
Deni menyadari jika peraturan dalam balap motor yang diadakan dua hari yang lalu itu sangat berat, meskipun demikian si pengendara bertekad untuk menghadapi segala rintangan, dikarenakan hadiahnya yang cukup besar.
Tak heran jika segala cara ditempuh oleh si pembalap agar mendapatkan poin yang banyak.
Tetapi karena yang mengikuti balap ini adalah remaja dan belum tahu yang akan ditanggung jika gagal dan terjatuh akibatnya akan sangat parah.
Peraturan yang sangat berat itu tetap diterapkan karena tidak ada protes dari peserta. Seperti Sukma yang sekarang sudah tiada.
Sukma tidak bisa tertolong lagi akibat dari luka-luka yang dideritanya.
Ini hari pertama Sukma meninggal, seluruh keluarga merasa kehilangan, terlebih ibu dan ayahnya. Mereka menangis histeris, membuat yang hadir disitu merasa pilu, termasuk Deni yang diam-diam menghadiri pemakaman Sukma.
Deni datang dengan menyamar, bawah hidungnya ditambah kumis, pipi sebelah kiri ditambah tahi lalat. Ia berpenampilan seperti orang susah. Harapannya tidak ada yang mengenal dirinya.
Deni datang ke pemakaman itu untuk menghormati Sukma yang sudah berusaha memenangkan tim yang dipimpin olehnya, namun nasib berkata lain.
Deni menyadari bahwa ada yang sedang mengincarnya baik dari pihak geng panah beracun, pihak keluarga Sukma maupun polisi. Oleh karena itu ia harus tetap waspada.
Deni tidak banyak bicara di pemakaman itu, ia turut bersila di tikar yang sudah disiapkan oleh keluarga ketika jenazah akan ditalqinkan. Wajah Deni tertunduk dan matanya hanya fokus ke bacaan doa.
Selesai menalqinkan jenazah, hadirin pun bubar, termasuk Deni. Ketika ia berjalan hendak keluar pemakaman, tiba-tiba ada orang yang berbicara dengan sesamanya,
" Kita kejar saja ketua panitianya, minta ganti rugi. "
Begitu terdengar oleh Deni.
Deni melambatkan jalannya, ternyata mereka membicarakan hal lain, bukan mengenai kecelakaan yang baru dialami.
..........................
Terik matahari membakar kulit muka, begitu juga dengan tenggorokan yang mulai berteriak minta disiram air minum.
Kebetulan ada warung di depan pekuburan itu, Deni yang sedari tadi menahan haus singgah di warung itu. Ia tidak dapat menahan hausnya.
Ketika air minum tinggal separuh, datanglah tujuh orang yang berpakaian agak kotor. Rupanya para penggali kubur. Mereka ingin juga minum es.
Deni tidak menghadap kepada mereka, ia duduk membelakangi mereka, namun apa yang diucapkan oleh mereka terdengar jelas.
"Kata keluarganya, si Sukma teh positif pakai obat waktu balapnya."
Yang lain ada yang menyahut, "pantes ugal-ugalan begitu."
Sebagiannya lagi menyahut dengan kata, "heueuh.. kalau begitu sih, makanya jangan ugal-ugalan. "
Deg...
__ADS_1
Hati Deni bergetar, siapa yang sudah memberi Sukma obat, pertanyaan dalam hatinya berkelana membayangkan orang-orang yang mungkin melakukannya.
"Ryan..??? "
Pertanyaan itu mengusik hatinya, kenapa Ryan memberi obat ke Sukma padahal ia tidak menyuruhnya.
Kemudian pembicaraan para penggali kubur itu diakhiri dengan perkataan bahwa pihak keluarga akan mengejar panitia pelaksananya.
Perasaan Deni ketakutan karena tinggal ia yang belum ditangkap polisi. Ia bingung harus berlari kemana?
..........................
Suasana terminal antar kota ini sangat ramai, letaknya pas di perempatan dengan tujuan daerah yang berbeda.
Deni mempercepat langkahnya, ia sudah membeli tiket untuk tujuan ke kota lain sekitar laut selatan.
Wajah Deni tetap dengan penampilan yang berbeda, penambahan kumis dan tahi lalat serta topi yang menutupi kening, pakaian ala orang susah.
Dalam pelariannya ini Deni tidak tahu kemana tujuannya dan untuk apa pergi ke sana. Ia hanya ingin menghindari penangkapan polisi.
