
Pertemuan langsung antara emak Kania, pak Salim serta Shodiq adik iparnya dengan Pak Toto tidak dapat dilaksanakan sesegera mungkin karena pak Toto belum bisa pulang ke Indonesia.
Namun pak Toto ingin sesegera mungkin bertemu dengan kedua adiknya itu.
Pengacara yang menjadi perantara pertemuan mereka memberikan solusi terbaik yaitu dengan dipertemukan melalui video call.
Emak Kania setuju dengan usul pengacara tersebut. maka dibuatlah janji agar mereka dapat saling bertemu meskipun melalui jaringan ponsel.
......................
"Halo... !!! ,"
suara pak Salim cukup kuat terdengar namun dari pihak pak Toto yang ada di Amerika belum dapat mendengar meskipun gambarnya sudah terlihat.
Belum lagi ponsel itu dipegangnya, emak Kania sudah mengalirkan air mata, dia memandang kakak tirinya itu dengan hati yang hancur.
Tak disangka kebencian yang selama ini dipendamnya hilang lenyap seketika digantikan dengan rasa kasihan yang mendalam, karena kakak tirinya itu terlihat sangat lemah, tergolek di tempat tidur rumah sakit hanya ditemankan oleh seorang gadis.
" Kang... Kang Toto, kenapa sampai sakit begini kang,"
Emak Kania tidak dapat menahan kesedihannya, dikembalikan lagi ponsel itu kepada suaminya.
Pak Toto hanya bisa melambaikan tangan dan terlihat air matanya pun berlinang di atas pipinya yang sudah keriput.
__ADS_1
Pertemuan tiga bersaudara ini mengembalikan tali kasih sayang yang sudah lama terputus.
Akhirnya Seshia mengambil alih pembicaraan, ia memohon maaf kepada kakek neneknya atas semua prilaku yang telah dilakukan oleh opanya di masa lalu.
Segala keputusan yang ada dalam surat wasiat buyutnya akan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sesuai aturan yang berlaku.
.......................
Seshia memutuskan pulang ke Indonesia setelah opanya meminta dengan sangat agar secepatnya dapat memberikan hak adik-adiknya yang selama ini hanya ia dan keluarganya yang menikmatinya.
Pak Toto menyadari bahwa perilakunya selama ini mendatangkan berbagai masalah dalam kehidupannya.
Dengan kehilangan istrinya karena kanker, anaknya semata wayang karena kecelakaan, hancurnya rumah tangga anaknya, itu semua karena kondisi psikologis dirinya yang pada saat itu masih egois dan tamak.
Namun setelah berbagai cobaan yang dilaluinya, pak Toto merasa bahwa cobaan itu adalah teguran dari yang Maha Kuasa.
" Baiklah pak, saya serahkan semua prosedurnya kepada bapak, opa pesan agar semua prosesnya dipercepat agar kakek nenek saya yang ada di sini lekas dapat menikamati warisan dari orang tuanya."
Begitulah hasil musyawarah secara kekeluargaan mengenai pembagian harta warisan keluarga pak Toto.
..........................
Harta yang didapat oleh emak Kania dan adiknya Shodiq tidak sedikit, oleh karena itu pak Salim dan istrinya memutuskan untuk membeli rumah yang lebih layak dari rumahnya yang sekarang.
__ADS_1
Keluarga pak Salim memutuskan untuk meninggalkan desa Ratapan, ia ingin membuka usaha di tempat lain.
Sore itu di rumak Kania
"Neng..sini!, abah mau bicara,"
Sore itu pak Salim memanggil Kania untuk membicarakan sesuatu.
" Baik bah.. sebentar ini tanggung, lagi buat teh."
Kania tidak lekas datang karena sedang membuat teh untuk semua anggota keluarganya.
"Neng, bagaimana kalau kita pindah dari desa ini? "
Kania senyum tidak percaya.
"Mau pindah kemana baah?"
Abah dan emaknya pun tersenyum.
"Abah ada rencana pindah dari desa ini, mau buka usaha di tempat lain."
Kania semakin bingung, ia pikir bercanda abahnya berlanjut untuk menggoda dirinya.
__ADS_1
Emak Kania tidak ingin anaknya bingung berkepanjangan, ia pun menceritakan semua peristiwa yang terjadi dalam waktu dua minggu ini.
Alangkah bahagianya Kania mendengar kabar bahagia itu. Namun di lubuk hatinya yang terdalam ia merasa sedih karena akan meninggalkan desa Ratapan yang berarti bahwa ia akan berpisah dengan orang yang disayanginya selama ini.