
Alex tersenyum simpul menatap dua gadis belia di hadapannya. Kedua gadis itu teramat cantik dengan kulit putih dan rambut ikal panjang.
Mirip Noa. Tapi...
Wajah Alex berubah geram, saat dia mengingat kenyataan jika gadis di hadapannya bukanlah Noa.
Alex tidak sadar dengan pekerjaan sia-sia yang di lakukannya sekarang. Otaknya berporos pada Noa, tidak ada yang lain hingga Tiara pun tidak sanggup membuatnya melupakan sosok Noa.
"Apa Tuan ingin di pijat?" Tawar salah satu dari gadis tersebut. Dia berjalan menghampiri Alex dan mencoba merayu Alex dengan bahasa tubuhnya.
"Bisakah kau menjadi Noa!!" Teriak Alex memekakkan telinga. Kedua gadis itu memundurkan tubuhnya melihat perubahan pada wajah Alex.
"Noa siapa Tuan?" Tanyanya lirih.
"Noa! Permaisuri ku!!"
"Kami tidak mengerti." Alex berjalan cepat menghampiri gadis yang sudah menjawab pertanyaannya.
"Tidak ada yang bisa menggeser dia di otakku termasuk anaknya sendiri." Ucapan Alex yang tidak di mengerti membuat keduanya mengerutkan keningnya." Mereka berbeda! Tidak ada orang yang bisa menghentikan kebiasaan ku ini kecuali Noa!!" Teriak Alex seraya mencengkram erat leher gadis tersebut dan menghisap habis darahnya.
Ya Tuhan.. Gadis yang tersisa berusaha pergi. Namun karena panik, kakinya tersandung dan jatuh. Dia menyeret tubuhnya seraya melihat ke Alex yang sudah beralih menatapnya.
"Ampuni saya Tuan." Ucapnya memohon dengan isakan tangis. Alex tidak bergeming dan malah pergi meninggalkan gadis itu bersama jasat temannya yang hanya tinggal tulang belulang berbungkus kulit.
Dengan tubuh bergetar, gadis itu mencoba bangun untuk mencari jendela yang ternyata tidak ada. Ruangan itu hanya memiliki satu pintu dan berdinding beton kokoh.
"Tuan itu makhluk apa hiks hiks hiks. Aku menyesal tidak mendengarkan kata Ibu." Tidak ada yang bisa di lakukan gadis itu lagi kecuali menangis di sudut ruangan dengan tubuh meringkuk.
š¹š¹š¹
Tiara tersenyum di balik masker saat dia melihat pemandangan seluruh kota berada di bawahnya. Perlahan dia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Daniel dan berjalan menuju bibir jurang.
Astaga indah sekali. Aku tidak percaya bisa melihat ini..
Mata Tiara mulai berkaca-kaca. Dadanya seketika terasa sesak. Rasa haru bahagia bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana tidak begitu. Selama puluhan tahun lebih, sekalipun dia tidak di izinkan keluar. Dia hanya berada di rumah tanpa tetangga.
Terkadang, Tiara berharap akan ada seseorang yang bisa menjadi tetangga agar dia memiliki teman untuk bertegur sapa. Tapi keinginan itu pudar dan terlupakan. Tidak ada seorangpun yang pindah di gang miliknya itu. Sebab Alex sudah membeli lahan luas. Dia sengaja melakukan itu untuk mencegah Tiara bersosialisasi dengan orang lain, yang mungkin bisa memicu terjadinya pemberontakan pada hati Tiara.
"Kenapa malah menangis?" Daniel menatap heran ke arah Tiara dari samping.
"Aku terharu." Tiara mengusap kasar air matanya seraya menunduk.
"Kamu terharu denganku karena sudah mengajakmu ke sini."
"Tidak. Tapi terimakasih." Daniel tersenyum merasakan keangkuhan Tiara yang masih terlihat. Dia melepaskan jaket miliknya dan mengenakannya pada Tiara." Jangan. Aku baik-baik saja." Tentu saja Tiara tidak merasa dingin. Dia yang sebenarnya sejenis Vampir, tidak berpengaruh pada angin kencang yang menerpa.
__ADS_1
Seharusnya dia kedinginan. Ini berada di ketinggian yang tidak wajar bagi manusia.
"Apa pembantu mu manusia?" Tanya Daniel lirih. Tiara menoleh cepat mendengar pertanyaan yang di rasa aneh.
"Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu Kak. Bibik manusia, dia menapakkan kakinya di tanah!!" Jawab Tiara ketus.
Berarti dia tidak tahu kalau pembantunya seorang Vampir.
"Bagaimana caranya Kak Daniel bisa masuk kamarku? Coba jelaskan." Daniel tersenyum lalu duduk di salah satu batu besar.
"Aku bukan manusia." Tiara melongok menatap Daniel tidak percaya.
"Kau sebangsa jin? Tapi kenapa bentuk mu begitu padat."
"Aku bukan jin tapi aku Vampir modern." Tiara tertawa kecil. Jawaban dari Daniel di anggapnya sebuah lelucon." Silahkan tertawa dan tidak percaya. Bukankah kamu sudah melihat keanehan ku? Aku bisa masuk kamarmu dari celah terkecil." Tiara menghentikan tawanya lalu membersihkan sisa air mata.
Apa benar? Ku fikir itu hanya cerita.
