
Tiara pulang dalam keadaan berantakan. Ujang yang melihat itu sontak berlari menghampirinya.
"Non kenapa? Astaga darah." Pekiknya seraya akan menyentuh Tiara.
"Saya baik Mang." Jawab Tiara memundurkan tubuhnya menghindar." Jangan ceritakan pada Daddy." Peraturan dari Alex masih mencoba di taati walaupun akhir-akhir ini Tiara sering melanggarnya.
"Siap Non."
"Terimakasih Mang." Tiara tersenyum sejenak lalu berjalan masuk dan di sambut oleh wajah khawatir Elena.
"Astaga Non." Elena menyangka jika darah yang ada pada tangan Tiara akibat kecelakaan." Ke kenapa begini." Segera saja Elena mengiring Tiara ke lantai dua." Mana yang terluka." Imbuhnya khawatir.
"Tidak Bik." Tiara berhenti begitupun Elena." Aku hanya menolong orang yang kecelakaan." Jawabnya berbohong.
Elena tersenyum seraya mengangguk. Dia percaya dengan ucapan tersebut sebab kemampuan mengedus nya sudah tidak bisa di gunakan. Apalagi selama ini Tiara tidak pernah berbohong padanya.
"Bibik khawatir. Tadi Bibik mencari Non, Tiara tapi tidak ketemu."
"Maaf Bik. Tadi masalah genting jadi aku juga panik." Tiara mencoba mengelabuhi Elena agar percaya dengan alasannya.
"Ya sudah cepat mandi. Bibik takut Tuan Alex tiba-tiba pulang."
"Hm baik Bik." Tiara tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Untung saja tidak terjadi sesuatu." Gumam Elena bernafas lega ketika melihat Tiara baik-baik saja.
Sementara Tiara, kini tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower seraya memikirkan tentang kekuatan yang di miliki. Sesuatu tentang darah masih mengelitik perasaannya. Tiara bahkan masih bisa merasakan bagaimana sensasi saat cairan tersebut masuk melewati kerongkongannya.
Apa aku bukan manusia? Tapi aku makan nasi, bagaimana mungkin bukan manusia.
Tiara menghembuskan nafas berat dan mulai menggosok tubuhnya dengan sabun. Tidak lupa, dia mencuci baju yang di kenakan agar tidak terendus oleh Alex.
Sebaiknya besok aku bertanya pada Kak Daniel. Apa seorang Vampir bisa makan nasi? Seakan berharap, Tiara tersenyum saat membayangkan jika dirinya sejenis Vampir.
Senyum itu berubah terkejut saat dia melihat sosok yang baru di sebutnya tengah berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Aaaaaaaaaaaa!!!! Kak Daniel!!!" Teriak Tiara dengan cepat menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut handuk.
"Maaf." Daniel sontak membalikkan tubuhnya. Dia juga merasa terkejut. Kenapa dia baru mandi jam segini. Aku jadi semakin.. Daniel menddesah seraya menepuk-nepuk kepalanya untuk mengeluarkan otak kotornya.
"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak masuk sembarangan! Kau itu lelaki Kak!" Daniel tertawa kecil. Dia tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti sekarang.
"Aku fikir kamu tidur. Aku sudah menunggu sejak 10 menit lalu tapi kamu tidak keluar." Tiara melirik malas. Dia mengambil baju lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Daniel sendiri masih tidak bergerak dan menunggu Tiara yang memang tengah berganti baju.
"Sudah!!" Ucapnya ketus.
"Kenapa mandi malam-malam." Tanya Daniel seraya membalikkan tubuhnya.
Aku baru saja pulang. Biasanya kamu selalu menolong tapi hari ini kamu sibuk dengan masalah Angel.
Tiara merasakan kecemburuan yang tidak seharusnya ada sehingga membuat suasana hatinya langsung memburuk.
"Hanya ingin." Jawab Tiara singkat.
__ADS_1
"Keringkan rambut mu lalu kita pergi." Ajak Daniel seraya memandangi paras Tiara yang semakin terlihat menggoda dengan rambut basahnya.
"Tidak Kak. Aku lelah." Mimik wajah Daniel berubah kecewa. Dia menantikan saat-saat bersama Tiara.
"Kita tidak pergi malam ini?" Tanyanya lirih.
"Aku lelah dan ingin tidur. Sebaiknya kamu pergi."
"Why? You're angry?" Tanya Daniel menebak.
"Tidak marah. Aku lelah dan ingin tidur."
"Aku merasa kamu marah."
"Apa pentingnya itu."
"Kita berjanji untuk pergi setiap malam."
"Cari Angel. Aku tidak ingin Ayah Lucas menyalahkan ku." Daniel tersenyum dan duduk di tepian jendela.
"Cemburu?" Goda Daniel seraya terkekeh kecil.
"Tidak sama sekali!!" Itu perasaan yang tidak seharusnya ada!! "Aku sudah memberikan sketsa wajah Angel pada Dinda. Semoga dia cepat di temukan." Daniel mengangguk-angguk tanpa membalas penjelasan Tiara. Beberapa menit berlalu, namun Daniel masih belum beranjak." Kak.." Panggilnya lirih.
