
"Angkat-angkat... ,"
Suara sopir dan kernet yang mengangkut barang-barang pak Salim yang pindah dari desa Ratapan terdengar sibuk dan riuh sekali.
Pak Salim tidak mau kalah sibuk dengan keduanya, ia pun mengarahkan barang-barangnya ke tempat yang dituju.
Kania sudah ada di dapur bersama emaknya, menyiapakan makanan dan minuman.
Tidak sampai dua jam barang-barang dan perabotan rumah tangga keluarga ini sudah masuk ke dalam rumah . Memang cuma sedikit karena yang tidak layak pakai ditinggalkan pak Salim dari rumah mereka yang lama.
Hasil pembagian warisan orang tuanya dibelikan rumah dan kendaraan serta beberapa perabotan rumah tangga.
sekarang Kania sudah hidup layak seperti orang lain. Rumahnya sudah permanen, lantainya bersih karena menggunakan keramik, tidak seperti rumahnya yang dulu hanya berdindingkan anyaman bambu, dan berlantaikan tanah.
Namun meski dulu mereka hidup sederhana kebahagiaan tidak pernah lari dari kehidupan mereka. Setiap cobaan yang menimpa selalu berhasil mereka lalui.
Akhirnya kesabaran itu membuahkan hasil yang baik.
.......................
"Janga melamun! "
Abah Kania mengagetkan lamunan putrinya.
"abah.., Kania enggak melamun abah."
Kania mencoba mengelak apa yang ia pikirkan barusan.
"Apa yang kamu pikirkan Kania, lebih baik sekarang kamu bersiap untuk pergi ke pondok pesantren Daarul Huda, menemui Abuya Husni, beliau ingin berbincang dengan kamu katanya, terutama istrinya, umi Dzakiyah."
Mata Kania bersinar ada harapan baru untuk perkembangan ilmunya atau adakah lowongan untuk mengamalkan ilmu pondoknya. Yang jelas Kania sangat bersemangat.
.........................
"Bagaimana Kania kamu bersedia bantu-bantu di sini membimbing santri Abuya nih?"
Kania menyanggupi permintaan Abuya Husni dan Umi Dzakiyah.
__ADS_1
"Sepertinya sangat menyenangkan,"
bisiknya dalam hati.
Tapi sesaat kemudian ada pernyataan yang mengagetkan dari umi Dzakiayah.
"Tapi di sini ada kelas khusus Kania, kamu harus lebih ekstra membimbing mereka."
Kania tidak paham apa yang dimaksud dengan kelas khusus tersebut. Lalu ia bertanya,
"Apa kelas khusus itu umi? "
Umi Dzakiyah menjawab dengan jawaban yang ragu-ragu dan bicara perlahan seolah tidak ingin ada yang mendengarnya.
"Santri bekas korban narkoba."
Kata Umi Dzakiyah pelan.
"Astaghfirulloh!"
Kania kaget hampir terperanjat, tapi masih menguasai diri dan menjaga sopan santun kepada pemilik pondok pesantren ini.
Kania menyanggupi meski ragu-ragu.
keesokan harinya Kania memulai harinya di tempat yang baru ini dengan menjadi pendidik di ponpes Daarul Huda.
..........................
"Bagaimana kabar pelatihannya, sukses? "
Pak Marwan bertanya kepada Danang saat makan malam.
"Beres pak, semua materi Danang santap dengan mudah dan kabar baiknya pak, Danang dapat mitra baru, InsyaAllah menguntungkan perusahaan kita."
Danang menjelaskan dengan penuh semangat. Pak Marwan ikut senang mendengarnya.
"Oh.. ya.. bagus lah, "
__ADS_1
Bu Marwan menyahut,
"penyuplai bibit? "
Danang mengernyitkan keningnya, lalu menjawab,
"Bibit juga dan pupuk organik juga bu,"
Pak Marwan sangat antusias dengan berita ini.
"Mana kak Deni? "
Danang menanyakan kakaknya yang tidak kelihatan dari tadi siang.
"Dia ada acara keluar, ada undangan temannya katanya,"
Pak Marwan menjelaskan.
"Lama benar undangannya sampai jam segini belum datang,"
Danang berseloroh lagi,
" Mungkin ada urusan lain Nang,"
Pak Marwan menjelaskan.
Sementara Danang dan pak Marwan berbicara, nampak raut wajah bu Marwan pucat dan tidak bergairah.
"Ada apa bu, kok enggak semangat?"
Bu Marwan mengambil nasi dan sayur yang ada di dekatnya lalu di satukan dalam piring, ia pun mencoba memasukan ke dalam mulutnya.
Rasa khawatir bu Marwan tidak bisa disembunyikan, setiap malam jika Deni keluar rumah atau pulang larut, hatinya selalu khawatir, kalau terjadi apa-apa dengan anak pertamanya itu.
Terlebih ia khawatir jika Deni menemui Seshia.
Ujian hidup bu Marwan belum berakhir. Meskipun ia menyadari ini adalah akibat perbuatannya di masa lalu, namun tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada solusinya
__ADS_1
Jika dibiarkan maka akan terjadi malapetaka yang lebih besar.