
"Bagaimana mungkin lelaki itu tidak memiliki rumah!!" Nathan merasa geram dengan penjelasan soal Daniel yang tidak di ketahui asal-usulnya.
Semua biodata dan tempat tinggalnya begitu tertutup rapat tanpa celah. Nathan bahkan sudah meminta berkas milik Daniel pada kampus tapi tetap saja semua alamat rumah Daniel masih terletak di Brazil.
"Apa kau fikir dia tinggal di pohon!!!" Hampir saja anak buah Jonathan terkekeh tapi mereka menahannya hingga harus menunduk.
"Kami sudah berkerja maksimal Tuan. Lelaki itu tidak jelas asal-usulnya." Nathan mendengus dengan hati terbakar. Tidak biasanya dia kesulitan mencari informasi seperti sekarang." Sebaiknya kita fokuskan pada Nona Tiara saja Tuan." Imbuhnya memberikan saran.
"Sudah kamu kirimkan bunga untuknya pagi ini?"
"Hm sudah." Tapi bunga itu terlihat di buang oleh pembantunya. Tuan bisa marah jika aku mengatakan yang sebenarnya.
"Jam berapa dia pulang? Aku akan menjemputnya untuk menunjukkan rasa perduli ku." Nathan tidak tahu tentang siapa yang akan di jerat olehnya bukanlah gadis sembarangan.
š¹š¹š¹
Dinda melongok tidak percaya menatap Tiara untuk menuntut penjelasan saat melihat sketsa wajah Angel.
"Ca calon Istri?" Tiara mengangguk lemah." Bukankah kamu?" Tiara mendengus lalu berpaling seraya melipat tangannya di perut.
"Dia hanya bersandiwara tadi."
"Ah tidak mungkin. Aku melihat Kak Daniel mengucapkannya dengan serius."
"Itulah kenyataannya. Kamu pernah melihatnya?" Menunjuk ke gambar sketsa. Tiara ingin mengganti topik pembicaraan.
"Cantik sekali tapi lebih cantik kamu."
"Aku serius Dinda!"
"Tidak pernah hehehe. Mata kalian mirip walaupun mimik wajahnya tidak." Dinda begitu jeli melihat, sehingga dia menyadari kemiripan antara mata Tiara dan sketsa wajah Angel.
"Dinda!! Aku tidak sedang bercanda!!"
"Iya iya. Tapi aku bicara jujur. Biar ku bawa. Mungkin saja aku tidak sengaja bertemu dengannya." Dinda melipat kertas dan meletakkannya ke dalam tas." Aku berharap Kak Daniel bisa menolongmu tapi nyatanya dia memiliki calon Istri." Gumam Dinda bersandar pada punggung kursi.
"Dia memberiku harapan itu lalu menjatuhkannya." Jawab Tiara ikut bersandar.
"Kau berharap?" Tanya Dinda bersemangat.
"Bagaimana tidak berharap jika sikapnya seperti itu. Bukankah kamu tahu jika Kak Daniel selalu muncul saat aku berada dalam masalah." Dinda mengangguk-angguk.
"Jadi ceritanya, cinta kalian terhalang restu."
"Cinta apa sih!!! Itu hanya harapan bukan cinta!! Masih jauh sekali!"
__ADS_1
"Eits jangan marah. Berharap berarti kamu menyukai nya."
"Suka tapi tidak cinta! Mana mungkin cinta datang secepat itu!!"
"Mungkin saja. Katanya penyuka Novel. Tapi kenapa kamu tidak tahu jika ada cinta pada pandangan pertama." Tiara menghela nafas lalu menoleh.
"Itu hanya novel, mana bisa di jadikan pedoman hidup." Protes Tiara mengerucutkan bibirnya.
"Ada juga yang di ambil dari kisah nyata." Ujar Dinda mengelak.
"Hanya sebagian Dinda, astaga." Dinda terkekeh melihat ekspresi Tiara." Aku hanya tidak suka atas sikap Kak Daniel. Seharusnya dia bisa lebih menjaga jarak karena memiliki calon Istri." Tiara yang sudah sangat nyaman pada Dinda. Mulai bercerita perihal perasaannya.
"Mungkin dia sama seperti mu."
"Angel secantik itu. Sudah pasti Kak Daniel sangat nyaman." Dia juga dari bangsa Vampir.
"Bukan itu maksudku. Em kalian sama-sama ragu dengan pasangan kalian masing-masing. Kamu yang tidak seberapa suka dengan calon mu. Begitu juga Kak Daniel yang belum mendapatkan kepastian soal keberadaan Angel." Ucapan dari Dinda cukup masuk akal walaupun Tiara belum mengetahui kebenarannya.
Sepanjang pelajaran berlangsung, Tiara terus memikirkan kebimbangan hatinya sendiri. Ingin rasanya dia mengutarakan keinginan untuk meminta bantuan pada Daniel agar bisa terlepas dari perjodohan namun ucapan itu tertahan di kerongkongan.
Itu hanya sekedar tebakan. Jika tidak benar bagaimana? Jika Angel masih hidup, sudah pasti Kak Daniel harus memenuhi janjinya. Tiara mulai memikirkan bagaimana nasibnya kalau seandainya dia memilih jalan yang salah. Sudah pasti Daniel akan meninggalkan dia bersama Angel. Sementara Alex akan mengusirnya dari rumah. Aku tidak memiliki siapa-siapa. Aku tidak boleh salah melangkah dan membuat Daddy membuangku.
