
"Bibik menemukan liontin itu saat Bibik pertama kali datang ke rumah ini. Semenjak Bibik memakainya, Bibik merasa sering lemas dan tidak bertenaga." Elena sangat takut jika Alex melakukan sesuatu padanya dan Tiara, jika dia tidak menutup mulut. Tapi di sisi lain, dia ingin sedikit siaga kalau tiba-tiba saja Alex melukai Tiara. Jika kekuatan ku sudah pulih. Aku bisa sedikit melawan Alex meski mungkin sekarang Alex sudah bertambah kuat.
Daniel percaya dengan pernyataan Elena sebab tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya. Tangannya menyentuh ujung liontin dan memperhatikan detailnya. Dengan sedikit tidak yakin. Daniel memegang liontin itu dan berharap bisa meleburkannya tapi liontin terlihat tidak berubah.
"Ini sulit di lepaskan Bik."
"Tidak bisa Aden." Tanya Elena kecewa.
"Nanti saya akan mencarinya di buku. Mungkin ada mantra khusus yang bisa mematahkan liontin itu."
"Sebaiknya kamu pulang Kak. Aku takut Daddy datang dan memergoki mu." Daniel bergegas berdiri dengan senyuman simpul.
"Iya oke. Maaf Bibik. Saya permisi. Nona sudah mengusir saya." Tiara hanya terdiam, dia tidak merespon candaan tersebut.
"Baik Aden. Bibik berharap Aden segera menemukan cara untuk melepaskan liontin ini."
"Saya usahakan Bik." Daniel mencondongkan tubuhnya lalu berbisik." Sampai jumpa nanti malam." Dia kembali berdiri tegak lalu berjalan santai melewati samping rumah.
"Non kenapa?" Tentu saja Elena merasa tersakiti melihat wajah dingin Tiara.
"Duduk dulu Bik. Aku mau bertanya sesuatu." Aku yakin Bibik berada di pihak ku. Dia sangat baik.
"Serius sekali Non."
"Masalahnya memang serius Bik."
"Jangan buat Bibik takut Non." Tiara terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara.
"Apa Bibik tahu saat Daddy menemukan ku di depan rumah?" Tiara menatap Elena penuh selidik. Sementara Elena langsung memperlihatkan mimik wajah kebingungan.
"Kenapa tiba-tiba."
"Bibik jawab saja. Bibik masih ingat bukan, tidak boleh ada rahasia di antara kita. Aku sudah menganggap Bibik sebagai orang tua, itu kenapa aku selalu mengutarakan eluhan ku." Elena masih terdiam sebab merasa bingung harus berkata jujur atau tidak." Kalau Bibik berkata yang sebenarnya, hubungan kita akan terus terjalin. Tapi jika Bibik masih menutupi semua kebenarannya. Aku akan menjaga jarak, aku tidak menyukai kebohongan. Bibik tahu bukan." Tiara hendak beranjak namun tangan hangat Elena mencegahnya.
"Ayo ikut Bibik Non. Bibik takut Tuan Alex datang." Elena berdiri dan mengiring Tiara ke taman belakang. Keduanya terlihat duduk sejajar di salah satu kursi yang ada di sana.
"Bibik minta maaf. Non Tiara memang sengaja di ambil Tuan Alex." Nafas Tiara terbuang kasar. Tubuhnya sedikit bergetar karena rasa hormatnya yang ternodai.
Tiara baru sadar jika seseorang yang di panggil Daddy hanyalah makhluk buruk yang seharusnya di hindari.
__ADS_1
"Siapa orang tuaku sebenarnya Bik?"
"Bibik takut Non. Kalau liontin ini bisa terlepas mungkin Bibik bisa melindungi Non Tiara tapi.." Elena menyentuh liontin dengan ujung telunjuknya.
Tiara mengangkat tangan kanannya lalu melepaskan pengait liontin dengan sangat mudah.
"Jangan jadikan ini alasan." Elena terkejut menatap Tiara tidak percaya." Aku tidak sengaja meminum darah." Elena terdiam sesaat.
"Jadi..."
"Aku tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada tubuhku. Apa aku bukan manusia Bik?" tanya Tiara menuntut jawaban.
Aneh! Sangat aneh. Kenapa aroma tubuh Angel masih seperti manusia padahal kuncian kekuatan sudah di patahkan.
Kekuatan yang sudah kembali, membuat Elena bisa mendeteksi aura tubuh makhluk di sekitarnya.
"Bukan."
"Lalu Bibik menyembunyikan ini dariku!!! Aku merasa di khianati! Aku percaya dengan Bibik tapi kenapa Bibik menyembunyikan rahasia sebesar ini!!"
