Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Senyum Rahasia


__ADS_3

" Silahkan nak, ini masakan spesial istri saya!! "


Pak Marwan menyodorkan makanan Favoritnya ke hadapan seorang gadis yang sedang menyantap makanan.


"oseng-oseng cumi asin ini kesukaan papah saya ketika beliau masih ada."


selorohnya.


" Memangnya papah kamu sudah meninggal? "


Tanya Deni meneliti ingin tahu.


"Iya begitulah papah sudah tiada sejak dua tahun yang lalu."


Jawabnya tanpa ekspresi, mungkin kesedihannya ditinggal papahnya sudah berlalu.


"Kamu tinggal sama siapa?"


Yanya Deni lagi penasaran.


" tinggal sama opa,"


Jawab gadis itu sambil menyantap makanan dengan lahap namun tetap anggun.


Bu Marwan tidak berbicara apa-apa, hatinya terasa lega karena orang yang bernama pak Toto tidak jadi datang.

__ADS_1


Lamunan sekilas bu Marwan mengingatkannya akan hari yang sangat membuat hatinya sangat sakit.


Mata bu Marwan diam-diam mengamati wajah gadis ini, alis matanya mirip sekali dengan orang yang sangat dikenalnya di masa yang lalu.


Orang yang senantiasa mengisi hatinya dikala remaja hingga menjelang dewasa. Bahkan sempat menjadi teman hidupnya meski hanya sesaat.


Impian membina rumah tangga sampai ajal menjemput bersama kekasih idaman hati, tidak terlaksana karena perbedaan taraf hidup yang sangat jauh.


Ia hanyalah seorang anak petani sedangkan kekasihnya yang bernama Feri adalah anak seorang pengusaha.


Cinta bu Marwan dan Feri kala itu sempat menjadi kehebohan keluarga karena mereka melakukan "kawin lari".


Namun karena banyaknya upaya keluarga Feri dalam memisahkan keduanya dan kurangnya kemampuan mereka berdua untuk mempertahankan biduk rumah tangga akhirnya hancur juga dan terjadi perceraian.


Hal yang sangat disesalinya adalah ketika ia mengatakan sesuatu yang sangat fatal bagi langgengnya rumah tangga mereka.


"Kalau kamu tidur terus kang, bagaimana kita bisa hidup, sebentar lagi kita punya anak,"


Itu salah satu perkataan yang sering dilontarkannya.


Seumpama ia memiliki kekuatan untuk bertahan dalam kekurangan dan juga mempunyai motovasi untuk bangkit dari keterpurukan. Tentu keadaannya tidak seperti sekarang ini.


Yang lebih membuatnya sangat menyesal adalah ungkapannya yang menyinggung Feri suaminya.


Ia telah menuduh Feri berselingkuh. Dan tuduhan yang dilontarkan olehnya itu berkali-kali, membuat Feri jengah dan sakit hati sehingga malas untuk dekat dengannya karena selalu dituduh yang macam-macam.

__ADS_1


Seindah apa pun cinta di masa remaja atau di masa-masa sebelum menikah, jika tidak ada unsur saling mempercayai satu sama lain. Lambat laun pernikahan itu akan hancur.


Itulah pemikiran bu Marwan setelah sekarang telah menjadi sesosok wanita dewasa yang telah mengalami asam garam kehidupan.


"Nama papahnya siapa nak? "


Tanya bu Marwan memberanika diri, sembari meletakan piring yang berisi irisan pepaya yang baru diterimanya dari bik Eroh.


Papa namanya Feri bu, gadis itu menjawab sambil menganggukan sedikit kepalanya.


Benar saja, setelah mendengar ucapan gadis itu, bu Marwan merasa badannya melayang, kepalanya pusing, namun masih bisa menguasai diri. hanya dadanya saja yang berdebar agak kuat, mungkin karena tensi darahnya yang meningkat.


"Anak Feri", bisiknya dalam hati, berarti adik Deni.


Bu Marwan semakin dak karuan perasaannya ketika melihat anaknya Deni begitu antusias dengan memberikan berbagai macam pertanyaan.


Hampir saja bu Marwan melarang Deni berbicara, hal yang sangat akan membuat anaknya malu. Untunglah ponsel gadis itu berbunyi.


"Iya opa... Sesia otw."


Begitu jawab gadis itu. Rupanya sudah ada jadwal lain yang harus dikerjakannya.


"Mohon maaf pak, saya tidak bisa lama, karena sudah ditunggu opa, dan terima kasih atas jamuannya."


Gadis itu pamit pulang, diiringi oleh tatapan seisi rumah penuh kekaguman karena kecantikannya dan kepintarannya dalam bertutur kata yang penuh sopan santun.

__ADS_1


__ADS_2