
Dengan terpaksa, Tiara menurunkan masker yang di pakainya lalu menarik perlahan tudung kepalanya. Dia merasa aman melakukan itu karena menganggap lelaki di hadapannya adalah orang-orang terhormat.
Bukan hanya Nathan yang terkesima, Pak Prabu juga melongok saat melihat wajah Tiara yang sebenarnya.
Kenapa berbeda dengan fotonya? Alex berusaha keras menutup semuanya dengan rapat. Setiap kali kelulusan tiba, dia lebih dulu menyiapkan foto untuk kebutuhan ijazah. Harusnya itu di larang, namun para guru bungkam saat Alex memberikan uang tutup mulut.
"Ka kamu Tiara?" Tanya Pak Prabu terbata. Menatap Paras mempesona di hadapannya dengan daya tarik yang tidak biasa.
"Hm saya." Alexa mendengus seraya memperhatikan Nathan yang tengah menikmati paras Tiara.
Manusia macam apa gadis ini!! Aku tidak pernah melihat paras yang begitu sempurna. Sekarang aku tahu kenapa Alexa sangat membencinya.
"Pa." Panggil Alexa terbakar cemburu.
"Hm."
"Bagaimana keputusannya?" Tanya Tiara tegas membuat lelaki dewasa di hadapannya menelan salivanya kasar.
Cantik sekali..
Ingat! Ingat! Aku sudah punya Istri dan anak.
Selayaknya gadis pemakai susuk. Kecantikan Tiara menarik kuat hati lawan jenis yang berhadapan dengannya.
"Kita pergi Dinda." Tiara memakai lagi maskernya dan hendak beranjak pergi. Dia merasa ganjil melihat tatapan Pak Prabu dan Nathan.
"Ini belum mencapai mufakat." Cegah Nathan duduk tegap. Sorot matanya berkilap dan mulai membayangkan indahnya bentuk tubuh yang ada di balik baju tertutup itu.
"Saya sudah membuka masker tapi Bapak tidak berbicara sepatah katapun." Tiara kembali duduk dengan masker terpakai.
"Kalian masih boleh berkuliah." Dinda tersenyum lega mendengarnya.
"Papa kenapa membela mereka?"
"Papa sudah melihat CCTV dan melihatmu menyuruh dua orang untuk mengerjai mereka." Dengan gamblang Nathan membongkar keburukan Alexa. Informasi itu bukan di dapatkan dari CCTV, melainkan para ajudan yang di tugaskan mengawasi kegiatan Alexa.
"Jika sudah tahu, kenapa saya di panggil ke sini." Gumam Tiara berdiri. Dia merasa di permainkan.
"Jaga sopan santun mu Tiara." Bisik Dinda tidak ingin masalahnya menjadi panjang.
"Aku akan menjaga sopan santun untuk orang yang tepat!" Menatap tajam ke arah Nathan." Ajari anak anda etika. Jangan menganggu hidup saya hanya karena tuduhan tidak jelas! Permisi." Tiara meraih tangan Dinda dan mengiringinya keluar ruangan.
Dia bukan anakku. Sepertinya aku sudah mendapatkan penggantimu Alexa.
__ADS_1
"Masalah ini sudah selesai." Nathan berdiri di ikuti Alexa.
"Rencana kita tidak begini Pa." Protes Alexa tidak terima.
"Itu rencanamu bukan rencana ku. Jangan membuat ulah lagi. Papa akan mencabut semua fasilitas mu jika kau berulah dan mengarang cerita!!" Nathan melangkah keluar dengan di kawal dua orang ajudannya yang menunggunya di luar.
Alexa mengekor. Dia merasa terpojok dengan ancaman yang di lontarkan Nathan.
"Papa jatuh cinta padanya? Papa menyukainya kan!!" Tanya Alexa berbisik.
"Kau yang mempertemukan ku dengannya."
"Jangan begitu Pa. Bukankah aku kesayangan Papa." Rajuk Alexa takut jika Nathan meninggalkannya.
"Hm dulu, sebelum kamu berselingkuh." Mata Alexa melebar. Nathan berhenti tepat di samping mobil mewahnya seraya memandangi raut wajah Alexa yang tengah ketakutan." Aku sengaja diam melihat sikapmu yang murahan itu Lexa. Aku melakukan itu karena menurut ku kamu masih yang paling cantik dan paling bisa membuat hati ku bergetar. Tapi setelah tadi." Nathan menunjukkan senyuman jahat." Kau membawaku berkenalan dengan calon pengganti mu." Alexa meraih lengan Nathan untuk mencegah kepergiannya.
"Tidak Pa. Maafkan Lexa. Aku hanya bermain-main. Itu karena Papa sibuk." Rajuknya memohon.
"Bermain hati? Hahahaha.. Ku fikir kau lugu Lexa. Aku tidak menyangka jika kau hanya gadis murahan yang rela di jamah sembarangan lelaki. Lepas!" Nathan melepaskan tangan Alexa dengan sangat kasar." Kita bicarakan ini di rumah. Aku ada urusan." Nathan masuk mobil meninggalkan Alexa yang berdiri terpaku dengan raut wajah menyesal.
