Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Mengobati Mindset Buruk


__ADS_3

Deni duduk termangu di dalam terali jeruji penjara, ia sedang memikirkan sesuatu. Tangannya mengepal, matanya memerah, namun tak ada yang tahu apa penyebabnya.


"Kalau Pak Toto, akh... ," itu saja yang keluar dari mulutnya sambil berbisik.


"Hei Deni, ngapain lu melamun? " tiba-tiba teman satu selnya bertanya.


Deni hanya menoleh tidak semangat untuk menjawab, ia menuju ke sudut ruangan itu lalu duduk.


Sambil memegang kepalanya ia menjambak rambutnya, seperti ada kekesalan yang mendalam dan tak bisa dikeluarkan dari dalam hatinya.


" Oh Deni, jangan kesal terus, ayo makan, biar siang ini bisa ngumpul di aula, ada acara tuh!"


Geram hati Deni dengan ocehan temannya, ia tidak semangat untuk makan apalagi ikut kegiatan siang ini, lebih baik ia tidur.


" Bising ah, aku mau tidur!!"


Untung teman-temannya baik dalam ruangan itu, mereka pun hanya membiarkan Deni yang nyelingker tidur di sudut ruangan.


.............................


Pak Marwan tidak tinggal diam, meskipun Deni anak sambungnya, ia sangat memperhatikan kepentingan dan kebahagiaan Deni.


Seperti pagi itu, setelah briefing pagi ia langsung keluar ruangan aula dan menuju ke kantornya.


Ponsel yang sedari tadi dipegangnya, akhirnya digunakan juga untuk menelpon, ia bermaksud menghubungi seseorang.


"Halo Pak Harun... bagaimana kelanjutan pembicaraan kita kemarin?"


Dari tempat Pak Harun rupanya sinyal sedang lemah jadi belum terdengar jawaban apa-apa.


Tulisan hubungi ulang pun tercantum, akhirnya mereka sepakat untuk bertemu langsung dua hari yang akan datang.


..........................


Ruang kantor ini tertata rapi, Pak Marwan mencari ruang yang tercantum dengan nama Pak Harun. Oh rupanya ada sebuah ruangan dengan pintu yang mencantumkan nama, "Dr. Harun Ar-rasyid, S Psi. M. Psi.". Mungkin ini ruangannya, pikir Pak Marwan.


"Silahkan masuk pak! " begitu terdengar suara orang dari dalam ruangan itu, Pak Marwan pun membuka pintu dan ternyata memang benar orang yang dimaksud.


"Senang sekali berjumpa dengan Bapak," dengan ramah Pak Harun yang ternyata seorang psikiater itu menyambut Pak Marwan dengan tangan terbuka.


Pak Marwan sangat senang sekali disambut demikian ramahnya, tak disangka yang tadinya ia berpikiran lain terhadap Pak Harun itu ternyata, bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya.


"Pak Marwan saya akan berusaha sebaik mungkin agar anak bapak dapat kembali lagi Mindsetnya seperti sedia kala, " demikian pemaparan awal dari Pak Harun.


Sambil merenung Pak Marwan berusaha memahami ucapan Pak Harun.


"Maaf pak, maksud keadaan awal ini bagaimana? " Pak Marwan mengutarakan ketidakmengertiannya.

__ADS_1


"Mohon maaf pak, dari hasil tes kejiwaan terhadap Deni, ia mengalami stress yang berkepanjangan akibat merasa kehilangan, jadi mindsetnya terhadap keluarga kurang baik, jadi itulah yang akan kami perbaiki."


Pak Marwan manggut-manggut sambil membetulkan tempat duduknya lalu bertanya sesuatu,


"Apakah sudah ada komunikasi awal dengan anak saya sehingga bapak menyimpulkan begini? "


Pak Harun bangun dari tempat duduknya, lalu ia membuka berkas yang ada dalam lemari yang ada di belakang meja kerjanya.


"Ini hasil wawancara dengan anak bapak, semua terekam di sini. Kami mengamati dan menilai bahwa anak bapak memang memiliki trauma di masa lalu. "


Pak Marwan termenung, ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi, hanya bertanya dalam hatinya trauma apa yang dialami oleh Deni anak sambungnya itu.


"Oke, baik Pak Marwan, kami akan berusaha lagi mengorek semua keterangan dari anak bapak agar semuanya jelas benang merahnya sehingga kami akan segera dapat menyelesaikan akar masalahnya. "


Pak Marwan paham artinya pertemuan mereka memang harus berakhir, karena di luar sudah bamyak klien yang datang untuk berkonsultasi.


