
" Danang memarkirkan mobilnya pas di depan pekuburan umum, ia menitipkan mobilnya ke salah satu penduduk yang rumahnya berada di sekitar situ.
Tanah pekuburan ini letaknya sangat strategis, meskipun di pinggir kota namun masih ramai dengan lalu lalang kendaraan dan ramainya rumah penduduk yang ada di sekitarnya.
Siapa pun orang yang hendak berziarah, kedatangannya akan terlihat, berhubung lokasinya tidak ditutupi oleh pohon-pohon yang besar dan pekuburan ini tidak ada kesan angker atau menyeramkan.
Sebentar kemudian, mobil Seshia terlihat muncul dari arah jalan sebelah kiri, Danang beserta keluarganya menghentikan langkahnya untuk menunggu kedatangan mereka.
"Seshia... "
Bu Marwan mendahului menyapa anak tirinya, lalu Seshia menyambutnya dengan senyuman dan mencium tangan. Keduanya terlihat sangat bahagia karena hati mereka sudah dipersatukan dalam bingkai kasih sayang dan saling memaafkan.
Mereka berkumpul menunggu Deni, tapi orang yang ditunggu tidak datang, padahal Seshia sudah menelpon langsung dan memberi kabar lewat nomor wa dengan tanda terkirim. Akhirnya mereka masuk ke tanah pekuburan tanpa kehadiran Deni.
Setelah selesai mendoakan ahli kubur terkhusus untuk Feri ayah Seshia dan Deni, mereka langsung menuju ke mobil masing - masing untuk kembali pulang ke rumah.
" Kamu mainlah ke rumah kalau enggak sibuk! "
Bu Marwan menawarkan Seshia untuk datang ke rumah sebelum kakinya naik ke atas mobil.
" Iya bu, InsyaAllah saya nanti main, " jawab Seshia masih canggung kepada ibu tirinya itu.
Bu Marwan melanjutkan perkataannya, " minggu depan ya...!"
Seshia menjawab dengan mengangguk lalu keduanya berpisah.
Waktu pun berjalan akhirnya kedua mobil itu telah pergi dan tidak kelihatan lagi.
......................
Dari arah kanan jalan, terlihat sebuah mobil berwarna hitam melaju agak cepat, rupanya mobil itu parkir di depan pekuburan juga.
Sepatu orang yang turun dari mobil itu berwarna hitam mengkilat, ia memakai baju koko berwarna putih dan berpeci hitam. Tampak serasi dengan wajah dan postur tubuhnya. Di sebelahnya ada juga seorang laki-laki yang menemani, mungkin ia teman atau anak buahnya.
Karena cuaca cukup panas maka mereka berdua berjalan agak cepat.
" Memang sudah tahu kuburannya yang mana? "
Laki-laki sebelahnya bertanya untuk meyakinkan bahwa mereka tidak tersesat, berhubung waktu sudah menunjukkan jam 10 siang.
"Sebentar, " orang itu merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel, kemudian ia menghubungi seseorang.
" Lewat sini, " orang itu mengarahkan kakinya ke sebelah kanan, ternyata kuburan yang dicarinya tepat sesuai dengan nama yang terdapat pada batu nisannya.
__ADS_1
Orang itu membungkukkan punggungnya lalu bersila, cukup lama ia berada di depan makam itu, mungkin banyak doa yang dipanjatkan kepada orang yang menghuni di dalamnya.
" Ayo kita pulang, bisnis sudah menunggu!"
Tak berapa lama mereka sampai di depan ruko dimana mobil mereka diparkirkan, setelah siap di tempat duduk masing-masing mereka pun meninggalkan tempat di mana harta tak lagi berharga.
........................
Ruangan tamu yang tidak begitu luas itu nampak kotor, meja berdebu dan banyak sisa rokok dan cangkang makanan yang berserakan.
Penghuni rumah ini baru saja datang, ketika masuk ke dalam kamar ia langsung membaringkan tubuhnya dengan kuat, seperti ada kekesalan dalam hatinya.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"tok - tok - tok. "
Iya langsung menjawab,
"iya masuk!"
Ternyata yang masuk itu orang yang menemaninya berziarah kubur.
"Ada apa Yan, " nama temannya itu Ryan. Ia adalah sahabat yang setia sejak dari kampung halaman orang itu, Ryan selalu menemani dalam urusan bisnis yang dijalankan, tapi sayang bisnisnya bertentangan dengan hukum.
