
Pak Salim sudah siap dengan bajunya yang rapih, ia menunggu istrinya yang sedang membetulkan hijab di dalam kamar.
Momen hari ini sudah ditunggunya selama kurang lebih dua tahun dengan sabar dan penuh harapan serta doa agar anaknya Kania mendapatkan kesuksesan dalam studinya di Mesir.
Terkabul sudah doa pasangan suami istri ini, Kania sudah menuntaskan studinya dengan predikat nilai mumtaz atau sangat memuaskan, yang diputuskan oleh tim penguji ma'had Daarussalam, ia berhak menjadi pengajar bahasa dan sastra arab di pondok pesantren Daarul Huda tempatnya mengabdi selama ini.
Hari ini Kania akan datang sekitar jam 2.00 siang melalui penerbangan Mesir - Singapura-Jakarta.
Keluarga Pak Salim sudah sepakat dengan Abuya untuk bersama-sama menjemput Kania.
Sebenarnya Pak Salim sudah memiliki kendaraan sendiri, untuk jarak dekat ia mampu mengendarainya, namun karena perjalanannya jauh yaitu ke daerah Tangerang tepatnya bandara udara Soekarno Hatta, maka ia meminta tetangganya yang membawa mobilnya itu.
"Kring... kring... kring... "
Suara ponsel Pak Salim berbunyi nyaring, ia pun langsung mengangkatnya dan menjawab salam dari sang penelpon.
"Waa'laikum Salam... baik Abuya, kami ke sana."
Waktu menunjukkan pukul 08.00, Pak Salim dan istrinya sudah merapat ke tempat Abuya Husni.
Ketika Pak Salim memasuki halaman pondok pesantren Daarul Huda terlihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Abuya Husni dengan seorang sopir yang sedang memanaskan mobil tersebut.
Dengan cekatan tetangga Pak Salim memarkirkan mobil tepat di sebelah mobil yang sedang dipanaskan itu. Pak Salim merasa heran ternyata sopir yang ada di dalamnya adalah Deni mantan atasannya dulu namun penampilannya sudah berubah sepertinya lebih baik dibandingkan dulu, terlihat dari pakaian yang digunakan serta sebuah peci berwarna putih yang dipakai di atas kepalanya.
...........................
Gadis manis berkulit putih dengan tinggi sedang berkerudung hitam bergegas mengambil barang di tempat bagasi. Wajahnya selalu tersenyum seakan ingin berseru kepada dunia, bahwa hari ini ia sedang bahagia.
Antrian bagasi yang cukup lama membuatnya ingin mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dibukanya wa yang sudah banyak notifikasi belum terbuka. Benar saja ada beberapa berita yang sudah menanti jawaban darinya.
__ADS_1
"MasyaAllah... "
Kania berseru dalam hati, diihatnya poto orang tua serta pemilik pondok pesantren Daarul Huda sudah menunggu dengan sabar sejak satu jam yang lalu. Ia pun memberi kabar bahwa sedang menunggu barang di antrian bagasi.
Senyum Kania lebar ketika jarak yang sudah dekat dengan orang-orang terkasihnya yang sudah lama menunggu di halte kedatangan penumpang luar negeri.
Terlihat kedua orang tuanya berdiri menantikan kedatangannya. Ia mempercepat langkahnya, semakin dekat dan pelukan erat penuh haru tak terbendung lagi.
"Emaak.... abah... "
Tangisan Kania pecah dalam pangkuan kedua orang tuanya. Sesaat ia tenggelam dalam tangis dan rasa syukur yang tak terkira. Ketika tersadar Abuya Husni dan Umi Dzakiyah sudah berdiri menanti untuk memberikan selamat.
Ada sepasang mata yang memandang dari kejauhan, di dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari lokasi pertemuan mereka.
Sepasang mata seorang pemuda yang baru beberapa minggu ini merasa terlahir kembali, iya sepasang mata pemuda itu dari pemiliknya yang bernama Deni.
