Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
46


__ADS_3

Di sebuah Cafe, Ibra dan beberapa temannya terlihat berkumpul untuk membahas gosip terpanas hari ini yang melibatkan Ibra sendiri.


"Mana mungkin Tiara mampu melakukan itu. Lihatlah, tanganku masih utuh."


"Aku benar-benar melihat tanganmu lemas dan patah tadi. Coba ingat-ingat, apa kau melupakan kejadian itu?" Ibra terdiam untuk mengingat tapi tetap saja dia tidak ingat.


"Ganti topik! Jangan bicara omong kosong. Aku tadi bertemu orang tuanya Tiara. Dia sangat muda dan tidak pantas di sebut Ayah." Ibra tidak sadar jika sekarang nyawanya tengah terancam. Sejak keluar dari rumah, dia sudah di intai oleh anak buah Alex.


.


.


.


.


Waktu berlalu, mereka menyudahi perbincangan saat menyadari hari mulai larut.


"Aku duluan. Ada kelas pagi." Ibra berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan teman-temannya yang masih berkumpul.


Dia berjalan santai menuju parkiran yang minim penerangan. Awalnya Ibra tidak menyadari suasana sekitar yang terasa dingin. Namun saat sebuah bayangan hitam melintas cepat di hadapannya, sontak membuatnya berhenti melangkah.


"Apa itu?" Gumam Ibra menatap sekitar yang sepi. Apalagi dia memarkir motor tepat di ujung." Mungkin hanya perasaanku saja." Baru saja dia akan melanjutkan langkahnya. Bayangan itu kembali dan menghantam tubuhnya kuat." Aaaaaaaaa!!" Teriak Ibra merasa terkejut saat dirinya sudah berada di sebuah tempat yang sangat asing." Hoooeeeekkkkk!!!" Ibra memuntahkan semua isi perutnya yang terasa di aduk-aduk." Di mana ini?" Tubuhnya memutar untuk memeriksa sekitar.


"Ini tempat ku." Sahut Alex tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Ibra.


"Anda?" Ibra menatap heran ke Alex yang tengah memakai jubah kebesarannya. Bajunya seperti seorang Raja. Apa aku sedang bermimpi. "Bukankah anda Ayah Tiara?" Tanyanya memastikan. Menatap Alex dari atas sampai bawah dengan raut wajah bingung.


"Daddy bukan Ayah." Ibra mengerutkan keningnya.


"Setahu saya. Daddy itu panggilan lain dari Ayah."


"Sejauh apa kamu menyukainya?" Tanya Alex tidak menjawab pertanyaan yang Ibra lontarkan.


"Suka sekali. Saya yakin Tiara..." Alex menyayat leher Ibra dengan kuku runcingnya. Dia menghisap darahnya lalu memusnahkannya.


"Tidak boleh ada penghalang sedikitpun. Tenang saja, kau juga akan mati nantinya." Alex tersenyum simpul. Lidah panjangnya menjulur untuk membersihkan sisa darah di tangannya." Semua manusia itu akan mati, kecuali Noa mau meninggalkan Lucas. Aku harus memiliki keduanya. Aku terlanjur membencimu Lucas. Jadi kau tidak boleh memiliki Noa juga Angel. Mereka hanya milikku." Entah apa yang Alex rencanakan. Senyumnya terlihat begitu mengembang seakan kemenangan untuknya akan segera di dapatkan.


🌹🌹🌹


Tuk... Tuk... Tuk...


Suara ketukan kaca beberapa kali terdengar membuat Angel terpaksa beranjak. Dia berniat mengabaikannya, tapi rasanya Daniel tidak akan mau berhenti sampai dia keluar.


"Apa sih Kak! Menganggu saja!!" Eluh Angel membuka jendela kamarnya.


"Sesuai janji."


"Aku tidak berkata itu." Angel melirik malas ke arah lelaki yang mungkin akan menjadi jodohnya kelak.


"Ayolah Babe. Aku berjanji hanya sebentar lalu kamu bisa pulang dan beristirahat."


"Aku malas." Aku sedang ingin sendiri..


"Kita tinggal menghilang lalu sampai. Aku jamin tidak akan lelah."


Dia tidak akan berhenti..


Angel keluar dari jendela tanpa mengunakan properti nya seperti baju panjang dan masker.


"Ayo." Angel menutup jendela membalas tatapan Daniel yang tidak bergerak." Tunggu apa?" Imbuhnya meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Masker dan baju panjang?"


"Aku bosan mengenakan itu." Daniel terkekeh kecil. Dia tidak percaya mendengar jawaban Angel.


"Aku lebih suka jika kamu mengenakan baju tertutup." Daniel menunduk seraya menatap paha terbuka Angel dengan celana pendeknya. Itu terlalu indah. Otakku langsung keruh melihatnya..


"Kenapa?"


"Untuk menghindari mata lelaki."


"Maksudku, kenapa Kak Daniel mengaturku sekarang."


"Bukan mengatur aku mencoba menjagamu saja. Aku tidak suka jika mereka melihatmu dengan tatapan nakal."


"Lalu apa gunanya kamu Kak. Itu tanggung jawab mu bukan. Kau yang mengajak keluar dan kau juga yang harus menjagaku." Hati Daniel terasa sejuk saat mendengar perkataan Angel.


"Akan ku lakukan dengan senang hati. Kita pergi." Daniel meraih pergelangan tangan Angel dan membawanya ke sebuah taman yang indah namun cukup ramai.


Dia benar-benar tidak merasa kesal dengan penolakan ku.


