Queen/Istri Tuan Vampir Season 2

Queen/Istri Tuan Vampir Season 2
40


__ADS_3

Daniel menatap lekat berita terbaru dari siaran televisi. Itu cukup mencengangkan sebab bangunan kokoh itu terbakar tidak tersisa.


Siapa yang melakukannya? Sangat tidak mungkin jika manusia. Semua tawanan terlihat baik-baik saja seolah mereka sudah di keluarkan sebelum terjadi kebakaran.


"Bukankah kamu memasang kamera di sana. Cepat periksa." Daniel mengambil ponselnya dan memeriksa rekaman terakhir dari kamera miliknya.


"Ada seseorang yang menjatuhkannya." Gumam Daniel tidak mendapatkan info apapun sebab kamera itu tidak bersuara.


"Bukan orang tapi bangsa kita." Daniel mengangguk seraya terus berfikir keras untuk menduga siapa saja yang pantas di jadikan tersangka.


Ayah Lucas bahkan bersama ku. Lantas siapa.


Telinga Daniel bergerak saat dia mendengar panggilan dari Stefan. Sontak dia berdiri di ikuti oleh Alan.


"Stefan memanggilku."


"Stefan? Siapa dia?"


"Anak buah Adam."


"Aku ikut."


"Hm ayo." Keduanya melesat menuju sumber suara. Terlihat Stefan menunggu kedatangan Daniel di bawah jembatan yang jarang di lewati orang." Apa yang terjadi?" Daniel langsung melontarkan pertanyaan karena merasa tidak sabar.


"Saya tidak mengerti bagaimana awalnya Tuan. Waktu saya baru saja datang. Seorang gadis yang tidak jelas asal-usulnya sudah memusnahkan Tuan Adam juga anak buahnya." Stefan yang hanya seorang Vampir kasta rendah, memilih pergi daripada harus berakhir seperti teman-temannya.


"Gadis?" Stefan mengangguk.


"Dia sangat cantik tapi kekuatannya sangat besar."


"Seorang manusia?" Stefan menggeleng pelan.


"Maaf Tuan. Saya tidak memiliki kemampuan itu. Tapi jika di lihat dari kekuatannya, sangat mustahil jika dia manusia."


"Angel." Gumam Daniel dan Alan bersamaan. Nama itu langsung terlintas begitu saja sebab mereka tahu jika kekuatan besar hanya di miliki oleh anggota kerajaan dan keturunannya.


"Coba jelaskan bagaimana ciri detail nya." Stefan menceritakan semuanya sesuai yang di ketahui. Namun ada yang aneh dari raut wajah Daniel seolah dia tidak seberapa bahagia saat keberadaan Angel mendapatkan titik temu.


"Aku yakin itu Angel." Tebak Alan lagi. Dia menoleh dan melihat Daniel yang sejak tadi diam setelah kepergian Stefan." Kenapa? Bukankah kamu merasa bahagia sebab calon Istri mu masih hidup." Daniel membuang nafas kasar. Otaknya penuh dengan Tiara sehingga membuatnya kehilangan semangat.


"Ku rasa aku mencintai nya."


"Siapa?"


"Menurutmu siapa?" Alan tersenyum seraya mengangguk.


"Tiara?"


"Dia membuat ku semakin gila setiap harinya. Aku mulai merindukan nya." Terdengar dessahan lolos dari bibir Alan. Dia sudah bisa menebak sebab selama ini Daniel lebih banyak membahas Tiara daripada Angel.


"Angel tidak akan kalah cantik dan dia dari bangsa kita. Kalian pantas menjadi pasangan."

__ADS_1


"Itu karena kau belum merasakan bagaimana gelisahnya perasaanku sekarang!!"


"Kamu belum bertemu Angel. Jika kalian sudah bertemu, cinta akan datang nantinya." Alan tahu seluk beluk tentang raja Darren yang terkenal tegas. Dia memang tidak keberatan dengan peraturan menikah dengan manusia. Asal jangan anakku. Alan mendengar sendiri jika Raja Darren tidak ingin Daniel menikah dengan manusia dan merusak keturunannya.


"Aku bahkan sudah tidak tahan untuk mengutarakannya."


"Fikirkan soal Ayahmu dan janjimu pada mereka. Bukankah seorang Daniel tidak pernah ingkar janji?" Daniel mendengus lalu berdiri.


"Aku sudah mencoba menyingkirkan perasaan ini tapi sulit. Aku akan memeriksa ke sana."


"Masih banyak polisi."


"Kau tahu siapa aku." Alan tersenyum. Daniel sudah menguasai banyak kekuatan besar yang di ambil dari petualangannya selama ini.


🌹🌹🌹


"Gadis apa!! Itu mustahil!!!" Teriak Alex geram. Dia tidak bisa menebak siapa pelakunya.


"Memang seorang gadis Baginda."


Tiara ku? Ah tidak mungkin! Kekuatannya sudah ku kunci dan dia pasti ada di rumah sekarang.


Alex berjalan melewati banyak penjara yang berisi makhluk mengerikan yang tengah berlatih ketangkasan.


"Jika ada tamu jangan biarkan masuk. Aku pergi sebentar." Alex langsung menghilang dan melesat ke kediamannya. Dia sedikit merasa curiga pada Tiara yang mungkin melanggar peraturannya. Tidak mungkin. Dia anak penurut.


