Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
24


__ADS_3

Alexa memutuskan untuk pulang. Dia kehilangan konsentrasi karena ancaman yang di lontarkan Nathan. Memang benar jika dirinya berniat meninggalkan Nathan suatu saat nanti. Tapi keinginan itu memudar sejak Nathan meninggalkannya dengan keadaan marah.


Dia bilang aku kesayangan nya. Kenapa Papa berubah? Apa aku tidak cukup cantik?


Alexa beranjak lalu berdiri tepat di depan meja rias miliknya. Dia menatap lekat pantulan cermin yang memperlihatkan kecantikannya yang belum memudar.


"Aku masih sangat cantik. Walaupun memang Tiara juga cantik! Ah! Kenapa aku takut Papa meninggalkan aku!! Aku bahkan belum menemukan Daddy sugar yang lain! Yang bisa mengerti aku dan meluangkan waktu untukku." Umpat Alexa lagi dan lagi. Dia duduk lemah di kursi rias seraya mengusap lembut pipinya.


Beberapa saat kemudian. Terdengar suara mobil Nathan terparkir. Cepat-cepat Alexa memoles wajahnya sebentar lalu berlari kecil menuruni anak tangga untuk menyambut kedatangan Nathan.


"Papa sebentar sekali." Rajuk Alexa melingkarkan kedua tangannya ke lengan Nathan.


"Ada yang tertinggal." Jawab Nathan dingin.


"Jangan seperti ini Pa." Alexa mencoba merajuk Nathan dengan bahasa tubuhnya. Dia tahu jika Nathan sangat menyukai permainan ranjang Alexa.


"Berhenti!" Pinta Nathan mendorong kasar tubuh Alexa.


"Aku melakukannya karena Papa sibuk. Aku mencari perhatian di luar untuk menemani kesepian ku." Nathan tersenyum simpul lalu menatapnya tajam.


"Aku ingin tahu sejauh apa kesetiaan mu. Aku memang terlihat sibuk, tapi aku selalu memperhatikan keseharian mu."


Tebakan soal Nathan yang cenderung cuek terjawab sudah. Dia sengaja melakukan itu sebagai ujian untuk Alexa sejak para ajudannya melapor bagaimana binal nya Alexa.


"Papa tahu aku haus perhatian. Kenapa Papa melakukan itu."


"Jangan panggil aku Papa. Aku sudah menyiapkan rumah untuk kau tinggali. Sebaiknya kau berkemas." Nathan hendak pergi tapi lagi lagi Alexa mencegahnya dengan bersimpuh di kakinya.


"Aku menyesal melakukan itu Pa. Tidakkah Papa kasihan padaku. Aku sudah menyerahkan semuanya bahkan keperawanan ku juga." Rajuk Alexa berpura-pura terisak. Nathan tersenyum tipis, dia mengingat malam pertama percintaannya dengan Alexa.


"Kau tidak bersegel. Jangan bodohi aku Lexa." Mata Alexa kembali melebar." Aku mempertahankan mu karena aku masih membutuhkanmu. Sekarang sudah tidak lagi. Tenang saja, aku masih membiayai kuliahmu sampai lulus dengan uang saku yang cukup." Alexa berdiri dengan wajah memohon.


"Maafkan aku Papa. Jangan bicara seperti ini."


"Lalu seperti apa?! Katakan!! Kau membiarkan tubuhmu di jamah sembarangan lelaki! Aku bahkan tahu jika kau sering ke hotel bersama mereka." Hanya ada penyesalan bertengger di hati Alexa. Dia fikir selama ini Nathan tidak perduli dan sibuk dengan perkerjaan.


"Aku tidak tahu jika Papa memperhatikanku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku ingin menikah dengan Papa." Nathan mendorong kasar tubuh Alexa.


