
Jalanan di kota ini sangat licin, sebab hujan baru saja reda siang ini, harus hati-hati ketika mengendarai mobil atau motor. Begitu juga dengan sebuah mobil yang berjalan santai karena jalan yang dilalui selain licin juga banyak genangan air akibat hujan dan perbaikan jalan.
Pengendara mobil bertanya kepada orang di sebelahnya yang ternyata adalah istrinya, "buk, bagaimana perkembangan laporan tentang Herlambang kemarin, apa sudah ada kabar? "
Istrinya menjawab dengan santai sedang matanya tidak lepas dari ponsel yang dipegangnya.
"Ni pak, sudah masuk berita hari ini, ternyata Herlambang itu buronan polisi, " sambil menunjukkan gambar dan berita yang ada di ponselnya, ia membetulkan posisi duduknya.
"Ditangkap polisi di tepi hutan ketika ditolong seorang kakek pengumpul tanaman herbal. "
" Kok bisa? " kata suaminya.
"Menurut berita ini, Herlambang terperosok ke dalam jurang, untungnya masih tertolong tapi memang nasib sial pas naik ke atas ada polisi yang sudah mengincar keberadaan Herlambang ini."
Suaminya hanya menggelengkan kepala dan mengiyakan jawaban istrinya.
Sambil menyetir ia fokus ke depan jalan, tapi kemudian melanjutkan perkataannnya,
"Untung keluarga kita enggak kenapa-napa ya buk, malah dia yang menolong anak kita di pantai, sewaktu keseret ombak."
Sambil berbicara ia pun berpikir alangkah ngerinya jika buronan itu berbuat jahat kepada keluarganya.
"Itulah pak, Alhamdulillah kita selamat dari kejahatan orang, malah dia menolong kita padahal dia buronan."
Suaminya melanjutkan lagi pembicaraannnya,
"Memang dunia ini panggung sandiwara, kita tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi. "
Istrinya melanjutkan perkataannya,
"Yang penting kita selalu berdoa, supaya dilindingi dari perbuatan orang-orang yang jahat. "
................................
Rafli sedang tidur ketika pasangan suami istri itu datang ke rumah mereka, Bik Minah membukakan pintu rumah dengan pelan dan hati-hati.
"Sssttttt.... "
"Rafli baru saja tidur buk, ia selalu menanyakan Mas Herlambang sejak kemarin, badannya pun demam."
Bik Minah bicara lengkap dengan majikannya, agar mereka mengetahui kondisi anak mereka.
Pasangan suami istri itu saling berpandangan, mereka tidak tahu apa yang harus dijelaskan kepada Bik Minah mengenai Herlambang yang disebutkan tadi.
Belum ada tanggapan dari keduanya, tapi kalau menyangkut masalah anak mereka harus ada solusi agar Rafli tidak sakit dan terkenang terus dengan orang yang mereka sebut Herlambang.
Setelah napas mereka teratur tidak gopoh seperti baru datang tadi, bangkitlah sepasang suami istri itu menuju ke kamar mereka untuk beristirahat.
.........................
"Rafli... bangun nak, makan dulu, minum obat yuk! "
Rafli hanya menggerakkan tubuhnya, badannya masih panas, bahkan ia sampai mengigau, membuat khawatir kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Om... om..!! "
Begitu kata Rafli dalam demamnya, ia memanggil Deni dengan kata-kata " om".
Bik Minah sibuk menggantikan kompres kepala Rafli, sedangkan ibunya berusaha membangunkan anaknya untuk makan dan minum obat.
........................
Suara orang mengetuk pintu tidak terdengar oleh tuan rumah, mereka sedang berada di belakang, menghibur anaknya yang baru reda dari demam. Yang mengetuk pintu ternyata orang yang mengantar surat undangan, bik Minah yang memburu ke depan.
"Rafli, ini makan buahnya, sudah ibu potong-potong nih! "
Rafli menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin makan buah. Sampai ibunya ingin marah karena belum ada makanan yang masuk sejak tadi pagi.
"Rafli mau makan apa dong, nanti ibu belikan? "
Rafli tetap menggelengkan kepalanya.
Ibunya masuk ke dalam rumah dengan cemberut, Rafli mulai tersadar jika ulahnya itu membuat ibunya marah. Lalu ia memanggil,
"Buk, Rafli pengen ketemu sama om Herlambang," Rafli mulai meringik membuat ibunya bingung.