Cepat-cepat Ujang membuka pagar pintu untuk Alex yang langsung berjalan masuk. Elena sudah memberikan peringatan pada Ujang untuk tidak mengatakan apapun dalam hati jika Alex berada di sekitar. Sehingga jika Tiara melanggar peraturan, rahasia itu terjaga dengan baik.


Untung saja aku sudah pulang..


Benar kan? Dia ada di rumah.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Alex menaiki tangga dan berdiri tepat di samping Tiara.


"Baru saja selesai menonton televisi." Jawab Tiara beralasan." Bibik bilang Daddy tidak pulang." Alex tersenyum lalu memeluk tubuh Tiara lembut.


"Ada sedikit waktu, jadi aku pulang." Tarikan nafas berat berhembus. Tiara tentu merasa kesal dengan sisa waktu yang di berikan Alex padanya." Suka dengan bajunya?" Alex merenggangkan pelukannya dan menyikap sedikit rambut Tiara untuk menikmati paras cantiknya.


"Hm iya." Tangan kekarnya meraih dagu lalu menaikkannya sedikit.


"Masih marah pada Daddy?" Terlihat jelas manik Tiara yang mulai berkaca-kaca. Hatinya sontak bergemuruh karena kebingungan yang Alex terapkan padanya. Ingin menjadikannya Istri namun kenyataan yang di dapatkan sangat membuatnya kesal.


"Apa Daddy sudah merajuk ku kemarin? Bagaimana mungkin Daddy bertanya padaku seperti itu?" Air mata lolos begitu saja sehingga membuat Alex merasa bersalah." Daddy bahkan meninggalkan ku begitu saja padahal aku sedang kesal!!" Alex menenggelamkan wajah Tiara pada lehernya.


Elena yang sejak tadi memperhatikan, merasa kasihan pada Tiara yang selama ini di bodohi oleh Alex.


Kasihan Cucu ku.. Elena memilih pergi daripada harus melihat kebersamaan Tiara dan Alex.


"Daddy sudah meminta maaf padamu." Alex mengangkat tubuh Tiara tanpa aba-aba sehingga membuat kedua tangannya melingkar erat pada leher Alex.


"Tidak ku maafkan."

__ADS_1


"Bagaimana lagi sayang. Daddy sangat sibuk."


"Itu alasan yang sama! Aku bosan!" Alex membaringkan tubuh Tiara sementara dia duduk di tepian.


"Daddy akan menemani mu sampai kamu tertidur." Tiara menghela nafas panjang.


"Sepanjang malam?" Alex tersenyum.


"Tidak sayang. Hanya sampai kamu tidur."


"Kenapa Daddy menyebalkan sekali!!" Alex melepaskan sepatunya lalu berbaring.


"Iya maafkan Daddy."


"Hanya maaf tidak ada perbaikan." Walaupun kesal namun nyatanya Tiara mulai merapatkan tubuhnya. Tangannya melingkar erat pada tubuh kekar di hadapannya.


Ini yang membuatku ingin menjaga jarak. Aku takut tidak bisa menahannya lalu menyakiti nya..


"Kenapa Daddy diam?" Tiara memposisikan kepalanya tepat di depan wajah Alex.


"Kita belum menikah sayang."


"Aku masih menganggap Daddy sebagai Ayah." Jawab Tiara lirih. Bibirnya mungilnya mulai memberikan kecupan hangat pada pipi Alex membuat Alex mendesis dengan mata berkilap merah.


"Tetap saja tidak baik sayang." Perubahan selera bercinta yang kasar, membuat Alex setengah mati menahan hasratnya." Sebaiknya kamu tidur." Alex berusaha menyingkirkan wajah Tiara dari pipinya.


"Lalu Daddy akan pergi? Aku tidak ingin yang lain. Aku ingin sebuah waktu agar hubungan kita hangat." Pinta Tiara terus mendekatkan bibirnya lagi dan lagi sehingga dengan terpaksa Alex duduk.


Tiara menddesah ketika Alex menolak sentuhan darinya. Dia merasa payah dan menyangka jika Alex tidak berselera padanya.


Apa yang harus ku lakukan untuk menarik perhatian Daddy.


"Maaf. Itu benar-benar tidak boleh di lakukan." Ujar Alex setelah hasratnya sudah terkendali.


"Hm." Tiara menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Ini bukan waktu yang tepat. Daddy harap kamu mengerti."


"Iya pergilah. Tidak perlu menunggu ku tidur." Hati Tiara kembali kecewa merasakan sikap Alex yang membingungkan.


Sial!! Aku harus menyalurkan hasrat ini. Alex berdiri seraya merapikan jas miliknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang sudah menegang.


Dia akan pergi. Kata-kata ku tidak mungkin bisa menahannya..


"Selamat malam sayang." Alex melangkahkan kakinya keluar. Dia tidak ingin Tiara melihatnya miliknya yang sudah meronta dan ingin di puaskan.


"Dia benar-benar pergi?!" Gumam Tiara lemah. Ucapan yang terlontar tidak serius. Dia hanya sedang berusaha menyuruh Alex untuk tetap tinggal dengan sebuah sindiran." Ach!! Melelahkan!!" Tiara menyikap selimut lalu cepat-cepat berjalan ke jendela untuk melihat kepergian Alex." Daddy... Hiks.. Tega sekali." Manik matanya yang berkaca-kaca, menatap sosok Alex masuk ke mobil yang terparkir di depan pagar rumah.


🌹🌹🌹


Kalau tidak doubel update jangan marah ya 😁🤭

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🄰


__ADS_2