Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Penyakit Deni Kumat Lagi


__ADS_3

Deni menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur karena merasa lelah.


Sedangkan tempat tidur itu hanya cukup untuk badannya, dikarena berukuran sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi dan berisi, hingga terasa akan terjungkal karena tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan.


"Huuuh... lelah sekali hari ini, " ia menggerutu sendiri.


Aktivitas hari ini memang sangat padat, setelah mengantar Rafli ke sekolah ia harus mengantar nyonya rumah ini pergi ke pasar.


Belum lagi arisan sekaligus dua tempat. Sangat menguras tenaganya, bukan masalah cape badan saja tapi cape hatinya juga, karena setiap kali ia bertemu dengan petugas keamanan jantungnya akan berdebar karena takut ditangkap, begitulah nasib seorang buronan.


Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu dan memanggil namanya,


"Tok-tok-tok,"


"Mas, Mas Herlambang! "


Deni pura-pura tidak mendengar, ia memejamkan matanya, suara panggilan itu pun berhenti.


Akhirnya karena cape, ia benar-benar tertidur.


...........................


Tuan rumah sedang berada di ruang tamu, suami nyonya rumah itu sudah datang sedari sore tadi. Biasanya ia pulang tengah malam, mungkin mereka akan pergi ke suatu tempat, terlihat barang bawaan yang sudah siap dan rapih.


Deni tidak banyak bicara, ia hanya memperhatikan barang-barang itu, nyonya rumah sepertinya mengerti dengan yang ada di dalam hati Deni, lalu ia berkata,


"Kami akan pergi ke luar kota malam ini, keluarga ayah Rafli ada acara, Mas Herlambang di rumah saja jaga rumah! "


Deni tidak menjawab ia hanya mengangguk.


Rafli nampak senang akan berjalan dengan kedua orang tuanya, ia pun sudah dekat dengan Deni.


Deni berusaha dekat dengan Rafli untuk memberi kesan ia menyayangi anak-anak.


"Om ikut aja om! " Rafli mengulang kata Itu beberapa kali, Deni membujuk Rafli supaya menurut pada ibunya.


"Nanti om ikut ya, sekarang om di rumah dulu jaga rumah Rafli. "


Akhirnya Rafli diam tidak merengek lagi.


Setelah mereka berangkat suasana rumah menjadi sepi. Tinggal Bik Minah yang ada di belakang sedang membereskan meja makan.


Deni pergi ke ruang dapur, perutnya terasa lapar, Bik Minah mengerti kalau Deni ingin mengisi perutnya. Karena sejak siang tadi, ia masih tidur ketika dibangunkan olehnya.


" Makan Mas, ini lauknya," Bik Minah membuka tudung saji, menunjukkan juga lauk yang masih tersedia di penggorengan.

__ADS_1


Deni tidak menolak lagi, karena perutnya memang benar-benar lapar.


"Haah... nikmatnya perut lapar ada nasi sama lauk, up. "


Deni menghentikan pemikirannya, otaknya masih juga cerdas.


Ia menyimpulkan bahwa selama ini memang nikmat yang ia dapatkan sangatlah besar. Tak pernah ia menahan lapar seperti sekarang, menelan air liur ketika tuan rumah memakan sesuatu.


Setelah makan Deni membereskan meja makan, hal yang tidak pernah dilakukannya sewaktu di rumahnya dulu, bersama ibu dan bapaknya.


Biar pun hatinya menggerutu tapi ditahannya jangan sampai marah atau uring-uringan. Di sini ia harus menjaga kewarasannya. Kalau tidak maka identitasnya akan terbongkar.


.........................


Malam semakin larut, lolongan anjing pun menghiasai suasana. Deni tak bisa memejamkan matanya. badannya kedinginan, seperti diberi es.


Deni mencoba meraih selimut yang ada di bawah kakinya tapi tak bisa, badannya seolah beku untuk bergerak.


Sambil merayap, ia keluar kamar menuju ke dapur hendak mengambil air minum.


Tiba-tiba Bik Minah keluar dari kamarnya sambil mengucek matanya lalu bertanya, "kenapa mas kedinginan? " Deni tidak menjawab ia hanya menunjuk ke dispenser, minta tolong Bik Minah mengambilkannya.


