Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
25


__ADS_3

Alexa menarik kasar lengan Tiara yang hendak masuk taksi pesanannya. Tubuhnya terhempas ke belakang hingga Tiara hampir jatuh.


"Dasar tidak tahu diri!! Kau sudah mengambil Daniel dan sekarang kau ingin mengambil Papa dariku!!!" Tunjuknya kasar ke wajah Tiara.


"Mengambil Papa? Apa maksudnya?" Dinda mengurungkan niatnya masuk taksi dan berdiri di samping Tiara.


"Papa meninggalkan ku karena kau!!" Tiara dan Dinda saling melihat. Mereka bingung dengan perkataan Alexa.


"Sebaiknya di bicarakan baik-baik Kak. Jangan menyalahkan Tiara terus." Jawab Dinda lirih.


"Dia mengusirku dari rumah! Bagaimana bisa di bicarakan baik-baik!!"


"Mungkin Kak Lexa terlalu nakal." Ujar Dinda polos. Wajar saja mereka bingung. Mereka berfikir jika Nathan adalah Papa Alexa.


"Nakal apa!!! Sialan kau!!" Alexa akan mendorong Dinda namun Tiara mencegahnya.


"Bisakah kau tidak arogan?!!"


"Kau membuatku terkena masalah Tiara!!! Papa Nathan akan meninggalkan aku!!" Tiara mengerutkan keningnya. Pandangannya beralih saat dia melihat dua lelaki bertubuh besar menghampiri Alexa.


"Sebaiknya Nona pulang. Tuan Nathan akan semakin marah." Rajuknya sopan.


"Sebelum aku bisa menamparnya! Aku tidak akan pulang!!" Kedua lelaki bertubuh besar itu saling melihat kemudian menyeret paksa Alexa.


"Hei tunggu Pak. Mau di bawa kemana?" Tiara tidak tinggal diam. Walaupun Alexa jahat padanya dia tentu merasa khawatir.


"Saya ajudan Tuan Nathan Nona. Jadi dia akan saya bawa pulang."


"Benar-benar pulang."


"Jangan sok perduli kamu!!!" Teriak Alexa dengan wajah buruknya.


"Nona tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja." Alexa meronta seraya menatap Tiara penuh kebencian.


"Biarkan saja." Cerah Dinda seraya memegang lengan Tiara.


"Aku takut Alexa di lecehkan."


"Mereka adalah orang suruhan Papanya, tidak perlu khawatir."


"Hm." Tiara tersenyum dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam taksi.


🌹🌹🌹


Daniel duduk lemah di hadapan Alan. Perasaannya terasa mengambang setelah pembicaraannya bersama Tiara di rooftop. Dia menyesal sudah berkata ingin mencari pasangan hidup seorang gadis dari bangsanya, sehingga mungkin membuat Tiara tidak akan pernah memintanya tolong untuk membebaskannya dari perjodohan.


"Kenapa lagi? Kau sudah menyerah untuk menyelidiki?" Alan duduk seraya memperhatikan wajah Daniel yang lesu.


"Aku tidak mengerti kenapa aku mengatakan itu. Seharusnya aku berdiam saja." Alan mengerutkan keningnya.


"Mengatakan apa?"


"Aku harus punya pasangan dari bangsaku." Alan terkekeh. Dia paham dengan pembicaraan Daniel yang selalu membahas Tiara di sela obrolan soal kasus yang mereka tangani.


"Kau mengatakan itu padanya?" Daniel mengangguk lemah.


"Aku kesal saat mendengar dia akan di jodohkan sehingga aku berkata demikian."


"Itu sudah benar. Dia jujur, tapi kenapa kamu kesal. Bukankah tipe mu memang dari bangsa kita sendiri?" Daniel membuang nafasnya kasar. Pesona Tiara membutakan mata hatinya bahkan mulai mengikis kewarasannya.


"Itu hanya tipe. Hanya rencana. Aku tidak tahu kedepannya seperti apa." Kekehan Alan kian nyaring penuh ledekan ke arah Daniel.


"Aku tahu. Kau berharap Tiara menjadi jodoh mu. Lalu Angelina bagaimana? Itu poros masalah kita. Jika Angelina bisa di temukan. Tuan Lucas akan menjadi raja dan kejahatan terbongkar." Sesuatu yang terlihat sederhana namun nyatanya hingga saat ini Daniel belum menemukan bukti yang kuat. Dia yang berasal dari luar kerajaan, tentu merasa kesulitan untuk melontarkan tuduhan tanpa bukti.


