
Dalam suasana kekeluargaan yang akrab dan saling memaafkan, membuat Pak Toto memiliki keberanian untuk mengungkapkan segala kisah kehidupannya di masa lalu.
Ia ingin berubah dan merubah semua persepsi hidup yang telah membuatnya dan anggota keluarganya menderita.
Ia ingin merubah mindsetnya mengenai harta, keturunan dan ikatan persaudaraan yang telah lama putus.
Setelah hadirin meresapi kisah yang pertama dari perjalanan hidupnya, ternyata masih ada lagi yang ingin ia ungkapkan kepada semua saudaranya.
Lalu ia melanjutkan pembicaraaannya.
Dalam isak tangisnya yang tertahan ia berbicara tersendat-sendat.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Pak Marwan sebagai mitra kerja saya, karena saya akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat bapak menjadi tidak nyaman tidur setelah mendengar hal ini."
Pak Toto menghentikan perkataannnya, lalu sebentar ia termenung untuk bersiap menyusun kata-kata yang tepat, karena pikirnya saat inilah waktu yang tepat untuk dibuka semuanya, tanpa harus memikirkan akibatnya.
" Mega... !"
Mendadak hadirin terkejut, siapa yang dipanggil Mega itu...
Bu Marwan pun terkejut, ketika namanya dipanggil.
__ADS_1
"Maafkan bapak ya Mega, karena bapak sudah memisahkan anakmu dengan ayahnya. "
Pak Toto tidak bisa menahan tangisnya ia pun menangis sejadi-jadinya, demikian juga bu Marwan.
Yang paling kaget adalah Deni, karena ia tidak tahu apa-apa, Danang juga sedih tapi tidak terlalu terkejut karena ia sudah tahu sebelumnya.
Pak Marwan hanya terpaku, ia tahu kalau istrinya dulu pernah berumah tangga dengan orang lain, bahkan Deni sudah hadir di tengah-tengah rumah tangga mereka ketika belum ada keturunan dari hasil pernikahannya.
Pak Marwan adalah seorang lelaki yang bijaksana, ia sangat memahami bahwa semua skenario hidup manusia sudah ada catatannya sebelum manusia itu terlahir ke dunia. Oleh karena itu ia tidak terlalu merasa kecewa malah ia sangat bersyukur karena setelah semuanya terbuka akan menambah persaudaraaan dan jelasnya rangkaian keturunan.
Pak Marwan mengangkat tubuh istrinya dan menuntunnya untuk menyalami Pak Toto, walau bagaimana pun Mega yang lebih muda meskipun yang bersalah adalah mantan mertuanya.
Deni yang sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan perkataan Pak Toto, mulai ingin lebih tahu siapakah
Akhirnya segalanya terjawab sudah, Pak Toto memanggil dirinya untuk maju ke depan.
"Saya mohon untuk Deni berkenan maju ke depan? "
Deni pun kaget, tapi ia tetap maju juga.
"Nak, Opa mau minta maaf kalau selama ini, Opa telah teledor sama kamu."
__ADS_1
Bagai disambar petir Deni pun kagetnya minta ampun.
"Oh.. jadi... jadi.. "
Itulah bisikan yang ada dalam hatinya. Pikirannya merumuskan sendiri, tapi rumusan iti sangat mengecewakan. Ia terlanjur menyayangi Seshia sebagai kekasih bukan sebagai adik.
Pantas saja Seshia tidak mau duduk didekatnya mungkin ia sudah tahu sebelumnya.
"Jahat... jahat... semua.. . "
Deni tidak menangis, bisikan hatinyalah yang mengatakan bahwa semua orang yang ada di sekitarnya telah berbuat jahat kepadanya.
Setelah lepas dari pelukan Pak Toto, Deni tidak duduk kembali namun ia langsung menuju keluar, mengambil motornya dan menstarternya lalu meluncur keluar halaman rumah Pak Toto membawa hati yang kecewa.
Bu Marwan mengejar anaknya, tapi Deni sudah tidak terlihat punggungnya.
Bu Marwan menangis sejadi-jadinya, tak disangka kejadian hari itu, sangat mengecewakannya.
Pak Toto pun tidak melanjutkan pembicaraannya. Ia termenung dan air matanya menetes, antara menyesal dan lega, tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi pada hari ini.
Ada hati yang sakit dan terluka.
__ADS_1
Pak Marwan meredakan tangis istrinya, iman yang ada dalam dadanya meneguhkan pendiriannya agar tetap tenang walau dalam keadaan apa pun.