenang saja."
"Terimakasih ya."
"Cih! Seharusnya aku yang mengucapkannya."
"Terimakasih mau berteman denganku."
"Aku senang berteman denganmu." Angel membuka tasnya lalu mengambil satu bandel uang yang masih utuh.
"Kita beli ponsel nanti."
"Tidak Tiara. Aku sudah bicara ini pada Ayah."
"Sudahlah Dinda. Ini sangat banyak. Aku tidak tahu bagaimana menghabiskannya dan itu berarti kamu tidak boleh menolak."
Malam itu dia terlihat mengerikan. Tapi sekarang.. Tiara sangatlah baik..
Dinda mencoba memantapkan hatinya jika makhluk yang duduk di hadapannya tidak akan menyakitinya.
š¹š¹š¹
__ADS_1