
Hari-hari istri pak Marwan dalam seminggu ini tidak ceria, wajahnya muram seakan dipenuhi awan mendung yang hitam. Kadang ia mudah tersinggung dengan ucapan suaminya, jika ada kalimat yang tidak berkenan di hatinya.
Pak Marwan adalah seorang lelaki yang penyabar, selain itu ia sangat menyayangi istrinya yang ia nikahi jauh lebih muda dari umurnya. Ia selalu membimbing istrinya dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Justru karena cinta dan sayang Pak Marwan yang begitu besar itulah semakin membuat hati bu Marwan sedih, sakit dan menyesal.
Di awal-awal pernikahan mereka bu Marwan adalah seorang istri yang keras dan kasar. Namun karena bimbingan dari suaminya, ia sekarang menjadi wanita yang sholehah. Bahkan Pak Marwan sudah mengajaknya pergi umroh.
Cinta yang tumbuh di hati bu Marwan cukup terlambat datangnya. Ia masih belum ingin melupakan kisah cintanya dengan pria idamannya di kala remaja.
Namun, berkat kesabaran Pak Marwan dan kerja kerasnya dalam membimbing istri tercinta, serta doa yang selalu dipanjatkan, akhirnya dapat membuahkan hasil yang baik, berupa kasih sayang dari istrinya, walaupun datangnya setelah hadir anak yang kedua yaitu Danang.
Yang dulunya bu Marwan tidak berhijab, sekarang sudah menutup auratnya, yang dulunya bu Marwan selalu berkata kasar jika sedang berbicara dengan suaminya atau orang lain, sekarang kalimat yang keluar dari mulutnya mulai tertata dengan rapih dan anggun selayaknya seorang wanita sholehah.
Sabtu ini tamu kehormatan suaminya yang bernama pak Toto itu akan datang ke kantor mereka, bahkan akan dijamu di rumah mereka. Jika mendengar nama Pak Toto, hati bu Marwan menjadi takut, geram bahkan benci.
Bu Marwan tidak memiliki alasan menolak permintaan suaminya itu, untuk menjamu tamu di rumah mereka. Jadi mau tidak mau bu Marwan harus mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak mengecewakan.
Di suatu siang setelah istirahat dan akan kembali lagi ke kantor, Pak Marwan berkata kepada istrinya,
"Bagaimana persiapan menjamu tamu kita besok bu? "
"Beres pak tenang,"
__ADS_1
Tukas bu Marwan sambil mengacungkan jempolnya.
.....................
Bi Eroh sibuk membereskan rumah, mulai ruang tamu, ruang makan dan yang terpenting persiapan menu makanan. Ujang juga dilibatkan untuk membersihkan garasi dan halaman
"Wah, tamu agung rupanya yang mau datang ni,"
Danang berseloroh melihat rumahnya yang lebih rapih.
"Iya lah Nang, tamu bapak kan pasti tamu agung, he-he-he."
Jawab Deni menimpali sambil tertawa kecil.
"Tamu memang harus diagungkan, meskipun bukan tamu agung, he-he-he,"
........................
"Kriii... ng, krii.. ng, krii... ng,"
Ponsel bu Marwan berdering, lekas diangkatnya ponsel itu yang berada tak jauh dari tempatnya menyusun menu makan siang membantu bik Eroh.
"Gimana buk, sudah siap, bapak bawa ke rumah ni tamunya? "
__ADS_1
Tanya pak Marwan dalam suara ponsel istrinya.
"I... iy.. iya pak, siap, sudah ibu siapkan pak."
Jawab bu Marwan gugup.
Deni yang mulai pulih kesehatannya, sudah siap menyambut tamu yang akan datang ke rumah mereka.
Danang yang hari itu beristirahat lebih awal dari kantor, sengaja menginspeksi kesiapan rumah mereka dalam memberikan jamuan makan siang. Jadi Danang tidak sempat menyambut kedatangan tamu itu di kantor.
Lain lagi dengan istri pak Marwan yang kelihatan gusar dan gelisah sekali, ia sepertinya trauma dengan orang yang bernama pak Toto.
Tampak dari raut wajahnya yang murung dan gugup, ketika tadi siang membantu bik Eroh juga ada satu piring yang pecah. Sampai-sampai bik Eroh menganggap majikannya itu sakit.
Tiba-tiba ada yang mengucap salam.
"Assalamualaikum.. ,"
Orang itu langsung menerobos masuk tanpa menunggu tuan rumah yang membukakan pintu. Ternyata pak Marwan.
"Mari silahkan masuk,"
Kata pak Marwan dengan ramah penuh persahabatan.
__ADS_1
Bu Marwan yang sedari tadi ada di belakang terkejut karena tamunya sudah datang.
Ia pun disuruh suaminya menemui tamu itu. Dengan langkah yang gontai dan lemah, bu Marwan menuju ke ruang tamu, dan ternyata yang datang adalah..