Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
22


__ADS_3

Pagi itu Tiara terbangun dan merasa kecewa saat tidak melihat Alex. Dia cukup senang saat Alex memberikan sedikit waktunya untuk mengantarkan kuliah daripada tidak pulang selama beberapa hari.


Dia mengikis lagi waktu itu...


Tok.. Tok... Tok...


Tiara menurunkan kakinya lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu. Terlihat Elena berdiri dengan segelas susu hangat di nampan.


"Katanya ada kelas pagi Non."


"Iya Bik." Tiara mengambil susu lalu meneguknya habis." Daddy tidak pulang?" Tanyanya seraya meletakan gelas kosong.


"Sepertinya tidak Non."


"Padahal dia berjanji akan mengantarkan ku kuliah setiap hari! Ya sudah Bik. Aku mandi dulu." Tiara menutup pintu sementara Elena masih terpaku. Dia mengingat kejadian semalam saat dia tidak menemukan Tiara di kamarnya.


Aku tidak tahu kapan Angel kembali. Setelah aku memangsa gadis itu dan kembali memeriksa kamar. Angel sudah di atas ranjang. Apa dia sedang di toilet? Ah tidak mungkin. Aku melihat lampu toilet mati dan tidak ada pergerakan. Elena menghembuskan nafas berat. Dia semakin besar. Pemikirannya pun semakin luas. Alex akan menyesal jika tidak menjeratnya dengan pernikahan. Tapi aku berharap itu terjadi. Angel, cucuku terlalu baik untuk makhluk buruk seperti Alex.


Elena tersenyum, lalu berjalan menuruni anak tangga untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Kemarin nyenyak sekali Non tidur nya." Sindir Elena. Dia berharap Tiara bisa jujur dengan semuanya.


"Em iya Bik." Jawab Tiara gugup." Nanti mang Ujang yang mengantarkan?" Imbuhnya bertanya.


"Ya iya Non. Kalau Bibik bisa nyetir, pasti Bibik yang antar." Tiara tersenyum seraya mengangguk." Siapa nama pemuda yang mengantarkan Non kemarin." Pertanyaan itu sontak membuat Tiara menegakkan pandangannya. Makanan di mulutnya di telan kasar karena kerongkongannya mendadak kering.


Kenapa Bibik tiba-tiba bertanya itu?


"Untuk apa Bik?"


"Bukankah Non selalu terbuka sama Bibik."


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Walaupun aku pergi bersamanya semalaman. Ah.. Aku tidak yakin. Kemarin aku sedang bermimpi atau tidak.


"Tidak apa Non kalau di ulangi. Bibik jaga rahasia, asal Non juga bisa jaga diri. Jangan sampai Tuan Alex tahu." Tiara kehilangan selera makan sehingga dia menguyah dengan sangat pelan.


"Kenapa Bibik memihak ku?"


"Non kan Cucu Bibik." Tiara tersenyum. Elena sering berkata demikian padahal menurutnya, Elena masih terlalu muda untuk di panggil Nenek.


"Walau begitu. Aku takut Bik."


"Nanti kita bicarakan lagi. Non habiskan makanannya lalu berangkat, ini sudah siang."


"Hm Bik." Apa Bibik akan menjaga rahasia jika tahu aku keluar malam. Aku ingin jujur tapi aku sangat takut jika Bibik mengadu pada Daddy.


Seusai sarapan, Tiara berangkat dengan di antarkan Mang Ujang yang tengah memasang wajah bingung. Dia mengingat kejadian kemarin malam tapi tidak yakin dan menebak jika itu hanya mimpi.

__ADS_1


"Mang Ujang sakit?" Tanya Tiara menatapnya dari spion.


"Tidak Non. Mamang hanya mimpi buruk semalam."


"Mimpi apa Mang."


Mustahil jika ku ceritakan..


"Ketemu hantu Non. Dia ada di gudang belakang." Tiara membulatkan matanya.


"Ah Mamang nih. Itu hanya mimpi tapi wajar juga, gudang belakang jarang di jamah orang." Mang Ujang tersenyum aneh seraya fokus menyetir. Setibanya di kampus." Nanti Mamang jemput atau tidak Non." Tanyanya sebelum Tiara turun.


"Tidak perlu Mang. Aku mau jalan-jalan sebentar." Tergambar raut wajah bahagia pada sorot mata Tiara.


"Ya sudah Non."


"Terimakasih ya Mang."


"Sama-sama." Tiara tersenyum lalu turun dari mobil. Dia melangkah melewati pintu gerbang seraya membetulkan tudung kepalanya.


"Gawat Tiara." Tiba-tiba saja Dinda menghampirinya. Sejak tadi dia menunggu kedatangannya sampai rela menunggu di samping pintu gerbang.


"Gawat apa?"


"Pak Prabu memanggil kita."


"Aku tidak tahu. Tapi Alexa bilang kita akan di keluarkan dari kampus." Dinda memasang raut wajah khawatir." Bagaimana ini Tiara. Beasiswa ku terancam di lepas." Imbuhnya lirih.


