
Permohonan Pak Marwan kepada pihak Bank Syariah untuk meminjam uang, dengan agunan rumah mewahnya tidak mendapat hambatan apa-apa.
Upah buruh dengan jumlah yang lumayan banyak itu dapat dibayarkan dan biaya operasi Deni pun berjalan dengan baik. Bahkan sekarang anaknya itu sedang masa pemulihan.
Pak Marwan memang seorang laki-laki yang bijaksana, jika dilihat dari raut wajahnya Pak Marwan lebih tua dari istrinya, mungkin sekitar 15 tahunan. Tak heran jika Pak Marwan dapat dengan mudah menyikapi keadaan.
Berbeda dengan istrinya yang masih sangat terpukul dengan peristiwa dalam rumah tangga mereka. Hari-hari bu Marwan terlihat seperti mendung yang menggelayut di wajahnya.
Bahkan Kania sering dijadikannya tempat untuk berkeluh kesah. Mungkin antara Kania dan bu Marwan sudah ada kecocokan ketika berkomunikasi satu dengan yang lain.
Bisnis sayur mayur pak Marwan mulai dari nol lagi. Karena peristiwa kemarin, selain tanamannya layu semua, juga tanahnya mengalami kerusakan.
Suatu hari Pak Marwan memanggil anaknya Danang.
" Nang, ini ada pelatihan di Bandung, lihat ni.. brosurnya, kayaknya cocok untuk bisnis kita."
Danang pun melihat surat undangannya, ternyata memang benar undangan tentang pengembangan bisnis agroindustri.
"Ini cocok pak, berapa orang yang ikut? "
Kata Danang kepada bapaknya.
__ADS_1
"Lihat di sebelahnya! "
Kertas undangan itu pun dibuka lebih lebar, ternyata yang ikut pelatihan maksimal sebanyak tiga orang.
"Ajak Kania, dia masih gadis tidak ada tanggungan dan lagi anaknya cerdas."
Danang termenung, dia tidak bisa membayangkan yang akan terjadi jika berada dalam satu kendaraan, dalam satu ruangan atau kegiatan dalam waktu yang agak lama, mungkin 2 sampai 3 hari.
"Yaa Allaah... ,"
Bisiknya dalam hati.
Antara bahagia dan takut dengan dirinya sendiri yang akan melampaui batas dalam bersikap dan berperilaku.
Tegasnya dalam hati.
Akhirnya yang pergi ke Bandung hanya berdua yaitu Danang dan Kania. Mereka menggunakan mobil perusahaan dengan sopir sebagai pengendaranya. Danang duduk di depan dan Kania di kursi tengah mobil itu.
Danang dan Kania berusaha menjaga sikap dan prilakunya, namun masih juga terbaca oleh "Pak Ali" sopir perusahaan tersebut. Tidak ada kata sindiran dari mulut "Pak Ali", karena mereka berusaha untuk bersikap sewajarnya.
....................
__ADS_1
Sore itu hujan....
Mereka keluar dari mobil dalam keadaan hujan, Kania bergerak cepat untuk berteduh, Danang tidak sempat memayunginya. Pak Ali sampai godek-godek dengan ulah Kania yang sangat menjaga diri.
Daftar ulang pelatihan di hotel ini berdesak-desakan, sehingga Dananglah yang mengerjakannya sedangkan Kania disuruhnya menunggu.
Kania menurut saja, bahkan ada seorang peserta bertanya pada mereka,
"ini suaminya ya? "
" bukan bu, itu bos saya."
Kania terkejut, merasa sikapnya mungkin berlebihan, sehingga ada orang lain yang bersikap seperti itu.
Pembukaan pelatihan itu dimulai sore itu juga, semua peserta diminta untuk memasuki ruangan, Danang duduk di bagian laki-laki dan Kania di bagian bangku perempuan.
Hati keduanya berbunga-bunga, seperti mimpi tapi nyata, namun keduanya seperti tertekan dengan keadaan yang harus mereka kendalikan antara selarasnya norma dan perasaan mereka yang saling menyukai.
Malam itu sekitar pukul 7.30 sudah ada presentasi pertama dari seorang fasilitator, Danang dan Kania pun lagi-lagi harus bertemu di lokasi makan malam. Suatu hal yang berat untuk mereka, karena mereka ingin kalau pun takdir menjodohkan mereka, cinta mereka benar-benar suci.
Untuk pertama kali, Danang bertanya pada Kania,
__ADS_1
"Sudah makan belum, ayo masuk ke ruangan!"
Ungkapan kepedulian yang patut dicatat dalam sejarah hidup Kania dari seorang laki-laki yang sangat disukainya untuk pertama kalinya.