
Karena banyaknya baju dan makanan yang diberikan oleh Bu Marwan, akhirnya Danang mengantar Bapak Sukma dan istrinya pulang ke rumah mereka meskipun dalam keadaan letih.
Mereka tampak senang mendapat oleh-oleh yang begitu banyak, belum lagi sejumlah uang yang diberikan kepada keduanya oleh Pak Marwan, dengan harapan dapat membantu uang sekolah anak-anak mereka.
"Semoga dapat bermanfaat ya pak uang yang sedikit ini untuk pendidikan anak-anak bapak. "
Demikian perkataan Pak Marwan ketika mereka pamit pulang, sementara tangan Pak Marwan memberikan amplop yang berisi uang untuk mereka.
Di luar Danang sudah bersiap dengan mobilnya untuk mengantarkan ke tempat tinggalnya yang berada di daerah selatan dekat pantai. Cukup jauh memang, meskipun badan Danang terasa lelah, namun ia memaksakan diri untuk pergi karena ia menyadari betapa besarnya penderitaan kedua orang ini akibat ulah kakaknya Deni.
Meski cukup jauh akhirnya sampai juga ke rumah Bapak Sukma yang ternyata, berada di sebuah perkampungan nelayan dengan kondisi pemukiman yang sangat menyedihkan. Rata-rata penduduknya memiliki perekonomian menengah ke bawah, hanya ada satu atau dua rumah saja yang menunjukkan taraf hidup menengah ke atas. Danang pun terenyuh hatinya melihat kondisi seperti ini, pantas saja Sukma nekat menjadi pembalap motor liar bayaran,mungkin untuk memenuhi keperluan sendiri dan kedua orang tuanya.
Ketika mobil sampai di depan rumah keduanya, anak-anak mereka sudah menunggu, nampaknya sudah lama mereka berdiri di situ.
"Emaak... "
Seorang anak kecil berumur 5 tahun berlari ke arah mobil, menyambut kedatangan Danang dan kedua orang tua mereka.
Drama yang terlihat oleh Danang adalah, dengan riang gembira anak-anak itu menyambut kedua orang tua mereka, dan semakin bertambah kebahagiaan mereka tatakala banyak oleh-oleh yang dibawa. Langsung saja tangan-tangan mungil itu berebut membawa buah tangan yang tidak sabar lagi untuk dibuka.
Banyak yang bisa diambil pelajaran dalam perjalanan mengantarkan kedua orang tua Sukma ini, itulah yang terpikir dalam hati Danang, ia memang benar-benar merasa menjadi manusia yang sangat beruntung, betapa tidak, karena jika dibandingkan dengan keadaan kedua orang tua Sukma sangat jauh sekali bandingannya dalam tingkat kecukupan dan kenyamanan hidup.
Danang penasaran dan ingin sekali bertanya langsung kepada kakaknya Deni, mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam pergaulan tidak baik sampai melibatkan anak orang lain yang sebenarnya harus ditolong.
Pertanyaan dalam hati Danang itu belum boleh ditanyakan langsung kepada kakaknya karena kondisinya belum memungkinkan. Oleh karena itu ia mencoba untuk bersabar dan menerima keadaan yang tidak diinginkannya itu.
Sambutan keluarga Sukma sangat luar biasa, karena keluarga besarnya ada di sekitar kampung nelayan itu, mereka berdatangan untuk menyalami Danang yang sedang duduk di atas dipan teras rumah Sukma.
Demikian juga dengan kepulangan Danang dari rumah itu, begitu banyak anggota keluarga yang melepas dan melambaikan tangan, Danang pun sampai terharu dibuatnya, sudah terbukti tidak ada lagi kekesalan dan dendam dalam hati mereka.
.............................
__ADS_1
Dua minggu telah berlalu semenjak kedatangan Abuya Husni dan Umi Dzakiyah, memurut pemilik pondok tersebut keluarga Danang belum boleh menjenguk Deni karena satu dan lain hal. Padahal Bu Marwan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak sulungnya itu.
Sudah tiga kali Bu Marwan menyuruh Danang untuk menanyakan keadaan Deni di Pondok Pesantren itu, jawabannya pasti dalam keadaan baik dan mengalami kemajuan, namun demikian Bu Marwan belum puas sebelum bertemu langsung.