Tiara tidak sadar jika dirinya sejenis Vampir, yang sudah bermutasi akibat DNA dari Noa, juga kekuatan besar yang sengaja di kunci.
"Apa kamu tidak percaya?" Tanya Daniel seraya berdiri.
"Aku hanya..." Belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya. Daniel meraih tubuhnya dan membawanya terjun dari jurang setinggi 150 meter." Aaaaaaagggghhhhhh..." Teriaknya menutup mata dengan kedua tangan merangkul pundak Daniel erat.
"Aku takut!! Aku percaya!!! Kita akan mati Kak Daniel!!!" Tiara tidak juga mau membuka matanya hingga Daniel kembali membawanya ke tempat semula." Ach sial!!" Umpatnya duduk berjongkok seraya mengatur nafas.
"Sudah percaya?" Tiara berdiri seraya memundurkan tubuhnya menatap Daniel dari atas ke bawah.
Tidak mungkin manusia bisa begitu..
"Apa kamu akan memangsaku? Kenapa kau bawa aku di tempat gelap ini." Tebakan Tiara membuat Daniel terkekeh.
"Aku ingin membawa mu keluar dan menikmati udara segar. Jika aku ingin memangsamu. Kau mungkin sudah musnah sejak tadi." Tiara berpaling dan masih mengatur nafasnya.
"Untuk apa kamu melakukan itu." Sungguh di luar dugaan jika Tiara sudah tidak lagi takut karena merasa percaya jika Daniel makhluk yang baik." Aku sudah terbiasa di sana. Terkurung di rumah itu." Imbuhnya lirih.
"Jika terbiasa, kamu tidak mungkin mengeluh."
Apa Tuhan mengabulkan doaku?
"Aku hanya ingin terbebas sedikit sebelum menikah." Daniel membuang nafas kasar. Dia melupakan ucapan Tiara yang berkata sudah di jodohkan dengan seseorang.
Ahh rasanya sakit! Bukankah dia sudah mengatakan akan di jodohkan..
"Aku akan membantumu melakukannya." Dengan berat hati Daniel mengatakannya walaupun hatinya seolah tertusuk benda tajam.
__ADS_1
"Tapi aku takut ketahuan."
"Itu tidak akan terjadi. Kita pergi diam-diam seperti sekarang dan pulang dengan diam-diam." Tiara hanya mengangguk lalu duduk." Mulai malam ini kita berteman." Daniel duduk berjongkok si sisi Tiara seraya mengulurkan tangannya.
"Tidak mau. Aku banyak masalah sejak kau duduk di sampingku." Daniel menarik lagi tangannya dan tersenyum.
"Aku berjanji akan menyelesaikan masalahmu akibat berteman denganku seperti tadi." Tiara mengingat kejadian yang menimpanya saat dia berada di Plaza." Jika aku tidak datang tepat waktu dan memindahkan baju itu. Mungkin kamu akan di tahan oleh scurity di sana." Ada perasaan yang mendorong kuat pada hati Daniel untuk memaksa Tiara agar berteman dengannya. Seharusnya aku tidak memaksanya. Ini akan menambah perkerjaanku. Tapi.. Daniel kembali membayangkan paras cantik di balik masker. Aku akan menemaninya sebentar saja. Sampai nanti dia menikah. Itu sudah seharusnya terjadi sebab dia manusia dan aku Vampir.
"Dia yang sudah meletakkan baju itu?"
"Hm iya. Kedua lelaki yang mengobrol dengan temanmu yang melakukannya."
"Dia menuduhku sudah merebut mu padahal aku tidak melakukan itu."
"Ya. Aku mendekat sendiri dan aku harus bertanggung jawab bukan." Daniel kembali mengulurkan tangannya." Tidak akan terjadi sesuatu. Aku berjanji Tiara. Babe". Wajah Daniel terasa panas padahal dia hanya menyebut panggilan itu di dalam hati.
"Hm oke." Tiara menyambut tangan Daniel sejenak." Kau memaksaku jadi aku mau." Dia kembali menarik tangannya cepat.
"Iya aku yang memaksa."
"Memang kenyataannya kau yang memaksa." Walaupun Tiara berkata ketus tapi itu berbanding terbalik dengan kebahagiaan yang ada di hatinya. Aku punya dua teman. Dinda dan Kak Daniel. Mereka punya nama yang hampir sama. Senyum terlihat kian merekah selayaknya anak kecil yang tengah berbahagia memiliki teman baru.
"Aku sudah mengakui itu. Em ada tempat yang ingin kamu kunjungi." Tiara menggeleng pelan.
"Di sini saja. Aku tidak ingin terkena masalah jika berada di keramaian. Aku takut Daddy marah."
"Patuh sekali."
Bagaimana tidak patuh jika dia lelaki yang berjasa juga calon Suamiku..
"Besok malam kamu bisa menyamar agar kita bisa menikmati beberapa tempat."
"Aku tidak tahu."
"Biar aku yang urus." Rasanya dia terlalu takut untuk memulai sesuatu. " Malam ini kita di sini saja. Besok aku akan membawamu ke beberapa tempat." Imbuhnya menatap lurus ke depan.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak Tiara. Temani aku berkeliling sambil mencari bukti kerusuhan yang terjadi di kota." Tiara menoleh cepat.
"Kerusuhan apa?"
"Nanti kamu juga akan tahu." Setidaknya Tiara akan jadi tambahan semangat untukku.
š¹š¹š¹
__ADS_1