"Tidak ada pengampunan sebab yang tertinggal di belakang hanya penyesalan! Antar dia ke rumah yang ku beritahu. Jika dia menolak! Seret paksa!" Nathan melangkah pergi tanpa memperdulikan teriakan yang Alexa lontarkan. Dia masuk ke mobil mewahnya." Cari tahu soal Tiara. Aku ingin tahu di mana dia tinggal." Pinta Nathan sebelum menutup pintunya. Kecantikannya memenuhi otakku. Jika dia bisa ku dapatkan. Aku berjanji akan berhenti menjadi lelaki brengsek!!


Apa yang di khawatirkan Alex mulai terjadi. Kecantikan Tiara yang tidak wajar tentu membuat para lelaki berlomba-lomba ingin mendapatkannya. Mereka tidak akan perduli dengan apa yang di korbankan nantinya. Daya tarik Tiara begitu kuat seolah mengikat hati lawan jenisnya.


🌹🌹🌹


Tiara melirik ke bangku Alexa yang kosong. Dia memperkirakan jika Alexa mungkin pulang karena tidak terima dengan keputusan Nathan.


Tenang sekali jika tidak ada dia.

__ADS_1


Baru saja ucapan itu terlontar, tiga orang gadis satu jurusan menghampiri mejanya. Kebetulan saat itu Tiara tengah sendirian. Daniel pergi begitu saja, sementara Dinda pergi ke kantin.


"Kau serius berkencan dengan Kak Daniel?" Tanyanya ketus.


Dasar Kak Daniel. Apa dia sengaja mengatakan itu agar aku terlibat masalah.


"Tidak." Jawab Tiara mencoba tenang.


"Aku mengenal Kak Daniel lebih lama dari mu. Dia bukan orang yang suka berbohong!!" Tiara menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Untuk apa kalian bertanya itu? Rasanya bukan urusan kalian."


"Jika Kak Daniel memilih Alexa dan yang lain mungkin kami bisa menerima. Tapi kamu!!" Menunjuk kasar ke wajah Tiara." Kau buruk sekali. Apa tidak ada kaca di rumah!!" Tiara mendongak, menatap ketiga gadis yang memiliki paras cantik.


"Tenanglah. Aku hanya berteman saja." Ketiganya terkekeh nyaring.


"Kau membodohi kami!! Sudah dua tahun kita mengenal Kak Daniel! Dia tidak pernah berteman dengan gadis manapun!!" Tiara malah tersenyum. Dia merasa bahagia mendengar kenyataan jika Daniel pemuda yang tidak gampang tertarik. Meskipun sangat menyebalkan harus terlibat dengan para followers Daniel yang sedikit gila.


"Hm dia gadis pertama yang menjadi teman ku." Sahut Daniel sudah berdiri di belakang ketiganya yang langsung pergi begitu saja dengan senyuman aneh." Aku terlambat. Maaf." Ucap Daniel duduk di tempatnya.


"Terlambat apa?" Tanya Tiara tanpa menoleh.


"Bertanggung jawab untuk melindungi mu dari kegilaan mereka."


"Hm." Tiara mengangguk seraya tersenyum di balik masker.


"Aku tidak biasa makan di luar." Tolak Tiara masih mempertahankan keangkuhannya meski kebahagiaan terasa menyirami dinding hatinya yang kering.


"Karena masker?" Tiara mengangguk pelan." Kita ke rooftop." Rajuk Daniel sengaja memaksa. Ada rasa rindu terbesit. Dia ingin sekali melihat wajah Tiara tanpa masker.


"Aku takut..."


"Tidak ada orang di sana. Kalaupun ada, aku akan membuat mereka lupa ingatan." Sahut Daniel cepat.


"Biar ku makan di rumah."


"No Tiara."


"Why?" Tiara melirik malas ke Daniel yang tengah tersenyum.


"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin melihatmu makan."


"Apa ini taktik agar aku membuka masker." Daniel terkekeh kecil. Niatnya sudah terbaca sehingga membuatnya sedikit malu.


"Jangan membuang waktu dengan jawaban yang sudah bisa kamu tebak." Daniel mengulurkan tangannya." Come on." Rajuk Daniel.