Dengan cekatan Bik Minah mengambil air panas dari dispenser, Deni langsung meminum air itu, lalu ia masuk lagi ke dalam kamar.


..........................


Seperti orang yang mengigau Deni keluar kamar, membuka pintu dapur dan berjalan menuju halaman belakang rumah itu yang tak dijaga oleh satpam.


Alam bawah sadarnya mengajak ke suatu tempat dimana di sana ada seorang laki-laki yang sedang menunggu dirinya.


Sedangkan alam sadarnya mencegah ia untuk pergi dan berjalan tak karuan. Ada bisikan dalam dirinya,


" Deni, sadar Deni, berhenti Deni, itu bukan dia yang kau maksud, itu halusinasi, Deni....balik ke rumah itu! "


Tapi langkahnya semakin jauh, kakinya terasa berat, orang itu ada di sana, sedang menunggu dia.


Air mata Deni meleleh ketika ada dua kekuatan yang mengendalikannya. Akhirnya di sisa tenaganya yang terakhir ia terjatuh dan tak sadarkan diri.


..........................


Asap mengepul dari tungku yang sedang dipakai merebus air oleh seorang kakek tua, nampaknya ia hidup sebatang kara.


Dinding rumah yang dihuni oleh kakek ini sudah banyak yang berwarna coklat, mungkin sudah lama tidak diganti dan sering terkena paparan sinar matahari dan asap dari perapian tungkunya.


Banyak penampi berjajar di dapurnya.

__ADS_1


Penampi itu berisikan daun-daun kering yang ia cari di sekitar rumahnya atau dicarinya ke dalam hutan yang ada di sekitar kediamannya.


Tubuhnya yang sudah bungkuk membawa air ramuan yang sudah didinginkannya sedari subuh tadi.


" Bangunlah anak muda? "


Dengan penuh perhatian ia membangunkan seorang pemuda yang terbaring lemah tak berdaya.


Pemuda itu hanya menggeliatkan tubuhnya. Seperti masih lemah karena penyakit yang dideritanya.


Akhirnya pemuda itu dapat membuka matanya yang masih pedih akibat terkena angin malam dan debu yang menempel.


" Minum ini dulu anak muda! "


Pemuda itu mencoba bangun dan meminum ramuan yang diberikan oleh kakek itu. Ia terduduk dan mengumpulkan tenaga untuk bangkit.


Memang mujarab ramuan itu, sebentar saja, pemuda itu merasa segar dan sehat.


" Kalau sudah segar mandilah! supaya badanmu tidak kotor dan bau, aku menemukanmu di tepi hutan yang basah dan berlumpur."


Deni berusaha bangkit dari tempat duduknya, ia ingin segera mandi dan membersihkan diri. Aroma tubuhnya sungguh tak sedap terhirup oleh hidungnya.


"Kereket... "


Suara pintu dapur itu berbunyi, menandakan rumah ini sudah lapuk, hampir tak jadi Deni membukanya. Ia mundur beberapa langkah. Sampai kakek tua itu menegur.


"Kenapa, bukalah pintu itu, enggak akan roboh kok, memang bunyinya begitu, "


Deni kaget dengan perkataan kakek tua yang setengah membentaknya. Benar saja pintu itu tidak kenapa-napa ketika dibuka.


Air yang disiramkan ke tubuh Deni sangat dingin seperti es, tubuhnya hampir tak bisa bergerak, tapi dipaksakannya agar sampai ke rumah kakek tua itu dengan harapan mendapatkan minuman hangat yang dapat memanaskan tubuhnya.


Jarak tempat ia mandi dengan rumah kakek tua itu cukup jauh sekitar 300 meter, rasa putus asa mendera diri Deni karena dingin yang menghantam tubuhnya.


Kakek tua itu menunggu Deni di depan pintu gubuknya, ia terkekeh melihat Deni yang kedinginan.


"ekh.. ekh.. ekh. "


"Kenapa anak muda kamu kedinginan? darahmu tidak normal makanya kedinginan begitu."


Kakek tua itu terkekeh lagi ketika Deni melewati badannya yang menghalangi pintu.


Deni tak bisa memberikan perlawanan atas olokan kakek tua itu, ia hanya meringis dan tersenyum sedikit dengan menyunggingkan bibirnya yang tampak biru.


......................

__ADS_1


__ADS_2