
Jika ada kata yang mewakili tentang perasaan Kania saat ini, maka itulah yang akan diucapkan agar hatinya menjadi tenang akan segala keraguan perasaan cinta dan sayang terhadap Danang.
Malam ini bulan purnama, disela mengerjakan tugas ma'hadnya ia membuka jendela kamar, terlihat olehnya bulan bersinar terang,
"Oh rembulan, bisakah kau kabarkan padaku sedang apakah kekasihku yang ada di sana? "
Tangannya dipangkukan ke wajahnya sambil matanya memandang ke atas, tak terasa air mata berlinang di pipi.
Ternyata sangat berat mempertahankan rasa cinta.
Kania sudahi lamunannya dengan menutup jendela kamarnya, waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.
.........................
"Kring - kring - kring"
Ponsel yang berada di sebelah tas Kania berbunyi, tidak lengah lagi Kania langsung meraihnya, ada harapan tersembunyi dari orang yang menghubunginya.
"Halo... "
"Assalamualaikum...."
Dari arah sana terdengar suara seorang perempuan dengan suara ciri khas wanita paruh baya.
"Kania, ini Umi Sarah, Umi masih di Indonesia, kamu sibuk tidak kalau Umi minta tolong? "
Kania terhenyak dari harapannya yang tidak tersampaikan, rupanya yang menelpon adalah orang lain, bukan orang yang selama ini diharapkannya.
"Iy.. iya Umi, bisa, bisa. "
Kania menyanggupi permintaan orang yang memang banyak berjasa selama ia ada di negara ini.
"Bantu apa Umi? "
Dari arah sana terdengar suara yang menggambarkan nuansa bahagia, karena permintaannya dikabulkan.
"Tolong bersihkan rumah umi ya bantu Lala, besok Lala. datang ke rumah Umi. "
Kania mengiyakan permintaan Umi Sarah.
..........................
"Kania, kita berbagi tugas ya..! "
Lala mulai mengambil alih kepemimpinan beberes rumah budenya.
"Aku ruang belakang, kamu ruang tamu ya! "
Kania hanya menunjukkan jempolnya, lalu mengambil sapu yang sudah disandarkannya di balik pintu kamar utama.
Dengan cekatan Kania membersihkan lantai yang sudah mulai banyak debunya, karena kurang lebih dua minggu tuan rumah ini melakukan perjalanan ke negara asal istrinya.
__ADS_1
Ruangan tamu rumah ini cukup luas, belum lagi lantai yang banyak menggunakan karpet tebal dan halus, juga buffet dengan keramik yang indah pun perlu juga dibersihkan.
Terasa letih juga dan keringat mengucur dari dahi Kania.
"Kania, kalau sudah selesai kita bersihkan dapur juga ya! "
Lala berbicara sambil berlalu dari hadapan Kania, untuk naik tangga menuju ruangan atas.
Kania sudah membersihkan ruang tamu, ia pun menuju ke ruangan garasi mobil. Dilihat sekelilingnya, memang lain kalau rumah ditinggal penghuninya. Biasanya tidak sekotor ini kalau ia berkunjung ke sini.
Tiba-tiba ada sebuah mobil masuk ke halaman, rupanya taxi bandara. Deg, hati Kania berdebar, jangan-jangan Irfan yang datang.
Kania mengintip dari belakang pagar garasi, dilihatnya sesosok pemuda tampan berkemeja putih sedang menuju ke rumah ini, tepatnya teras depan ruangan tamu.
"Mengapa Irfan ada datang ke Mesir, bukannya dia belum selesai kuliahnya? "
Bisik Kania dalam hati.
Untungnya selama bersih-bersih rumah, tas kecilnya yang setia itu tidak lepas dari punggungnya. Kania pun langsung keluar sebelum Irfan mengetahui ia ada di rumah ini.
............................
"Teeet-teeeet-teeeet," bel rumah Syeikh Husein berbunyi, lama tamu itu berdiri di depan rumah yang besar ini.
Dibunyikannya lagi oleh tamu itu, akhirnya keluar juga yang membukakan pintu.
" Irfaan..!! "
"Loh kok sudah datang lagi, baru tiga bulan balik Amerika?"
Dengan logat arabnya yang kental gadis itu bertanya, tanpa memikirkan rasa letih orang yang baru datang dari jauh.
