
Hari mulai siang, seharusnya matahari terasa terik, namun di sekeliling rumah kakek tua yang menolong Deni itu tidak terasa panasnya disebabkan banyaknya pepohonan yang rindang dengan daun-daun yang menjulur ke bawah.
Deni sudah kelihatan agak sehat, ia tengah membelah akar pohon yang akan dijadikan kayu bakar.
Sedangkan kakek tua itu tengah menjemur daun-daunan yang bermacam-macam jenisnya. Belum ada pemberitahuan daun apakah itu, Deni pun tidak banyak bertanya, berhubung badannya sakit semua seperti habis dipukuli orang. Jadi ia hanya terdiam saja dan menuruti perintah sang kakek.
Tiba-tiba kakek tua itu membentak Deni,
"Hei anak muda, kerja kok lelet benar, mau makan tidak? "
Kemudian golok yang panjang pun melayang pas di depan Deni,
"Niih, pergi ke hutan, di sana ada sisa ubi bekas panen orang, gali dan ambil ubinya!"
Deni malah bengong, ia tidak mengerti perintah kakek itu.
Akhirnya kakek tua itu mengulangi perintahnya,
" Anak muda, malah bengong, cepat pergi cari ubi di hutan sana! "
Dengan tergopoh-gopoh Deni berlari masuk ke hutan untuk melaksanakan perintah kakek tua itu.
Sesampainya di sana, Deni hanya melihat hamparan tanah kosong, tidak ada pohon ubi yang masih berdiri, semuanya sudah dicabuti. Hanya batang ubi yang terlonggok di atas tanah.
Deni terkejut, ternyata kakek itu mengikutinya dari belakang.
Untung saja Deni tidak terjatuh ketika kakek itu menepuk punggungnya, pasalnya ia sedang bengong mengamati keadaan.
"Hei anak muda, ayo gali bekas lubang ubinya, pasti masih ada ubi yang tertinggal
Deni tidak mau dibentak lagi, ia pun langsung menggali tanah bekas orang memanen ubi.
Benar saja masih banyak ubi yang tersisa di dalam. Setelah dikumpulkan semua dapatlah setengah karung besar, lalu di bawa pulang ke rumah kakek tua itu untuk dimasak.
Rasa ingin lari saja tapi tenaga belum terkumpul semuanya, pasalnya kakek tua itu senang memerintah dirinya serta menertawakan pekerjaannya jika salah.
Deni ingat, itu adalah kelakuan dia kepada karyawannya. Ternyata tidak nyaman diperintah kasar seperti itu, pikir Deni dalam hati.
Ubi yang sudah dibersihkan itu tidak dibuang kulitnya, hanya dicuci. Setelah bersih langsung dimasukkan ke dalam debu tungku yang panas. Ternyata benar kira-kira setengah jam ubi itu sudah matang.
"Nih, ikan asin simpan di atas tungku!"
__ADS_1
Dengan cepat Deni mengerjakan perintah kakek itu, takut kena bentak lagi. Ikan asin pun sudah mengeluarkan baunya.
Sementara air di atas sudah mendidih, kakek tua itu memberikan baskom yang berisi kangkung dan cabe rawit yang sudah bersih dan bersiang.
"Siramkan air itu! "
Deni menurut saja perintahnya, ia pun tidak ingin banyak berdebat, pasalnya perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Lumayan juga mengeluarkan tenaga untuk membelah akar kayu dan menggali tanah, ditambah lagi badannya belum begitu fit.
Setelah makanan itu siap, mereka pun makan dengan lahap.
Di tempat ini Deni berusaha untuk tidak membuat kakek tua itu marah, sisa makanan dan tempat makannya ia kemaskan tanpa harus disuruh dulu.
Keadaan hening tak ada yang berbicara, tiba-tiba kakek tua itu bertanya pada Deni.
"Anak muda, aku belum mengenalmu, siapakah namamu?"
Deni tidak ingin berbohong takut kakek tua ini berilmu tinggi, nanti ia akan berabe.
" Deni Kek."
Kakek tua itu menolak dipanggil kakek, ia protes.
"Oh Aki Daud," bisik hati Deni.
