
Warna dunia serasa berubah di mata Deni, langit seolah lebih cerah dan membiru, angin mendesir menyejukkan kalbu, alunan musik seolah semua tentang harap dan cinta.
Pondok Pesantren Daarul Huda tempat Deni mendapatkan harapan baru dan dunia baru, ia ingin berlama-lama tinggal di sini.
Sebenarnya batas waktu tinggalnya hanya enam bulan, karena masih banyak pasien yang lain untuk dapat ditangani.
Namun karena antusiasnya kedua orang tua Deni dan dia sendiri yang ingin menambah waktu tinggal di ponpes ini, menyebabkan pihak pondok memberikan kelonggaran kepadanya untuk tetap tinggal beberapa waktu lagi.
Seperti pagi itu, Deni dipanggil oleh Abuya Husni selepas waktu Dhuha sekitar pukul 08.00 pagi, Abuya Husni bertanya kepada Deni dengan beberapa pertanyaan.
"Nak Deni, Kapan akan melanjutkan aktivitas di luar pondok, Abuya lihat kamu sudah siap berkiprah di dunia luar. "
Deni menunduk terdiam, ia mencoba merangkai kalimat untuk mengutarakan sesuatu. Akhirnya keluarlah suatu jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh Abuya.
"Begini Abuya, saya mohon ijin untuk memperpanjang tinggal di sini dan ijinkan saya menjadi staf pengajar di ponpes ini," Abuya tercengang dengan jawaban Deni, ia tidak menyangka kalau Deni merasa kerasan tinggal di pondoknya.
Namun abuya tidak lantas mengiyakan, karena menjadi staf pengajar adalah bagian yang sangat berat, apalagi Deni baru saja sembuh dari sakitnya, ditambah lagi mata pelajaran yang akan diajarkan belum tentu ia kuasai.
Deni merasakan keberatan hati Abuya sehingga ia memberikan alasan lagi dan beberapa argumen yang membuat Abuya menyetujui maksud dan keingiinannnya.
"Mohon maaf Abuya, popes ini belum ada mata pelajaran teknologi informatika, oleh karena itu saya bersedia untuk menjadi pengajarnya, untuk sarananya nanti akan saya usahakan ke perusahaan agar dapat membantu. "
Memang benar, jawaban itu akhirnya yang membuat luluh hati Abuya serta menyetujui akan maksud dan keinginan Deni untuk tinggal lebih lama di ponpes ini.
.......................
Sore itu hari jumat, baru saja hujan mengguyur dengan derasnya, pondok pesantren yang terletak menjorok ke arah daerah hutan lindung serasa semakin sejuk ketika ada hujan datang.
Jalanan masih licin, ngeri jika ingin bepergian baik menggunakan motor ataupun kendaraan roda empat. Tapi lain halnya dengan Deni, sore itu ia sudah pamit dengan Abuya Husni untuk pulang ke rumahnya. Ia pun diijinkan menggunakan kendaraan pondok untuk satu malam itu, karena keesokan harinya ia berjanji sudah kembali lagi.
"Bismillaahirrohmaanirrohiim... "
Dengan pasti Deni menyetir mobil keluar dari pondok pesantren Daarul Huda, lain dengan pertama kali ketika ia datang ke tempat ini. Keadaannya sekarang jauh lebih baik, terutama mengenai kesehatan fisik dan mentalnya yang sudah dapat memancarkan aura sebagai seorang laki-laki yang memiliki kharisma.
__ADS_1
Sekilas jika seseorang yang melihat terutama kaum hawa, pasti akan terpesona dengan ketampanan Deni, apalagi jika tidak mengetahui jejak masa lalunya. Pasti akan mabuk kepayang.
Air mineral sudah siap menemani perjalanannya, karena diperkirakan ia akan sampai di rumahnya pukul 10.00 malam. Deni sudah rindu dengan orang tua serta saudaranya Danang, baru kali ini ia merasakan nikmatnya memiliki keluarga, meskipun agak menyesal karena terlambat menyadari, tapi Deni bersyukur masih diberi waktu untuk memperbaiki diri oleh Sang Maha Pencipta.
..........................
Suasana rumah Pak Marwan sudah mulai sepi ketika sebuah mobil Avanza berwarna silver masuk ke halaman rumah ini, namun Pengendar mobil itu tidak mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah ini, malah dengan yakinnya ia membunyikan klakson mobil beberapa kali, hingga membangunkan Pak Marwan dan Bu Marwan juga Danang.
Mereka sama-sama memicingkan matanya ketika melihat sebuah mobik yang pengendaranya belum turun, lampu mobil yang masih menyala dengan terang menghalangi pandangan mereka untuk melihat siapa yang datang.