"Tiara!! Awas kamu!!!" Teriaknya tidak terkendali. Ada sesal terbesit sebab seharusnya dia tidak memperpanjang masalah yang nantinya akan menjadi bumerang untuknya. Nathan yang di anggap sebagai penopang hidupnya, terancam meninggalkannya.
š¹š¹š¹
"Aku baru mengenal gadis yang terlalu berambisi seperti Lexa. Bagaimana mungkin dia melakukan kesalahan itu lalu melimpahkannya pada kita." Gerutu Tiara tidak tertahan sementara Dinda hanya menatapnya sendu.
"Begitulah orang kaya. Mereka selalu semena-mena. Itu kenapa aku tidak ingin bergaul. Aku takut mereka menghinaku."
"Aku juga orang berkecukupan. Tapi aku tidak pernah memikirkan hal buruk seperti itu." Dinda tersenyum lalu mengusap lembut punggung Tiara." Aku sampai melepas masker hanya karena permainan mereka." Eluh Tiara lagi dan lagi.
"Ku fikir kamu pendiam. Tapi ternyata kamu cukup berani untuk melawan."
"Ini sudah menyangkut kamu. Aku tidak ingin kamu menjadi susah hanya karena gadis kasar itu!!"
"Terimakasih sudah memikirkan ku. Kamu memang baik Tiara. Sejak awal kamu memang terlihat berbeda dari mereka."
"Ini kesalahanku. Dia mengincarku hingga membuat kamu terlibat."
"Tidak Tiara." Tiba-tiba suasana menjadi riuh saat Daniel masuk dengan warna rambut barunya.
Rambut yang dulunya berwarna terang, kini sudah berubah menjadi hitam. Tiara menelan salivanya kasar lalu menunduk. Dia mengingat obrolan keduanya kemarin malam.
Berarti bukan mimpi...
Tiara berjingkat saat Dinda menepuk pundaknya keras.
__ADS_1
"Kak Daniel tampan sekali. Lihatlah." Tiara malah mengalihkan pandangannya." Hei Tiara." Imbuh Dinda menyenggol pundak Tiara.
"Apa sih."
"Kak Daniel." Bisiknya saat melihat Daniel berjalan ke arah bangku mereka.
"Tidak penting." Jawab Tiara ketus.
Dinda tidak sempat menjawab sebab Daniel sudah duduk tepat di sampingnya.
"Sesuai keinginan, aku sudah merubah warna rambut ku." Dinda tersenyum ke arah Tiara sementara para gadis yang berdecak kagum langsung bungkam.
"Kenapa kamu bilang tidak penting, padahal kamu yang menyuruh Kak Daniel merubah warna rambutnya." Ledek Dinda membuat Tiara semakin menunduk.
"Dia terlalu angkuh. Padahal kita sudah berteman." Sahut Daniel mulai mengeluarkan bukunya.
"Wahhhh." Tiara menatap tajam ke arah Daniel sejenak lalu kembali fokus pada buku.
"Apa gunanya membicarakan itu? Norak sekali." Ucap Tiara ketus sehingga memicu kecemburuan. Gadis yang menyukai Daniel tentu mengumpat dalam hati karena ucapan ketus Tiara.
Cih sok cantik!! Kenapa Kak Daniel malah menyukainya!!
Selera Kak Daniel rendah sekali. Untuk apa merayu gadis buruk dan angkuh itu!!!
Daniel tersenyum mendengar banyaknya umpatan. Bukannya dia merasa terhina. Dia malah merasa tertantang agar Tiara bisa berkata lembut padanya.
"Sudah terlanjur ku cat hitam." Mimik wajah Daniel terlihat santai dengan sebuah buku di tangannya.
"Kak Daniel tampan, bukan norak."
"Aku membicarakan sikapnya."
"Itu tandanya aku senang karena sejak semalam kamu mau berteman dengan ku." Jawab Daniel lantang, membuat seisi ruangan bergumam dan menganggap jika semalam Tiara juga Daniel keluar bersama.
"Sejauh itu? Cieee. Katamu tidak boleh keluar malam."
"Dia hanya sedang bermimpi." Tiara seolah tidak perduli padahal wajahnya kini memerah akibat ulah Daniel.
"Oke hehe. Mimpi yang indah. Semoga nanti malam aku bermimpi lagi." Tiara tersenyum sejenak lalu wajahnya kembali berubah datar.
Andai aku bisa membaca isi hatimu itu. Pasti semuanya akan sedikit gampang. Aku ingin tahu bagaimana pendapat mu tentangku..
Dia semakin tampan dengan rambut hitamnya. Padahal aku tidak berkata apapun, tapi kenapa dia mengganti warna rambutnya. Aku tidak sabar menunggu malam ini.
š¹š¹š¹
__ADS_1