Orang itu ternyata Deni, Ia terperanjat dan bangkit dengan posisi duduk.
"Apa? "
Ryan langsung menjawab, " Iya Den, ini gawat, anak itu hebat sekali, manuver-manuvernya menurut kabar sangat hebat dan memukau, ia tidak takut mati apalagi terjatuh. "
Deni mengernyitkan keningnya lalu berkata, " bisa kalah lagi kita, yang lalu saja hutang kita belum terbayar, kapan ada event lagi Yan? "
Ryan mengeluarkan ponselnya lalu menjawab, " eeh... dua minggu lagi Den. "
Deni hampir terjatuh ketika bangun dengan terburu-buru, untung kakinya bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia bermaksud ingin cepat keluar dan mencari sesuatu.
Ketika Deni membuka laci meja yang ada di ruangan tamu dengan tangan yang agak gemetar, Ryan sudah tahu kalau temannya itu belum meminum obat yang biasa dikonsumsinya.
Deni masuk lagi ke dalam kamar, setelah badannya terasa nyaman Deni pun tidur dengan pulas.
........................
Adzan Ashar berkumandang, suaranya yang kuat tidak bisa membangunkan Deni yang tertidur pulas.
__ADS_1
Ryan temannya berusaha membangunkan Deni karena ada tamu yang hendak berbicara langsung mengenai bisnis yang mereka jalankan.
"Den, Deni, Deni, " Ryan mengguncang badan Deni, Deni hanya merubah posisinya.
Akhirnya Ryan menyerah, ia bersedia untuk menjadi perantara pesan yang harus disampaikan.
" Begini aja ya bang, bilangkan barang itu sudah ada, " itu saja pesannya tidak berpanjang lebar, tamu itu pergi keluar dengan wajah yang tidak puas.
............................
Tengah malam yang gelap, tidak terdengar suara apa pun kecuali bunyi tikus dan cecak, malam sudah menghabiskan sepertiganya, di luar sana sudah ramai orang yang mengajukan proposal kepada Tuhannya, namun Deni baru terbangun dari tidurnya yang sangat pulas.
Biasanya Deni tidak bisa tidur cepat, baru setelah lelah ia dapat memejamkan matanya itu pun sering terbangun, namun setelah ia mengkonsumsi obat yang dalam sebulan ini dibelinya, tidurnya sangat nyenyak tapi lamanya tidak sesuai ukuran bisa tidur dua hari dua malam.
Akhirnya ia kecanduan dengan obat ini.
"uaakhh....," Deni menggeliatkan tubuhnya, ia hendak pergi ke dapur untuk membuat kopi.
Tapi ketika ia berjalan gerakan tikus yang lari ke atas menghentikan langkahnya, Deni sangat kesal sekali dengan kondisi rumahnya yang kotor. Tikus sering bertandang ke bawah, tapi ia tidak bisa membersihkan rumahnya itu. Mungkin karena tidak terbiasa bekerja.
Kopi itu jadi juga dibuatnya, Deni duduk di kursi kayu yang sudah banyak bagian yang pecah karena dimakan rayap, hatinya menerawang ke tempat tinggalnya yang nyaman bersama ibu dan bapaknya serta adiknya Danang.
"Sruuuupt"
Deni menyeruput kopi, memorinya berjalan dan satu persatu menampilkan orang-orang yang selama ini selalu mendampingi dan memperhatikannya.
"Ibuuu.... "
Ada bulir air mata di sela-sela matanya.
"Maafkan Deni bu.. sudah mengecewakan ibu.. "
Kemudian ia melanjutkan meminum kopi, sambil pikirannya melayang kemana-mana.
"Seandainya ibu berterus terang lebih awal, " Deni menghentikan bisikan hatinya itu, ia tidak mau memikirkan hal itu lagi.
"Pak Toto... "
Memorinya membayangkan kakeknya Pak Toto.
"Sebegitu bencinya kah Pak Toto pada ibu sama aku? aku salah apa Pak Toto, sampai tidak ingin mempertemukan aku dengan ayahku sendiri."
Malam yang sepi itu menemani Jiwa Deni menjelajah alam pikirannya, melintasi lorong waktu yang sudah berlalu.
__ADS_1
........................