Perasaan itu membuat Tiara menjadi tidak fokus. Tarikan nafas panjang beberapa kali berhembus. Kehadiran Daniel mengelitik hatinya dan membuatnya menjadi di lema seperti sekarang.
Sampai pelajaran siang itu selesai, Tiara masih ada pada perasaan yang sama. Dia membereskan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas.
"Entahlah. Aku hanya menghabiskan waktu sebentar di toko besar itu." Ucapnya lirih.
"Aku akan menemuimu setelah urusanku selesai."
"Tidak perlu." Tiara menjinjing tasnya." Ayo Din." Ajaknya berjalan mendahului Dinda yang masih memasukkan alat tulisnya.
"Kenapa temanmu?"
"Dia sedang berada pada pertengahan masalah Kak hehe. Duluan Kak Daniel." Dinda tersenyum sejenak dan mengekor pada Tiara.
Kenapa lagi dia. Daniel juga berdiri. Seperti biasanya, dia memperhatikan Tiara hingga sampai taksi datang. Sayang sekali aku tidak bisa membaca isi hatinya. Aku bahkan tidak bisa menghipnotis nya. Aku tidak mengerti kenapa semua itu tidak berlaku pada Tiara padahal dia manusia.
Daniel bergegas beranjak ketika melihat sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan pintu gerbang. Suasana Kampus yang tengah ramai, tidak bisa membuatnya melakukan gerakan yang mencurigakan.
Tiara langsung mendengus saat dia melihat Nathan keluar dari dalam mobil. Dia mencoba mengabaikan tapi Nathan berusaha menghampirinya.
"Hai Tiara." Sapa Nathan tersenyum simpul.
"Ada apa Om?" Tanya Tiara ketus.
__ADS_1
"Om?" Nathan terkekeh mendengar panggilan Tiara." Aku masih muda Tiara, aku belum menikah." Dinda yang tidak tahu situasinya hanya bungkam mendengar rayuan yang di lontarkan Nathan, sugar Daddy milik Alexa.
"Om sedang apa?" Tiara tidak juga mengganti panggilannya." Kak Alexa tidak masuk hari ini." Imbuhnya menebak.
"Aku menjemputmu."
"Saya." Menunjuk ke dada.
"Ya kamu."
"Terimakasih Om. Saya tidak biasa di jemput lelaki asing."
"Jika tidak ingin merasa asing mari berkenalan." Scurity kampus hanya mampu terdiam sebab mereka tahu tentang siapa Jonathan.
"Tidak Om terimakasih. Saya sudah memesan taksi dan sedang menunggunya."
"Biar aku yang membayar lalu kamu dan temanmu biar ku antar." Tiara tersenyum sinis di balik masker. Tatapannya berubah tajam sebab sangat memuakkan mendengar rayuan dari Nathan." Bukankah kamu menerima bunga dariku pagi ini." Imbuh Nathan malah merasa tertantang ketika menyadari sorot mata tajam Tiara.
"Saya sudah membuangnya dan meletakkannya di sampah. Saya mohon. Om jangan mengirimkan lelucon seperti itu." Nathan terkekeh seraya melirik ke Daniel yang sudah berdiri di belakang Tiara.
"Itu bukan lelucon. Aku ingin menunjukkan rasa sukaku padamu."
"Saya sudah memiliki calon Suami. Dia akan marah melihat kiriman bunga itu!!"
"Itu memang yang ku harapkan."
"Astaga. Om kelihatan lelaki terhormat tapi ternyata hanya lelaki berotak bocah!!" Daniel terkekeh kecil, sementara raut wajah Nathan langsung berubah walaupun senyuman masih di perlihatkan.
Dia menyebutku lelaki berotak bocah. Lalu bagaimana lelaki dewasa menurutnya.
"Bagaimana aku harus bersikap padamu agar kamu mencabut kata-kata itu?"
"Jangan mengharapkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain!!"
"Miliknya." Menunjuk ke Daniel.
Tiara memutar tubuhnya dan mendengus saat menyadari Daniel berdiri tidak jauh darinya.
"Kau sebut bocah itu sebagai lelaki?! Dia bahkan masih kuliah sedangkan aku sudah memiliki perusahaan besar di sini. Aku akan membahagiakan mu Tiara." Otak Tiara seakan mendidih. Memikirkan kebimbangannya di tambah dengan gangguan dari Nathan.
"Bahagia itu, ketika tidak ada kalian di sekitar!!!" Tiara menarik pergelangan tangan dinda lalu mengiringinya masuk ke dalam taksi pesanannya.
"Bukankah sebaiknya kau lepaskan dia anak ingusan!!" Tunjuk Nathan kasar.
"Tidak akan. Sampai matipun tidak akan ku lepaskan. Kau saja yang mundur. Dasar lelaki berotak bocah hahaha." Daniel tidak memperdulikan teriakan Nathan dan kembali masuk untuk mencari tempat sepi.
__ADS_1
Sialan!! Aku di permalukan. Nathan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Meskipun dia malu tapi tidak ada kata untuk mundur. Aku semakin menginginkan mu Tiara!!
š¹š¹š¹