
Tepat saat pelajaran pagi selesai. Ibra baru saja masuk kelas dengan keadaan baik-baik saja. Tangan yang tadinya patah kembali utuh seakan tidak terjadi apapun.
Sebagian teman sekelas yang menjadi saksi, tentu merasa heran sebab mereka menyaksikan sendiri kejadian tersebut.
"Kau baik." Tanya salah satu teman Ibra.
"Ya baik. Ada apa? Kenapa aku tiba-tiba ada di klinik?" Daniel tersenyum simpul melihat tatapan sekitar yang terfokus padanya.
"Dia tidak mengingat itu?" Tanya Tiara berbisik.
"Itu masalah kecil. Mau ikut denganku?" Daniel memutar tubuhnya menatap fokus ke arah Tiara. Keduanya tidak mempedulikan tatapan sekitar yang terlihat sinis.
Kemana?" Aku tidak bisa membaca suara hati Kak Daniel.
"Bertemu Ibu ku."
"Ibu? Mama?"
"Ibu Noa." Mata Tiara membulat.
"Ibu Noa? Ayah Lucas?" Tanyanya lirih." A aku tidak mau. Mereka mau apa? Marah padaku?" Meski Tiara menaruh curiga pada Noa dan Lucas. Tapi dia terlalu takut untuk kembali bertatap muka dengan Lucas.
"Tidak marah. Ibu Noa ingin bertemu lalu nanti sepulang kuliah, aku bertemu Bibik mu. Bagaimana? Setidaknya kita saling mengenalkan anggota keluarga." Tiara melirik malas menatap Daniel yang tengah tertawa kecil.
"Apa keperluannya?"
"Hanya ingin berkenalan."
"Aku takut dengan Ayah Lucas."
"Dia memang seperti itu tapi sebenarnya dia baik. Wajar saja, aku sudah memberikan harapan besar. Dia takut kamu akan jadi penghalang bagiku untuk mencari Angel."
Jika Aku Angel? Bukankah Kak Daniel jodoh ku. Tapi Daddy? Jangan dulu! Jangan dulu membayangkan hal yang tidak-tidak. Tiara menelan salivanya kasar. Jarak antara Daniel dan dia yang terlalu dekat membuat ketampanan Daniel semakin terlihat jelas. Kak Daniel tampan sekali. Auranya seperti Daddy. Apa Daddy juga bukan manusia?
"Lalu untuk apa mereka ingin bertemu."
"Bukan mereka. Hanya Ibu Noa. Aku berjanji tidak akan terjadi sesuatu." Tiara mengedarkan pandangannya ke ruangan yang sudah sepi.
"Jika Ayah Lucas mengusir ku?"
"Dia akan takluk dengan Ibu Noa." Daniel mengulurkan tangannya. Meski ragu, Tiara menyambut uluran tangan tersebut." Tutup mata." Pinta Daniel lirih.
"Tidak."
"Kau akan mual. Perpindahan waktu seperti ini akan mengaduk-aduk perutmu."
"Sudahlah ayo."
"Jangan salahkan aku."
"Hm ya."
Dalam waktu singkat, keduanya sudah tiba di bawah pohon besar. Daniel semakin di buat heran sebab Tiara terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku terkesan Babe."
"Terkesan apa?"
"Hehehe sudahlah. Kita sampai." Dengan tangan saling berpegangan, Daniel menggiring Tiara mendekat ke rumah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ingin bertemu Nyonya Noa." Sapa Bima ramah seraya melirik ke arah Tiara yang terlibat aneh dengan baju tertutupnya.
"Iya Pak. Ibu Noa ada?"
"Ada Den. Silahkan masuk." Daniel tersenyum simpul lalu menarik lembut pergelangan tangan Tiara untuk masuk.
Akhirnya kamu datang Nduk...
Sontak mata Tiara melebar saat dia mendengar lirih suara seseorang yang seakan menyapanya.
"Suara siapa itu Kak." Hawa di rumah itu terasa lain. Begitu hangat dan damai membuat Tiara langsung merasa nyaman.
"Suara apa?"
"Ada suara, seperti orang tua."
"Mungkin pembantunya Ibu Noa."
"Mana mungkin! Lihatlah!" Menunjuk ke segala arah." Tidak ada orang kan." Imbuhnya kesal.
"Kamu salah dengar. Ayo." Dengan pandangan yang tidak fokus, Tiara di giring menuju ruang tamu.
Lucas yang sudah mencium kehadiran keduanya, langsung turun untuk menyambut. Tiara merapatkan tubuhnya ke Daniel. Kedua tangannya memegang erat lengannya. Wajah garang Lucas membuatnya setengah mati ketakutan mengingat jika Lucas bukanlah manusia.
"Ada apa?" Lucas duduk tepat di hadapan keduanya dengan sorot mata fokus ke arah Tiara.
"Saya memenuhi janji saya pada Ibu Noa." Lucas terdiam, memperhatikan lekat tubuh Tiara dari atas sampai bawah. Ada aroma yang tidak asing yang kini tercium.