Hingga pada suatu siang, Danang menerima telpon dari Abuya Husni ketika ia masih di kantor.
"Assalaamua'laikum, Iya Abuya siaap, " demikian Danang menjawab telpon dari Abuya Husni.
Rupanya isi telpon itu adalah kabar baik yang sudah ditunggu oleh ibunya, yaitu ijin untuk menjenguk kakaknya.
........................
Hari ini Danang pulang awal, maksudnya untuk memberitahukan kepada ibunya bahwa kakaknya Deni sudah boleh dijenguk.
Sesampainya di rumah, Danang langsung mencari ibunya ke belakang. Ternyata yang dicari tidak ada di belakang hanya bik Eroh yang sedang mengangkati jemuran baju yang sudah kering.
Danang langsung bertanya, "mana ibu bik? "
Bik Eroh langsung memburu ke arah Danang tapi belum menjawab, karena tidak terdengar, maklum tempat jemuran baju itu jaraknya agak jauh dari pintu teras belakang itu.
Hampir saja jemuran yang berada di tangannya berjatuhan karena terlalu banyak baju yang diangkat, untungnya Danang membantu mengambil sebagian baju yang kering itu dari tangan bik Eroh.
"Ibu mana bik? "
Danang mengulangi pertanyaannya, Bik Eroh pun langsung menjawab setelah mengerti pertanyaan dari anak majikannya itu dengan disertai derai tawa karena merasa telat untuk merespon.
Tidak lama kemudian Bu Marwan datang dengan membawa belanjaan yang ditentengnya sendiri lengkap dengan kardus yang dikepit tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang belanjaan yang kelihatannya cukup berat.
"Wah, ibu dari mana, banyak benar belanjaannya?"
Langsung saja Danang memberondong ibunya dengan pertanyaan. Senyum bahagia terukir di bibir orang yang dikasihinya itu.
__ADS_1
Danang pun ikut senang karena senyum itu sudah lama hilang setelah kejadian menimpa kakaknya itu.
" Naang, kita harus jenguk kakakmu Deni, ibu dapat telpon dari Umi Dzakiyah, sudah boleh dijenguk, "
Danang pun tersenyum simpul, rupanya selain dirinya yang ditelpon ibunya dapat telpon juga.
"Malam ini bu, Danang antar ke sana? "
Tidak berbasa basi lagi, Bu Marwan mengacungkan jempolnya dan melanjutkan persiapannya untuk menjenguk Deni.
............................
Rumah Abuya Husni yang berada di tengah-tengah asrama putra, nampak beberapa sendal yang bertengger di depan teras rumahnya.
Sepertinya ada beberapa tamu khusus di pondok ini. Terlihat dari luar sajian buah-buahan yang menghiasi ruangan tamu.
Danang dan ibunya merasa sungkan untuk masuk ke dalam, namun tak lama kemudian Abuya Husni keluar dan menyambut mereka, rupanya kedatangan Danang dan ibunya sudah ditunggu sedari tadi.
"Waa'laikum Salaam..., silahkan, silahkan! "
Dengan ramah Abuya Husni mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
Ternyata di dalam sudah ada tamu lain yang sedang duduk dengan penampilan yang agak berbeda. sepertinya dia seorang yang istimewa.
Jika dilihat dari penampilannya tamu Abuya ini cukup berumur, nampak dari kerutan wajah dan warna rambut yang sudah memutih semua. Namun fisiknya masih kuat untuk berbicara dan mengemukakan kalimat yang diplesetkan serta membuat tertawa orang yang mendengar.
"Ki Daud ! ini ibunya Deni dan ini adiknya Deni. "
Di sela gurauan yang semakin seru, tiba-tiba Abuya memperkenalkan Bu Marwan dan Danang kepada tamunya itu yang ternyata adalah Aki Daud.
Aki Daud pun manggut-manggut sambil menghisap cerutunya yang
__ADS_1
sedari tadi menemani bibirnya berbicara dengan kisah yang cukup menggelitik Bu Marwan dan Danang.
Pembicaraan mereka tidak ada yang terlalu serius, semua dibawa santai. Kata Aki Daud semua persoalan tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.