Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
33


__ADS_3

Kediaman Tiara membuat Elena sudah bisa menebak kalau teman lelaki Tiara merupakan Vampir.


Aku penasaran siapa namanya..


"Apa Bibik benar Non?" Tiara mengangguk pelan.


"Tapi dia baik Bik." Entah kenapa Elena tersenyum.


"Jika tidak baik mungkin dia akan menghisap darah Non Tiara." Elena malah terkekeh seakan turut bahagia.


"Bibik percaya?"


"Iya Non. Bibik tahu Non Tiara tidak pernah berbohong." Kuncian itu benar-benar kuat. Angel bahkan tidak merasa jika dia keturunan Vampir. Tapi? Aku masih tidak yakin, sebenarnya dia Vampir atau bukan.


Apa yang ada di dalam tubuh Angel sangat membingungkan. Dulu saat kecil, Elena mengedus aroma darah Vampir mengalir di tubuhnya namun nyatanya Tiara bisa memakan sajian manusia.


"Jangan bilang Daddy. Dia akan khawatir."


Bukan khawatir Angel. Tapi Alex tidak ingin kamu di temukan oleh Lucas dan Noa. Makhluk yang seharusnya kau hindari adalah Alex.


"Apa Bibik pernah mengadu?" Tiara menggeleng seraya tersenyum. Langsung saja dia menyerbu Elena dengan pelukan.


"Terimakasih Bik. Aku akan jaga diri."


"Ada syaratnya." Tiara menegakkan kepalanya.


"Syarat?"


"Kenalkan pada Bibik." Elena merasa tergelitik dengan sosok Daniel. Dia bahkan sudah berharap pada Daniel yang mungkin bisa membebaskannya dari belenggu Alex.


"Kenalkan? Untuk apa?"


"Itu syaratnya. Jika tidak, Bibik akan mengadu."


"Tidak biasanya Bibik mengancam." Rona merah wajah Tiara tergambar jelas sehingga membuat sebuah tebakan bersarang di otak Elena.


"Bibik hanya ingin tahu bagaimana bentuk Vampir." Apa kamu menyukai nya Angel? Aku berharap akan ada seseorang yang bisa membebaskan kita.


"Seperti manusia Bik tapi dia." Wangi seperti Daddy bahkan bisa menghilang.


"Tapi apa?"


"Bisa menghilang."


"Kenalkan pada Bibik. Cepat mandi, ini sudah siang." Tiara mengangguk pasrah. Itu adalah syarat mudah tapi untuk melakukannya harus membutuhkan keberanian.


"Aku harus berbicara pada Kak Daniel. Semoga saja dia mau." Gumam Tiara berjalan masuk untuk membersihkan diri. Dia membongkar bungkusan dari Alex dan tersenyum saat melihat isinya." Model baju ini terlihat lebih baik." Imbuhnya bergumam. Tangannya meraih sebuah catatan kecil.


Jangan ikat rambutnya. Itu masih jadi peraturan utama. Daddy menyanyangi mu.

__ADS_1


Tiara tersenyum dan mengambil satu baju berlengan panjang. Dia langsung mengenakannya.


Ini benar-benar lebih baik daripada aku harus memakai jaket bertudung itu.


Tiara memandangi dirinya dari pantulan cermin. Maniknya menatap ke jam dinding lalu cepat-cepat menyisir rambut ketika menyadari hari mulai siang.


Dengan di antarkan Mang Ujang, Tiara tiba di kampus dan di sambut oleh Dinda yang sudah menunggunya di pintu gerbang.


"Wahhh... Masih tertutup tapi ini lebih baik Tiara." Ujar Dinda menyentuh ujung rambut Tiara yang terlihat begitu indah dan lembut jika di sentuh." Bagaimana kamu merawat rambut ini?" Tanyanya terkagum-kagum. Dinda membayangkan jika perawatan rambut Tiara berharga mahal.


"Bibik yang membelikan ku sampo dan peralatan mandi." Dinda tersenyum aneh, dia baru menyadari jika hidup Tiara selama ini terdengar membosankan.


"Apa itu peraturannya?" Tanya Dinda lirih.


"Tidak di sebutkan secara detail. Tapi Daddy selalu melarang ku berkeliaran sendirian."


"Memangnya tidak ada mini market di dekat rumahmu?"


"Ada."


"Kamu bisa membeli shampo dan sabun di sana."


"Iya tapi aku sudah terbiasa. Jadi, aku tidak memahami hal seperti itu." Dinda mengangguk seraya tersenyum. Ada rasa iba terbesit sebab Tiara seolah tengah di kurung.


"Pilihan Bibik mu bagus sekali. Tapi, sangat menyenangkan jika berbelanja sendiri. Bagaimana jika kita lakukan itu nanti pulang dari kampus."


"Oh Tiara. Kenapa harus izin dulu? Itu hanya shampo dan sabun." Protes Dinda.


"Jika dia tahu. Aku bisa terkena masalah."


"Baiklah." Dinda mencoba mengerti privasi sahabatnya. Dia merangkul Tiara dan berjalan beriringan menuju ke kelas.