"Memaksa sekali."

__ADS_1


"Ya aku memang memaksa. Aku hanya ingin melihat wajahmu." Tiara semakin menunduk karena wajahnya yang terasa panas." Terlalu lama. Maaf." Daniel meraih pergelangan tangan Tiara lalu membawanya ke rooftop yang memang sangat sepi. Pintunya bahkan terkunci dari dalam.


"Kamu terlihat sopan tapi pemaksa." Gerutu Tiara melihat ke kue yang ternyata sudah berada di tangan Daniel.


"Sopan, baik itu harus. Tapi sikap arogan dan pemaksaan juga perlu jika memang di butuhkan. Tunggu apalagi." Perlahan, Tiara mengambil kue yang sudah di kemas dengan minumannya.


"Terimakasih."


"Sama-sama." Tiara menurunkan maskernya dan mulai menikmati kue tersebut. Daniel menarik tudung kepala Tiara sehingga kini terlihat rambut ikal panjang yang di milikinya." Bisakah tangan mu diam!!" Protes Tiara ketus.


"Tidak. Sangat tidak normal jika aku tidak menjahili mu." Tiara membuang muka seraya mengunyah. Seharusnya aku berkeliling. Tapi dia menahan ku untuk tetap di sini.


"Kamu nyaman berada di sini? Bukankah seorang Vampir tidak bisa berada di tempat terang." Tiara ingin mencairkan suasana agar Daniel berhenti memandanginya.


"Asal bersamamu. Semua keadaan terasa nyaman." Hati Tiara terasa teduh mendengar jawaban Daniel dengan suara lembutnya.


"Apa pantas seorang teman merayu seperti itu?"


"Pantas saja jika kita berteman, tapi sayang." Tiara langsung tersedak. Dia cepat-cepat mengeluarkan air minum dan meneguknya." Maksudku sayang sebagai teman." Daniel masih berusaha menutupi ketertarikannya sebab dia berfikir jika Tiara hanya manusia biasa.


"Itu harus. Hanya sebatas teman. Bukankah kamu tahu aku sudah di jodohkan." Daniel mengangguk seraya mengalihkan pandangannya. Ucapan itu terasa seperti belati tajam yang menusuk hatinya.


Kenapa kamu tidak memintaku untuk melepaskanmu dari perjodohan itu?


"Iya aku tahu. Aku berjanji tidak akan lebih. Kamu harus tahu jika aku seorang pangeran Vampir yang tidak bisa sembarangan memilih pasangan hidup." Tiara menguyah makanannya pelan. Entah kenapa dia merasa kecewa dengan perkataan Daniel.


"Benar-benar pangeran?" Tanya Tiara mengulang dengan nada yang begitu lirih.


"Iya." Daniel mengangguk-angguk. Ucapan ku terasa membakar mulutku!! Kenapa aku harus berkata itu!!


"Em berarti kamu harus menikah dengan seorang putri yang sederajat."


"Tidak juga. Asal dari bangsa Vampir. Aku tidak ingin mengecewakan Ayah. Dia ingin aku mendapatkan keturunan yang kental dengan bangsa kami." Tiara membungkus lagi kuenya. Ucapan itu mengikis selera makannya.


"Semoga kamu cepat mendapatkannya agar tidak mengangguku." Keduanya saling menatap dengan senyuman aneh dan hati bercabang.


"Itu tanggung jawab ku."


"Tidak. Jika kau menjauh, otomatis mereka tidak akan menganggu ku."


"Kamu marah?" Please Babe. Bilang iya dan minta aku untuk menolongmu.


"Tidak." Kenapa hatiku mendadak kesal. "Aku takut Dinda mencari ku." Ucap Tiara beralasan.


"Kue nya?" Daniel menatap Tiara yang kembali memakai masker.


"Ku lanjutkan nanti." Dengan terpaksa Daniel kembali membawa Tiara ke kelas yang ternyata masih sepi. Keduanya duduk di tempat mereka masing-masing dengan perasaan mengambang.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2