"Dia lebih cantik dari Angelina." Alan melongok. Dia memutar tubuhnya menghadap tepat ke arah Daniel.

__ADS_1


"Sketsa itu saja terasa tidak nyata. Bagaimana mungkin kau berkata jika Tiara lebih cantik daripada Angelina?"


"Kau pernah lihat aku berbohong. Aku mengatakan kejujuran. Sejak aku tahu wajahnya. Fokus ku teralihkan. Aku bahkan tidak ingin berjauhan karena merasa khawatir."


"Bawa aku bertemu dengannya." Pinta Alan bersemangat.


"What for?"


"Sketsa itu saja terlibat tidak nyata. Mana ada gadis memiliki paras seperti itu. Lalu sekarang kau berkata jika Tiara jauh lebih cantik dari sketsa itu?"


"Dia memang cantik sekali. Kulitnya putih bercahaya dan lembut jika di sentuh." Dessahan panjang lolos. Rasa ingin memiliki mendorong hatinya kuat.


"Kau membuatku semakin penasaran."


"Dia tidak akan mau menunjukkan wajahnya padamu."


"Kenapa?"


"Hanya aku yang boleh tahu."


"Egois sekali."


"Egois di saat yang tepat. Sekarang dia tidak akan berharap padaku karena aku berkata akan mencari pendamping gadis dari bangsaku! Ah! Rasanya aku menyesal." Alan kembali terkekeh melihat wajah frustasi Daniel.


"Bukankah jatuh cinta akan membuat seseorang gila? Jika dia memang tertarik padamu. Aku yakin dia tidak akan mempermasalahkan itu." Seakan mendapatkan pencerahan, senyum Daniel terlihat mengembang." Jerat hatinya agar dia nantinya memohon padamu." Imbuh Alan menyemangati. Dia sangat senang mendengar ketertarikan Daniel.


"Astaga. Kau benar juga." Daniel langsung berdiri dengan semangat.


"Mau menghampirinya?"


"Hm iya. Tapi aku berkeliling dahulu. Terimakasih sarannya." Daniel berjalan melalui jalan samping yang sepi sehingga dia bisa menghilang dengan leluasa.


Daniel menyisir satu persatu gang sepi yang minim penerangan. Walaupun selama ini belum menemukan kejelasan. Namun Daniel tidak pernah memiliki fikiran untuk menyerah.


Di salah satu pohon besar, Daniel berdiri di sana. Menatap ke gang kecil penginapan kumuh. Gang itu sejauh 50 meter dengan dinding tinggi yang ada di setiap sisi.


Ayolah keluar. Aku sudah sering datang ke sini tapi kenapa pelaku itu tidak juga keluar.


Sebuah bus berhenti dan menurunkan dua penumpang. Seorang gadis dan lelaki muda dengan jaket coklatnya. Awalnya Daniel tidak merasa curiga. Dia menganggap lelaki itu hanyalah penghuni kompleks tersebut.


Namun saat angin berhembus, dia mencium aroma keberadaan Vampir sehingga matanya memincing menatap sekitar.


Akhirnya.. Daniel melihat dengan kepalanya sendiri. Gadis itu berhenti melangkah saat lelaki itu berdiri di hadapannya.


"Ada apa Kak?" Tanyanya terbata, menatap lelaki tampan di hadapannya.


"Kamu mau ikut aku."


"Ke mana?"


"Ke suatu tempat."


"Em tidak Kak terimakasih. Ibu ku menunggu di rumah." Gadis itu akan melewatinya namun dengan gerakan cepat dia mendekap tubuh gadis itu dan hendak membawanya pergi.


Blammmm!!!!


Daniel memukul keras tubuh lelaki itu dan menangkap si gadis yang hampir saja ikut terpental.


Aku benar. Dia dari golongan bangsawan. Tapi kenapa dia bisa keluar saat siang hari..


Gadis yang ada di dekapan Daniel sontak terkejut. Dia sudah merasakan sensasinya hingga membuat mual hebat mengaduk-aduk perutnya. Daniel meniup bagian wajahnya dan membuat gadis itu hilang kesadaran.


Daniel meletakan tubuh gadis itu kemudian berjalan menghampiri si lelaki yang tengah terkapar. Pukulan Daniel tidak sembarangan hingga membuat dadanya membiru.