Akhirnya ibu Rafli membungkukan badannya dan berbicara setengah membujuk,
"tapi Rafli makan dulu yah!, terus minum obat nanti kita cari om Herlambangnya."
Mata Rafli mendadak bersinar, ia pun semangat untuk makan nasi dan minum obat.
Tiba-tiba,
Ibunya sampai kaget dengan teriakan Rafli, kok mendadak sehat ketika dijanjikan seperti itu.
Ini sih memang harus bertemu dengan Mas Herlambang, kalau enggak bisa gawat. Pikir ibu Rafli.
.....................
Bapak Rafli sengaja menghidupkan nada dering ponselnya, karena menunggu orang yang akan menghubunginya siang ini.
Hari ini ia ada di rumah, sebab cuti kerjanya menjadi tiga hari karena ada ada hari raya.
Ketika Bapak Rafli menonton cuplikan gol-gol bola yang seru, terdengarlah bunyi dering ponsel yang sangat kuat, sehingga tidak sempat mati langsung diangkat olehnya.
" Halo.... Iya saya sendiri, oh ya pak itu teman saya, bisakah saya tahu dimana tempat buronan kasus balap motor ditahan?"
Rupanya yang menelpon adalah polisi kenalan temannya yang menangani kasus Deni.
" Baik pak, terima kasih atas informasinya."
Bapak Rafli langsung memanggil istrinya,
" Buk... buk...! "
Ibu Rafli ada di belakang yang menghadap malah Bik Minah.
__ADS_1
" Mana Ibu Rafli bik? "
Bik Minah langsung menjawab,
" Ada di belakang tuan, sedang menyuapi Rafli sambil mancing ikan. "
Akhirnya Bapak Rafli mengalah pergi ke belakang, ternyata memang benar, Rafli sedang mancing ditemani ibunya sambil disuapi makan.
"Waduuh.... udah sehat anak Bapak, jangan lupa minum obat ya! "
Rafli menyeringai sambil melemparkan mata pancing.
" Pak, tadi ada ikan emas besar tapi lepas lagi."
Bapak dan ibu Rafli ikut senang dengan keceriaan anaknya. Mereka pun duduk berjajar menunggu ikan mas yang tertangkap.
............................
"Buk, Bapak sudah dapat alamat lapas Herlambang, " setengah berbisik Bapak Rafli memberitahu istrinya.
Ibu Rafli senang bukan main, ia sampai nepuk-nepuk punggung suaminya.
"Benarkah pak, sudah dapat alamatnya? "
Tanyanya antusias.
"Iya, sudah dapat. "
Jawab Bapak Rafli.
"Berarti kita bisa langsung ke sana dong pak? "
Bapak Rafli menggelengkan kepalanya sembari menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
"Yaaah, jadi kapan dong pak, Rafli udah mau mogok makan lagi tuh kalau belum ketemu si Om Herlambang itu. "
"Besok baru boleh dijenguk, dia kan tahanan baru, sedang sibuk diadministrasikan enggak boleh dijenguk dulu.
"Ooh gitu ya pak, ibu baru tau, ya sudahlah kita jenguk besok."
..................
Lapas Kabupaten ini cukup luas, letaknya di pinggur jalan persis samping kantor telkom, tidak ada yang menyangka jika itu lapas kecuali melihat tulisan di depannya.
Rafli dan keluarganya sampai di tempat itu pas pukul 09.00 pagi, mereka sengaja berangkat awal sekali dari rumah karena tidak ingin terkena macet di jalan.
"Silahkan pak masuk ke dalam! " petugas lapas mempersilahkan Rafli dan keluarganya masuk, tiba-tiba ada suara yang agak keras dari dalam kantor diiringi dengan sesosok perwira polisi yang tegap dan gagah.
" Ooh Pak Harun... sudah saya tunggu sejak kemarin, katanya akan berkunjung, " Bapak Rafli yang ternyata bernama Pak Harun itu menoleh ke arah suara, benar saja mereka seperti sudah kenal lama.
"Waah... Pak Aris... terima kasih sudah memfasiitasi kami sehingga bisa berkunjung ke sini. "
Keduanya pun saling berjabat tangan, rupanya komunikasi mengenai kasus Deni ini sudah bisa diakses oleh bapak Rafli melalui Pak Aris.
__ADS_1
.....................