Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Sambungan Listrik Abnormal


__ADS_3

Sikap Deni yang tidak kooperatif ketika diajak berdiskusi mengenai hubungannya dengan Seshia membuat hati bu Marwan menjadi gusar.


Setiap kali Deni diajak untuk duduk bersama dengan anggota keluarga lainnya selalu menolak dan menghindar, ia lebih senang pergi keluar rumah menemui komunitasnya yang berada di kota.


Hal ini membuat kesehatan bu Marwan menjadi terganggu, tensi darahnya kerap manjadi tinggi dan harus berobat ke dokter.


Pak Marwam sangat khawatir dengan keadaan istrinya, sehingga ia berkeinginan untuk mengajak istriya pergi berlibur ke pantai.


Namun kendalanya adalah jarak laut dari desa tersebut agak jauh. Jadi ia mengurungkan niatnya itu sampai bu Marwan pulih kembali.


......................


"Indah ya bu pemandangannya, "


Kata pak Marwan kepada istrinya.


"Iya pak, jarang kita melihat laut, baru kali ini, "


Bu Marwan pun menjawab dengan tersenyum.


"Mari kita cari tempat duduk yang nyaman!"


Kata pak Marwan sambil menggandeng tangan istrinya menuju tempat yang sangat dekat dengan deburan ombaknya.


Dengan senang hati bu Marwan mengikuiti ajakan suaminya.


" Ada makanan apa saja yang dibawa dari rumah bu?"


Kata pak Marwan sambil memandang jauh ke arah laut sementara tangannya merogoh saku hendak mengambil ponselnya.

__ADS_1


" Ini pak, apa yang ada di sini, itulah makannya, he-he-he, "


Bu Marwan tertawa kecil mengolok pertanyaan suaminya.


Nampaknya mereka hanya berdua saja pergi ke pantai ini, karena tidak teihat seorang pun anggota keluarga yang menemani.


Memang pak Marwan ingin memberikan ketenangan pada istrinya karena kerap berdebat dengan anak sulungnya Deni.


Pasangan suami istri yang mulai


menua ini merasa lega dan terhibur dengan pemandangan yang ada di tepi pantai.


Selang kemudian keduanya pun beberes untuk pulang karena hari mulai senja.


Semua barang-barang yang masih dipakai dan dimakan dibereskan agar tidak sumpek dalam mobil.


Keduanya sudah siap pulang ke rumah.


"Sudah bu.. jangan turun, biarkan saja dulu, nanti kita malu dilihat orang! "


Pak marwan melarang istrinya yang hendak turun dari mobil menuju ke arah dimana Deni dan Seshia berjalan menuju tempat duduk mereka.


" Kita pulang saja dulu yaa. nanti kita bicarakan di rumah."


Pak Marwan pun menjalankan mobilnya dengan hati-hati dan sebelah tangannya memegang punggung istrinya yang masih menangis terisak karena kejadian barusan.


..........................


"Bapak ingin kamu mendengarkan penjelasan bapak kali ini Deni. "

__ADS_1


Pak Marwan mulai berbicara pada anaknya keesokan harinya ketika sarapan pagi, hal ini dikarenakan Deni jarang makan malam bersama, jika dilakukan pada saat makan malam.


"Apa yang akan bapak bicarakan,"


Deni bertanya datar tanpa ada perasaan bersalah.


"Mengenai Seahia,"


Kata pak Marwan.


Tak disangka jawaban yang keluar dari mulut Deni sangat menyakitkan, dan sikapnya membuat bu Marwan menjadi shock.


" Ini yang aku tidak suka dari bapak sama ibu selalu menghalangi hubungannku dengan Seshia. "


Pak Marwan lalu menjelaskan dengan kata-kata yang datar pula tanpa emosi.


" Bapak sama ibu tidak pernah ingin menghalangi keinginan kamu nak, tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui. "


Deni pun kembali meninggikan suaranya.


" Tahu apa pak, "


Kata Deni dengan kalimat yang pendek namun dengan nada yang meningkat dan suara yang kuat.


"Begini nak, kamu dan Seshia adalah... , "


Belum lagi kalimat itu selesai diucapkan oleh pak Marwan tiba-tiba ada orang datang bertamu.


"Assalamualaikum..., Assalamualaikum.... !!!"

__ADS_1


Pak Marwan pun menghentikan ucapannya dan memanggil bik Eroh membukakan pintu.


Ternyata yang datang adalah Ujang membawa sayuran segar pesanan bu Marwan.


__ADS_2