
Suasana rumah Pak Toto menjadi ramai, karena adanya acara syukuran penyambutan kedatangannya dari Amerika.
Keluarga Pak Marwan pun datang semua, termasuk keluarga Pak Salim namun Kania tidak tampak dalam rombongan keluarga itu.
Mata Danang mencari sosok yang sangat dirindukannya namun tak kunjung ditemukan, tetapi ia tidak berani bertanya takut nanti diketahui isi hatinya, maklum selama ini belum ada perjanjian apa-apa apalagi janji hati. Jadi ia hanya terdiam dalam kecewa.
Terlihat juga disudut sana Deni duduk sendiri tidak ada yang menemani, Seshia berusaha menjauh ketika didekati, ia hanya mendampingi opanya agar tetap bisa duduk di kursi dalam keadaan tenang.
Sikap Seshia yang selalu menjauh dari Deni, membuat hati Deni bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi, karena selama ini ia selalu menyayangi kekasih hatinya itu.
Setelah tamu undangan datang semua dan menikmati hidangan ala taman, mereka mencari tempat duduk sendiri-sendiri, akhirnya Pak Toto minta perhatian hadirin untuk sekedar mendengarkannya.
Para hadirin tidak sungkan untuk duduk dekat dengan Pak Toto karena wajahnya terlihat ramah dan bersahabat.
Mulailah Pak Toto berbicara dengan mengucapakan salam, kemudian melanjutkan dengan kalimat yang sangat memiris hati, yang ditujukan untuk keluarga pak Salim dan pak Marwan.
"Terima kasih atas kehadiran saudara-saudaraku sekalian, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan buat saya, karena sudah satu minggu saya berada di rumah setelah berobat lama di Amerika."
__ADS_1
Pak Toto menghela napasnya sembari menelan ludah, kemudian melanjutkan pembicaraannya kembali.
"Saya adalah orang yang banyak melakukan kesalahan di masa lalu, oleh karena i itu saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kedua keluarga yang telah saya rugikan dan saya sakiti selama ini."
Mulailah hadirin tercengang dan memandang ke arah pak Toto yang sedang berbicara, sebelumnya mereka tertunduk semua.
Kemudian Pak Toto melanjutkan lagi pembicaraannya
"Ketika saya terkena serangan jantung, sebelumnya saya menemukan sebuah surat yang ditulis oleh anak saya, setelah beberapa bulan ia meninggal."
Tangan pak Toto merogoh sapu tangan dari sakunya, untuk menyeka air mata yang menetes dari sela-sela matanya.
Perhatian pun kembali ke Pak Toto ketika ia melanjutkan pembicaraannya.
"Ketika di Amerika saya menganggap bahwa saya tidak bisa kembali lagi ke Indonesia."
Pak Toto menghentikan lagi pembicaraannya, ia masih ingin meredakan emosinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, dengan ijin Allah, saya dipertemukan dengan seorang pasien dari Mesir yang juga menderita penyakit jantung."
Kali ini Pak Toto kelihatan senang dengan pertemanan di Amerika itu, terlihat dari wajahnya yang sumringah dan gaya bicaranya jadi bersemangat.
"Beliau memberikan pencerahan kepada saya, bahwa rasa optomis itu perlu untuk dimiliki agar kita dapat memperbaiki diri."
Wajah Pak Toto tertuju ke keluarga Pak Salim, terutama istrinya dan adiknya Shodiq.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesombongan saya di masa lalu, yang sudah menyebabkan kesengsaraan bagi kedua adik saya."
Bu Salim maju ke depan beserta adiknya Shodiq, mereka merangkul Pak Toto dengan penuh haru dan maaf, kebencian yang selama ini tersimpan sudah sirna diganti oleh rasa saling menyayangi.
"Kami juga minta maaaf kang, selama ini sudah berburuk sangka pada akang, kami menyangka kalau akang tidak akan pernah berubah. Ternyata benar yang bolak balikan hati adalah Allah. Tinggal kita mendoakannya."
Bu Salim menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan adiknya itu.
Akhirnya Pak Salim maju ke depan lalu mengangkat tubuh istrinya, ia merasa bahwa pelukan mereka sudah cukup.
__ADS_1
Pak Salim ingin memberi kesempatan kepada Pak Toto untuk melanjutkan pembicaraannya lagi.