
Dalam sekejap, enam ajudan Nathan terkapar tidak berdaya. Suasana Cafe berantakan, beberapa kursi dan meja patah bahkan berserakan tidak beraturan.
Kini Daniel sudah berdiri tepat di hadapan Nathan dengan tatapan tajam dan senyuman tipis.
"Jangan mengancam ku karena kau yang akan terancam jika berani menganggunya lagi." Nathan melayangkan satu pukulan. Daniel memiringkan kepalanya untuk menghindari pukulan tersebut.
Bugh!!!!
Praaaankk!!!
Dengan cepat Daniel mengembalikan pukulan itu hingga membuat Nathan tersungkur di bawah meja. Daniel mengacungkan jari tengahnya lalu melenggang pergi bersama Tiara dan Dinda.
"Aggghhhhhh!!!" Ajaib, sebab Nathan langsung bisa berdiri. Dia yang sudah terlatih untuk bertarung memiliki kulit setebal baja.
Tubuhnya tidak gampang terluka hingga para anak buahnya menyakini jika Nathan memiliki 1000 nyawa. Dia selalu terhindar dari kematian. Terluka adalah hal yang biasa dia rasakan sebab kedua orang tuanya sudah mendidiknya sejak kecil.
Kau semakin membuatku bersemangat. Aku akan melepaskan mu dari jeratan perjodohan dan membuat mu jatuh cinta.
Nathan mulai kehilangan kewarasannya. Sebelumnya dia tidak pernah seperti sekarang. Merendahkan diri hanya untuk meraih cinta sebab kehidupannya penuh dengan para wanita yang siap menemani hari sepinya.
"Bangun kalian!!!" Teriak Nathan geram seraya menendang tubuh para ajudannya. Mereka berusaha berdiri dengan wajah menyeringai." Kalian bodoh!!! Kalah dengan satu orang saja!!" Umpatnya seraya mendengus.
"Dia kuat sekali Tuan."
Plaaaaaakkkkkk!!!
"Bukan dia yang kuat!!! Kalian terlalu bodoh dan banyak bermalas-malasan hingga cara bertarung kalian payah!!! Aku ingin informasi soal lelaki itu!!! Ringkus dia agar dia mau berlutut di kaki ku!!" Nathan melangkah pergi seraya menelfon para anak buahnya yang lain agar mereka menjemputnya.
š¹š¹š¹
"Tidak ingin ku antarkan pulang?" Tawar Daniel lagi dan lagi. Kenyataan tentang perasaan Tiara pada perjodohan membuat Daniel mendapatkan peluang besar.
"Tidak. Aku sudah memesan taksi online." Menunjukkan layar ponselnya pada Daniel." Aku juga bersamanya." Tersenyum ke arah Dinda.
"Aku bisa pulang sendiri Tiara."
"Tidak Din." Aku tidak ingin Bibik Elena memergokiku lagi.
"Aku ingin bicara banyak." Daniel memasang wajah memohon.
"Nanti. Aku pulang dulu." Tiara tersenyum sejenak kemudian masuk taksi bersama Dinda.
"Aku harus menunggu 3 jam lagi." Daniel menddesah seraya menatap taksi yang sudah menghilang di tengah kemacetan.
Di dalam taksi.
"Apa kamu tadi memanggil Kak Daniel?" Tiara menoleh cepat.
"Bagaimana caranya memanggil." Jawabnya meninggikan suaranya.
"Mungkin kamu punya kontaknya?" Tiara menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada." Tiara memperlihatkan kontak miliknya." Hanya ada nomer mu." Imbuhnya memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.
"Kenapa Kak Daniel selalu datang di saat yang tepat."
"Aku juga tidak mengerti."
__ADS_1
"Apa dia mengikuti mu?" Tiara menghembuskan nafas berat. Itu sesuatu yang mudah untuk Daniel lakukan, sehingga Tiara bisa menerima dugaan Dinda.
Untuk apa dia mengikuti ku sampai Plaza. Apa dia takut Alexa mengerjai ku lagi?
"Mungkin hanya kebetulan. Bukankah kamu tidak melihat siapapun di Cafe." Dinda mengangguk seraya tersenyum.
"Tapi Kak Daniel benar-benar keren ya. Sudah tampan, baik, jago bela diri. Apa dia masuk tipe mu." Mata Tiara membulat.
"Bukankah kamu sudah tahu aku di jodohkan." Ucap Tiara menyangkal.
"Hehehe, iya aku tahu."
"Lalu kenapa kamu bilang seperti itu?" Raut wajah Tiara terlihat panik. Sebab, apa yang di tebak Dinda sangatlah benar.
Sejak pertarungan tadi. Tiara semakin tertarik pada sosok Daniel. Hingga sampai saat ini, jantung nya masih saja berdetak tidak beraturan.
"Aku hanya ingin tahu tipe lelaki yang kamu sukai."
Seperti Kak Daniel..
"Belum ada."
"Kak Daniel sangat sempurna."
"Penilaian individu itu berbeda-beda."
"Hm iya oke. Pak turun di depan." Pinta Dinda menjinjing tasnya." Aku duluan ya Tiara." Dinda mencium pipi kanan dan kiri Tiara.
"Hm. Sampai jumpa besok."
Andai Daddy seperti Kak Daniel. Dia selalu ada untukku. Sedangkan Daddy?
Tiara menghembuskan nafas berat seraya menatap keluar jendela. Dia mengingat saat pertama kali mendengar keinginan Alex yang sebenarnya beberapa tahun lalu.