"Ini sangat dekat. Kita bisa pulang dengan cepat setelah berkeliling." Saat tangan Daniel ingin melepas genggamannya. Angel mencegahnya dengan menumpukan satu tangan yang lain." Apa kamu sudah menerima ku?" Tanya Daniel menatap tidak percaya.


"Menerima apa?"


"Perasaan ku."


"Tidak." Daniel menddesah lembut dan tanpa sepengetahuannya, Angel tersenyum." Kecewa?" Imbuhnya menggoda.


"Aku tidak gampang menyerah. Aku suka tantangan, kamu tenang saja. Sesuatu yang indah dan berharga memang sulit untuk di dapatkan."


"Hm." Pelajaran pertama pendengaran yang tajam.


Suara riuh yang terdengar di sekitar, bercampur aduk dengan suara hati banyaknya orang membuat Angel sedikit aneh.


Kata Bibik harus fokus agar aku terbiasa.


Sesekali Angel tersenyum untuk mengelabuhi apa yang di rasakan sekarang. Beruntungnya, sejak tadi Daniel juga terdiam. Dia mengira jika Angel tengah menikmati suasana taman tersebut.


Angel memutar tubuhnya sedikit saat dia menyadari ada sebuah obrolan di sertai tangisan.


Pelajaran kedua pengelihatan yang tajam.


Sungguh sebuah sensasi yang menyenangkan, sebab Angel tersenyum mengembang ketika menyadari pengelihatannya mampu menembus jarak 500 meter.


Wah luar biasa. Mereka sedang bertengkar..


Terlihat jelas sepasang kekasih tengah bertengkar hebat. Si wanita menuduh si lelaki berselingkuh namun si lelaki menyangkal hingga percekcokan terjadi.


Ah tidak! Pelajaran ketiga!! Menghajar tanpa menyentuh! Apa bisa!!


Dengan gerakan cepat tangan Angel berusaha menghalau si lelaki yang hendak melayangkan tamparan. Itu sedikit sulit, karena membutuhkan konsentrasi.


Wanita itu tertampar!!! Aku harus fokus! Fokus!!!


Angel mengulangi gerakannya lagi dan tiba-tiba saja tubuh si lelaki terhempas kuat membentur dinding sebuah rumah hingga retak.


"Terlalu kuat!!!" Teriak Angel membuat Daniel menoleh.


"Apa yang terlalu kuat?" Tanya Daniel bingung.


"Tidak Kak." Apa lelaki itu baik-baik saja?

__ADS_1


Kerumunan mulai mengelilingi tubuh si lelaki yang langsung sekarat. Daniel yang melihat kecelakaan itu langsung menggiring Angel menuju ke sana.


Terlihat si wanita menangis terisak dan memberikan keterangan jika si lelaki terhempas angin dengan kuat.


"Saya tadi merasakan angin yang sangat kuat dan menghantam tubuhnya." Daniel beralih menatap dinding yang retak.


"Mana mungkin angin bisa membuat tembok saya retak!" Protes si pemilik rumah.


"Saya serius Tante."


Kacau. Harusnya tadi dengan satu telunjuk. Aku hanya ingin menyingkirkan tangannya tapi kenapa malah membenturkannya ke tembok.


"Tolong panggilkan ambulance." Pinta si wanita seraya terisak.


"Tidak perlu. Biar ku periksa." Angel melepaskan pegangannya. Sehingga Daniel duduk berjongkok. Dia berdalih akan memeriksa namun nyatanya Daniel melakukan sentuhan itu untuk menyembuhkan. Dadanya lebam. Ini luka dalam akibat hantaman. "Dia hanya pingsan." Matanya menatap sekitar mencoba memeriksa jika mungkin ada seorang Vampir di sana." Apa kamu yakin jika dia terhantam angin?" Tanya Daniel memastikan.


"Iya Kak. Kami bertengkar dan saat dia akan menampar saya lagi, tubuhnya terhempas sangat kuat."


"Hm. Beri minum saja." Daniel tersenyum lalu mengiring Angel menjauh." Aneh sekali. Dadanya membiru."


"Bagaimana mungkin itu terjadi Kak?"


"Aku tidak tahu. Tidak ada Vampir yang membahayakan di sekitar sini."


"Apa aromanya berbeda?"


"Sangat berbeda. Dari aroma dan juga aura."


"Cara membedakannya?" Daniel tersenyum seraya menoleh.


"Untuk apa bertanya itu? Kamu tidak akan mampu mengedusnya."


"Hanya bertanya dan ingin tahu."


"Apa yang kamu cium dari tubuhku."


"Aroma wangi."


"Jika kamu bukan manusia, kamu akan menyadari di balik aroma wangi itu ada aroma darah yang begitu amis dengan aura tubuh yang panas. Sayangnya kamu manusia."


"Ya sayang sekali. Em aku juga suka petualangan Kak."


"Lalu?"


"Di mana letak kerajaan Vampir. Bisakah kamu membawaku ke sana?" Daniel menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadap ke Angel.


"Untuk apa? Itu tempat yang paling berbahaya."


"Aku tidak ingin masuk. Aku hanya ingin tahu lokasinya."


"Jika kamu tertangkap oleh prajurit yang ada di sana. Mereka akan menghisap darahmu. Kau tidak takut?"


"Ada kamu Kak. Ayolah, aku penasaran." Rajuk Angel sedikit memaksa.


"Apa upahnya?"


"Lebih lama bersamaku."


"Upah yang setimpal. Ayo." Daniel menggiring Angel ke tempat yang sepi lalu melesat menuju hutan larangan yang sebenarnya berjarak sangat jauh dari kota.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2