...........................


Bik Eroh sedang membereskan ruangan keluarga, tiba-tiba Bu Marwan memanggilnya,


"Bik, bik, lihat kain sarung bapak warna putih enggak? "


Bik Eroh langsung menjawab, " ada bu di atas mesin jahit, barusan saya simpan. "


Bu Marwan pun menuju ke tempat itu sambil berkata, " untung udah bersih, ini yang dicari bapak kemarin bik. "


Sebentar kemudian terdengar suara mobil, yang tidak asing lagi bagi penghuni rumah itu.


"Bapak, gimana pak hasil pertemuan dengan Pak Harun? "


Pak Marwan hanya terdiam, mungkin masih lelah selepas perjalanan jauh.


Bu Marwan tidak melanjutkan pertanyaannya, ia berjalan ke belakang untuk mengambil minuman.


"Ni pak minum dulu, ibu juga lagi menghangatkan sayur barang kali bapak mau makan. "


Pak Marwan tidak berbicara apa-apa, ia hanya terdiam sambil melepas kaos kakinya, lalu minum air putih yang disajikankan oleh istrinya.


"Bapak mau mandi air hangat bu, tolong jerangkan air, tadi hujan sepanjang jalan."


Dengan gesit Bik Eroh pergi ke dapur, setelah mendengat permintaan majikannya kepada istrinya.


" Masuk angin kali bapak nih, sebentar ibu buatkan teh hangat. "


"Enggak usah bu, nanti saja, bapak mau mandi dulu. "


Pak Marwab menolak uluran tangan kebaikan istrinya, karena ia ingin membersihkan badan terlebih dahulu.

__ADS_1


Begitu semangatnya Bu Marwan ingin mengetahui keadaan anaknya, sehingga siang menjelang sore ini Pak Marwan mendapatkan pelayanan yang prima dari Bu Marwan.


"Bapak sudah lapar belum, ibu sudah buat lauk kesukaan bapak"


Pak Marwan hanya melirik kepada istrinya, tumben-tumbenan istrinya begitu ramah, biasanya sangat mengandalkan Bik Eroh.


"Iya bu, siapkan saja, nanti kalau bapak sudah mandi, bapak makan semuanya, " sambil ngeluyur ke kamar mandi Pak Marwan mengomentari tawaran istrinya itu.


........................


"Jadi bagaimana pak kata Pak Harun itu, bisa enggak Deni dipindahkan ke lapas kecamatan kita? "


Sebentar Pak Marwan tertegun, rupanya sedari tadi istrinya itu ingin tahu informasi tentang Deni masalah bisa dipindahkan atau tidak.


"Bu...., Deni itu masih perlu perawatan bukan hanya badannya tapi jiwanya juga, " perlahan Pak Marwan memberu pengertian pada istrinya.


"Maksud bapak apa? "


Bu Marwan mulai menunjukkan kekecewaannya.


"Di lapas sana sudah ada psikiater yang menangani selain dari pengacara."


Bu Marwan masih belum mengerti maksud suaminya itu.


"Memangnya tidak boleh dipindahkan pak? "


Suara Bu Marwan mulai meninggi.


"Bukan enggak boleh, tapi anak kita itu rupanya sudah mengenal baik psikiater itu," Bu Marwan mulai memahami sedikit.


"Siapa pak psikiater itu? "


Pak Marwan langsung menjawab, "Pak Harun namanya. "


Bu Marwan manggut-manggut sembari melayani suaminya yang siap untuk makan di sore itu.


Masih ada lagi pertanyaan yang muncul di benak Bu Marwan, ia pun segera mengajukan pertanyaan, "sejak kapan anak kita kenal dengan Pak Harun itu pak? "


Tidak sabar rupanya istri Pak Marwan ini, meskipun terlihat jelas suaminya sedang mengunyah makanan, untung saja Pak Marwan orangnya sabar, dengan perlahan sambil menelan makanan Pak Marwan menjawab,


"Ceritanya panjang bu, nanti bapak kisahkan dengan panjang lebar ya... yang penting.., "


Bu Marwan langsung bertanya lagi, "yang penting apa pak? "


"Yang penting ke depannya ibu harus sabar mengarahkan Deni, supaya dia lupa dengan kisah masa lalunya. "


Barulah Bu Marwan terdiam, tidak bertanya lagi. Ketika dilihat istrinya termenung dan menghentikan makannya Pak Marwan pun berkata,

__ADS_1


"Sudah sekarang makan saja jangan banyak pikiran, nanti minggu kita jenguk Deni lagi ke sana! "


__ADS_2