Benar saja Kania yang dulu berbeda dengan yang sekarang, lebih dewasa dan cantik serta berkharisma. Ada rasa yang tumbuh di hatinya melihat gadis seperti Kania, mengingat pergaulan yang sekarang dijalaninya, berbeda dengan yang dulu membuat Deni mulai memiliki perubahan mengenai kriteria gadis idaman hati.
"Ayo... Kania... masuk nanti keburu hujan, perjalanan kita cukup jauh. "
Abah Kania mengajak putrinya itu masuk ke dalam mobil, sementara itu barang-barangnya dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Kalau tidak cukup di situ, simpan di mobil Abuya saja, " Seru Umi yang sudah duduk rapi dalam mobil namun masih memperhatikan barang-barang Kania yang ternyata masih banyak yang belum bisa diangkut
Deni keluar dari dalam mobil, ia membantu mengambil barang-barang Kania dan menyimpannya di bagasi mobil yang dikendarainya.
Kania yang sedari tadi belum naik ke atas mobil, terkejut dengan sosok yang membantu menyimpan barang-barangnya itu.
"Kak Deni," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Wajah mereka berpapasan, Kania menganggukkkan kepala untuk menghormati dan berterima kasih. Deni pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
..................................
Penyambutan Kania di pondok Pesantren Daarul Huda begitu meriah, tim hadrah yang menjadi kebanggaan ponpes tersebut pun di tampilkan, semua santri dan santriyat merasa senang dengan kedatangan Ustadzah kesayangan mereka. Mereka ingin mengikuti jejak Kania dapat belajar di negeri Mesir.
Jamuan makan disajikan untuk seluruh ustadz dan ustdazah serta para santri, khusus hari itu kegiatan pembelajaran diliburkan diganti dengan tausiah Abuya Husni untuk memberi motivasi kepada santri-santrinya.
Kania diminta untuk berpidato dengan bahasa arab, para santri menyambut dengan antusias.
Deni yang duduk bersama-sama santri di barisan depan dapat melihat dengan jelas ke depan panggung.
Ilmu yang didapat Deni dari Abuya Husni mengenai mindset hidup dengan baik, membuat Deni bersyukur kepada Allah SWT karena sudah dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan penuh semangat dalam menjalani hidup seperti Kania anaknya Pak Salim.
Deni mulai menyadari segala kesalahannya di masa lalu, ia selalu menilai segala sesuatu dengan harta. Bahkan ia selalu menyalahkan ibunya yang meninggalkan ayah kandungnya, sehingga tidak pernah mensyukuri kehadiran Pak Marwan sebagai bapak sambungnya yang sebenarnya sangat menyayanginya. Akibat kekecewaannya itu ia terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk.
Sekarang Deni menyadari bahwa skenario hidupnya sudah ada yang mengatur yaitu Allah SWT Tuhan semesta alam.
Meskipun agak terlambat merasakan nikmatnya iman dan ilmu yang baru di dapatnya akhir-akhir ini, Deni sangat bersyukur karena ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dan mempedulikan kehidupannya.
Untuk yang kesekian kali ia merasakan jatuh cinta lagi kepada seorang gadis, namun kali ini hadis itu alim dan sholehah. Ia ingin sekali memiliki gadis itu, hatinya mempunyai keyakinan bahwa ia dapat meraih cinta Kania.
Lamunan Deni berakhir dengan kehadiran seorang santri yang mendekatinya, santri itu mengatakan bahwa Abuya Husni memanggilnya. Ia harus segera mendatangi belakang panggung karena ada beberapa hal yang akan disampaikan oleh pimpinan ponpes itu.
Deni bergegas bangkit dari duduknya namun tidak bisa cepat menuju ke arah belakang panggung itu, ia harus melalui tempat duduk beberapa santri yang sedang asik mendengarkan Kania berpidato dalam bahasa arab.
Tubuh Deni agak membungkuk ketika melalui tempat duduk santri-santri itu, namun karena perawakannya yang tinggi sangat jelas terlihat dari depan panggung bahwa ada seseorang yang berusaha keluar dari kerumunan dan menuju ke arah belakang panggung.
Kania yang sedang berpidato pun melihat Deni tapi ia tetap fokus dengan pidatonya.
__ADS_1