
Berita tentang menghilangnya Ibra menyebar. Kedua orang tuanya sengaja datang ke kampus untuk memeriksa CCTV. Terlihat jelas percekcokan yang terjadi pagi itu bersama Angel di pintu gerbang kampus.
Untung saja kejadian itu tidak terjangkau CCTV.
Angel bernafas lega sebab kejadian saat tangan Ibra patah tidak di pertanyakan oleh pihak polisi yang tengah mencari kesaksian.
"Dia hanya menganggu saya Pak. Dia sering melakukan itu bahkan setiap hari." Jawab Angel tegas.
"Apa itu terakhir kali kamu bertemu dengannya?"
"Hm iya." Apa yang Daddy lakukan pada Ibra.
"Apa kamu benar-benar tidak tahu di mana Ibra nak." Tanya wanita paruh baya yang merupakan orang tua kandung Ibra. Wajah keriputnya terlihat basah karena air mata.
"Saya tidak tahu Bu. Saya bukan teman dekatnya. Pagi itu saya hanya merasa kesal karena dia terus saja mengolok-olok saya." Angel melirik ke Daniel yang baru saja datang.
"Arka, Fino dan Ciko adalah teman dekatnya." Sahut Daniel menyela pembicaraan.
"Apa mereka juga kuliah di sini?"
"Hm iya. Kelas sastra." Salah satu polisi berdiri untuk memanggil ketiga sahabat Ibra.
"Sejak kapan dia menghilang Bu." Angel merasa ikut bertanggung jawab walaupun dia hanya bisa bertindak di belakang layar.
"Sejak kemarin sore. Dia berpamitan nongkrong dengan teman-temannya."
Aku yakin ini perbuatan Daddy..
"Sebaiknya kita pergi." Ucap Daniel mengulurkan tangannya.
"Saya permisi dulu ya Bu. Semoga Ibra cepat di temukan."
"Iya Nak terimakasih."
"Sama-sama." Angel tersenyum sejenak dan berjalan di samping Daniel." Lepaskan. Ini area kampus." Angel menarik tangannya lembut.
"Biasanya seorang gadis yang menghilang. Ini malah Ibra." Daniel tersenyum seakan menertawakan menghilangnya Ibra.
"Mungkin dia sedang kabur." Jawab Angel asal. Dia merasa jika mungkin Ibra sudah di musnahkan oleh Alex.
"Ku anggap begitu." Daniel menoleh dan memperhatikan penampilan Angel yang tertutup." Aku lebih suka baju yang kamu kenakan sekarang. Kalau di rumah mungkin tidak masalah jika ingin memakai baju minim, asal jangan keluar rumah." Angel tersenyum tipis. Daniel yang belum tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya, mungkin masih memikirkan kebimbangan atas hubungan mereka.
"Kamu tidak berhak mengatur Kak."
"Kamu seperti sedang memberikanku tantangan."
"Tantangan apa?"
"Untuk mendapatkan mu dan merebut mu dari lelaki yang kamu sebut Daddy."
"Itu masalah tidak penting. Bagaimana penyelidikan mu?"
"Itu sangat penting walaupun kamu tidak menganggap itu penting. Aku kesulitan mendeteksi sebab aku tidak mengerti daerah pelosok sekitar sini."
"Teman-teman mu Kak?"
"Jumlah mereka terbatas dan sudah ku sebar di beberapa wilayah."
"Apa kasusnya masih berjalan."
"Hm. Aku melihat berita tentang hilangnya seorang gadis kemarin. Bayangkan saja Babe, aku sendiri sementara mereka berjumlah banyak. Aku tidak bisa membagi tubuhku menjadi banyak lalu menempatkannya pada setiap wilayah yang rawan." Mata Angel terlihat menyipit. Itu berarti dia tengah tersenyum di balik masker.
"Suruh temanmu Kak." Kasihan sekali Kak Daniel. Itu kenapa dia sulit memecahkan masalah. Walaupun dia putra mahkota tapi tetap saja ini bukan negaranya.
"Dia sudah memiliki tugas lain. Kenapa? Antusias sekali." Angel berhenti tersenyum dan mulai memasang wajah serius.
"Aku ingin semua bisa terpecahkan tapi Kak Daniel terlihat payah." Jawab Angel meledek.
"Payah? Hehehe."
"Hm sangat!"
__ADS_1
"Itu terlihat memberatkan mu."
"Yah. Aku suka lelaki yang kuat." Angel meninju lengan Daniel hingga membuatnya terdorong.
"Hei. Pukulanmu kuat juga." Daniel mempercepat langkahnya lalu kembali memperlambat laju kakinya untuk mengimbangi. Angel hanya tersenyum dan mulai memikirkan rencana untuk nanti malam.
Aku akan membeli beberapa barang yang ku perlukan untuk menyamar agar mereka tidak mengenaliku.
.
.
.
.
.
Waktu berlalu. Sepulang kuliah, Angel mengutarakan keinginannya pada Elena yang langsung tidak mengsetujuinya. Dia tentu merasa khawatir sebab Angel hanya sendiri.
"Aku sudah mempelajari buku itu Bik." Ucapnya mengikat rambutnya sembarangan. Tanda lahir di belakang telinga Angel kini terlihat.
"Itu masih baru. Kamu tidak boleh gegabah dan membahayakan keselamatanmu."
"Jika tidak di mulai sekarang. Berapa lama lagi dia bisa bebas berburu. Aku harus memusnahkan para kacungnya agar mereka tidak lagi merendahkan manusia seperti itu."
"Bibik ikut ya."
"Tidak." Angel memakai sentuhan terakhir berupa sebuah topi juga masker.
"Bibik mohon."
"Bibik percaya padaku." Elena terdiam dengan tatapan sendu.