Kenapa aromanya seperti tubuh Istriku.
"Sa saya di paksa Kak Daniel untuk datang ke sini Om. Saya tadi akan menolak tapi..."
"Astaga.. Aku tidak percaya secepat ini." Sambutan dari Noa sungguh terlihat berbeda. Dia yang lebih peka, sudah merasakan sesuatu yang lain ada pada Tiara sehingga membuatnya ingin bertemu lagi dan lagi." Tiara." Noa duduk tepat di samping. Segera saja Tiara mencium punggung tangan Noa dengan penuh hormat.
"Iya Tante. Saya."
"Panggil aku Ibu saja." Noa menggenggam erat jemari Tiara lalu menciumnya lembut." Berapa umurmu Tiara?" Tanyanya lirih, menahan rasa yang bergemuruh di dalam hatinya karena rasa rindu yang tidak tertahankan.
"19 tahun."
"Mungkin Angel akan seumuran dengan mu." Tiara merasa canggung meski dia membiarkan saja saat jemarinya di genggam Noa erat.
"Semoga cepat bertemu Bu."
"Terimakasih doa nya." Noa menegakkan pandangannya, terlihat jelas jika matanya mulai berkaca-kaca.
Ya Tuhan kasihan sekali. Jika mungkin aku Angel... Tiara sedikit membayangkan jika wanita paruh baya di hadapannya merupakan Ibunya. Dia sangat cantik. Ibu Noa sangat cantik.
__ADS_1
"Bisa kamu turunkan masker mu?" Noa menyentuh masker Tiara lembut lalu menurunkannya.
Lucas terkesima, begitupun Noa yang langsung saja mencium pipi lembut Tiara.
"Ya Tuhan kamu cantik sekali sayang."
"Baby. Dia bisa takut jika kamu memperlakukannya seperti itu." Protes Lucas merasa jika sikap Noa sangat berlebihan.
"Apa kamu keberatan sayang? Ibu hanya sangat merindukan Angel."
"Tidak Bu. Saya tidak masalah." Mata Lucas memincing dan menyadari kemiripan mata antara Noa dan Tiara.
"Di mana kamu tinggal?" Tanya Lucas tegas. Tiara memutar tubuhnya pelan seraya tersenyum.
"Daddy tidak memperbolehkan saya memberitahu sembarang orang." Jawab Tiara lirih.
"Alasannya?"
"Katanya untuk menjaga saya."
"Menjaga dari apa? Seharusnya itu jelas bukan." Seakan merasa sangat penasaran. Lucas mengatakan itu dengan nada bicara meninggi.
"Sayang!!! Lupa untuk tidak menakutinya!!" Protes Noa tentu merasa kesal.
"Aku hanya bertanya Baby."
"Dengan nada bicara setinggi itu!!"
"Oke maaf. Satu pertanyaan lagi." Lucas menurunkan nada bicaranya menjadi selembut-lembut nya." Apa kamu memiliki anggota keluarga bernama Elena?" Sontak mata Tiara melebar saat Lucas menyebut nama Elena.
Apa mereka orang tuaku? Sebisa mungkin Tiara mencoba mengendalikan mimik wajahnya. Dia benar-benar ingin tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Tidak Om." Untuk kesekian kalinya Tiara berbohong. Apa aku Angel? Lalu untuk apa mereka mencariku jika dulu membuangku?
"Untuk apa bertanya itu sayang?"
"Hanya memastikan saja." Daniel menoleh. Dari pembicaraan kali ini, dia mulai memikirkan tentang kemungkinan yang di katakan Lucas.
"Salah satu markas mereka terbakar. Puluhan Vampir di musnahkan dan saya menebak jika pelakunya adalah Angel." Noa menoleh cepat, menatap Daniel tidak percaya.
"Benarkan Daniel?"
"Bukankah Ibu tahu jika kemampuan itu hanya di miliki bangsa Vampir. Manusia memang memiliki kelebihan, tapi mereka hanya bisa membakar dan pasti meninggalkan tulang. Tapi jasad Vampir itu tidak tersisa. Polisi bahkan tidak mengetahui jika sangat banyak jasad yang musnah di sana." Senyum Noa mengembang, tentu saja dia merasa senang mendengar berita tersebut.
"Lalu di mana dia?"
"Saya mendengar itu dari salah satu anak buah Adam. Dia berkata jika pelakunya seorang gadis cantik." Mustahil jika Tiara adalah Angel. Aku benar-benar mencium aroma manusia padahal Ayah Lucas berkata jika anaknya kental dengan darah Vampir.
"Bawa aku ke sana." Lucas bergegas berdiri. Dia ingin melihat lokasinya langsung." Kamu tidak keberatan untuk menemani Istri ku sebentar." Tatapan Lucas beralih pada Tiara.
"Baik Om."
"Aku tinggal sebentar."
__ADS_1
"Iya Kak." Setelah mengusap lembut puncak kepala Tiara, Daniel pergi bersama Lucas menuju ke markas yang sudah habis tidak tersisa.
š¹š¹š¹