Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Belum Ditakdirkan


__ADS_3

Sudah berulang kali Danang membuka kado yang disimpannya dalam laci sebulan yang lalu. Ia ingin sekali memberikannya kepada Kania, namun belum juga ada kesempatan yang tepat untuk bertemu.


Hingga sampai detik ini setelah dua bulan yang lalu ia melakukan pelatihan, dan membawa hadiah yang dibelinya di sana, tapi kado itu belum juga ia berikan karena beberapa kendala yang dihadapi.


Saat ini hatinya sangat rindu sekali ingin berjumpa, hingga ia berniat untuk pergi ke rumah Kania yang ada di kota Kabupaten.


Satu-satunya sumber informasi yang tepat adalah Ustadz Slamet, karena beliau sudah pernah pergi ke rumah Kania beberapa waktu lalu.


......................


Suasana masjid ini mulai terlihat sepi, setelah jamaah sholat Isya bubar. Tinggalah marbot masjid yang masih duduk di teras masjid sambil berbincang dengan seseorang yang ternyata Ustadz Slamet.


Ketika pintu masjid akan dikunci, ternyata masih ada orang di dalam, Danang masih menuntaskan munajatnya.


"Eeh, Den Danang masih ada, saya kira sudah enggak ada orang."


Kata penjaga masjid kepada Danang, yang mulai berdiri dan akan beranjak pergi.


Di luar Ustadz Slamet mulai bangkit dari tempat duduknya, ia akan pulang. Danang senang sekali bertemu dengan beliau, tapi harus mulai dari mana untuk menanyakan alamat Kania.


"Assalamualaikum Ustadz! "


Sambil tersenyum Danang pun menyalami Ustadz Slamet.


" Kok tidak kelihatan tadi. "


Ustadz Slamet tidak melihat Danang ketika semua jamaah bersalaman.

__ADS_1


"Saya duluan menyingkir Ustadz, jadi tidak ikut keliling. "


Danang mencari akal untuk menanyakan alamat Kania.


"Ustadz, alamat pondok pesantren Daarul Huda dimana ya.. ?"


Danang pun punya cara untuk menanyakan alamat itu.


"Ooh.. itu.. dari kantor bupati, jalan terus sedikit nanti ada gang, setelah masuk gang sekitar 300 meter lagi bisa kelihatan pondok pesantren Daarul Huda, "


Demikian paparan Ustadz Slamet, sekilas saja dapat dipahami dengan jelas, Akhirnya alamat itu didapatnya.


.............................


"Iya pak, masuk saja pak, nanti ada pintu gerbangnya. "


Danang bertanya kepada penduduk yang ada di sekitar itu. Mobil yang ditumpanginya berjalan lagi dengan perlahan sesuai dengan petunjuk orang tadi.


...............................


Dari kejauhan banyak anak-anak yang bermain di luar halaman seorang rumah penduduk. Halamannya cukup luas.


Danang menjalankan mobilnya dengan pelan. Ternyata di tempat itu ada sebuah warung yang cukup lengkap. Mulai sembako dan jajanan anak-anak.


...Pucuk dicinta ulam pun tiba, Danang melihat sosok yang tidak asing baginya. Yaa Pak Salim, abah Kania. Hatinya bersorak gembira karena ia merasa benar-benar beruntung hari ini....


"Assalamualaikum.."

__ADS_1


Salam itu cukup sekali diucapkan, karena dari dalam warung sudah ada jawaban. Ternyata Pak Salim yang kebetulan sedang melayani seorang anak membeli kue.


"Waa'laikum Salam, Pak Danang, sampai juga kemari, dengan siapa berjalannya? "


Senang sekali rupanya pak Salim kedatangan mantan bosnya. Ia mengira Danang akan memberikan bantuan untuk pondok pesantren secara langsung.


" Sendiri saja pak."


Danang agak gugup ditanya seperti itu.


"Mari masuk!"


Pak Salim mempersilahkan Danang masuk dengan ramah, emak Kania pun yang sudah segar dan sehat keluar melihat siapa yang datang dan menyambut Danang dengan ramah.


"Mari Den, masuk! "


Akhirnya Danang masuk ke dalam rumah. Hatinya merasa senang karena kehidupan Kania dan keluarganya sudah berubah lebih baik.


Namun sedari tadi orang yang dicarinya belum muncul. Hatinya bertanya-tanya.


Pak Salim seperti memahami perasaan tamunya. Ia pun menjelaskan tentang Kania.


"Jadi begitu Den, Alhamdulillah Kania mendapat kesempatan belajar di Mesir dari Pondok pesantren yang ada di sana, berkat kerja sama dengan pondok pesantren Daarul Huda ini. "


Ada perasaan kecewa dalam hati Danang, tapi tetap ia sembunyikan.


"Ooh.. begitu pak, syukurlah kalau Kania dapat kesempatan , mudah-mudahan lancar belajarnya. "

__ADS_1


Pembicaraan hari itu pun berakhir dengan saling mendoakan. Danang belum berani berterus terang kepada orang tua Kania perihal dirinya menyukai putri mereka.


Hari ini usahanya kembali belum berhasil. Tapi di hati Danang yakin bahwa kalau berjodoh Kania pasti akan menjadi pendamping hidupnya.


__ADS_2