"Satu lawan 1000. Itu perbandingannya sebab Alex seorang raja. Bibik tidak kuasa menolak saat Alex menawarkan persekutuan. Bibik menyesal melakukan itu. Bibik ingin melawan dan membawa Non Tiara pergi tapi kekuatan Bibik terkunci karena liontin itu." Tiara membuang nafas kasar dengan tangis haru yang lolos dari sudut pipinya.
"Darimana Non tahu itu?"
"Takdir membawaku bertemu mereka. Katakan! Apa mereka orang tuaku?"
"Iya Non. Maafkan Bibik." Elena duduk bersimpuh di hadapan Tiara yang kini sudah tahu tentang jati dirinya.
NB. Tiara mulai aku ganti menjadi Angel.
"Jadi Bibik tidak benar-benar menyanyangi ku! Ini Bibik lakukan hanya untuk mengelabuhi ku!!" Teriak Angel geram.
"Tidak Angel. Sungguh! Aku benar-benar menyanyangi mu. Memang awalnya aku terpaksa melakukannya. Tapi seiring berjalannya waktu perasaan itu tumbuh membesar." Elena menangis terisak, tertunduk dengan perasaan bersalah. Sudah lama dia ingin membongkar semuanya tapi harus tertahan karena dia tidak memiliki daya.
"Apa itu air mata palsu! Mama bilang Bibik makhluk yang sangat buruk!!" Angel merasakan kesakitan yang luar biasa. Dia yang juga sangat menyayangi Elena merasa terkhianati dengan kebohongan besar yang terjadi puluhan tahun lamanya.
"Itu dulu Angel. Aku memang makhluk yang sangat buruk. Tapi semenjak merawat mu. Aku menyanyangi mu lebih dari anakku sendiri."
"Kenapa tidak jujur saja."
__ADS_1
"Alex mengancam ku Angel. Aku berniat membawamu pergi tapi liontin ini tidak bisa ku lepaskan." Angel berdiri dengan gerakan cepat.
"Di mana letak kerajaan. Aku ingin bertemu dengan Alexander."
"Tahan dulu Angel."
"Aku ingin tahu tujuan nya!"
"Alex merencanakan sesuatu yang sangat buruk. Kekuatan ku tidak akan cukup untuk melawan."
"Ada aku."
"Kamu harus berlatih Angel. Kita tidak boleh sembarangan sebab bukan kehidupan bangsa kita saja yang terancam tapi manusia juga."
"Apa maksudnya?"
"Aku tidak tahu. Tapi dalang di balik menghilangkannya para gadis adalah perbuatannya. Alex terlalu gila mencintai Ibumu hingga harus melibatkan semua orang." Angel melebarkan matanya lalu kembali duduk.
"Ibu Noa?" Elena mengangguk pelan.
"Itu awal mula kekacauan ini. Setelah dia menjabat menjadi raja. Alex menjadi semena-mena dan memakai kekuasaannya untuk urusan pribadi. Itu alasan kenapa semua korban adalah seorang gadis. Alex ingin mencari sosok Noa namun sampai sekarang tidak menemukannya." Angel sangat tidak menyangka jika Alex adalah makhluk yang begitu buruk." Kekuatan mu juga di kunci tapi aku tidak mengerti bagaimana cara mematahkannya. Aku berusaha mencari benda atau liontin yang mungkin saja kamu pakai. Tapi rupanya kuncian kekuatan kita berbeda." Imbuh Elena menjelaskan. Sejak merawat Angel, dia baru menyadari jika hidup saling berdampingan terasa lebih indah.
Tangan Elena terangkat lalu mengesampingkan rambut Angel. Dia menuntun tangan Angel untuk meraba tanda lahir yang terletak di balik telinganya.
"Ini alasan kenapa Alex tidak memperbolehkan mu mengikat rambut. Tanda lahir ini akan terlihat sehingga nanti kamu mudah di temukan. Pakaian serba tertutup dan peraturan yang di terapkan bukan semata-mata ingin menjagamu. Dia melakukan ini untuk menyembunyikan mu." Seakan mendapatkan jawaban dari keraguannya. Perasaan Angel menjadi lega saat mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Kekuatan apa saja yang ku miliki?" Tanya Angel lirih.
"Mari kita cari tahu. Kamu percaya padaku kan? Untuk sementara, biarkan semuanya menjadi rahasia."
"Bibik memihak padaku?"
"Tentu saja." Elena menelungkup wajah Angel lalu mencium kedua pipinya.
"Pakai ini dulu Bik." Angel kembali memakaikan liontin pada leher Elena yang sudah tidak berfungsi." Tolong cari informasi soal apa saja rencana Alexander." Pintanya lirih.
"Akan Bibik usahakan." Akhirnya semua rahasia terungkap dengan sendirinya. Jika aku bisa hidup setelah masalah ini? Apa Lucas dan Noa mau memaafkan ku?
š¹š¹š¹
__ADS_1