Tak ada jawaban dari pemuda itu, ia langsung menerobos ke dalam.
"Irfan!!...lak.. lak.. "
lak-lak, itu maksudnya jangan-jangan langsung menerobos ke dalam.
Pemuda itu bingung, mengapa tak boleh langsung masuk ke dalam. Lalu ia pun menghentikan langkahnya.
Gadis itu memberi isyarat supaya pemuda itu duduk dulu di kursi, ia hendak memberi kejutan.
"Undzur huna Irfan!", maksudnya tunggu di sini.
Lalu gadis itu menuju ke ruangan garasi mobil, ia mencari seseorang. Pemuda itu tak sabar dengan kejutan yang akan diberikan, lalu ia menyusul dari belakang.
"Aina.. Lala.. ma.. man? "
Maksudnya dimana sesuatu yang dicari itu, apa yang sedang dicari, mencari siapa.
Dengan malu-malu gadis itu berterus terang, kemudian menjelaskan siapa yang ia cari.
__ADS_1
"Anta ta'lam, man huna fii saa'h almaadhii?"
Maksudnya kamu tau enggak siapa yang berada di sini beberapa saat yang lalu.
Pemuda itu penasaran, lalu bertanya, "man Lala," siapa Lala katanya.
Gadis itu yang ternyata Lala berlari ke belakang, menuju ruang makan.
Setelah di dalam, ia mencari tasnya mencari ponsel untuk menghubungi seseorang.
Irfan tidak peduli lagi, ia hanya bilang, "enggak jelas" dalam bahasa arab sambil menuju ke kamarnya.
..........................
Kania menyimpan tasnya di atas meja belajar, sebentar ia duduk lalu mengambil handuk untuk membersihkan badannya.
Setelah beberapa saat...
"Tok - tok-tok," pintu kamar ada yang mengetuk, Kania beranjak dari tempat duduknya sambil menyisir rambutnya yang basah.
"Eh, Bik Surti, ada apa ya? " tanya Kania ramah, Bik Surti tidak banyak bicara ia hanya tesenyum, sambil memberikan bungkusan plastik warna putih, sepertinya sesuatu yang spesial.
Karena bentuknya unik, Kania langsung membukanya. Ternyata isinya sebuah buku.
Siapa yang memberi hadiah buku ya, bisiknya dalam hati. Kania curiga buku ini salah alamat, karena ia tidak merasa membeli atau pun menitip beli buku pada orang lain.
Akhirnya Kania melanjutkan aktivitasnya merawat rambut.
"Besok baru mau kucari siapa pemilik asli dari buku ini. " bisiknya dalam hati.
.............................
Pelajaran yang paling sulit tapi sangat disukai Kania adalah "Mubalaghoh", pelajaran ini bagian dari ilmu sastra arab.
Jam tujuh tepat Mudaris sudah datang, hari ini harus presentasi kelompok.
Kania mempersiapkan diri untuk hari ini sejak beberapa hari yang lalu, ia tidak ingin mengecewakan dirinya sendiri ataupun orang lain, jika ia tidak dapat mengemukakan pendapat, memang diakuinya bahasa arab untuk presentasi lebih sulit dibanding untuk percakapan atau bahasa sehari-hari.
Ternyata Lala datang terlambat, sempat ditegur oleh Mudaris, namun kemudian dipersilahkan masuk dan duduk dengan kelompoknya masing-masing.
Kelompok Lala dengan Kania berbeda namun masih berdekatan, tiba-tiba Lala bertanya dengan berbisik, "Kania, Kania! "
Kania sedang menoleh ke arah lain, ia bahkan tidak tahu ketika Lala masuk dan ditegur Mudaris, ia fokus dengan konsep yang sedang ditulisnya.
"Kania, kemarin aku ke tempat kosmu kasih hadiah dari Irfan, kamu kemana, aku berikan sama Bik Surti, udah dibuka belum? "
"Apa? "
Kania malah enggak nyambung diajak bicara sama Lala, ia asyik membuat konsep presentasi bersama kelompoknya.
"Eh Kania nih, udah nanti aja. "
__ADS_1
Akhirnya Lala menghentikan bisikannya dengan Kania, ia pun mulai melihat bahan presentasi bersama teman-temannya.