Sejak perkenalan itu, ketegangan di antara mereka agak berkurang. Deni pun sudah tidak begitu ketakutan lagi.
Ia memahami sebenarnya Aki Daud sangat perhatian dengan dirinya. Terbukti ketika Aki Daud menyodorkan ramuan herbal racikannya ke hadapan Deni untuk diminum.
"Nih minumlah supaya cepat pulih! "
Deni mengangguk tanda memahami perintah Aki Daud. Aki Daud melanjutkan pembicaraannya, "Nanti malam kau tidur awal, aku akan bangunkan kau tengah malam? "
Deni ingin bertanya dengan mengarahkan pandangannya ke arah Aki Daud. Tapi kakek itu nampaknya sudah paham apa yang akan ditanyakan oleh Deni.
"Kita pergi hutan, mengambil air sapu jagat yang ada di pohon Rahmat. "
Begitu Aki Daud menamai pohon itu.
Deni mengangguk dan tak ada yang ditanyakan lagi, ia pun pergi ke belakang melihat daun-daun yang tengah dikeringkan dan ada juga yang diasap karena kurangnya cahaya matahari.
......................
__ADS_1
"Ayo bangun-bangun! "
Deni bangun cepat, ia tidak ingin Aki Daud marah, setengah melompat ia pergi ke dapur untuk mencuci muka.
Dilihatnya penampilan Aki Daud sudah rapi, nampaknya ia sudah bangun sedari tadi. Terlihat dari penampilannya yang segar dan bajunya yang bersih.
.....................
Mereka masuk hutan agak dalam, keduanya menggunakan sepatu bot. Aki Daud sudah mempersiapkan segala sesuatunya, nampaknya kakek tua ini memiliki rasa kasih sayang yang tulus meskipun bahasa yang diucapkannya terkadang menyakitkan dan kasar.
"Belah batang yang paling ujung nak! " Aki Daud menunjuk ke arah batang yang tepat, nampaknya batang itu lebih gemuk dibandingkan batang yang lainnya.
Seketika air memancar dan mengalir deras saat batang itu mulai terbelah, "tadah pakai ini atau langsung minum nak! "
Aki Daud langsung mencontohkan meminum air yang keluar dari batang tersebut. Melihat begitu, Deni pun tidak lengah lagi, ia meminum air yang keluar dari batang pohon tersebut.
Ternyata batang pohon tersebut tidak dibuang oleh Aki Daud, semuanya dimasukkan ke dalam karung yang sudah siap untuk membawa potongan-potongan kayu yang berasal dari pohon sapu jagat ini.
"Angkatlah karung ini, kita bawa pulang ke rumah Aki besok."
.......................
Malam masih menemani, suara jangkrik masih berderik, Deni dan Aki Daud sudah siap menunggu datangnya sholat subuh. Mereka akan mengadakan perjalanan menuruni bukit dengan tujuan ke rumah Aki Daud yang ada di bawahnya.
Deni belum paham sepenuhnya, pekerjaan apa yang di geluti oleh Aki Daud. Tapi ia sempat berkesimpulan bahwa Aki Daud adalah orang yang paham tanaman obat.
Buktinya setelah meminum air dari pohon sapu jagat, badannya merasa lebih segar dari sebelumnya.
....................
Ada dua karung besar yang dibawa dari atas bukit, tapi keduanya sama beratnya. Jika dipegang karung yang satu keras sekali nampaknya potongan kayu yang sudah dikecilkan, sedangkan yang satu lagi lembut tapi karena dipadatkan dan banyak jadi sama beratnya.
" Hati-hati turunnya, jalannya licin! "
Aki Daud mengingatkan Deni, tapi Deni kurang mendengarkan peringatan Aki, Akhirnya ia terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang yang tidak begitu dalam.
Aki Daud berusaha menolong, tangannya tidak mampu menarik badan Deni, akhirnya ia mencari kayu untuk menambah kekuatan ketika tangan Deni bisa diraih.
Namun meski begitu belum juga Deni bisa naik ke atas.
" Sabar nak, Aki akan buat tanjakkan buatan, pegang dulu akar2 itu! "
__ADS_1