"Semoga berhasil. Jika sudah selesai, cepat pulang dan jangan buat Bibik khawatir."
"Baik Bik."
Sesungguhnya dia juga takut tapi keinginan untuk menyudahi permainan Alex membuat keberaniannya berkobar.
Bantu aku Tuhan..
Angel turun dengan lembut di dahan yang berserakan. Dia berjalan santai menuju sebuah rumah yang begitu besar namun terlihat tua.
Dua makhluk bertubuh tinggi dan berparas tampan menghampirinya. Kedatangannya tentu memicu penciuman sebab sampai sekarang aroma tubuh Angel tidak berubah.
"Siapa?" Tanya salah satu dari mereka.
"Mobil saya mogok di ujung jalan." Menunjuk ke arah jalan yang terlihat tidak rata." Bisakah saya meminta bantuan untuk membetulkannya." Keduanya saling melihat dan memberi isyarat satu sama lain dengan kedipan mata.
"Oh begitu. Silahkan masuk dulu." Angel tersenyum di balik masker.
"Saya membutuhkan bantuan bukan masuk ke dalam." Untuk menyakinkan aktingnya, dia menolak ajakan tersebut.
"Anda pasti sangat lelah. Biarkan kami menjamu anda lalu kita pergi untuk memeriksa mobil."
"Oh. Apa tidak merepotkan Tuan."
"Tidak. Silahkan."
Ketiganya berjalan beriringan menuju ke dalam rumah yang terlihat usang. Banyak benda berdebu dan tidak terawat menghiasi ruang tamu.
Setibanya di dalam, tubuh Angel di apit. Lalu di seret paksa untuk lebih masuk ke dalam lagi.
"Kemana ini?"
"Ke tempat yang semestinya." Angel mencium banyaknya manusia berada di sekitarnya.
Semua itu terjawab saat ketiganya tiba di ruang bawah tanah. Bukan hanya satu jeruji namun empat.
Angel melirik dan membaca sebuah tulisan level yang tergantung pada pintu setiap jeruji.
__ADS_1
"Tempat apa ini Tuan." Tubuh Angel di hempaskan sampai membentur dinding.
"Buka topi dan masker mu agar kami tidak kesulitan."
"Kesulitan apa?"
"Tingkat kecantikan mu harus di ukur sesuai level."
"Untuk apa melakukannya. Lalu kenapa mereka di kurung?" Menunjuk ke arah jeruji.
"Jika kau sangat cantik. Kau punya kesempatan melayani Tuan yang berkuasa di bumi ini."
Bumi ini hanya milik Tuhan..
"Tuan? Tapi mereka tidak terlihat bahagia." Wajah para tawanan terlihat murung. Mereka bahkan duduk meringkuk dengan tatapan kosong.
"Kamu suka di paksa?"
"Tidak Tuan. Walaupun di paksa, kalian tidak akan mampu."
Saat Angel akan di sentuh, dia berpindah-pindah tempat dan itu terjadi berulang-ulang sehingga membuat keduanya geram.
"Siapa kau!!!" Teriak salah satunya geram sementara satu lainnya meminta bantuan. Dia masih ingat kejadian terbakarnya markas. Makhluk yang kabur, menceritakan secara detail kejadian di sana.
"Entahlah siapa. Tuan mu sudah membuat asal usul ku tersimpan rapi." Angel tersenyum, mulai mengerakkan tangannya untuk memberikan sedikit pelajaran awal.
Blaaaaammm
Duaaaak!!!
Kedua makhluk itu terhempas dan membentur dinding hingga retak.
Pertahanan yang kuat. Aku rasa sedikit sulit melawan mereka. Tapi.. Aku Angel, putra tunggal Ayah Lucas. Aku tidak akan membiarkan mereka bisa lari dari sini.
Salah satu berteriak nyaring dan mendatangkan semua penghuni dan penjaga rumah itu. Sial bagi Angel, sebab terdapat makhluk mengerikan keluar dari balik salah satu jeruji yang masih terkunci.
Makhluk itu memiliki perangai buruk, dengan lidah panjang yang terus menjulur keluar.
Aku mirip Alice, hanya saja mereka Vampir dan Alice harus menghadapi zombi.
Craaaaaasssshhhhh...
Sinar hitam keluar dari tangan Angel. Dia memagari rumah tersebut agar semua makhluk yang di sana tidak bisa kabur dan memberikan kesaksian pada Alex.
Pelindung yang kuat, sebab kini tempat itu di kelilingi kabut hitam.
Blaaaaammm!!!
Angel melubangi dinding di belakangnya agar para tawanan bisa keluar lewat sana.
Siapa dia...
Siapa dia...
Semuanya bertanya-tanya tentang sosok bertubuh mungil di hadapannya. Namun ketika melihat sinar hitam tersebut, mereka tahu jika nyawa mereka terancam. Pelindung yang hanya mampu di buat oleh makhluk dengan kekuatan level tertinggi.
Benar kata mereka. Aroma tubuhnya manusia, tapi kenapa dia bisa mengeluarkan pagar terkuat itu?
Teriakan makhluk yang mencoba keluar terdengar mulai menggema. Sebab itu bukan hanya sekedar pelindung tapi sanggup membakar tubuh bangsa Vampir jika di sentuh.
Di luar, Stefan yang masih menjadi mata-mata, langsung memanggil Daniel lewat cincin yang di kenakan.
"Tuan.. Datang ke sini." Ucapnya lirih seraya mencium cincin.
🌹🌹🌹
Maaf sudah membuat kalian penasaran🤣🤣
Tapi aku berjanji akan update setiap hari dan doubel update jika ada senggang waktu..
Di tunggu kelanjutannya ya teman-teman 🥰
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🌹