"Kau utusan dari mana?" Tanya Daniel pelan.

__ADS_1


"Sa saya bukan dari siapa-siapa. Aggggh sakit!!!" Teriaknya seraya memejamkan mata.


"Aku tambahkan penderitaanmu jika kau tidak mengaku." Daniel menginjak dadanya lalu menekannya perlahan.


"Aaaaaaaaaaaach Tuan sakit!!!" Rintihnya meringis kesakitan. Daniel tidak juga berhenti dan terus saja menekan kakinya. Dia berharap lelaki itu menyerah untuk pengampunan nya." Ampun Tuan. Ampun... Saya hanya suruhan saja." Imbuhnya mengejan dengan bulir air mata.


"Siapa yang menyuruhmu!!!"


Duaaaak!!!!


Daniel menendang tubuhnya sampai kembali membentur tembok. Wajahnya berubah garang seakan dia merasa begitu kesal dengan makhluk dari bangsanya.


"Dokter Adam." Daniel membuang nafasnya kasar. Jawaban dari lelaki itu membuat emosinya terkoyak. Daniel menunduk sedikit dan meraih leher si lelaki.


"Terus saja ucapakan kebohongan!!! Aku akan memusnahkan mu!!!"


"Ti ti tidak Tuan. Sa saya tidak berbohong. Ampun Tuan. Lepaskan saya." Matanya terbelalak dengan nafas tersengal-sengal.


"Jadi sekutu ku. Aku akan menjamin keselamatan mu." Ide untuk memanfaatkan keadaan terlintas.


"Sa saya takut Tuan. Mereka akan memusnahkan saya."


"Apa bedanya sialan!!!" Daniel melepaskan cengkeramannya lalu mengambil sebuah kotak dari saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah permata berwarna putih lalu menanamnya pada lengan si lelaki." Berteriak lah lantang jika penyelidikan mu terendus." Daniel duduk berjongkok lalu menyentuh dada lelaki itu untuk menyembuhkan lukanya.


"Tuan siapa?" Kekuatannya besar sekali..


"Tidak perlu kau tahu siapa aku. Mulai sekarang kau sekutu ku. Siapa namamu?"


"Stefan Tuan." Dari visual wajahnya. Dia bukan dari sini. Aku tidak pernah melihatnya.


"Oke Stefan. Tugasmu sangat mudah. Kau hanya perlu memberiku informasi soal siapa dalang di balik ini."


"Dokter Adam Tuan. Dia yang menyuruh saya berburu."


"Kau bercanda!!! Aku tidak puas dengan jawaban mu." Seakan memiliki dua kepribadian, Daniel berubah menjadi arogan saat dia berhadapan dengan kejahatan.


"Saya tidak berbohong Tuan. Saya utusan Dokter Adam."


Siapa dokter Adam?


"Tinggal di mana dia?" Daniel membaca mimik wajah Stefan yang terlihat menyakinkan.


"Nanti malam saya akan memanggil Tuan. Jika siang hari, Dokter Adam tidak ada di tempat."


"Hm oke. Ingat. Permata yang ku tanamkan bukan sembarang. Aku bisa mengambil nyawa mu kapan saja."


"Baik Tuan. Saya mengerti."


"Pergilah." Stefan mengangguk sejenak kemudian pergi dari hadapan Daniel. Semoga dia benar-benar bisa memberiku informasi.


Daniel berjalan menghampiri gadis yang tergeletak. Dia duduk berjongkok lalu menepuk pundaknya.


"Kamu baik." Tanya Daniel lembut. Gadis yang masih kebingungan malah terpaku menikmati ketampanan Daniel." Kamu baik?" Ucap Daniel mengulang.


"Ba baik Kak." Astaga Tampan sekali. "kenapa saya ada di sini." Daniel berdiri dan membantu gadis itu berdiri.


"Aku tidak tahu. Kamu tergeletak di jalan begitu saja."


"Em begitu." Daniel menghilangkan sedikit memori soal kejadian tadi agar si gadis tidak bercerita.


"Sebaiknya kamu pulang."


"Tolong antarkan saya Kak." Semoga saja dia mau.


"Maaf aku sibuk. Ada beberapa orang di sana." Menunjuk ke para gadis yang datang bergerombol." Kau akan aman. Permisi." Daniel berjalan santai sementara si gadis masih saja menatapnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2