"Kita tidak bersalah. Kak Alexa yang mencoba menganggu kita."


"Alasan itu tidak berarti. Papanya Kak Alexa itu orang yang menyokong pembangunan kampus ini." Bukannya merasa takut, Tiara malah memperlihatkan mimik wajah kesal." Sebaiknya kita minta maaf." Tiara menoleh cepat.


"Minta maaf. No Dinda! Kita tidak bersalah."


"Kamu berkata ini karena kamu bisa kuliah di tempat lain. Sementara aku." Tiara menarik nafas panjang. Dia tahu jika Dinda masuk melalui jalur beasiswa.


"Daddy ku akan membiayai kuliahmu. Kita temui Pak Prabu." Tiara memegang pergelangan tangan Dinda dan berjalan menuju ke ruangan kepala dosen.


Tok.. Tok.. Tok...


"Masuk." Ucap Pak Prabu.


Tiara masuk bersama Dinda dan melihat Alexa sudah ada di sana bersama seorang lelaki berparas tampan dan tubuh tinggi tegap.



Sorot matanya tajam menatap Tiara dan Dinda yang baru saja masuk ruangan.

__ADS_1


"Mereka yang sudah membuatku di tahan scurity Mall Pa." Ucap Alexa mendayu-dayu. Pak Prabu menarik nafas panjang, dia tidak bisa berbuat apa-apa sebab Jonathan memang orang terpenting di kampus itu.


"Silahkan duduk Tiara, Dinda." Ujar Pak Prabu mempersilahkan." Apa benar yang di katakan Alexa." Imbuhnya lirih. Dinda memegang lengan Tiara erat sebab merasa takut.


"Sebaiknya kita menyerah saja." Tutur Dinda berbisik.


"Tidak Pak. Saya tidak pernah melakukan hal rendahan seperti itu. Dia yang berusaha memfitnah saya." Menunjuk ke arah Alexa.


"Itu tidak benar! Kau yang sudah meletakkan baju itu hingga aku di tahan." Nathan tersenyum tipis. Sebenarnya dia tahu pelaku sebenarnya. Nathan hanya ingin melihat gadis yang sanggup membuat Alexa kebakaran jenggot.


Alexa tidak mungkin mau membuntutinya hingga ke plaza jika memang gadis ini berwajah buruk. Ach!! Penampilannya membuat mataku sakit. Kenapa Alexa berusaha menjatuhkannya.


"Apa maksudmu Alexa? Apa perlu kita ke sana untuk meminta kesaksian scurity itu?!" Tantang Tiara tidak merasa takut.


"Pokoknya aku tidak ingin melihat mereka berdua di kampus ini!!" Menunjuk kasar ke Tiara dan Dinda secara bergantian.


"Jangan libatkan Dinda. Kau mengincarku bukan? Keluarkan aku saja!!" Maaf Dinda. Karena aku dia harus terlibat masalah.


"Kita bisa bicarakan ini dengan kekeluargaan. Tidak perlu ada yang di keluarkan." Sahut Pak Prabu sangat menyayangkan jika dua mahasiswa yang berprestasi harus keluar dari kampus.


"Ada satu cara Pak." Alexa tersenyum sinis." Minta maaf di muka umum dan kalian harus menuruti semua perintahku selama satu bulan." Imbuhnya mengejek.


"Baik Alexa." Jawab Dinda lirih. Tiara menoleh dan menatapnya tajam.


"Tidak Dinda. Jangan rendahkan dirimu hanya untuk manusia berotak tumpul itu!!" Pak Prabu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Nathan mengangguk-angguk karena membenarkan ucapan Tiara.


"Dengar sendiri Pa. Dia menghinaku!"


"Saya mohon Pak Prabu. Keluarkan saya saja jangan Dinda."


"Maaf Tiara, saya tidak bisa memutuskan sebab keputusan ada di tangan Pak Nathan." Menunjuk Nathan dengan ibu jari. Tatapan Tiara beralih pada Nathan yang sejak tadi tidak berkedip memperhatikannya.


"Saya mohon Pak Nathan. Keluarkan saya saja, jangan Dinda."


"Buka masker mu. Sangat tidak sopan jika kamu berbicara seperti itu." Alexa melebarkan matanya. Tentu saja dia merasa panik.


"Tidak perlu Pa. Untuk apa." Jawab Alexa panik.


"Kita akan membicarakan ini baik-baik tanpa hukuman." Ucapan Alexa semakin mengelitik Nathan untuk mengetahui bagaimana wajah di balik masker itu.


Mereka orang-orang sopan. Tidak mungkin jika mereka akan melecehkan ku nanti. Ruangan ini juga tertutup.


"Bagaimana? Apa kalian lebih memilih keluar?" Tanya Nathan mengulang.


🌹🌹🌹


Gawat!! Kalau Tiara membuka masker nanti Papa jatuh cinta? Tidak! Papa sudah cinta mati denganku!!

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2