Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Kabar Yang Menggembirakan


__ADS_3

Ruangan tamu rumah bu Marwan sudah selesai dibersihkan oleh bik Eroh, semuanya tertata dengan rapi, mulai sofa, vas bunga begitu juga dengan bufet yang berisi hiasan keramik sudah terlihat bersih bersinar.


Hari masih pagi, namun hari ini adalah hari minggu, jadi kegiatan agak lambat, penghuninya masih menikmati tidurnya yang lebih panjang.


Selang kemudian


" tok.. tok... tok,"


Terdengar suara pintu berbunyi, bik Eroh dengan sigap membukakan pintu rumah tuannya, karena ia masih ada di ruang tamu.


Dengan ramah bik Eroh mempersilahkan tamu yang datang.


"Silahkan pak Ustadz masuk, bapak ada kok! "


Demikian bik Eroh mempersilahkan tamu yang ternyata adalah Ustadz Slamet.


"Waduuh... kemana saja pak Ustadz nih baru kelihatan lagi, sampai rindu saya,"


Kata pak Marwan kepada tamunya itu.


" Biasalah ada urusan sedikit di luar, jadi beberapa hari tidak ke masjid,"


Jawab Ustadz Slamet sambil tersenyum.


Ustadz Slamet dipersilahkan masuk ke ruang keluarga, karena saat itu pak Marwan dan keluarganya sedang sarapan. Ia pun berbaur dengan keluarga ini penuh keakraban.

__ADS_1


" Begini pak.."


Ustadz Slamet menghentikan pembicaraannya untuk beberapa saat dan menelan air liurnya, merancang kata-kata yang tepat untuk mengeluarkan maksud kedatangannya.


" Jadi... bagaimana pak Ustadz, apa yang dapat saya bantu? "


Pak Marwan langsung menunjukkan empatinya.


" Saya ke sini membawa proposal adik saya dari ponpes Daarul Huda, maksudnya untuk mohon bantuan kepada bapak, barangkali berminat untuk berinfaq membantu santri-santri yang ada di sana,"


Ustadz Slamet menghentikan lagi kalimatnya, lalu menghela napas.


" Ehmm... karena sebagian santri2 itu tidak memiliki orang tua atau pun kebanyakan sudah menjadi yatim, dan ada lagi santri yang telah terkena kasus seperti perkelahian, narkoba dan masih banyak lagi masalah yang lainnya. "


Dengan panjang lebar Ustadz Slamet memberikan penjelasan agar pak Marwan berkenan memberikan uluran tangannya.


Beberapa saat Ustadz Slamet menunggu pak Marwan keluar dari kamarnya.


Pak Marwan membawa secarik kertas yang ternyata adalah sebuah cek yang jumlahnya cukup lumayan.


Ustadz Slamet sampai terharu melihat jumlah cek itu dan mengucapkan banyak terima kasih.


Danang yang sedari tadi hanya mendengarkan dan memperhatikan komunikasi antara orang tuanya dan Ustadaz Slamet hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk.


Tak disangka sesaat kemudian Ustadz Slamet mengatakan sesuatu yang membuat hati Danang berbunga-bunga.

__ADS_1


" Ooh ya, ada salam dari pak Salim, untuk bapak, ibu dan juga semua keluarga yang ada di sini. "


Deg, jantung Danang berdetak seolah ada ketukan keras yang mengalirkan darahnya dengan cepat ke seluruh tubuh.


Langsung saja perkataan Ustadz Slamet itu disambarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dimana keberadaan keluarga pak Salim sekarang.


"Satu-satulah Nang, tanyanya, "


Kata pak Marwan kepada anaknya itu.


Deni pun tidak ketinggalan ikut mengomentari perkataan adiknya itu.


" Iya nih, pak Ustadz jadi susah menjawabnya."


Akhirnya Ustadz Slamet menjelaskan bahwa kemarin sempat bertemu dengan Kania di pondok pesantren Daarul Huda, akhirnya ia mampir juga ke rumah pak Salim.


Ustadz Slamet melanjutkan cerita pertemuannya dengan pak Salim, bahwa sekarang pak Salim sudah memiliki rumah yang bagus serta sudah berwiraswasta di depan rumahnya.


Sedangkan Kania mengabdi di pondok pesantren Daarul Huda sebagai pengajar dan pembimbing santriwati.


Alangkah bahagianya hati Danang, ternyata orang yang selama ini ia cari dan kehilangan jejaknya telah diketemukan dimana tempat tinggalnya.


Hati Danang pun berbunga-bunga, mulailah ia menyusun rencana kapan bertemu dengan Kania. Tapi ia ragu apakah Kania selama ini merindukannya juga. masalahnya belum pernah ada komitmen apa-apa antara ia dengan Kania.


Jangan -jangan Kania sudah ada yang memiliki. Itulah kalimat-kalimat yang muncul dalam benak Danang.

__ADS_1


Namun keyakinan terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Membuatnya menjadi tenang. Ia pun berniat akan selalu berusaha dan berdoa agar cita-citanya mendapatkan Kania terkabul.


__ADS_2