Ketika sepasang kaki sudah menginjak ke tanah barulah diketahui Bahwa yang datang adalah anak sulung Bu Marwan atau anak sambung Pak Marwan.
Setengah berteriak Bu Marwan memanggil anaknya,
"Deni... MasyaAllah Deni... "
Deni pun bergegas menghampiri ibunya, mencium kakinya dan tangan ibunya yang selama ini selalu mendoakannya hingga akhirnya hidayah itu Allah titipkan dihatinya untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Tangis haru tak bisa dibendung, maklum seorang ibu sangat sensitif perasaannya apalagi keinginan untuk menjadikan Deni lebih baik sangat tinggi. Tak heran jika Bu Marwan menangis karena merasa doanya didengar oleh Allah SWT
Demikian juga dengan Danang, ia sangat bangga sekali melihat kakaknya menjadi lebih baik. Mereka berdua berpelukan penuh haru, tal disangka secepat itu Kakaknya berubah. Inilah keberkahan yang didapat, jika seluruh anggota keluarga saling mendukung.
Hari sudah larut malam, tidak banyak yang mereka perbincangkan, Bu Marwan menyuruh Deni membersihkan badannya dan menawari makan, namun Deni tidak ingin makan makanan berat, ia hanya minta dibuatkan susu coklat.
"Ya sudah kalau enggak mau makan, ibu buatkan susu coklatnya nih! "
Kata Bu Marwan kepada anak kesayangannya itu, Deni tersenyum sambil berlalu menuju kamar mandi.
..............................
Pagi pertama di rumah orang tuanya, Deni jadi merasa agak asing, suasananya agak berbeda dengan di pondok pesantren. Jam tiga dini hari sudah ramai para santri untuk melaksanakan sholat tahajud, Deni pun akhirnya terbiasa bangun pada jam itu.
Seperti malam ini, pukul 03.00 dini hari, ia sudah terjaga dari tidurnya. Bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi. Pak Marwan terbangun mendengar suara air dari kamar mandi di saat dini hari, ia pun bangkit dari tempat tidurnya, ternyata memang ada yang sedang mandi. Pak Marwan penasaran, siapa yang ada di dalam kamar mandi, lalu ia bertanya"
__ADS_1
" Di dalam siapa? "
Dari dalam kamar mandi pun menjawab,
"Deni pak.. "
Pak Marwan masuk lagi ke kamarnya, sambil terheran dengan anaknya itu, kok jam segini sudah mandi.
Bu Marwan yang terbangun juga bertanya kepada suaminya, " Siapa pak yang mandi sepagi ini? "
Pak Marwan menjawab sambil menarik selimutnya, " Deni bu"
............................
Nasi goreng ceplok telur sudah siap di meja makan, sengaja Bu Marwan membuat sarapan awal sekali, karena tadi malam sebelum tidur Deni sudah memesan kepadanya mau sarapan pagi awal sekali, karena sudah berjanji dengan Abuya Husni akan datang lagi ke pondok pesantren menjelang dzuhur.
"Kenapa enggak sore aja Den?" Kata Pak Marwan dengan muka terheran karena cepatnya Deni akan pulang le pondok pesantren itu
"Iya pak, Deni sudah janji sama Abuya pulang menjelang dzuhur, Deni juga mau kasih kabar kalau Deni mau jadi staf pengajar di sana. "
Mimik bengong tidak hanya Bu Marwan tapi juga Danang yang sedang sarapan juga pagi itu.
"Memangnya kak Deni mau ngajar apa di sana kan pelajarannya menggunakan bahasa arab? "
Deni tersenyum mendengar pertanyaan dari adiknya itu, sambil menambahkan naso goreng ke piringnya ia menjawab dengan nada lucu dan riang,
"Teknologi Informatika Nang, " Setelah menelan makanannya ia melanjutkan berbicara,
"Oh ya, komputer perusahaan yang sudah terpakai boleh enggak kakak bawa? "
Danang melirik ke arah bapaknya, Pak Marwan pun mengerti maksud Danang, akhirnya ia memutuskan untuk memberikan 3 unit komputer perusahaan yang sudah lama tidak terpakai namun masih dalam kondisi baik.
Ada perkataan Deni yang membuat Danang menjadi tidak enak perasaannya, ketika Deni berkata,
__ADS_1
"Bu, Kania itu ternyata pergi ke Mesir dan sekarang sudah datang, itu looh anak Pak Salim mantan karyawan kita. "
Danang menatap wajah kakaknya yang sepertinya ada kebahagiaan tersendiri ketika mengatakan keadaan gadis idaman hatinya itu.