Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)

Rahasia Cinta Kania (Alzhaimer Sang Penyelamat)
Rencana Berziarah ke Makam Feri


__ADS_3

Matahari mulai meninggi, cuaca agak panas hari ini, kebetulan AC di ruangan Danang sedang ada kerusakan dan rencananya baru hari ini dibetulkan.


Danang membuka jendela kantornya, angin segar pun masuk ke dalam ruangan kantor. Terlihat juga dari jendela kantor jalan aspal yang menghubungkan kantor administrasi dan ruangan bagian pengemasan.


Jalan itu agak panjang, tepi-tepinya berdiri dengan kokoh pepohonan yang rindang dan dihiasi juga bunga beraneka warna, sungguh suatu pemandangan yang indah. Namun hati Danang sedang dirundung


masalah, bukan hanya karena rindu dengan Kania saja tapi juga keadaan keuangan perusahaan yang sedang morat marit. Memang perusahaan ini baru mendapatkan order yang cukup lumayan dari hotel Yasmin, tetapi pembayarannya tidak sekaligus baru separuhnya, maklum bisnis hotel itu mengandalkan konsumen yang datang. Ditambah lagi kakaknya Deni telah menggelapkan uang perusahaan yang seharusnya disetorkan ke bank untuk membayar cicilan pinjaman sewaktu gagal panen dua tahun yang lalu.


Danang berdiri di tepi jendela dengan mata yang menerawang agak jauh, "huuh..., " kemudian ia beristighfar.


Sebagai orang yang dipercaya oleh Pak Marwan untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi, Danang memerlukan partner untuk berdiskusi, biasanya sewaktu Kania masih bekerja di perusahaan ini, dialah orang pertama yang mengetahui kegundahan hatinya. Sayang, Kania tidak ada di sini.


Danang berpikir untuk menelpon Kania, tapi ragu takut mengganggu studinya, tetapi ia tidak ingin ada wanita lain yang akan menggantikan posisi Kania. Walau sesuntuk apa pun Danang akan menghadapinya, walaupun sulit tapi ia yakin Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambaNya.


Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata Lastri yang hendak masuk ke dalam, namun ia hanya berdiri di depan pintu seraya berkata, " pak ada ibu Seshia."


Danang menghentikan lamunannya kembali fokus untuk melanjutkan pekerjaan.


Seshia masuk ke dalam dan langsung duduk di kursi tamu.


" Kak Danang, aku minta laporan suplai pupuk tahun lalu dong, ada orang pajak minta total penjualan, kebetulan file yang dikirim kemarin terhapus. "


Danang tidak banyak bertanya karena memang Seshia sudah biasa datang ke kantornya apalagi sekarang statusnya sudah menjadi adiknya meskipun dari lain ayah.


Segera Danang mencari di komputernya lalu dikirimkan ke Seshia melalui wa pribadi.


"Udah ya, apa lagi yang kurang? "


Seakan merajuk Danang menantang Seshia mengenai keperluan yang lain lagi.


"Udah kak, itu aja. "


Tiba-tiba Seshia nyeletuk, " aku kemarin lihat kak Deni loh. "


Kabar yang ini membuat Danang antusias menggali informasi dari Seshia.


" Dimana Seshia? "

__ADS_1


Seshia tersenyum lalu berkata, " penasaran kaan."


Danang langsung keluar dari kursi kerjanya dan duduk di kursi tamu.


" Aku juga enggak sengaja melihat dia, " Seshia takut disangka sengaja bertemu Danang.


" Iya kakak tahu kamu gadis yang baik, tapi dimana kamu bertemu Kak Deni? "


Seshia langsung menjawab, " bukan bertemu kaak, me-li-hat. "


Seshia sampai mengeja karena takut dikatakan berduaan dengan Deni.


Kemudian Seshia melanjutkan pembicaraannya, " aku kan tiga hari yang lalu pergi ke mall yang dekat balai kota tuh sama teman, habis belanja aku nongkrong dulu minum es, enggak sengaja aku lihat kak Deni lewat. "


Danang langsung menimpali, "jalan kaki kak Deninya? "


" Pakai motor kak. "


Danang manggut-manggut lalu berkata, "di daerah mana tadi? " Seshia langsung menjawab, "sekitar balai kota. "


"Kira kakak kamu berduaan lagi dengan kak Deni, " Seshia langsung menyahut, "enggak lah kak, aku kan udah tahu kak Deni itu kakak kandung aku, masa mau dilanjutkan."