Kala itu Tiara masih duduk di kelas 2 SMA. Tiara yang sejak awal menganggap Alex seorang Ayah. Sontak terkejut ketika Alex mengutarakan keinginannya untuk menjadikannya Istri.
Itu sudah sangat lama. Tapi beban saat mendengar keinginan Daddy masih saja dapat ku rasakan. Dia masih tidak berubah! Kita bahkan masih seperti orang asing.
"Sudah sampai Non." Ucap supir taksi.
Tiara turun setelah memberikan uang. Dia berjalan masuk pekarangan rumahnya dengan langkah lesu.
Pernikahan yang di inginkan Alex semakin membebaninya, apalagi saat dia menyadari banyak sesuatu di luar yang ingin dia ketahui.
"Kamu telat 2 menit." Tiara berhenti dan menoleh ke Alex.
"Sedikit macet Dad." Jawab Tiara melanjutkan langkahnya.
Alex menarik nafas panjang lalu berjalan menghampiri Tiara.
"Ada masalah?" Tanya Alex berjalan sejajar. Tiara menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah di tekuk.
"Lalu kenapa lemas sekali." Tiara berhenti. Dia mendongak menatap Alex.
"Aku hanya mengambil kelas kuliah selama satu tahun. Bukankah setelah itu kita menikah Dad. Lalu perubahan apa yang terjadi?" Alex menghindari tatapan tajam Tiara yang penuh selidik. Ini kali pertama baginya melihat kemarahan gadis yang selama ini tidak pernah berprotes." Daddy bahkan
mengikis lagi waktu untukku." Imbuh Tiara melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Alex menddesah lalu kembali mengekor Tiara yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Kamu sudah semakin dewasa." Ujar Alex dari ambang pintu.
"Entahlah. Aku hanya jenuh. Daddy tidak ada niat untuk memperbaiki semua." Tiara melepas masker dan jaket hoddie nya.
"Daddy sibuk sayang. Aku mohon mengertilah." Ingin sekali aku bersamanya. Tapi, selain perkerjaan menjadi raja. Tiara tidak bisa membuatku bersemangat untuk menemui nya. Alex berjalan menghampiri Tiara. Dia memeluk tubuhnya erat seraya tersenyum. Dia sangat cantik bahkan melebihi Noa. Aku tidak mengerti kenapa hatiku masih tidak bisa melupakan Noa. Aku masih saja menganggap Tiara sebagai anak yang harus ku rawat dan ku sayangi.
"Lepaskan!" Tiara mendorong tubuh Alex sedikit kasar.
"Kamu tidak boleh berpaling dari Daddy sekalipun banyak mahasiswa yang tampan di sana." Tebakan asal-asalan yang di lontarkan Alex, membuat Tiara merasa tersindir sebab dia mulai tertarik dengan Daniel.
"Daddy tidak melihat bagaimana penampilan ku. Aku buruk! Mana ada yang mau!"
"Itu tujuan Daddy menyuruhmu berpakaian seperti ini. Akan banyak lelaki yang melecahkanmu dan berbuat jahat padamu."
Maafkan aku Daddy. Sudah ada beberapa orang yang tahu wajahku.
"Daddy khawatir tapi Daddy tidak pernah menunjukkan rasa khawatir itu."
"Ada Mang Ujang yang siap mengantar."
"Ah ya. Aku akan menikah dengan Mang Ujang saja." Tiara akan beranjak sehingga Alex mendekap tubuhnya dari belakang.
"Kau pintar membantah sekarang."
"Aku hanya tidak ingin menikah dengan orang asing."
"Daddy sudah bersamamu selama puluhan tahun."
"Bibik Elena yang selalu bersama ku, bukan Daddy." Jawab Tiara menyangkal. Punggungnya bersandar lembut pada Alex yang tengah menopang tubuhnya.
"Pernikahan itu bukan permintaan, melainkan aturan." Ucap Alex penuh penekanan." Mau tidak mau. Suka tidak suka. Kamu hanya milik Daddy." Perasaan Tiara bergemuruh. Hatinya semakin terbebani dengan pemaksaan yang di lontarkan Alex." Mengerti?" Kedua tangan Alex memegang pundak Tiara lalu membalikkan tubuhnya sehingga keduanya berdiri saling berhadapan.
"Mengerti." Jawab Tiara tanpa ekspresi.
"Bagus sayang." Jari telunjuk Alex mengusap kasar bibir merah Tiara." Daddy harus pergi." Imbuhnya memainkan telunjuknya hingga membuat nafas Tiara terbuang kasar.
"Secepat itu?" Tiara merapatkan tubuhnya dengan kepala mendongak. Dia menurunkan tangan Alex dan mulai memberikan cumbuan." Daddy ingin? Aku sudah cukup dewasa." Imbuh Tiara polos.
"Tidak sayang. Simpan ini untuk malam pertama kita." Tolak Alex yang hasratnya mulai terkoyak.
Tiara menjinjit lalu mengigit leher Alex lembut dan sesekali mencumbuinya. Dia tidak perduli dengan penolakan Alex. Dia hanya ingin menghilangkan keraguan yang ada pada hatinya.
"Berikan aku sentuhan yang berbeda Dad." Dengan terpaksa Alex mendorong pundak Tiara.
Aku takut menyakiti nya. Kebiasaan Alex bersetubuh dengan gaya kasar, membuatnya merasa ragu untuk bercinta.
"Egois!" Tiara menunjuk kasar dada bidang Alex lalu berjalan masuk kamar mandi.
"Sayang, Daddy hanya..."
Braaaakkkkk!!!
Alex menghembuskan nafas kasar menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
š¹š¹š¹
__ADS_1