Masker belum di lepas namun perubahan cara berpakaian Tiara sudah menarik perhatian.


Dia Tiara. Gadis aneh itu? Rambutnya indah sekali..


Tiara tidak memperdulikan tatapan sekitar. Dia menganggap jika mereka masih menatapnya aneh seperti yang sudah terjadi sebelumnya.


"Aku semakin ingin tahu dengan apa yang sedang kau tutupi." Sapa Ibra. Dia berjalan menghampiri Tiara yang akan masuk ke kelas.


Lelaki bermulut busuk!! Umpat Tiara berusaha tidak memperdulikan namun Ibra menghadang langkahnya.


"Eh tunggu. Kenapa kau selalu saja menghindar?" Tentu saja Ibra berdiri menghalangi. Dia berdiri tepat di ambang pintu kelas.


"Ada apa!!" Tanya Tiara ketus.


"Buka masker mu. Untuk apa kamu memakainya?"


"Bukan urusanmu!" Ibra terkekeh namun maniknya tidak terlepas dari sosok Tiara.

__ADS_1


"Aku tahu kamu cantik sekali Tiara." Tebaknya memandangi rambut indah Tiara.


Daddy benar. Kecantikan ku membuat banyak lelaki gila mendekat. Tiara membetulkan posisi maskernya karena takut tiba-tiba Ibra melepaskannya.


"Hei kau!!!!" Tiba-tiba saja suara cempreng seseorang menyapa. Tiara dan Dinda menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat dua orang teman Alexa mendekat dengan wajah geram.


"Kemana Alexa!!!" Tanyanya kasar.


"Lexa?" Gumam Tiara." Aku tidak tahu." Pertemuan terakhir dengan Lexa terjadi kemarin sore ketika dia akan naik taksi.


"Dia menghilang! Bahkan tidak bisa ku hubungi!!" Menunjukkan layar ponselnya.


"Kenapa selalu menyalahkan Tiara. Kami tidak tahu Kak Lexa kemana." Sahut Dinda menimpali.


"Dia menghilang setelah terlibat masalah dengan mu!!" Menunjuk kasar ke wajah Tiara.


"Hei apa! Dia yang sudah mencari masalah. Kenapa aku di salahkan." Kemana Kak Lexa? Tiara mengingat saat Lexa di bawa paksa oleh dua lelaki bertubuh besar. Apa mereka melakukan sesuatu dengannya. Terbesit rasa khawatir padahal Alexa selalu berbuat jahat padanya." Sudah Kakak periksa ke rumahnya." Tanya Tiara lirih.


"Sudah! Dia tidak ada sialan!!!"


"Ada apa ini?" Daniel yang baru saja datang langsung menjadi penengah. Dia mendorong lembut salah satu teman Alexa yang tengah berdiri di hadapan Tiara.


"Alexa menghilang karena dia!!!" Segera saja Daniel menampis tangan tidak sopan itu.


"Jangan menuduh. Kau ada bukti?" Daniel menoleh, memperhatikan cara berpakaian Tiara yang semakin membuatnya menggila. Kenapa dia harus memakai itu. Seharusnya dia memakai tudung saja. Daniel sangat tidak waras. Dia malah menginginkan Tiara di sebut aneh daripada harus memicu mata nakal para lelaki.


"Kau lihat apa!!" Protes Tiara membuat Daniel terkekeh dan sadar dari lamunannya.


"Maaf." Daniel kembali menatap dua orang teman Lexa yang tidak juga pergi." Cari sendiri teman kalian. Jangan melibatkan dia dan menuduhnya tanpa bukti. Pergi atau aku akan memanggil kepala Dosen." Tatapan kedua teman Alexa masih tajam. Mereka terpaksa pergi karena ancaman dari Daniel." Kau sedang apa." Pandangan Daniel beralih pada Ibra.


"Aku hanya ingin melihat sedikit wajahnya."


"Minggir atau ku paksa!!" Karena Ibra tidak juga beranjak. Daniel mendorong tubuhnya hingga terduduk di lantai lalu mengiring Tiara masuk bersama Dinda.


"Sialan kau Daniel!!!"


"Kau yang sialan!!" Seisi kelas melongok. Mendengar suara buruk Daniel yang selama ini terkenal tidak banyak bicara. Sekalipun berbicara, Daniel selalu berkata sopan dan lembut.


"Aku akan..."


"Akan apa!!" Daniel membalikkan badan dan membiarkan Tiara berjalan duluan ke tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri Ibra lalu menepuk pundaknya sedikit keras hingga sanggup membuat Ibra menyeringai.


"Kau membawa apa? Sakit sekali." Ibra memperhatikan tangan Daniel yang terlihat kosong.


"Begitu saja sudah sakit lalu kau mau mengganggu nya." Menunjuk ke Tiara." Aku bisa mematahkan punggung mu jika kau ku dapati menganggunya lagi. Camkan itu!!" Daniel mendorong tubuh Ibra lalu berjalan menuju tempat duduknya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2