
Kabar baik yang dibawa oleh adik emak Kania yaitu Shodiq memberikan berita baik bagi keluarga pak Salim.
Namun tidak bagi emak Kania, ia tahu betul sifat dari kakak tirinya itu.
Pak Toto yang jauh lebih tua kira-kira 20 tahun darinya, memiliki sifat yang serakah. Terbukti ketika ayah mereka meninggal, emak Kania beserta ibu dan adiknya diusir dari rumah peninggalan orang tua mereka.
Akibatnya mereka bertiga hidup terlunta-lunta sebelum akhirnya menemukan desa Ratapan ini.
Emak Kania tidak tahu apa isi surat wasiat peninggalan ayahnya itu. Mungkin pembagian warisan atau hal yang lainnya.
Namun jauh dari lubuk hatinya yang terdalam ia ingin menyambung tali silaturahmi yang sudah lama terputus.
Siang ini, kira-kira pukul 10.00, akan datang seorang tamu dari kantor pengacara untuk membicarakan surat wasiat peninggalan orang tua Emak Kania.
Sejak dari jam 09.00 Pak Salim dan istrinya sudah siap menunggu, tapi tamu yang ditunggu belum juga tiba.
Akhirnya sampailah waktu dzuhur, pak Salim memutuskan untuk pergi ke surau berjamaah sholat dzuhur.
Emak Kania pun pergi ke dapur untuk mengambil air wudhu. Namun tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Emak Kania bergegas ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
Tenyata tamu yang ditunggu dari pagi tadi baru datang.
" Silakan pak masuk! "
Emak Kania mempersilahkan tamunya masuk.
"Maaf bapaknya masih di surau,"
__ADS_1
Emak Kania berbasa-basi.
" Tak apa bu, saya tunggu saja,"
Tamu itu menjawab sambil meletakkan badannya di atas dipan panjang tuang tamu.
........................
"Begitu ya pak, kami tim pengacara sudah menghubungi saudara bapak yang bernama pak Toto, namun orangnya sedang tidak ada di indonesia karena sedang berobat ke Amerika."
Begitulah pengacara tersebut menjelaskan.
" Namun demikian, saya merasa bahwa Pak Toto ini orangnya bisa diajak kerja sama, jadi beliau meminta waktu agar kesehatannya pulih kembali."
Pengacara itu melanjutkan kembali pembicaraaanya.
"Baiklah pak, kami akan sabar menunggu berita selanjutnya. "
.........................
Cuaca di kota New York cukup panas, suhunya mencapai 38 derajat celsius. Jika keluar rumah sangat terasa sekali teriknya matahari.
Namun dalam ruangan rumah sakit yang dihuni oleh Pak Toto sangat dingin karena AC yang dipasang tidak berhenti dengan suhu yang rendah.
"Seshia... Shesia.. tolong ambilkan minum opa! "
Pak Toto merasa kehausan ia pun meminta tolong kepada cucunya itu untuk mengambilkan minum.
__ADS_1
Seshia bergegas mengambilkan opanya minum.
"Alhamdulillah Opa sudah bisa minum, tapi Opa minumnya sedikit-sedikit saja ya... kata dokter sehari maksimal hanya dua gelas. "
Pak Toto menganggukkan kepala nya tanda mengerti.
Pak Toto sangat senang cucunya ada di sisinya, Seshia adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Istrinya sudah dua tahun yang lalu meninggalkan ia sendiri. Anaknya Feri juga meninggal karena kecelakaan ketika mengadakan balap mobil. Sedangkan istri Feri entah berada dimana meninggalkan ia dan anaknya Seshia selagi masih balita.
Pak Toto mulai mengerti bahwa harta kekayaan dan uang yang banyak tidak dapat membantunya ketika ia mengalami kesusahan.
Pak Toto merasa menyesal karena sudah berprilaku tidak adil kepada adik tirinya dan ibu tirinya dulu. Ia takut kalau ibu tiri dan kedua adik tirinya akan merebut harta kekayaan ayahnya.
Jadi ia tega memfitnah mereka bertiga agar keluar dari rumah orang tuanya.
Sekarang Pak Toto pun sudah tua, ia mulai menyadari segala kekeliruan yang telah dilakukannya dulu.
Sejak ada telepon dari kantor pengacara, ia ingin segera pulih dan pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan segala permasalahan yang telah membuatnya tersiksa dan tidak tenang karena perbuatannya di masa lalu.
Pak Toto ingin merubah prilakunya dan menunjukkan bahwa ia sekarang sudah menjadi pribadi yang lebih baik.
Oleh karena itu kabar ini ingin ia sampaikan kepada cucunya Seshia namun ia belum kuat untuk berbicara.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Seshia bergegas dengan sigap mengangkat telpon.
" Iya pak ada...,"
Pak Toto bertanya siapa yang telpon.
__ADS_1
Ternyata pembantunya memberitahukan bahwa ada seorang pengacara yang datang ke rumah.
Pak Toto menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan dengan bahasa isyarat ia mengiyakan bahwa nanti kalau sudah sembuh akan lekas pulang ke indonesia.