
Kehebohan kemarin sore menjadi bahan pergunjingan di antara buruh petani sayur pak Marwan. Jika dilihat dari nada bicara mereka, nampaknya senang dengan kejadian kemarin itu. Tak heran karena Deni adalah sosok yang kurang disenangi akibat karakternya yang buruk.
Tak disangka sore ini, ada utusan khusus dari pegawainya pak Marwan berkunjung ke rumah Kania.
Ternyata Kania sekeluarga diundang makan malam.
Abah Kania semula menolak dan keberatan karena istrinya masih dalam masa pemulihan, namun keluarga pak Marwan telah menyiapkan segalanya termasuk transportasi agar orang tua Kania ikut serta.
..............................
Suasana rumah pak Marwan sangat sejuk, karena ada beberap ac yang dipasang.
Kursi tamu yang kokoh dan anggun menghiasi ruang tamu yang serasi warnanya dengan gorden dan lantai.
Kania sampai terkagum-kagum melihatnya, berbeda dengan rumahnya yang seadanya.
..............................
" Silahkan Kania, ayo Salim... makan! sengaja istriku masak untuk kalian."
Pak Marwan mengawali ajakan makan malam itu dengan senyum ramah dan basa-basi yang bersahabat.
Pak Salim dan istrinya malu-malu begitu juga dengan Kania, namun begitu, akhirnya mereka makan juga dengan canggung.
"Jang, ajak Deni makan, biar dia makan di luar! "
__ADS_1
Kata Pak Marwan kepada Ujang Pembantunya.
Deni pun keluar kamar dengan kursi roda, mukanya masih bengkak sisa dipukuli orang kemarin. Kania sampai ngeri melihatnya begitu juga dengan pak Salim dan istrinya.
"Tasya mana Tasya, suruh makan sama-sama juga,"
Seru pak Marwan kepada pembantunya Bik Eroh.
Keluar juga seorang gadis dari kamar dekat teras belakang. Kania terkejut melihat gadis itu, ternyata ia adalah gadis yang datang bersama Danang di acara Maulud minggu lalu.
"Oh tinggal di sini juga."
Bisiknya dalam hati.
Pak Marwan memperkenalkan gadis itu kepada Kania dan keluarganya.
Hati Kania tak karuan dan merasa bersalah, karena telah berprasangka buruk pada Danang.
"Danang sedang ke kota, ada urusan bisnis."
Kata pak Marwan menjelaskan meskipun Kania tidak bertanya seolah tahu isi hatinya dan kedua orang tuanya.
Makan malam pun usai
Kania bergegas membantu Bik Eroh, namun tidak diperbolehkan.
__ADS_1
" Sudah tidak Apa-apa si bibik saja yang mengerjakan."
Kata istri pak Marwan.
Kania menghentikan tangannya untuk bekerja.
Kania terkaget ketika Deni didorong masuk ke kamar.
Sekilas ia melihat gambar tato berbentuk pedang kecil terlihat di leher Deni.
Ia teringat gambar tato seperti itu pernah dilihatnya pada beberapa orang preman yang ada di pasar Kabupaten.
Kania tak bergeming melihat keanehan ini. Takut pak Marwan tidak merasa senang. Ia pun memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Namun perubahan wajahnya terbaca oleh istri pak Marwan, langsung disahuti dengan kata-kata yang penuh kemakluman terhadap keadaan anaknya itu.
"Iya bu."
Kata Kania menjawab.
Suasana pun menjadi tegang dan tidak mengenakan. Akhirnya Abah Kania pamit untuk pulang. Sebelum undur diri ia berterima kasih atas undangan makan malam ini.
Teka-taki apa yang sedang berlaku pada keluarga pak Marwan, hanya waktu yang dapat menyingkapkannya.
Kania berharap semoga Danang tidak seperti kakaknya itu. Di jamuan makan malam tadi Danang tidak hadir, ia pun semakin rindu setelah tahu bahwa gadis yang bersamanya ternyata sepupunya bukan kekasihnya.
__ADS_1
Menyesal rasanya telah berprasangka buruk seperti itu. Ia pun tidur di malam itu dengan hati yang merindu.