Danang langsung menatap wajah Seshia, penasaran apa yang ingin diungkapkannya tentang kakaknya itu.


"Selama ini aku diperlakukannya dengan baik, dia menghargai aku, dia juga percaya sama aku, " Seshia berhenti sejenak, nampak ada butiran air mata yang keluar dari sela-sela matanya. Memang perpisahan yang sangat menyakitkan ketika cinta itu tertanam malah sebenarnya orang itu adalah kakak kandung sendiri.


"Kak Danang, aku ingin berbagi cerita, kakak mau jaga rahasia? "


Danang terkejut, kok rahasia pikirnya, memang mau berbagi cerita apa?, tapi kemudian Danang menyanggupi.


Setelah Danang bisa meyakinkan Seshia, akhirnya curahan hati itu dilanjutkan.


"Kak Deni itu sejak kenal dengan aku dia berhenti bertaruh pada permainan balap motor liar. "


Danang terkejut lalu bertanya, "motor liar, gimana ceritanya bisa ikut taruhan balap motor liar? " pertanyaan yang sulit dijawab oleh Seshia, karena ia juga tidak mengerti mengapa Deni bisa taruhan melalui balap motor liar.


"Terus gimana lagi Seshia," Danang mulai penasaran ingin mengetahui kepribadian kakaknya yang selama ini belum diketahuinya.

__ADS_1


" Bahkan kak Deni pernah loh dikejar sama geng panah beracun mau dibunuhnya karena waktu itu kak Deni menang di taruhan itu. "


"Sebentar-sebentar, geng panah beracun, kayaknya kakak baru dengar tuh. "


Seshia menjawab lagi, "iya, geng itu ada, lawannya geng pedang halilintar punyanya kak Deni. "


Danang termenung, ia mengingat sesuatu, ia pernah melihat gambar tato di lengan kiri kakaknya berupa pedang yang selama ini tak pernah ditanyakan apa maksud dari gambar tato tersebut.


Kemudian Danang bertanya lagi kepada Seshia, " kak Deni mengkonsumsi narkoba enggak? "


Dengan yakin Danang bertanya, kecurigaannya mengarah ke situ.


"Sebelum ketemu aku kak Deni memang mengkonsumsi kak, tapi berhenti setelah jalan sama aku. "


Danang tidak habis pikir mengapa kakaknya setega itu mengecewakan orang tua, ketidakpuasan apa yang menyebabkan kakaknya berprilaku seperti itu.


Kemudian Danang melanjutkan pertanyaannya, " Seshia, kalau kamu telpon atau wa masih diangkat enggak?"


Seshia berpikir sebentar lalu menjawab, "selama ini aku belum pernah telpon lagi sama kak Deni sejak pertemuan keluarga itu."


Danang tidak ingin mengorek lebih dalam lagi tentang kehidupan pribadi kakaknya, yang terpenting baginya sekarang bagaimana agar dapat bertemu langsung dengan kakaknya.


Tiba-tiba muncul lagi pertanyaan Danang, "Opa kamu marah enggak kalau kami sekeluarga ziarah ke makam ayah kamu?"


Seshia agak terkejut tapi lantas dijawabnya, "ya enggak lah, malah senang sekali, ayah aku ada yang doakan. "


Danang kembali bertanya, "tapi kami tidak tahu dimana kuburan ayah kamu, boleh enggak nanti kamu ikut? "


Wajah Seshia nampak senang, karena ia akan menjadi lebih dekat dengan keluarga Danang, terutama karena ia pun ingin menjadi bagian dari kehidupan mereka sebagai keluarga. Lantas ia menjawab, "tentu aku akan ikut, mungkin opah juga mau ikut. "


Danang tersenyum senang, tapi pertanyaannya keluar lagi , "opah sudah sembuh kah? "


Tidak ragu lagi Seshia langsung menjawab, "Alhamdulillah kesehatan opah sudah banyak kemajuan, meskipun masih harus banyak istirahat. "


Nampaknya Seshia belum paham maksud dan arah pembicaraan Danang, kemudian ia menegaskan lagi kepada Seshia, " tolong ya telpon atau wa kak Deni kalau kita mau ziarah ke makam ayah Feri."


Barulah Seshia mengerti maksud Danang tentang ia masih telpon atau menghubungi Deni.

__ADS_1


"Ok baik kak, aku usahakan menghubungi kak Deni, mudah-mudahan ia mau mengangkatnya. "


__ADS_2