Selain itu ia juga menghindari geng lawannya yaitu panah beracun, karena sebagian besar keuntungan balap motor kemarin sudah diambil dari tangan kasir yang menjaga loket.
Memang banyak musuh itu tidak nyaman, pergi kemana pun takut ada yang mengejar. Seperti kejadian tahun lalu Deni diculik dan dipukuli oleh orang tak dikenal. Mungkin mereka adalah anak buah geng lawannya yang merasa dirugikan oleh ulah Deni.
Padahal waktu itu Deni baru bangun tidur akibat pengaruh obat yang dikomsumsinya, namun kesadarannya belum bisa pulih seratus persen.
.............................
"Pakai lengkap! "
Tegas dan singkat sekali pembeli itu menjawabnya.
Ternyata Deni sudah sampai di daerah pesisir pantai laut selatan. Ia ke sini bukan untuk berekreasi tapi dalam rangka melarikan diri.
Pilu sekali hatinya ketika dilihatnya ada serombongan keluarga lengkap dengan ibu, bapak, anak dan menantu serta dilihatnya juga seorang anak kecil. Mungkn ia adalah cucu pertama mereka.
Tak terasa ada air mata yang menetes di sela-sela matanya. Ia mulai menyadari arti penting keberadaan keluarga.
Tapi nuraninya belum sepenuhnya mengakui bahwa ia harus mempercayai adanya takdir ilahi.
Deni masih menyalahkan kakeknya Pak Toto, bahkan ia ingin bertemu langsung dengan Pak Toto menanyakan sebabnya hingga ibu dan ayahnya Feri harus berpisah.
Keinginan nafsunya ia ingin sekali menghakimi kakeknya itu.
Untung sekarang ia tidak berdaya, jangankan ingin menghakimi Pak Toto, untuk makan saja uangnya mulai menipis dipakai setiap hari untuk keperluan dalam pelariannya ini.
__ADS_1
.............................
" Mang, tolong ada anak yang tenggelam tuh!"
Deni terkejut di sela- sela lamunannya ada orang tergopoh-gopoh minta tolong karena ada anak yang terseret ombak.
Dengan gesit Deni menolong anak itu, syukurlah nyawa anak ini masih bisa diselamatkan, meskipun kondisinya sangat mengkhawatirkan.
Untungnya orang tua anak ini membawa mobil, mereka membawa anaknya ke rumah sakit.
Deni ikut serta di dalam mobil tersebut. Orang tua anak ini pun sangat berterima kasih jika Deni ikut bersama mereka.
"Keluarga pasien atas nama Rafli? "
Suster memanggil anak yang tenggelam itu, yang ternyata bernama Rafli.
Syukurlah Rafli tidak kenapa-napa, hanya harus menginap beberapa hari untuk observasi.
.........................
Keluarga yang ditolong oleh Deni sangat berterima kasih bahkan Deni yang tidak memiliki tempat tinggal itu ditawarinya untuk tinggal di rumah mereka.
Tentu Deni sangat senang karena itulah yang ia harapkan, agar tidak ada pengeluaran yang besar untuk menopang hidupnya.
"Mari masuk mas! "
Di sini Deni dipanggil mas, ia pun tidak keberatan, malah senang untuk menyamarkan keberadaannya yang tengah dalam pelarian. Bahkan ia tidak mengaku nama yang sebenarnya. Ia mengaku bernama "Herlambang".
"Mas Herlambang boleh tidur di kamar sebelah sini ya!"
Tuan rumah menunjuk kamar yang boleh ditempati oleh Deni.
"Untuk keperluan bersih-bersih silahkan minta ke bik Minah," kembali tuan rumah menyambung perkataannya.
Bik Minah yang disebut oleh tuan rumah itu, baru masuk lewat pintu dapur.
Ia pun menyahut, "gimana buk, ada apa? "
Tuan rumah, menyambung perkataannya kepada pembantunya itu, kemudian pembantunya manggut-manggut tanda mengerti.
Mungkin untuk beberapa minggu ke depan keadaan Deni di rumah itu tidak ada yang curiga, karena rumah ini letaknya agak menjorok ke dalam. sedangkan tetangga mereka jaraknya hampir beberapa ratus meter.
...........................
"Haaaah..., " Deni menghempaskan jaket dan tasnya di atas kasur, sedang ia duduk di kursi kayu yang tersedia di kamar itu.
__ADS_1
Hatinya melayang entah kemana, untuk sementara ia akan beristirahat.