"Ya Babe. Ada apa?" Tiara mendengus dan memalingkan wajahnya.
"Pergi agar aku bisa beristirahat."
"Istirahat saja. Biarkan aku di sini sebentar."
"Hehehehe. Kamu semakin cantik jika sedang marah." Sontak wajah Tiara memerah." Bukankah Bibik ingin bertemu? Bagaimana jika sekarang." Daniel yang tengah di liputi rasa rindu. Ingin sedikit lama bersama Tiara.
"Tidak. Aku takut Daddy pulang. Pergilah Kak."
Ahh sakit sekali!!! Hati Daniel seakan tertusuk benda tajam saat Tiara menyebut panggilan Alex untuknya.
"Maaf. Mungkin aku terlalu bernafsu untuk membuatmu bahagia sebelum pernikahan itu terjadi." Daniel berdiri lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Tiara." Aku hanya ingin kamu tahu jika banyak tempat indah yang harus kamu ketahui sebelum menikah." Imbuhnya menahan nyeri hebat yang menghantam hatinya.
"Tidak untuk malam ini. Aku juga merasa jika tidak seharusnya kita bertemu setiap malam."
Ach!! Dia menambahkannya lagi? Apa aku tidak cukup tampan untuk membuatmu tertarik? Kau tahu bagaimana sakitnya perkataan itu?
"Lalu bagaimana? Kamu akan membuat jadwal untuk kita?" Bukan tanpa alasan Tiara berkata demikian. Dia yang sudah bertemu dengan Noa dan Lucas, ikut merasa perduli atas hilangnya Angel. Tiara tidak ingin menyita banyak waktu Daniel hanya untuk memenuhi kepentingannya.
"Mungkin."
"Bagaimana jika.." Aku merindukan mu?
"Jika apa?" Daniel malah terkekeh berharap bisa sedikit mengikis rasa tertariknya pada Tiara.
"Aku kehilangan kewarasan akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang sedang berputar-putar di sini." Menunjuk ke dadanya.
"Berarti gila?" Tanya Tiara lirih.
"Ya gila. Aku ingin menghilangkan kegilaan itu tapi sangat sulit." Tiara mengerutkan keningnya. Dia tidak memahami perkataan Daniel sehingga dia percaya jika Daniel gila. Bersamaan dengan itu, ponsel Daniel berdering.
__ADS_1
"Sebentar." Menunjukkan layar ponselnya." Alan, teman lelakiku. Bukan Angel." Imbuhnya tersenyum lalu berbalik badan untuk menerima panggilan.
Apa maksud perkataannya? Dia benar-benar gila!!!
"Ya halo.
"Kamu harus ke sini.
"Apa yang terjadi.
"Cepat ke sini.
"Oke baik.
Daniel mengakhiri panggilan dan kembali menghampiri Tiara.
"Tugas negara." Ucapnya tersenyum simpul. Memperhatikan lekat paras Tiara untuk memberikannya bekal.
"Hm ya sudah." Pasti berita itu sudah tersebar. Kak Daniel tidak akan percaya jika aku yang melakukannya.
"Begitu saja?" Protesnya mengusap rambutnya sendiri dan sesekali meremasnya lembut. Daniel tidak tahan ingin mengutarakan perasaannya.
"Iya terus bagaimana? Cepat pergi."
"Tidak ada perlakuan manis untuk teman Vampir mu ini?" Menunjuk ke dadanya.
"Tidak."
"Oh tentu saja. Ucapan mu saja sudah terdengar begitu manis."
"Hm terserah." Tiara membalikkan tubuhnya dan berniat untuk pergi. Namun, hasrat Daniel yang sudah tidak tertahankan membuatnya menarik pergelangan tangan Tiara lalu seketika tubuh Tiara sudah berada di dalam dekapannya." Kak.." Protes Tiara lirih. Daniel tersadar jika apa yang di lakukan adalah kesalahan, sehingga dia langsung merenggangkan dekapannya.
"Selamat beristirahat. Semoga mimpi indah dan sampai jumpa esok." Dengan gerakan canggung Daniel melepaskan tubuh Tiara.
"Hm hati-hati Kak." Jawab Tiara tertunduk dengan wajah memerah.
"Aku tidak mudah terluka. Kamu tenang saja. Bye." Daniel melambai sejenak dengan senyuman yang sulit di artikan lalu menghilang.
"Ahhh!!" Tiara duduk lemah seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri." Ku bilang berhenti!!" Teriaknya tersenyum. Dia menertawakan ucapan konyolnya." Dia membuat jantungku memberontak!!!" Kepergian Daniel membuat peredam suara kembali normal sehingga Elena langsung berjalan ke atas untuk memeriksa.
Tok Tok Tok
"Non." Panggil Elena dari balik pintu.
"Ya Bik." Tiara bergegas membuka pintu.
"Ada apa. Kok berteriak?"
"Tidak apa-apa Bik." Untung saja sudah pergi.
"Non ganti baju lalu makan ya."
"Iya Bik tunggu sebentar ya. Aku memang lapar." Tiara tersenyum lalu menutup pintu. Dengan gerakan cepat dia mengganti baju lalu kembali keluar untuk makan malam.
š¹š¹š¹
__ADS_1